
"Oya kenapa kamu tiba-tiba datang kesini, sudah berapa tahun semenjak kamu menikah saya tidak pernah melihat kamu kesini?"
"Saya sedang malas di rumah, saya sedang ada masalah!" Sambil menghembuskan nafas kasarnya Damian mulai teringat dengan kebenciannya.
"Apa kamu sedang ada masalah dengan Rita?"
"Benar, Rita sudah terlalu banyak membuat kekecewaan di hati saya. Saya hanya ingin mempunyai keturunan tapi sepertinya semua harus pupus!" ucap Damian sambil meminum minuman disana.
"Apa selama ini kamu belum mempunyai keturunan, bukankah kamu sudah menikah cukup lama!"
"Ceritanya panjang, saya menikahi Rita karena saya sangat mencintainya, kamu tahu itu kan?, tapi ternyata Rita sudah tidak suci lagi saat menikah denganku!" Disana Bela sangat kaget dengan menutup mulutnya memakai telapak tangannya.
"Kamu tidak bercanda!"
"Untuk apa aku bercanda itu semua nyata, saya memang benar-benar sangat bodoh. Mungkin sebentar lagi saya akan menceraikan Rita!"
"Kamu jangan gegabah, bukankah kamu sangat mencintainya!"
"Kamu benar, saya memang sangat mencintainya bahkan saya tergila-gila dengannya, tapi kamu tahu rasa cintaku telah di hancurkan begitu saja, Rita ternyata membohongiku, dia ternyata sudah punya anak sebelumnya. Apa itu namanya bukan pembodohan!" Damian tersenyum miring meratapi kebodohan yang ia alami.
Bela teringat pada dirinya sendiri, sejak kehamilannya, hingga melahirkan putrinya. Tidak berselang lama akhirnya dia dinikahi oleh seorang perjaka kaya dari desanya, tapi sayang suaminya meninggalkan dirinya saat dirinya sedang hamil anak ke duanya, dia terpaksa menghidupi sendiri anak dari Damian, dan melahirkan sendiri anak dari suami sahnya, dia tidak sanggup membiayai hidup kedua anaknya hingga kedua anaknya ia titipkan di sebuah panti asuhan.
Disana Damian sangat menghabiskan banyak sekali minuman, hingga kini bicaranya saja sudah tidak terkendali, Bela hanya mampu menemaninya disana, mendengar keluh kesah Damian, padahal di dalam hatinya, dia juga merasakan sakit yang begitu dalam.
Setelah setengah jam Damian sudah sangat mabuk berat, bahkan untuk mengangkat tangannya saja dia tidak mampu dia benar-benar terkulai lemah di meja itu, Bela yang melihatnya sungguh kasihan.
Hari pun sudah mulai malam, Bela harus segera pulang, tapi melihat Damian yang tak berdaya, dia tidak tega meninggalkannya dia mencoba meminta bantuan temannya untuk memapah tubuh Damian ke dalam sebuah taxi.
Bela terpaksa membawa Damian pulang, dia sungguh kasihan kalau harus meninggalkannya sendirian, setelah setengah jam perjalanan akhirnya dia sampai di sebuah rumah kecil miliknya.
Bela ditemani sopir taxi mencoba membawa Damian masuk kedalam rumah sempitnya, Damian pun segera di rebahkan di sebuah kasur kecil miliknya. Setelah melakukan pembayaran akhirnya taxi itu segera pergi dengan bela yang masih berada di depan pintu.
Akhirnya Bela masuk ke sebuah kamar yang di tempati Damian, dia mencoba melepas satu persatu sepatu milik Damian. Disana Damian benar- benar tak bergeming, tiba-tiba dari saku celana Damian terdengar bunyi telepon yang berbunyi berulang-ulang, Bela sebenarnya tidak mau ikut campur dengan urusan Damian tapi suara itu sungguh mengganggu telinganya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Bela segera mengambil ponsel itu dia mengambilnya dengan sangat hati-hati dia takut Damian akan terbangun, setelah dia mendapatkan ponsel itu dia segera melihat siapa yang menghubungi Damian, disana tertera nama "Ritaku" akhirnya Bela segera mengangkatnya.
"Halo!"
"Halo, siapa kamu yang berani mengangkat telpon suamiku!" Disana Rita sangat kaget dan marah, bisa-bisanya ada seorang perempuan yang mengangkat telepon dari ponsel milik Suaminya.
"Siapa kamu!" Rita mengulanginya lagi karena dia tidak mendapat jawaban dari ujung telepon.
"Halo, saya Bela , saya teman Damian, Damian sedang mabuk tadi di tempat saya bekerja.
"Apa!" Dimana tempat itu kasih tahu saya!"
"Maaf Damian sudah saya bawa pulang, dia sangat mabuk berat karena memikirkan anda, dia banyak bercerita katanya dia sedang kecewa dengan istrinya!" Disana Rita terdiam, "Mas apa kamu sangat marah kepadaku sampai kamu melakukan itu disana" Rita tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya tiba-tiba sakit.
**
Sementara itu, Pak Renaldy dan juga Evan sudah mengantar pulang Elena ke apartemen, karena permintaan Elena sendiri dia mau mengambil sesuatu sebelum dia pergi kerumah Papanya menemui Neneknya.
