
Siang itu Evan dan Elena akhirnya berangkat utuk menemui klien di pusat kota, disana Evan pun menggunakan sopir pribadinya untuk mengantarkan Evan dan Elena.
"El..Apa kamu sudah mempelajari semuanya?"
"Sudah Pak, Bapak tenang saja." Evan pun hanya terdiam mendengar jawaban Elena.
"Kenapa Pak, Apa ada yang salah?" Ucap Elena.
"Tidak, cuma saya heran mau sampai kapan kamu panggil saya Bapak!" Ucap Evan yang sedikit kecewa.
"Baiklah Mas Evan, maafkan saya." Evan pun terkejut mendengar Elena memanggilnya "Mas Evan"
"Sepertinya itu lebih baik "Mas Evan ya" saya suka mendengarnya." Elena pun tersipu malu disana.
Akhirnya mobil Evan pun sampai di tempat yang dituju, benar saja kliennya sudah menunggu lima menit lebih awal dari Evan. Klien Evan kali ini bukan orang sembarangan dia termasuk salah satu pembisnis besar.
Evan dan Elena pun segera berjalan dan menuju ketempat dimana kliennya sudah menunggunya disana.
"Maaf Pak, Sudah menunggu lama." Ucap Evan yang merasa tidak enak.
"Santai saja Pak Evan, mari silahkan duduk!" Ucap klien itu ramah.
Klien Evan pun tidak berhenti menatap seseorang yang bersama Evan, Sepertinya dia sudah tidak asing melihat wajah itu.
"Oya.. Apa ini sekretaris Pak Evan?" Tanya orang itu.
"Benar Pak, ini sekretaris saya." Elena pun segera menjabat tangan klien dari Pak Evan.
"Kenalkan saya Elena Rosalina Pak."
Orang itu pun sangat terkejut mendengar ucapan dari Elena. nama itu mengingatkannya pada seseorang, yang sampai sekarang pun masih ada di hatinya, "Elena Rosalina" nama itu sama seperti nama yang di berikan untuk anaknya bersama Rita.
"Elena Rosalina ya, nama kamu sangat cantik, sama seperti orangnya." Ucap Pak Renaldy.
Evan yang mendengarnya pun mulai tak suka, Dia paling benci mendengar Elena di puji seseorang. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena orang di depannya bukan orang sembarangan, dia adalah termasuk orang terkaya ke tujuh saat ini. Perusahaannya juga sangatlah besar.
Disana Pak Renaldy terus memandangi wajah Elena, wajahnya mengingatkan dia pada seseorang yang selama ini masih ia cintai Rita Rosalina, "Dimana sekarang kamu Rita, dan bagaimana kabar anak kita" ucap Pak Renaldy dalam hati.
__ADS_1
"Ehem...Maaf Pak, Apa tidak sebaiknya kita mulai?" Ucap Evan yang lama-lama tidak bisa menahan Emosinya.
"Eh..Iya, Silahkan Pak kalau begitu kita mulai."
Disana Elena pun dengan terampil menjelaskan semuanya, Pak Renaldy pun sebenarnya tidak begitu mendengarkan ucapan Elena, dia lebih fokus menatap wajah Elena, serta membawa ingatannya jauh ke dua puluh dua tahun yang lalu.
"Bagaimana Pak apa Bapak tertarik?" Ucap Elena pada Pak Renaldy.
Disana Pak Renaldy masih tidak fokus, dia malah masih sibuk mengenang wajah Rita dengan wajah Elena di depannya.
"Maaf Pak bagaimana?" Pak Renaldy pun kaget setelah sang Asistennya meminta kejelasan.
"Pak Evan saya mau bekerja sama, sekarang pun saya bisa langsung menandatangani surat perjanjian kerja sama kita!"
Evan pun sangat terkejut, padahal di pun kurang yakin kalau perusahaan Pak Renaldy yang besar itu mau bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
"Apa Bapak tidak bercanda." Ucap Evan yang tidak begitu percaya.
"Saya serius Pak, dan saya tidak pernah bercanda!" Ucap Pak Renaldy tegas.
Evan dan Elena pun nampak senang dengan ucapan kliennya, sudah dipastikan perusahaan Evan semakin dikenal nantinya di kalangan pembisnis, bagaimana tidak seorang Pak Renaldy yang perusahaannya sangat besar mau bekerja sama dengan perusahaan milik Evan.
