
Bu Rita?? Nama itu??" Elena masih menatap lurus kearah kedua wanita yang berlalu dari pandangannya. Dia merasa kalau tadi adalah Ibunya, tapi apakah benar itu Rita Rosalina Ibunya, entahlah??
Akhirnya Elena berjalan dan segera kembali kemeja Evan dan kliennya berada, dia segera duduk disana. Ternyata mereka sudah memesan berbagai menu makanan, akhirnya mereka makan bersama untuk merayakan kerja sama mereka.
Sementara itu Bu Rita yang sudah duduk di meja tempat dia bertemu dengan pengacaranya masih nampak terdiam, disana dia masih memikirkan putrinya yang tadi bertemu dengan dirinya di toilet.
"Bu Rita, apa anda ada masalah?" Tanya pengacara di depannya.
"Hanya sedikit masalah, saya hanya kurang istirahat saja, saya terlalu memikirkan masalah perceraian ini sungguh masalah ini terlalu menguras fikiran saya!" Ucap Bu Rita berbohong.
"Baiklah saya sudah mempelajari semua tentang kasus perceraian Bu Rita dengan Pak Damian, saya juga sudah menghubungi pengacara Pak Damian. Kita sepakat untuk melakukan mediasi dulu Bu, bagaimana menurut Ibu?, siapa tahu kalian bisa berubah fikiran."
"Saya rasa tidak perlu mediasi, saya tahu sifat mas Damian kalau dia sudah mengambil keputusan tidak mungkin bisa dia rubah. Jadi percuma saja mediasi, kalau bisa kamu selesaikan segera saja proses perceraian saya dengan mas Damian!"
"Apa Bu Rita mau menuntut hak harta gono gini?"
"Rasanya tidak usah di perpanjang masalah harta, saya datang tanpa membawa harta apapun, jadi saya akan meninggalkan semua harta milik mas Damian."
"Tapi Bu, menurut pengacara Pak Damian, Pak Damian sudah menyiapkan sebuah Rumah baru untuk Ibu tempati."
"Apa !! Mas Damian memberikanku Rumah?"
"Benar Bu, saya tahu dari pengacara Pak Damian dan beliau bilang, Pak Damian akan memberi hak pembagian harta untuk Bu Rita, ini semua beliau lakukan karena menghargai anda yang sudah mendampingi beliau bertahun-tahun."
Disana Rita nampak terdiam, "Kenapa kamu masih memperdulikan aku mas, padahal aku sudah membohongimu, tapi kamu masih pemperdulikan kehidupanku kedepannya, maafkan aku mas" ucap Rita dalam hati.
Setelah lama berbincang akhirnya Rita dan pengacaranya memutuskan untuk segera pulang, disana Rita berjalan melintasi meja-meja yang penuh dengan orang yang sedang makan di restoran itu, tanpa sengaja matanya melihat kearah meja yang memperlihatkan ada Elena disana.
Rita sempat terhenti sejenak dia masih menatap ke arah Elena yang sedang makan bersama orang-orang disampingnya" Elena putriku" disana tanpa sengaja mata Elena tiba-tiba terarah pada wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya berada, dia melihat wanita itu sedang menatap kearahnya.
"Bukankankah wanita itu yang ada di toilet tadi?, kenapa dia menatap kearah ku?" gumam Elena akhirnya Elena menatap ke arah orang-orang disampingnya dia takut menyalah artikan tatapan wanita itu, tapi dia rasa wanita itu menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Apa dia Bu Rita??" gumam Elena.
Disana entah mengapa tatapan Bu Rita belum teralihkan dia masih menatap putrinya disana, sampai dia di kagetkan oleh pengacaranya.
"Mari Bu, kita pulang!" Ucap pengacara disampingnya.
"Baiklah." Disana Bu Rita langsung berjalan menuju kepintu keluar, padahal niat hati Elena mau mendekatinya dan menanyakan kenapa dia menatapnya tadi, tapi baru saja berdiri, Bu Rita sudah berjalan keluar dari restauran itu.
"Kamu kenapa Elena?" Ucap Evan pada Elena disana.
"Maaf Pak, tidak ada apa-apa tapi sepertinya saya salah orang tadi."
"Memangnya kamu melihat siapa?"
"Saya melihat Ibu Rita!"
"Ibu Rita, Ibu kamu?"
"Mungkin Pak, tapi itu belum pasti kalau tadi itu Ibu Rita atau bukan, tapi saya tadi sempat melihatnya di toilet."