Disana Elena segera mengambil box yang kemarin sempat ia bawa dari panti, dia ingin membukanya bersama Papanya di rumah Papanya nanti. Melihat Elena membawa sesuatu Pak Renaldy langsung bertanya.
"Ini box peninggalan Mama Rita Pa, aku sengaja belum pernah membukanya. Aku ingin nanti kita membukanya sama-sama."
Pak Renaldy terdiam sejenak, "Ternyata Rita meninggalkan sesuatu untuk putrinya." Entah mengapa hati Pak Renaldy tiba-tiba sedih kala mengingat semuanya.
"El...Sepertinya saya tidak bisa mengantarmu kerumah Pak Renaldy, tidak apa-apakan?, hari ini Ibu akan datang kerumah, saya tidak enak kalau tidak menemui Ibu."
"Tidak apa-apa Mas, kalau begitu Saya sama Papa saja. Ya sudah kita kebawah sekalian Mas pulang, saya dan Papa juga pulang ke rumah Papa."
Akhirnya Evan terpaksa harus pulang ke rumahnya karena Ibunya akan datang ke rumahnya, sedang Elena dan Pak Renaldy pulang menuju ke rumah besar milik Pak Renaldy.
Sesampainya di rumah megah itu, Pak Renaldy segera turun dari mobilnya, dia pun membukakan pintu untuk putrinya, disana Bu Anita dengan kursi rodanya sudah menyambutnya di depan rumah megah itu, sebelumnya Bu Anita sudah di beri tahukan oleh putranya, bahwa cucunya malam ini akan datang.
Disana Elena menatap lurus ke arah seorang Nenek yang sedang duduk di kursi roda, wajah Neneknya sudah kelihatan tua dan tubuhnya sudah mulai kurus, dia memakai kaca mata tebal disana, terlihat oleh Elena disana Nenek itu tersenyum padanya.
__ADS_1
"Nak, itu Nenekmu, segeralah temui beliau, Nenek sangat merindukanmu." Elena segera berjalan dan mendekati Neneknya disana.
"Cucuku, apa kamu cucuku, Ren apa ini Elena putrimu?" Ibu Anita sungguh sangat bahagia melihat cucunya datang.
"Benar Bu, ini Elena putriku, dia sangat cantik bukan, wajahnya persis seperti Rita." Setelah mengucapkan itu wajah Pak Renaldy mulai sedih, dia teringat lagi dengan Ritanya.
"Nek." Elena memeluk Ibu Anita disana, disana Neneknya pun menyambut pelukannya.
"Akhirnya kamu kembali sayang, Nenek sungguh merindukanmu, apalagi Papamu yang selalu mencarimu."
Disana nampak air mata Bu Anita berkaca-kaca, akhirnya dia masih di beri kesempatan untuk melihat cucu kandungnya dari Renaldy, putra satu-satunya yang dia punya.
"Masuk, masuk sayang, kamu harus tinggal disini kamu harus menemani Nenek disini. Kamu tahu Nenek sangat kesepian setiap hari."
Elena tidak bisa menahan keharuannya, dia benar-benar tersentuh, ternyata dirinya tidak sepenuhnya dibuang. Disini banyak orang-orang yang sangat merindukan kehadirannya, "Lalu dimanakah Ibu Rita berada" Entah mengapa dia teringat apa isi box yang ia bawa?"
"Nak apa kamu mau membuka isi box yang kamu bawa!"
"Iya Pa, aku mau membukanya!"
"Kalau begitu kita segera masuk dulu, nanti didalam kita akan membukanya."
Elena pun mengikuti perintah Papanya, dia segera mendorong kursi roda Neneknya disana, dengan lembut tangan Neneknya selalu memagang lembut tangan cucunya yang berada di belakang kursi rodanya, dengan senyum kebahagian yang tak bisa di ungkapkan.
Disana Elena mulai masuk kerumah besar itu, dia sungguh takjub dengan isi rumah milik Papanya, baru pertama kali dia memasuki rumah yang sangat mewah itu, dia sempat melihat sekeliling rumah itu, matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah bingkai foto disana.
"Kamu lihat apa sayang, apa kamu melihat foto itu. Itu adalah foto Papa dan Tania waktu kecil. Selepas ini ruangan ini akan penuh dengan fotomu Nak, jangan berkecil hati ya selama ini Papa hanya hidup bersama Nenek dan juga Tania."
"Aku tidak berkecil hati Pah, hanya saja selama ini Papa tinggal di tempat mewah ini, tapi aku hanya tinggal di panti bersama anak-anak disana, mungkin kalian sedang makan enak, sedang kami disana hanya makan nasi kotak yang harus berebutan dengan anak-anak panti yang lain."
Pak Renaldy segera memeluk putrinya, Bu Anita disana juga tersentuh dengan ucapan cucunya, dia menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya dulu dia dan suaminya merestui hubungan Renaldy mungkin cucunya tidak akan semenderita itu, air mata Bu Anita akhirnya mulai berjatuhan disana.
**
__ADS_1
Sementara itu Bu Rita masih tidak percaya kalau suaminya sampai sebegitu sakit dengan apa yang dia lakukan, "Maafkan aku Mas, kembalilah!" Ucapnya dalam tangis yang mulai terisak.
Bersambung.....