Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 37 #Penuh dengan Kesedihan


__ADS_3

Benar saja sepulang dari kantor Evan dan Elena menuju kesebuah taman yang tidak begitu jauh dari kantor Evan, disana nampak terlihat banyak anak-anak yang sedang bermain. Walau pun tidak begitu ramai tapi suasana itu membuat Evan senang.


Disana nampak seorang anak laki-laki kecil sedang bermain dengan Ayah dan Ibunya, Evan sempat berhenti dan terdiam memandangi anak laki-laki kecil itu. Dia teringat pada dirinya dimana setiap Ayahnya pulang dari kantor pasti Evan diajak bermain bersama kedua orang tuanya.


Tak terasa mata Evan mulai berkaca-kaca setelah ingatanya kembali teringat pada mendiang Ayah yang dia sayangi. Elena yang melihat Evan terdiam segera mendekatinya.


"Pak...Bapak baik-baik saja?" ucap Elena yang mengagetkan lamunan Evan.


"Eh..Em iya saya baik-baik saja." ucap Evan yang hatinya sedikit bergetar dengan kesedihan yang ia rasakan.


"Apa Bapak teringat sesuatu?" tanya Elena yang penasaran.


"Benar El...Kamu liat laki-laki kecil yang sedang bermain bersama kedua orang tuanya itu, dia mengingatkan saya pada Evan yang dulu." ucap Evan sambil tersenyum.


Entah mengapa setelah Elena mendengar ucapan Evan hatinya menjadi sedih.


"Pasti bapak dulu sebahagia itu!" ucap Elena yang tiba-tiba terdiam, mendengar ucapan Elena Evan segera menoleh ke arah Elena.


"Kamu kenapa?" ucap Evan yang khawatir melihat Elena terdiam.


"Bapak sungguh beruntung, setidaknya walau pun hanya sebentar Bapak bisa merasakan kebersamaan bersama Ayah anda, tapi saya sejak kecil tak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tua." ucap Elena yang tiba-tiba menangis begitu saja, akhirnya Evan segera mendekati Elena.


"Maafkan saya El, saya tidak bermaksud membuatmu sedih." ucap Evan yang tak tega melihat Elena menangis. Dengan cepat dia segera mengusap air mata Elena yang mulai berjatuh di pipi putihnya.


"Kamu tau, walau pun kamu tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuamu, tapi saya punya banyak sayang dan cinta untukmu, saya berjanji kamu tidak akan kekurangan kasih sayang." ucap Evan yang segera memeluk Elena.


"Terimakasih banyak Pak, sungguh saya seperti mimpi bisa di pertemukan dengan Bapak!" ucap Elena yang masih tersedu.


"Kamu harus bahagia El, saya akan mengganti semua kesedihanmu dengan sejuta kebahagiaan percayalah!" ucap Evan dengan membelai lembut rambut Elena.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita kesana?" ucap Evan pada Elena, disana Evan menunjuk pada seorang penjual balon air. Mereka akhirnya berjalan mendekati penjual balon air itu, Evan akhirnya membeli satu botol balon air itu dan memainkannya.


Evan berusaha membuat gelembung itu dengan susah payah, akhirnya usahanya tidak sia-sia balon itu pun berterbangan terbawa angin.


Disana Elena sungguh sangat bahagia dia berjingkrak, dan berlari menangkap balon itu dia sudah seperti anak kecil. Evan hanya tersenyum disana, melihat Elena yang begitu bahagia dengan balon air yang dia mainkan bahkan beberapa anak-anak pun ikut berlarian menangkap balon yang Evan buat.


El kamu pantas bahagia!" ucap Evan dalam hati, setelah lima belas menit mereka bermain akhirnya Elena mulai merasa kelelahan dia segera menghampiri Evan dengan nafasnya yang terengah.


"Kamu menyukainya?" ucap Evan pada Elena.


"Iya Pak terimakasih banyak Pak, dulu saya sering bermain dengan anak-anak panti." Disana Evan mulai berfikir sejenak.


"Bagaimana kalau besok kita ke panti, kamu mau?" Elena yang mendengarnya sungguh sangat bahagia


"Benar Pak, Bapak mau mengunjungi panti?" ucap Elena yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya.


