
"Apa!! , jadi selama ini kamu sudah membohongi suamimu!, mana Rita yang ku kenal dulu Rita yang tidak pernah berbohong?"
"Aku terpaksa mas, itu semua karena desakan orang tuaku!, mereka menjodohkanku dengan seorang pengusaha, orang tuaku menyuruhku untuk menyimpan rahasia atas aku yang pernah melahirkan. Tapi akhirnya semua juga ketahuan dari malam pertamaku, suamiku tahu aku sudah tidak suci lagi, setelah itu dia tidak pernah menjamah ku."
Disana Pak Renaldy terdiam, sebenarnya hatinya merasakan sakit yang teramat dalam, kala Rita menceritakan dirinya, padahal cinta Pak Renaldy tulus pada Rita, sampai dia rela masih menutup hatinya untuk siapa pun.
"Mas?, kamu mendengarkan ku kan!"
"Eh....Iya aku masih mendengarnya."
"Bagaimana dengan rumah tanggamu mas?" Disana Pak Renaldy memandang lekat ke wajah Rita yang menurutnya masih kelihatannya cantik dan awet muda, bahkan dia bertambah sangat cantik bentuk tubuhnya pun masih terjaga dengan baik.
"Saya sampai detik ini belum pernah menikah."
"Apa!! Jadi??" Disana Rita sempat syok, dia sempat tidak percaya dengan ucapan Renaldy di depannya.
"Aku sangat menjaga cinta kita Rita, aku ingin menebus kesalahanku, aku masih berharap kamu pun sama. Tapi ternyata kamu sudah dulu melupakan cinta kita, waktu aku menyelidiki tetang keberadaan dirimu hatiku benar-benar hancur saat tahu dirimu sudah berumah tangga. Aku kira kamu juga akan menjaga cinta kita seperti janji kita dulu. Tapi??"
"Maafkan aku mas, maaf kan aku, aku tidak bisa menjaga cinta kita seperti kamu menjaga cintamu. Karena paksaan orang tuaku aku jadi seperti ini, maafkan aku!" Dengan berderai air mata Rita menyesali apa yang telah terjadi.
"Sudahlah, kamu tidak salah, disini aku yang salah, aku yang telah meninggalkanmu. Kamu memang berhak bahagia."
"Tapi aku tidak pernah bahagia mas, kamu tahu aku seperti terkurung di rumah megah, semua media sosialku sudah di tutup dan tidak di perbolehkan mengaksesnya. Aku seperti di penjara!"
"Kenapa suamimu bisa seperti itu?"
"Itu karena dia mendapatkan aku sudah tidak suci lagi, dia meluapkan kekecewaannya dengan setiap hari membenciku dengan ucapan kasarnya, aku sungguh sangat tersiksa!" Sebenarnya hati kecil Pak Renaldy sungguh ikut sakit mendengarnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu tadi belum menjawab pertanyaanku dimana kamu tinggal, dan berapa anakmu sekarang?"
"Aku tinggal di sebuah perumahan elit mas, masih di kota ini dan masalah anak sampai saat ini aku tidak mempunyai anak dari suamiku." Perasaan Pak Renaldy campur aduk antara kecewa dan juga entahlah setelah mendengar jawaban dari Rita??
**
Sementara itu Elena masih menunggu Papanya yang sampai detik ini belum kembali dari toilet.
"Mas, kenapa Papa lama sekali aku takut ada masalah lagi disana, apa kita susul saja!"
"Coba kamu hubungi dulu Pak Renaldy sayang!"
__ADS_1
"Baiklah." Dengan cepat Elena menghubungi Papanya. Pak Renaldy yang baru saja berbincang dengan Rita di kagetkan dengan suara dari ponselnya.
"Rita Elena meneleponku, pasti dia khawatir karena aku terlalu lama meninggalkannya, apa kamu mau ikut denganku untuk menemui putri kita?"
"Sepertinya tidak saat ini mas, aku belum siap. Aku takut Elena akan membenciku."
"Ya sudah kalau begitu aku angkat dulu telponnya ya." Akhirnya Pak Renaldy segera mengangkat panggilan dari putrinya.
"Ya Nak!"
"Pa, Papa dimana?, Papa baik-baik saja kan?, kenapa Papa lama sekali apa masih ada masalah tadi?"
"Papa ada urusan sebentar sayang, sebentar lagi Papa akan kembali. Ya sudah Papa langsung kesitu ya!"
