Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 99 #Mendapat Hukuman


__ADS_3

Sementara itu Elena sudah bisa berdamai dengan hatinya, dia pelan-pelan akan menerima keberadaan Mama Rita di kehidupannya, harusnya dia bisa bahagia disaat pernikahannya nanti kedua orang tuanya ada dan mendampinginya.


Demikian juga dengan Pak Renaldy, yang diam-diam masih menaruh harap pada cinta Rita, dia ingin memperbaiki semua kesalahannya yang dulu pernah dia lakukan. Dia akan menunggu sampai perceraian Rita benar-benar sudah selesai dengan suaminya.


Mereka bertiga makan bersama dengan penuh kebahagiaan mereka mulai saling mendekatkan satu sama lainnya, terlihat keakraban tercipta disana walaupun masih ada sedikit canggung diantara Bu Rita dan Pak Renaldy. Debar-debar cinta masih ada diantara mereka.


**


Hari ini Ruang persidangan sudah di penuhi dengan orang-orang yang ingin melihat hukuman apa yang akan di terima oleh Damian, disana nampak Damian yang sudah sedikit lusuh tidak seperti biasanya. Dia sudah mulai kehilangan akal untuk pengajuan banding yang di tolak oleh hakim.


"Pak Bagaimana kalau kita kalah dan harus menanggung semua kerugian klien?" Tanya Boby asistennya disana.


"Apa tidak ada cara lagi Bob?" Ucap Damian yang mulai sedikit takut akan kehilangan semua hartanya, karena dia tahu kecurangannya dalam berbisnis sudah terlalu banyak sekali.


"Tidak ada Pak, belum juga tuntutan Pak Evan tentang pembunuhan Ayahnya. Saya tidak bisa berjanji kalau Bapak bisa lolos Pak, tapi Bapak jangan putus asa saya akan tetap di belakang Bapak apapun yang akan terjadi."


"Apa saya akan kehilangan semua harta yang saya punya?"


"Kemungkinan kita harus melelang perusahaan Bapak agar bisa menutup semua tuntutan para klien." Sebenarnya Boby sungguh kasian melihat bosnya di kursi kesakitan, tapi mau bagaimana pun dia tahu kesalahan bosnya sangat fatal.


Persidangan pun di mulai, disana Damian mulai mendengar tuntutan yang di tuduhkan untuknya yaitu tentang pasal penyertaannya dalam menyuruh menghilangkan nyawa seseorang serta pasal kedua tentang dengan sengaja melakukan kecurangan. Damian terkena banyak pasal sampai akhirnya keputusan hukumannya membuat dia sangat syok, dia tidak bisa membela diri.


Disana Damaian sungguh sangat pucat, dia tidak menyangka kalau ketuk palu keputusan hukumannya membuatnya tiba-tiba jatuh pingsan.


Orang-orang disana sungguh bahagia melihat penderitaan Damian, mereka merasa puas setelah mereka melihat Damian di jatuhi hukuman sesuai dengan apa yang dia lakukan.


Disana sebenarnya Bu Sindy tidak tega melihat adik tiri mendiang suaminya mendapatkan hukuman yang sangat berat. "Maafkan aku mas, aku tidak bisa memenuhi apa yang kamu inginkan, untuk memaafkan adikmu aku akan mencoba memaafkannya, tapi untuk hukuman dia pantas mendapatkannya mas" gumam Bu Sindy yang berbicara untuk mendiang suaminya di dalam hati.


"Ibu kenapa?" Tanya Evan yang melihat Ibunya seperti kasian pada Pamannya.


"Ibu tidak apa-apa Van, Ibu baik-baik saja."


"Apa ada sesuatu yang Ibu sembunyikan?"

__ADS_1


"Ibu hanya belum bisa memenuhi keinginan Ayahmu Van, Ayahmu bilang agar Ibu bisa memaafkan adiknya Damian, tapi disisi lain Ibu hanya manusia biasa Ibu ingin Damian mendapat hukuman yang sesuai dengan apa yang telah dia lakukan."


"Kalau begitu Ibu tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja, Evan yakin Ayah disana pasti akan selalu mendukung Ibu."


"Semoga saja Van."


**


Sementara Itu Tania sedang berusaha mencari keberadaan Ibunya, dia berusaha mencari alamat sebuah kafe yang diberikan oleh Boby sang asisten Damian yang sudah memberikannya informasi.


Sesampainya di kafe itu Tania segera masuk kedalam, dia mencoba mencari keberadaan Ibunya berada sampai akhirnya sebuah pelayan tiba-tiba menghampirinya.


"Silahkan mau pesan apa mba!"