Akhirnya Elena duduk kembali di kursi tempat duduknya, dia segera melanjutkan lagi makannya. Setelah semua perjamuan selesai akhirnya baik klien dan Evan segera berpamitan.
"Kalau begitu saya undur diri ya Pak, terimakasih atas kerjasama ini." Ucap Evan pada kliennya.
"Sama-sama Pak, semoga kerjasama kita akan bertahan lama."
Akhirnya mereka semua kembali ke mobil mereka masing-masing, tidak terkecuali Evan dan Elena mereka sendiri sudah berada di dalam mobil dengan sopir pribadi yang siap mengantar mereka pulang ke kantor.
"Sayang bagaimana tadi ceritanya kalau kamu tadi mengira itu Ibu Rita?"
"Tadi sewaktu saya di toilet saya sempat bertatapan dengannya, saya tahu namanya Rita saat seseorang memanggilnya, tapi entah mengapa tatapannya terhadap saya sungguh lekat, sampai tadi saya melihatnya lagi dia sedang menatap kearah saya lagi mas!"
__ADS_1
"Apa mungkin itu Ibu Rita sayang?"
"Saya kurang yakin mas, kalau dia Ibu saya kenapa dia tidak menemui saya langsung, bukan hanya sekedar menatap saya."
"Sudahlah, kalau begitu, saya mau mengucapkan terimakasih atas pencapaianmu dalam mempromosikan perusahaan sampai klien mau bekerja sama, terimakasih banyak sayang." Ucap Evan sambil menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan kekasihnya.
"Mas, ingat ini di mobil!" Ucap Elena berbisik takut sopir Evan mendengarnya.
Disana Evan tidak peduli dengan ucapan Elena, dia segera memeluk Elena dan segera menenggelamkan kepalanya di leher Elena, dia memang sangat senang sekali mengendus bau harum leher kekasihnya. Elena hanya bisa pasrah melihat kelakuan kekasihnya.
Pak sopir yang mendengar pembicaraan bosnya hanya pura-pura fokus dalam mengemudikan mobilnya, padahal dia sudah mulai membayangkan bosnya yang sedang melakukan sesuatu di kursi belakang. Tapi sayangnya dia sudah tidak mendengar suara apa pun lagi.
Disana Evan sudah tidak tahan melihat bibir Elena yang menurutnya begitu menggoda, dia segera menyesapnya tanpa jeda, kali ini dia tidak membiarkan Elena lepas dari dirinya, udara di dalam mobil yang tadinya sejuk sekarang berubah menjadi panas, untung di mobil itu dilapisi kaca yang gelap sehingga aksi Evan tidak terlihat dari luar.
Setelah melakukan perjalanan lumayan jauh, bahkan disana Evan belum juga menuntaskan aksinya, Elena benar-benar sangat kuwalahan menghadapi kemauan kekasihnya yang tidak memberi jeda dia bernafas, bahkan bajunya kini sudah berantakan dengan tangan usil Evan yang sudah bergerilya kemana-mana. Bahkan kini di leher Elena terpampang tanda merah tanda kepemilikan Evan berada.
"Mas, kamu membuat tanda merah ini?" tanya Elena sambil berbisik takut sopir pribadi Evan mendengarnya. Dia berbicara setelah Evan menyudahi aksinya, kini dia sedang melihat tanda merah itu lewat kamera ponselnya.
Evan hanya tersenyum puas melihat tanda kepemilikannya bertengger di leher Elena yang putih itu, sedang Elena sangat panik bagaimana dia mau menutupinya pasti di kantor akan menjadi heboh kalau terlihat karyawan lain.
"Pakai ini!" Ucap Evan dengan memberikan sebuah syal motif bunga-bunga untuk Elena.
"Mas, kamu sudah menyiapkan semua, kamu memang sengaja ya?" Ucap Elena sambil mengambil syal dari tangan Evan.
"Tidak saya tidak sengaja, kemarin kebetulan saya membelinya, dan ingin saya berikan padamu tapi saya belum sempat memberikan untukmu.
Disana Elena sungguh sangat malu dia segera memakai syal itu untuk menutupi tanda merah di lehernya, disana Evan sungguh sangat gemas melihat kecemasan Elena, bahkan dia berharap Elena tidak usah menutupinya, dia ingin memperlihatkan pada semua kalau Elena adalah miliknya.
**
Sementara itu Damian sudah mendapat informasi dimana keberadaan Tania, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera bisa menemui putrinya.
__ADS_1
"Tunggu Papa Nak, Papa akan membebaskanmu!!
Bersambung....