
Damian pun Akhirnya membawa Rita kembali kekamarnya, entah sudah berapa kali sejak semalam ia tak henti-hentinya menghujani Rita dengan penyatuannya.
Kini Rita pun mulai sangat kuwalahan menghadapi perubahan dari suaminya, Damian benar-benar sudah sangat candu dengan tubuh Rita.
"Mas apa kamu mau melakukannya lagi?, bukankah semalam kamu sudah berulang-ulang melakukannya." disana Damian tak mendengarkan perkataan Rita, bahkan dia sangat agresif mencium setiap inci dari tubuh Rita.
Disana Rita pun melihat Damian sudah seperti singa kelaparan, Rita hanya pasrah mengimbangi kemauan suaminya.
Setelah pergumalan panas mereka akhirnya Damian sudah mulai kelelahan, dia sangat bersemangat sekali melakukannya, bahkan dia mengharapkan di rahim Rita akan tumbuh keturunannya, dia tidak akan pernah lelah sampai keinginannya tercapai.
Disana Rita masih berada di dekapan Suaminya, entah mengapa dia suka sekali menenggelamkan kepalanya di dada suaminya. Damian pun semakin gemas melihat tingkah Rita.
"Mas aku bersih-bersih dulu ya, rasanya badanku sangat lengket sekali." ucap Rita pada Suaminya,
Damian pun akhirnya memperbolehkan Rita bersih-bersih, mungkin dia akan menyudahi aksinya untuk saat ini, dia sangat tidak tega setelah melihat Istrinya sepertinya sudah sangat kelelahan atas ulahnya.
Akhirnya Rita pun membersihkan badannya, Rita sangat kaget setelah bercermin di depan kaca kamar mandi miliknya, dia melihat tanda kepemilikan milik Damian banyak sekali di lehernya.
"Mas kamu seperti orang baru menikah saja, kamu meninggalkan semua tanda itu di leherku!" Ucap Rita dalam hati, tapi tiba-tiba dia memikirkan Renaldy. dulu Renaldy seringkali meninggalkan jejaknya di sana sama seperti Damian.
Rita tidak memungkiri di dalam hatinya kini tersimpan dua cinta, yang entah kapan dia bisa menghilangkan Renaldy dalam ingatannya.
Akhirnya Rita pun keluar dari kamar mandi Disana Damian masih juga memperhatikan istrinya berjalan ke arahnya.
"Mas kamu kenapa meninggalkan jejak kepemilikanmu disini banyak sekali!" Tanya Rita pada Suaminya dengan memperlihatkan tanda itu ke suaminya.
Disana Damian merasa bahagia serta puas melihat tanda kepemilikanya terpampang di leher Rita, entah mengapa hatinya kembali berdesir. Damian pun kembali memeluk Rita disana.
"Rita maukah kamu memiliki anak keturunan saya?" Tanya Damian pada Rita, tentu Rita sangat terkejut mendengar pertanyaan dari suaminya.
"Mas apa saya masih pantas memiliki anak, sekarang umur saya saja sudah menginjak kepala empat!" Ucap Rita.
"Kita bisa konsultasi pada Dokter, bagaimana kamu mau?, Aku ingin sekali mempunyai keturunan, walau pun mungkin sedikit terlambat kita bisa mencobanya." Ucap Damian memelas.
__ADS_1
Sebenarnya Rita tidak mau berharap lebih walu pun kesuburannya mungkin sudah berkurang, tapi dia ingin mencoba mengabulkan keinginan suaminya.
**
Sementara itu hari sudah sore Elena sudah ingin bergegas meninggalkan kantor, tapi tiba-tiba Evan masuk keruangannya dan melihat Elena yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Elena apa kamu sudah mau pulang, kenapa kamu tidak menunggu saya?" Tanya Evan pada Elena.
"Apa Mas Evan mau pulang bersama saya?" tanya Elena pada Evan.
"Tentu saja, saya ingin mengajakmu jalan-jalan malam ini, apa kamu mau?" ucap Evan sambil menyunggingkan senyuman.
"Jalan-jalan kemana Mas?" Tanya Elena yang sangat senang mendengar kata jalan-jalan.
"Saya mau ajak kamu jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, apa kamu suka?" Tanya Evan pada Elena.
"Tentu saja Mas kemana pun Mas bawa saya, asalkan itu bersama Mas Evan saya mau." Ucap Elena tanpa beban, Evan yang mendengarnya pun langsung mendekati Elena.
