Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 93 #Emosi Yang Membara


__ADS_3

"Apa!!! Damian!!"


"Paman Damian!!!"


Baik Pak Renaldy dan juga Evan sama-sama terperanjat mereka sama-sama mengenal Damian. Tapi Pak Renaldy heran kenapa Evan memanggilnya Paman Damian.


"Nak Evan mengenal Damian?"


"Benar Pak, Paman Damian adalah Paman saya!" Dia adik tiri Ayah saya!"


Disana Baron hanya bisa memandang kedua orang dihadapannya, dia juga heran kenapa Pak Damian yang di bilang Paman dari Evan menyuruhnya untuk menghabisi keluarga Mahendra padahal mereka saudara walaupun saudara tiri.


"Tidak bisa dibiarkan, kita harus melakukan tindakan kalau tidak masalah ini akan berkepanjangan Van!" Ucap Pak Renaldy.


"Benar Pak, saya juga heran padahal Paman Damian sangat menyayangi saya waktu saya kecil, tapi kenapa dia ingin membuat saya celaka!"


"Baron, apa kamu sudah lama jadi anak buah Damian!"


"Sudah cukup lama, semenjak mediang Pak Robert meninggal dan tidak ada pelanjutnya saya langsung jadi anak buah Damian!"


"Apa kamu tahu motif apa yang mendasari Damian melakukan ini semua pada ponakannya?"


"Yang saya tahu, motifnya itu tentang harta!" Yang saya dengar dulu, orang tua mereka tidak adil membagi hak waris pada putra-putranya. Hingga sampai terjadi peristiwa itu! Dan Pak Mahendra meninggal!"


"Apa!! Jadi kamu tahu kasus kematian mendiang Ayah saya?" Dengan wajah yang memerah Evan menatap tajam ke arah Baron.


"Benar, Bahkan saya ikut serta dalam kasus pembunuhan itu!"


"Apa!!! Biadab kamu!!" Apa kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan telah membuat anak 8 tahun menjadi yatim hah!!!"


"Maafkan saya, saya hanya orang bayaran yang membutuhkan uang!" Dengan wajah yang memelas Baron mengakui kesalahannya.


Bugh....bugh...bugh....


Tanpa basa-basi Evan tiba-tiba menghunjamkan bogem mentah ke wajah Baron hingga beberapa kali, disana terlihat darah mulai mengalir dari mulut serta hidung Baron, Baron tidak melakukan perlawanan sama sekali, dia bahkan menerimanya karena dia tahu melawan pun percuma.


"Van hentikan!" Ucap Pak Renaldy yang tak ingin Evan melakukan kekerasan.

__ADS_1


"Biarkan saja Pak, saya ingin melihat semua orang yang telah membuat ayah saya tiada mereka juga harus mendapatkan balasan yang sama!" Dengan masih melayangkan pukulan Evan berucap. Disana tubuh Baron sudah jatuh tersungkur di atas lantai.


"Evan hentikan!!" Kali ini Pak Renaldy sangat keras memperingatkan Evan, Evan pun mulai menghentikan aksinya.


"Kalau kamu seperti ini, itu sama saja kamu sama seperti mereka! Lebih baik sekarang kita cari Damian, kita akan meminta pertanggung jawaban atas masalah yang ia ciptakan!"


Evan pun terdiam, memang benar mungkin Baron dan yang lainnya hanya mengikuti perintah bosnya, disini yang harus bertanggung jawab adalah Pamannya yang telah membuat Ayahnya kehilangan nyawa.


Malam sudah mulai larut, tidak mungkin kalau hari ini mereka melakukan tindakan, mereka harus mencari strategi untuk bisa menangkap Damian.


"Sekarang lebih baik kita pulang Van, besok kita akan lanjutkan lagi." Ucap Pak Renaldy yang tak ingin Evan melakukan hal yang gegabah dan diluar kendali.


Akhirnya Evan dan Pak Renaldy pulang kerumah mereka masing-masing, seharusnya malam ini adalah hari kebahagiaan Evan. Nyatanya kebahagiaan itu malah harus berubah jadi amarah yang membara. Setelah dia mengetahui bahwa orang yang telah membunuh Ayahnya adalah Pamannya sendiri.


"Kenapa Ibu menutupi semua dari ku kenapa!!! Umpat Evan di dalam mobil.