"Maaf saya hanya ingin mencari seseorang, apa anda bisa membantu saya?"


"Siapa yang mba cari?"


"Ibu Bela, apa dia ada?"


"Mengundurkan diri? Lalu dimana sekarang dia tinggal! apa kamu tahu?"


"Yang saya dengar, Bu Bela kembali kedesanya dia ingin menetap disana!"


"Apa..!! Kembali kedesanya?" Tania sedikit kecewa, kenapa Ibunya malah tidak mencari dirinya dia malah pergi meninggalkan kota ini.


"Benar, sepertinya teman saya yang lebih tahu Bu Bela tinggal dimana, mereka satu kampung waktu di desa."


"Bolehkah saya meminta tolong teman anda untuk memberikan alamat dimana Bu Bela tinggal mba!"


"Baiklah tunggu sebentar akan saya tanyakan ya mba.''


Akhirnya pelayan itu masukĀ  kedalam dan mencari keberadaan temannya, dia memintakan alamat dimana Bu Bela tinggal. Tidak menunggu lama pelayan itu segera kembali menemui Tania.

__ADS_1


"Ini mba teman saya sudah menulis alamat Bu Bela." Ucap pelayan itu sambil menyodorkan secarik kertas yang berisi alamat Bela.


"Terimakasih banyak, Oya apa anda punya nomor telepon Bu Bela?"


"Saya punya tapi sepertinya Bu Bela sudah mengganti nomornya mba, saya kemarin mencoba menghubunginya tapi sudah tidak aktif nomornya."


"Ya sudah kalau begitu, terimakasi banyak ya Mba, permisi!" Tania segera pergi meninggalkan kafe itu, dia hanya mampu memandangi secarik kertas ditangannya, "Mungkin aku juga akan segera meninggalkan kota ini, aku harus melupakan semua kisah hidup yang membuat aku kehilangan semuanya, terutama kehilangan cinta Evan dan juga cinta Anton.


Dengan menghembuskan nafas kasarnya Tania segera berjalan memesan taxi online, tujuannya sekarang dia hanya ingin pergi menemui Ibunya di desa.


**


Enam hari sudah berlalu besok adalah hari pernikahan Evan dan Elena, semua orang di sibukan dengan berbagai persiapan meyambut hari bahagia itu.


Evan sudah tidak sabar untuk bisa segera bersanding dengan kekasih pujaannya, cinta pertamanya Elena Rosalina besok akan resmi menjadi istrinya.


Sudah hampir seminggu ini Evan belum bertemu dengan Elena, dia sudah sungguh Rindu sekali melihatnya. Dia ingin segera cepat-cepat berganti hari agar bisa bertemu dengan Elena.


"Van kenapa kamu senyum-senyum sendiri, pasti kamu sudah tidak sabar ya menunggu hari besok." Tawa renyah dari Bu Sindy membuat Evan sedikit malu sampai wajahnya memerah.


"Benar Bu, aku ingin segera membawa Elena untuk tinggal bersamaku, dan segera memberi cucu buat Ibu, bukankah Ibu menginginkan itu?"


"Benar Van, kamu harus cepat-cepat punya anak ya, agar Ibu tidak kesepian. Ibu ingin bermain dengan cucu-cucu Ibu."


Melihat Ibunya yang sangat antusias membicarakan cucu, fikiran Evan malah terbang melayang membayangkan bagaimana nanti Malam pertamanya dengan Elena. Dia sudah tidak sabar menunggu dan ingin segera memiliki Elena sepenuhnya, hanya Elena wanita yang sudah mampu meluluhkan hatinya.


Tidak jauh berbeda dengan Elena, disana dia juga sangat bahagia, dia juga ingin cepat-cepat bertemu dengan kekasihnya yang sudah hampir satu Minggu ini tidak bertemu.


Pak Renaldy dan juga Bu Rita sama-sama sedang berbahagia, benih-benih cinta mereka setiap hari selalu bertambah. Bu Anita melihat putranya kembali menemukan cintanya sungguh sangat bahagia, setidaknya Renaldy akhirnya nanti akan berumah tangga dengan cinta sejatinya......


Tunggu satu Bab lagi ya sampai Bab ke 100...kita lihat semeriah apa pernikahan Evan dan juga Elena...


#Terimakasih Author ucapkan atas dukungan kalian Readers sudah sampai sejauh ini kalian mengikuti karya saya...saya tidak mampu membalas apa-apa semoga kalian selalu sehat selalu....nantikan karya saya nanti selanjutannya ya....

__ADS_1


HAPPY READING!!!!


__ADS_2