
Esok harinya, Evan datang ke apartemen Elena, kebetulan hari ini adalah hari weekend. Disana Elena masih bersiap-siap mengemasi barang-barang yang akan ia bawa ke panti, Evan dengan setia masih menunggu Elena disana.
"Apa kamu sudah siap?" ucap Evan bertanya pada Elena yang sedari tadi masih sibuk mengemasi barang-barang.
"Sebentar lagi Pak!" jawab Elena yang masih merapikan tasnya.
"Nanti kita akan ke pusat perbelanjaan untuk membeli mainan, dan kebutuhan anak-anak di panti." ucap Evan mengingatkan.
"Baik Pak saya sudah siap!" ucap Elena dengan berdiri menenteng dua tas di tangannya.
"Apa itu berat?" tanya Evan pada Elena, Elena pun hanya tersenyum.
"Ini hanya makanan ringan Pak, buat anak-anak di panti. Kemarin sepulang dari taman saya sengaja membelinya."ucap Elena.
"Bukankah saya yang janji akan membelinya, kenapa malah kamu yang membelinya?" Elena pun kembali tersenyum.
"Tidak apa-apa Pak, saya sangat senang Bapak mau datang ke panti. Oleh-oleh ini tak seberapa." jawab Elena yang tidak ingin merepotkan Evan.
"Baiklah berikan tas itu pada saya!" perintah Evan pada Elena.
"Sudah saya saja Pak, tidak apa-apa lagian ini tidak berat sama sekali." jawab Elena yang tidak mau merepotkan bosnya.
"Elena apa kamu lupa, saya sekarang adalah kekasihmu, kenapa kamu selalu sungkan dengan saya." Elena yang mendengarnya pun baru menyadarinya
"Baiklah Pak kalau begitu, maafkan saya." dengan cepat Elena akhirnya memberikan dua tas itu pada Evan.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju panti, tidak lupa Evan dan Elena berhenti di sebuah pusat perbelanjaan, di sana dia sangat banyak membeli barang-barang. Elena sampai tidak percaya Pak Evan kekasihnya itu sangat royal sekali, semua mainan itu harganya saja sangat mahal, tapi Pak Evan tidak mempermasalahkan harganya.
Setelah hampir setengah jam Evan dan Elena membeli barang-barang, akhirnya mereka putuskan untuk segera kembali ke mobil.
Barang-barang belanjaan mereka pun ada tujuh troli, mereka sampai tidak bisa membawanya sendiri, akhirnya Evan meminta karyawan disana untuk membatu membawakan barang-barangnya sampai kemobilnya.
Setelah semua barang-barang masuk kedalam mobil, Evan segera melajukan mobilnya menuju panti, kali ini Evan membawa mobilnya sendiri tanpa sopir pribadinya.
Jarak ke panti lumayan jauh, disana Evan dan Elena harus melewati jalan yang sepi, seperti yang Elena bilang panti itu terletak di sebuah desa kecil di pinggiran kota.
Setelah hampir tiga jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di panti bunda kasih, disana mereka di sambut anak-anak panti dengan sangat gembira. Suara sorak sorai dari anak-anak panti riuh memanggil nama Elena.
"Kak Elena datang!" ucap salah satu anak panti yang tinggal disana, semua anak-anak pun berlarian memeluk Elena.
__ADS_1
Evan benar-benar sangat terharu melihat pemandangan di depannya, betapa seorang Elena Rosalina begitu di sayang dan dicintai anak-anak panti disana.
Akhirnya barang-barang yang mereka bawa di turunkan dari dalam mobil, anak-anak disana sungguh sangat bahagia mendapat mainan dari Evan dan Elena.
Disana Ibu panti sangat terharu melihat Elena sekarang bisa membahagiakan anak-anak panti, itu semua adalah janji Elena dulu.
"Elena apa kamu tidak berlebihan memberikan ini semua." tanya Bu panti pada Elena.
"Bu, ini bukan saya yang membelikan, tapi bos Elena yang baik hati ini." ucap Elena sambil memperkenalkan Evan pada Ibu panti.
"Adik-adikku semua, ayo ucapkan terimakasih pada Pak Evan!" semua ini adalah pemberian Pak Evan." ucap Elena pada anak-anak panti.
Akhirnya anak-anak panti segera menoleh pada Evan, dan akhirnya mereka langsung berhamburan memeluk Evan sambil mengucapkan terimakasih, Evan disana sangat terharu di perlakukan seperti itu.