"Ya sudah jangan lama-lama Pa, Bu Sindy soalnya mau pulang juga!"
"Baiklah." Disana Pak Renaldy memang sengaja mengeraskan volume ponselnya agar Rita bisa juga mendengarkan suara putrinya.
"Mas itu suara putri kita?"
"Benar, sekarang dia sudah dewasa dan juga? Oya aku lupa memberitahukan mu kalau Elena sebentar lagi mau di lamar kekasihnya."
"Kamu tidak usah bersedih, aku akan memberikan pengertian untuk Elena. Aku akan pelan-pelan memberi tahukan tentang keberadaanmu, aku yakin Elena pasti akan menerimamu."
"Terimakasih banyak mas."
"Berikan nomor teleponmu padaku, nanti aku akan menghubungimu." Disana Pak Renaldy memberikan ponselnya agar Rita memasukan nomor teleponnya pada ponsel Pak Renaldy. Setelah di simpan diponselnya, Pak Renaldy segera berpamitan untuk kembali ke tempat Elena berada.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, jaga dirimu baik-baik kalau ada apa-apa segera hubungi aku."
"Terimakasih banyak mas." Rita disana hanya mampu melihat kepergian mantan kekasihnya, dia sungguh menyesal ternyata Renaldy masih menjaga cintanya tapi dia sendiri malah sudah memilih menikah dengan jodoh pilihan orang tuanya "Maafkan aku mas Renaldy" tak terasa air matanya mulai menetes di pipinya.
**
Pagi itu Damian sudah bersiap-siap untuk menemui putrinya, semalam dia dengan cepat menyelesaikan masalahnya agar bisa secepatnya bertemu dengan Tania.
Dia bersama Bobi sang asistenya berangkat menuju ke apartemen yang kemungkinan putrinya berada disana. Dengan perasaan yang campur aduk Damian bisa sedikit lega karena dia ternyata punya keturunan walaupun bukan dengan Rita.
"Oya Bob, kapan surat gugatan cerai saya sampai di tangan Rita?"
__ADS_1
"Kemungkinan hari ini Pak!, maaf Pak apa setelah ini Bu Rita harus meninggalkan rumah anda?"
"Ya saya tidak ingin dia tinggal disana, tapi saya sudah menyiapkan rumah baru untuk dia, walaupun dia sudah banyak menyakiti saya tapi soal kesejahteraannya saya akan mengganti rugi semua atas pengabdiannya menjadi istriku selama ini."
"Tapi Pak, kalau Bu Rita meminta hak dari rumah itu bagaimana?"
"Terserah dia saja, saya sudah tidak begitu memperdulikan rumah itu, saya bisa menempati rumah yang lain."
Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mobil Damian sampai di depan sebuah apartemen, dia dan sang asisten Bobi segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki apartemen disana.
Setelah menaiki lift ke lantai 10 akhirnya Damian mulai menyusuri setiap pintu dan mencari nomor disana 114 dia mencari nomor itu. Akhirnya dia bisa menemukannya tepat didepannya ia berdiri. Tidak menunggu lama akhirnya dia langsung memencet bel disana.
Anton yang sudah siap-siap untuk berangkat ke kantor polisi segera membukakan pintu apartemennya, dia sempat kaget dia belum pernah melihat wajah seseorang dihadapannya.
"Maaf anda siapa!"
"Apa Tania ada didalam?"
"Apa hubungan anda dengan Tania!"
"Saya Papa kandungnya!"
"Apa!!, bukankah Tania hanya punya Papa angkat saja?, setahu saya itu!"
"Ceritanya panjang, apa Tania ada di dalam?"
"Itu dia, saya sedang akan melaporkan tentang hilangnya Tania pada polisi."
"Apa!!! jadi putriku hilang!!!"
"Saya juga belum tahu kemarin dia sempat tiba-tiba menghilang, lantas saya cari tahu lewat CCTV disana nampak Tania dibawa dua orang dengan tangannya yang di borgol saya takut Tania di tangkap polisi.
"Apa!!!! Kenapa Tania di tangkap polisi!!" Damian benar-benar sangat panik.
"Saya juga kurang tahu Pak, kalau Bapak mau silahkan ikut dengan saya kita datangi Tania di kantor polisi."
Dengan wajah yang panik Damian benar-benar tidak percaya ada apa dengan putrinya, kenapa. Dia sampai dibawa polisi!!
Bersambung.....
__ADS_1