***


Sementara itu, Rita yang masih berada di Rumah Sakit ingin sekali menemui putrinya, tapi dia sangat takut kalau putrinya tidak bisa menerimanya sebagai Ibu kandungnya, dia tahu kesalahan yang telah ia lakukan sungguh mungkin tidak bisa di maafkan.


Asisten rumah tangganya begitu kasian melihat keadaan Nyonya besarnya, dia ingin sekali membantunya tapi Tuan Damian melarang Rita untuk pergi dari Rumah Sakit sampai keadaannya benar-benar pulih.


"Bisa Nyonya, Nyonya butuh apa?"


"Apa bisa kamu membawa saya pergi bertemu dengan putri saya."


"Tapi Nyah, Tuan?"


"Saya sudah tidak peduli lagi Bi, saya hanya ingin bertemu dengan putri saya saja, saya ingin meminta maaf atas apa yang telah saya lakukan padanya dulu!"


Rita teringat pada nomor ponsel yang menghubunginya waktu itu, mungkin dia akan meminta ijin pada suaminya untuk pergi jalan-jalan. Dia ingin sedikit berbohong agar bisa menemui Elena putrinya.


Akhirnya Rita putuskan menghubungi nomor yang telah dia simpan dengan nama suaminya. Tidak berapa lama nomor itu akhirnya tersambung. Disana nampak Pak Renaldy yang baru saja sampai di depan Rumahnya, dia mengurungkan niatnya untuk segera masuk setelah ponselnya berbunyi.


Dengan cepat dia mengambil ponselnya yang berada di kantong celananya, dia melihat ke layar ponselnya di sana ada nama Rita memanggilnya. "Rita?? Dengan cepat Pak Renaldy mengangkatnya.


"Halo mas, maaf, saya hanya ingin minta ijin untuk besok saya akan pergi menemui putri saya. Bisakah kamu mengijinkannya?" Disana Pak Renaldy masih terdiam, "Sepertinya Rita masih menganggap nomor ponselnya adalan nomor suaminya, tapi sebentar bukankah waktu itu dia menyebut nama Damian?? Ini saatnya aku mencari informasi tentang keberadaan Damian.

__ADS_1


"Mas???"


"Halo Rita." Disana Rita nampak terdiam, ternyata suara di ujung telepon bukan suaminya, tapi??


"Mas, Renaldy? Jadi ini nomor kamu? Aku kira ini nomor mas Damian?"


"Rita maaf, apakah kamu istri dari Damian pemilik perusahaan itu?"


"Benar mas, kamu kenal dengan mas Damian?"


"Tidak begitu, kalau boleh tahu dimana sekarang suamimu?"


"Aku tidak tahu mas, aku masih di Rumah Sakit."


"Apa kamu sedang sakit?"


"Benar mas, Oya kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau putri kita tadi mengadakan lamaran?"


"Waktu itu saya sudah menghubungimu, tapi kamu mengira aku adalah suamimu, dan sepertinya kamu sedang ada masalah dengan suamimu. Jadi aku mengurungkan niatku untuk menghubungimu."


"Maaf, saya tidak tahu kalau waktu itu kamu yang menghubungiku."


"Tidak apa-apa, Oya saya ingin memberitahukan padamu tentang suamimu!"


"Kenapa dengan suamiku mas?"


"Semalam suamimu berniat ingin mencelakai ponakannya sendiri yaitu calon suami Elena."


"Apa!! Apa kamu tidak salah mas, mas Damian melakukan itu semua, tidak...tidak aku tidak percaya mas!"


"Tapi itu yang terjadi Rita! Bahkan anak buahnya sudah tertangkap di tangan orang-orang Evan!"


Disana nampak Rita yang begitu syok mendengar penjelasan Renaldy, entah mengapa tiba-tiba perutnya terasa sakit. Ponsel yang ia pegang juga tiba-tiba sudah terjatuh di lantai. Dia tidak bisa menahan sakit di perutnya.


"Bi tolong saya!" Sambil memegangi perutnya Rita berteriak, sedang asistennya yang berada di kamar mandi sangat panik mendengar panggilan Nyonya besarnya.


"Iya Nyonya, ada apa Nyonya?" Kedua mata asistennya malah tertuju pada kedua kaki Nyonya besarnya "Hah...Darah...Nyonya????

__ADS_1


Bersambung.....


#Terimakasih atas dukungan kalian Readers happy Reading!!!


__ADS_2