
Sementara itu rombongan yang membawa Pak Renaldy dan juga Evan terpaksa harus bermalam di sebuah rest area hari pun sudah mulai gelap, mereka masih menunggu aba-aba dari Tim mata-mata yang sedang mengintai di gedung tua itu.
Disana orang suruhan Pak Renaldy sedang berpura-pura sebagai pedagang minuman, dia dengan sengaja memelankan kendaraannya saat melintasi gedung tua itu.
Benar saja kedua penculik itu akhirnya memanggil pedagang itu.
"Mau minum apa bang?" Tanya mata-mata itu.
"Kopi dua!"
"Siap, maaf bukankah gedung tua ini sudah lama tidak berpenghuni bang, apa abang-abang ini tidak takut tinggal disini?"
"Sudah jangan banyak tanya, kami sedang ada misi dengan bayaran besar!" Penculik itu saling senggol dia sudah merasa keceplosan dalam berbicara.
"Maksud teman saya kita disini karena tidak ada tempat lain, tadinya kami tinggal di jalanan makannya kami memanfaatkan tempat ini untuk kita beristirahat!" Apa lagi teman kita yang di dalam ada yang sedang sakit, jadi kita harus lama tinggal disini untuk merawatnya.
"Wah kasihan sekali teman Abang itu, kalau ga ini saya kasih gratisan untuk makanan dan minuman buat abang-abang dan juga temennya yang lagi sakit."
"Beneran ini?, Apa abangnya ga rugi?"
"Tidak bang nanti juga saya dapat gantinya."
Akhirnya mereka menerima makanan dan minuman gratis dari penjual itu, tanpa mereka sadari di dalam plastik itu ada sebuah alat pendeteksi suara yang sengaja ditempelkan untuk mendengar percakapan mereka.
Disana semua orang sedang berkumpul untuk mendengarkan hasil rekaman yang mereka sembunyikan di dalam kantong plastik.
Benar saja setelah plastik itu di terima dan di bawa masuk oleh kedua penculik itu, disana sudah mulai terdengar percakapan kedua penculik itu.
"Tumben kita dapat rejeki nomplok, kita dapat gratisan minuman serta makana pula."
"Benar bos, apa tidak sebaiknya kita berikan pada perempuan itu bos, kasihan dari kemarin kita hanya memberi makan tanpa memberi minum.
"Sudah biarkan saja, kita tunggu perintah bos besar saja, nanti kita malah disalahkan. Besok pagi kita tunggu lagi kiriman makanan dari bos."
"Ya sudah kalau begitu, tapi anehnya kenapa makanan untuk perempuan yang di dalam itu selalu di bedakan ya bos!"
Disana Pak Renaldy dan juga Evan mendengar percakapan kedua orang itu dengan seksama, mereka sama-sama emosi saat tau orang yang didalam tidak di beri minum.
"Mario sudah pasti kalau yang dimaksud itu Elena segera kerahkan orang-orang untuk segera menangkap penculik itu, ini sudah keadaan darurat!"
"Benar Pak Evan, saya yakin yang di dalam itu adalah Elena bagaimana kalau kita langsung menyerbu saja tempat itu, saya tidak mau terjadi apa-apa dengan putriku!"
Akhirnya rombongan itu segera mendatangi gedung tua itu dengan beberapa orang yang sudah terlebih dahulu datang kesana.
Disana dua penculik itu sudah mulai tertidur di tempat penjagaan, mereka tidak tau kalau di luar sudah ada rombongan orang-orang dari Pak Renaldy dan juga Evan yang ingin menangkap mereka.
Dengan mengendap-endap orang-orang itu akhirnya semakin mendekati kedua orang itu disana, mereka akhirnya dengan sigap langsung meringkus kedua penculik itu.
__ADS_1
Penculik itu benar-benar sangat kaget, mereka tidak menyangka kalau mereka tiba-tiba didatangi orang-orang yang tidak mereka kenal.
"Siapa kalian!, Berani-beraninya kalian menyerang kami!"
"Diam!" Sekarang katakan siapa yang ada di dalam!"
Kedua penculik itu saling pandang dengan kompak mereka menjawabnya.
"Tidak ada, didalam tidak ada siapa-siapa!"
"Katakan atau kalian akan kami beri pelajaran!" saking kesalnya orang itu memberikan sebuah pukulan kepada kedua penculik itu, mereka berdua sama-sama menahan sakit di perut mereka.
"Yang lain periksa kedalam!" Ucap salah satu pemimpin dalam penyergapan itu.
Beberapa orang disana akhirnya mencoba membuka pintu itu, tapi disana pintu itu masih dalam keadaan terkunci.
"Pak ruangan didalam masih terkunci!"
"Cepat berikan kunci itu pada kami kalau tidak kalian akan segera mendekam di kantor polisi!" Ancam ketua dalam penyergapan.
"Sudah di bilang didalam tidak ada siapa-siapa disana hanya ada barang-barang bekas yang sengaja kami simpan."
"Masih berani kamu membohongi kami!" Berikan!"
"Tidak, tidak ada kunci, kunci itu hilang!" Mereka masih belum mau memberikan kunci itu.
"Berikan atau kalian pulang tinggal nama!"