Evan disana tertegun saat Elena tiba-tiba memeluknya, dia tidak menyanga hanya secuil kebahagiaan membuat Elena benar-benar sebahagia itu. Tanpa ragu Evan juga segera mengecup kening Elena.


"Pak disini banyak orang, kenapa Bapak  mencium saya?" tanya Elena yang segera melihat kekanan dan kiri melihat orang-orang di sampingnya, Evan hanya mampu terkekeh sendiri melihatnya.


"Kenapa El, kamu malu, bahkan saya ingin semua orang tau kalau Elena Rosalina adalah kekasih Evan Mahendra!" ucap Evan yang begitu lantang.


Elena benar-benar tersipu malu disana, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi dia hanya bisa memandang Evan dengan wajahnya yang sungguh merah.


"Pak terimakasih banyak atas kebahagiaan ini." ucap Elena pada Evan.


Evan kembali tertegun, padahal belum seberapa dia melakukan apa-apa, tapi Elena sudah berterimakasih berulang-ulang. Evan berjanji di dalam hatinya dia akan terus memperjuangkan hubungannya dengan Elena.


**

__ADS_1


Sementara itu di suatu tempat, Bu Sindy bersama sopirnya sedang pergi menuju ke sebuah pemakaman, disana dia ingin sekali menumpahkan kegelisahaanya.


Setelah beberapa hari ini setiap malam dia tidak bisa memejamkan matanya, rasa takut itu serta rasa trauma yang ia alami benar-benar membuatnya gelisah.


Setelah sampai Bu Sindy akhirnya segera turun dengan di dampingi sang sopir untuk masuk kedalam pemakaman itu, dari jauh disana sudah terlihat pusaran yang terlihat di penuhi dengan bunga-bunga di atasnya. Akhirnya Bu Sindy berjalan mendekati pusaran itu.


"Mas aku datang!" ucap Bu Sindy dengan segera bersimpuh disana.


"Kamu tau mas aku sangat rindu pada mu, kenapa akhir-akhir ini kamu tidak datang dalam mimpiku mas?" ucap Bu Sindy yang tiba-tiba menangis disana.


"Mas bantu aku, aku hanya ingin kamu tenang disana, aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi pada Evan, kenapa adik tirimu datang lagi setelah semua peristiwa sudah kututup rapat-rapat!" di sana Bu Sindi menangis tersedu-sedu, ya hanya Bu Sindy yang mengetahui peristiwa belasan tahun silam.


Bahkan Evan pun tidak bisa mencari tau tentang apa yang terjadi pada Ayahnya, memang Bu Sindy dengan sengaja menutup kasus kematian mendiang suaminya dari kalangan publik.


Disana sang sopir pribadi Bu Sindy sungguh tak tega melihat Bu Sindy menangis, sebenarnya sopir pribadi Bu Sindy yang sekarang adalah sopir pribadi Erlangga Mahendra suami Bu Sindy. sopir pribadinya pun sangat setia mendampingi bos besarnya sampai peristiwa itu terjadi.


Setelah beberapa menit Bu Sindy mencurahkan isihatinya, dia akhirnya segera berpamitan pada pusaran suaminya.


"Mas aku pulang dulu ya, lain kali aku akan sering mengunjungimu." ucap Bu Sindy yang segera pergi melangkahkan kakinya untuk meninggalkan pemakaman itu.


Tak jauh dari pemakan itu telah berdiri seseorang yang sedari tadi melihat keberadaan Bu Sindy, dengan senyum culasnya dia segera meninggalkan tempat itu.


Disepanjang perjalanan itu seorang Damian menyimpan sejuta bara dalam hatinya, dendam itu tak bisa ia musnahkan dalam ingatannya.


"Sampai kapan pun keturunan Mahendra tak akan kubiarkan hidup bergelimang harta dengan harta yang seharunya aku juga mempunyai hak disana"


Sedang Bu Sindy yang tak tahu kalau Damian disana segera melanjutkan perjalanannya kembali kerumahnya, entah mengapa hatinya benar-benar sedih setelah meninggalkan pemakaman itu.


KALI INI DUA BAB YA....TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA.

__ADS_1


__ADS_2