Akhirnya mereka menaiki mobil menuju ke pusat perbelajaan, sebenarnya Evan berniat menemui Ibunya, dan ingin lebih mendekatkan lagi Elena dengan Ibunya.
Setelah kurang lebih dua puluh menit akhirnya mobil Evan sudah sampai di pusat perbelajaan yang ingin Evan tuju.
Evan pun dengan segera membukakan pintu untuk Elena. Mereka akhirnya berjalan dan masuk ke pusat perbelajaan ternama yang ada di kota itu.
Disana Evan tanpa malu menggandeng tangan Elena dalam genggamannya, dia bahkan ingin menunjukan kesemua orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih.Tapi berbeda dengan Elena, dia sungguh malu setiap kali orang melihat ke arah mereka.
"Mas, apa Mas tidak malu dilihat semua orang? Nanti kalau ketemu rekan bisnis Mas di sini bagaimana?" Tanya Elena pada Evan.
"Biarkan saja semua orang tahu, bahkan saya ingin mengenalkan kedunia bahwa kamu adalah kekasih Evan Mahendra." Elena pun sungguh sangat malu, wajahnya pun sampai memerah mendengar ucapan dari Evan.
Sementara itu, Pak Renaldy sedang bertemu dengan rekan bisnisnya di sebuah restoran di pusat perbelanjaan, tanpa mereka ketahui mereka sama-sama berada di pusat perbelanjaan yang sama.
Evan pun berhenti di sebuah toko bunga, disana dia mengambil setangkai bunga untuk Elena.
__ADS_1
"El ini untukmu!" Ucap Evan yang memberikan setangkai bunga untuk Elena.
"Apa ini Pak?" Tanya Elena pura-pura tidak tau, sebenarnya hatinya sudah sangat berbunga-bunga menerima pemberian bunga dari Evan.
"Ini hanya sebagai simbol, kalau bunga ini tanda kasih dan cinta saya untukmu." Ucap Evan yang suaranya sedikit bergetar, sebenarnya dia sedang memulai dan berusaha menjadi laki-laki yang romantis untuk Elena.
"Terimakasih banyak Mas." Ucap Elena sambil menerima bunga pemberian Evan.
Tiba-tiba tanpa mereka ketahui, di belakang mereka sudah berdiri Pak Renaldy dan asistennya yang sudah memperhatikan mereka berdua sejak dari tadi.
"Wah pasangan yang romantis." Evan sangat kaget mendengar ucapan dari seseorang di belakangnya, dia hafal betul kalau itu suara Pak Renaldy.
"Pak Renaldy, Bapak ada disini juga!" Tanya Evan pada Pak Renaldy.
"Benar saya sedang bertemu dengan klien dan kebetulan saya melihat Pak Evan dan juga sekretaris Bapak disini. Ngomong-ngomong apa kalian ada hubungan?'' Tanya Pak Renaldy.
Evan dan Elena pun saling pandang, Evan sebenarnya mau menjawab langsung pertanyaan Pak Renaldy, tapi dia meminta persetujuan Elena untuk menjelaskan pada Pak Renaldy.
Akhirnya Elena pun memberi anggukan, pada Evan tanda dia memperbolehkan Evan mengatakan yang sebenarnya.
"Benar Pak, Elena ini adalah kekasih saya!" Ucap Evan tanpa beban.
"Oya, benar-benar pasangan yang cocok, sudah sama-sama ganteng dan cantik." Puji Pak Renaldy.
"Terimakasih banyak Pak." ucap Evan.
Disana Pak Renaldy benar-benar lekat memandang Elena, di dalam hatinya seandainya benar Elena adalah anak dari dirinya dan Rita mungkin ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Tapi semuanya belum terjawab.
"Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu Pak. Silahkan lanjutkan kembali jalan-jalannya!" Ucap Pak Renaldy yang langsung berlalu setelah berpamitan.
Dari kejauhan sedari tadi Bu Sindy sudah melihat Evan dan juga Elena berada, hatinya sebenarnya mulai tersentuh, dia sebenarnya tidak mempermasalahkan dengan siapa Evan menjalin hubungan, yang dia ingin Evan saat ini bisa bahagia dengan hidupnya.
Bersambung....kali ini dua Bab ya...terimakasih atas dukungannya Readers.
__ADS_1