Evan dan Elena dengan segera di persilahkan masuk oleh Bu panti, akhirnya mereka pun masuk kedalam dan berbincang di ruangan Bu panti.
"El bagaimana kabarmu?" tanya Bu Panti pada Elena.
"Saya baik Bu." jawab Elena.
"Oya apakah anda bos Elena?" akhirnya Bu panti bertanya pada Evan.
"Benar Bu." jawab Evan singkat.
"Panggil saya Evan saja Bu, rasanya kalau di panggil Pak itu saya seperti sudah kelihatan tua." ucap Evan disana, Bu panti dan Elana akhirnya tertawa bersama.
"Baiklah Nak Evan, sekali lagi terimakasih banyak atas semuanya." ucap Bu panti lagi.
"Sama-sama Bu, barang-barang itu juga tidak seberapa."
Bu panti sebenarnya sangat heran pada Elena, kenapa Elena bisa seakrab itu dengan bosnya, apa Elena ada hubungan dengan Nak Evan ucap Bu panti dalam hati.
Evan disana sangat terharu melihat kedekatan Elena dengan Bu panti, sepertinya Bu panti sangat sayang sekali pada Elena, tapi disisi lain Evan sangat sedih membayangkan Elena tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya.
Di sana Elena dan Bu panti saling bercerita, dan mengobrol bersama, Evan akhirnya meminta ijin untuk melihat-lihat anak-anak panti di sana.
Entah mengapa tiba-tiba Evan berhenti di sebuah ruangan yang terdengar ada sebuah tangisan seorang bayi, disana Evan sangat penasaran, dan segera dia meminta ijin untuk masuk keruangan itu.
Beberapa pengasuh disana akhirnya membolehkan Evan masuk, disana Evan melihat bayi yang sepertinya masih merah sekali sedang menangis.
__ADS_1
"Bu kenapa bayi itu menangis?" tanya Evan pada salah satu pengasuh disana.
"Anak ini baru saja di tinggalkan Ibunya Pak, kasihan bayi ini dia baru beberapa jam
dilahirkan, ini seperti waktu Elena di tinggalkan
Ibunya kala itu." ucap salah satu pengasuh disana yang terlihat paling tua dari pengasuh yang lainnya.
Evan disana sempat terharu, dan berkaca-kaca apa Elena dulu sampai menangis seperti itu? ucap Evan dalam hati sambil mengelus-elus pipi mungil bayi itu.
"Apa Ibu tau tentang Elena sewaktu dulu ditinggalkan oleh Ibunya?" tanya Evan pada wanita itu.
"Iya Pak saya tau, sebetulnya saya juga mengenal wanita itu." ucap wanita tua itu.
Evan yang mendengar ucapan wanita itu seperti
mendapat secerca harapan, bahwa Ibunya
Elena mungkin saja bisa ia temukan nanti.
"Bu apa saya boleh meminta nomor Ibu, saya adalah kekasih Elena, saya ingin mencari tau keberadaan Ibunya Elena, apa Ibu bersedia membantu saya?" tanya Evan pada wanita itu.
Wanita tua itu pun mulai berfikir sejenak, dia berfikir mungkin Elena sudah dewasa. seharusnya dia juga akan mencari Ibunya nanti.
"Baikalah Pak, sebentar saya tulis nomor saya di kertas dulu ya!" ucap wanita itu sambil berjalan kesebuah meja, dan segera mengambil secarik kertas beserta alat tulis. Disana wanita tua itu pun segera menulis nomornya dan segera memberikan pada Evan.
"Terimakasih banyak atas bantuannya Bu." ucap Evan pada wanita itu.
"Sama-sama Pak, saya titip Elena ya Pak tolong jaga Elena baik-baik, dia adalah wanita kuat, dia pun anak yang paling pintar dari yang lain.
Prestasinya dari sekolah sangat banyak sekali, seharusnya orang tuanya bangga memiliki Elena, tapi sayang nasib Elena hanya sebatas
dititipkan di panti asuhan." ucap wanita itu dengan suara parau.
"Ibu tenang saja, saya akan memberikan sejuta kebahagiaan, serta kasih sayang yang lebih
untuk Elena!" ucap Evan meyakinkan bahwa
dirinya tidak main-main pada Elena.
__ADS_1
Bersambung.......
yuk tinggalkan jejak kalian disini dengan cara like serta komennya terimakasih..