Akhirnya mereka pun, sepakat menjalin kerja sama dan mereka akhirnya sama-sama berpamitan utuk kembali ke kantor mereka masing-masing.
Di sepanjang perjalanan Pak Renaldy benar-benar memikirkan wajah Elena yang berada di depannya tadi, dia benar-benar mirip dengan Rita, aku harus cari tau siapa Elena itu.
Pak Renaldy pun teringat dengan bayi mungilnya, dia sangat cantik, Rita dan Renaldy pun sepakat memberi nama Elena Rosalina.
Kala itu harapannya pun harus menjadi pupus setelah dia diseret paksa dengan orang-orang suruhan orang tuanya, Renaldy pun belum sempat berpamitan pada Rita bahkan dia sangat sedih meninggalkan putri cantiknya disana.
"Maafkan aku Rita, aku tidak bermaksud meninggalkanmu dan juga putri kita. Aku juga mau bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan padamu, tapi semenjak kejadian itu, aku tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan aku sudah sempat mencarimu, tapi kamu sudah menghilang dengan membawa putriku." Tak terasa air mata Pak Renaldy pun terjatuh.
Sang asistennya pun menjadi khawatir, apa yang sebenarnya terjadi pada bos besarnya.
"Pak, Apa Anda baik-baik saja?" Tanya asisten Pak Renaldy.
"Saya baik-baik saja, tapi Sekretaris Pak Evan tadi mengingatkan saya pada seseorang."
__ADS_1
"Apakah dia seperti Bu Rita?" Asisten Pak Renaldy memang sudah dekat dari dulu, bahkan kisah Pak Renaldy pun dia mengetahuinya.
"Benar, Wajahnya bahkan namanya sama seperti Rita dan nama putriku."
"Apa saya perlu menyelidikinya Pak?" Tanya sang asisten.
"Ya saya butuh bantuanmu kali ini, tolong selidiki siapa Elena Rosalina sekretaris Pak Evan tadi!"
"Siap Pak, Saya akan membantu Bapak."
Sementara itu Evan dan Elena sedang berada di sebuah restoran, semenjak pertemuan tadi mereka memang belum sempat makan siang.
"El...Terimakasih banyak, kamu mampu meyakinkan Pak Renaldy sampai Pak Renaldy mau menjalin kerjasama.
"Itu sudah tugas saya Pak." Evan pun kembali menaikan kedua alisnya.
"Bukankah tadi kamu sudah memanggilku Mas, kenapa sekarang berubah jadi Bapak lagi?" Tanya Evan yang pura-pura kesal.
"Saya lupa, Maaf ya mas." Elena memang masih canggung dan belum terbiasa.
Padahal Evan hanya bercanda tapi Elena sepertinya menanggapinya dengan serius, Akhirnya Evan pun tidak bisa menahan tawanya, Elena benar-benar bisa menghiburnya.
"Tapi saya tidak begitu suka dengan Pak Renaldy, sedari tadi dia terus menantap Elenaku."
"Apa mas Evanku cemburu?" ucap Elena yang sebenarnya wajahnya sudah memerah menahan malu dan juga bahagia.
"Ya, Aku cemburu pada setiap orang yang memujimu." dengan berucap Evan mendaratkan ciuman ke pipi Elena.
"Mas, disini banyak orang!" ucap Elena yang sangat malu dan takut kalau ulah Evan bisa terlihat pengunjung lain disana.
"Jadi apa kalau ditempat lain boleh?" goda Evan pada Elena.
Disana Elena pun semakin malu, kejadian tadi pagi pun masih terbayang di ingatannya, betapa Evan sangat agresip terhadapnya, bahkan tangannya sudah bergerilya menyusuri dua buah gunung kembar miliknya. Elena pun merinding mengingatnya.
Evan pun tidak jauh beda, dia sangat suka sekali di dekat Elena bahkan kejadian tadi pagi benar-benar membuatnya sangat candu, Elena dari luar saja sudah terlihat sempurna, apa lagi kalau aku bisa melihat dan memiliki semua yang berada di dalamnya."El...aku ingin memilikimu seutuhnya."ucap Evan dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya Readers.....