Penculik itu pun mulai ketakutan, mereka saling pandang, dengan menahan rasa sakit mereka akhirnya memberikan kunci itu.
Akhirnya mobil yang membawa Pak Renaldy dan juga Evan sudah sampai ditempat itu, Evan segera berlari menuju orang-orang yang berkerumun disana, tidak jauh beda dengan Pak Renaldy dia dengan gesit menyusul Evan dibelakangnya.
"Bagaimana!, Apa Elena ada di dalam!" Ucap Evan dengan nafas yang terengah.
"Kami belum bisa masuk Pak, kedua penculik itu baru memberikan kunci ini setelah kami hajar sampai babak belur!" Evan akhirnya mendekati orang-orang suruhannya.
"Mana kunci itu biar saya yang membukanya!" Akhirnya Evan mendapat kunci itu, dia segera berlari untuk bisa segera membukanya. Setelah Evan pergi membuka pintu disana Pak Renaldy berjalan mendekati kedua penculik itu.
"Jangan lepaskan kedua orang ini, kita akan membawanya untuk kita tanya siapa orang telah menculik putriku!"
"Baik Pak!" Akhirnya kedua penculik itu di gelandang masuk ke dalam mobil, disana mereka juga diikat kedua tangannya.
Sementara itu Evan sudah berhasil membuka kunci pintu itu, dia segera berjalan dan segera masuk kedalam ruangan itu, mata Evan mulai menyusuri dan mencari disetiap sudut alangkah terkejutnya Evan setelah melihat didalam Elena sedang meringkuk disana.
"Elena....Elena...saya datang El..!" Evan segera mendekati perempuan disana, dia akhirnya membalikan tubuh Elena agar dia bisa jelas melihatnya. Alangkah terkejutnya Evan setelah membalikan badan perempuan dihadapannya, ternyata dia bukan Elena.
"Siapa kamu!" Tanya Evan pada perempuan itu.
__ADS_1
"Kamu yang siapa?" Saya sedang tidur enak kamu gangguin!"
Evan sungguh kaget setelah melihat perempuan itu ternyata dia bukan Elena "Jadi di mana Elena" rasanya dia ingin meninju tembok di depannya, dia sudah merasa di tipu oleh penculik itu. Dengan sangat terburu-buru Evan akhirnya berjalan dan keluar dari ruangan itu.
Tania benar-benar licik, setelah dia tau dari mata-matanya bahwa Evan akan datang kegedung itu, dia segera membawa Elena pergi dari tempat itu, dan mengganti Elena dengan perempuan gila yang ia temukan di pinggir jalan, perempuan itu diberi pakaian baru agar seolah mirip dengan Elena.
Melihat Evan keluar, Pak Renaldy langsung menghampiri Evan disana.
"Bagaimana Pak Evan, mana Elena?"
"Ternyata yang didalam bukan Elena Pak, tapi orang gila. Penculik itu benar-benar sudah menipu kita!"
"Apa!! Lantas dimana Elena?
"Saya juga tidak tau Pak, lebih baik kita tanya pada kedua penculik itu, kita harus mendapatkan informasi dimana Elena dibawa pergi!"
Akhirnya Evan dan juga Pak Renaldy berjalan menuju mobil yang membawa penculik itu. Disana Evan sungguh marah besar dia langsung mencengkeram kerah leher laki-laki di hadapannya.
"Katakan dimana Elena, siapa yang sudah membawanya pergi!"
Laki-laki itu benar-benar kesakitan mendapati tangan Evan yang dengan sangat keras menyengkeram di bagian lehernya, penculik itu sampai kehabisan nafas dan wajahnya berubah jadi memerah menahan sakit.
"Pak Evan jangan sampai kita kehilangan dia Pak, Bapak sabar dulu?' Ucap Mario menenangkan, akhirnya Evan mulai mengendorkan cengkraman tangannya.
"Sekali lagi katakan dimana kalian sembunyikan Elena!" Kalau tidak saya bisa lebih kasar lagi!" Akhirnya satu tinjuan melayang ke muka laki-laki itu, saking kerasnya pukulan Evan hingga disana darah mulai mengalir dari salah satu bibir penculik itu. Akhirnya Pak Renaldy mulai mendekati kedua penculik itu.
"Berapa uang yang kalian mau, saya akan berikan pada kalian dengan syarat kalian katakan dimana putri saya!" Ucap Pak Renaldy.
Mendengar kata uang mereka akhirnya saling pandang.
"Bagaimana kalau seratus juta!" Kata penculik itu. Evan yang mendengarnya sungguh sangat geram.
"Kalian memeras kami!" Ucap Evan yang lagi-lagi terpancing Emosi.
"Baiklah seratus juta!" Cepat katakan dimana putriku dibawa pergi!"
Sebenarnya bagi Pak Renaldy dan juga Evan uang seratus juta itu tidak ada apa-apanya, kedua penculik itu benar-benar mata duitan.
Akhirnya kedua penculik itu memberikan informasi, bahwa Elena dibawa oleh bosnya kesebuah rumah yang bosnya sewa kesuatu tempat, mereka akhirnya memberi alamat itu pada Evan.
Baik Evan dan Pak Renaldy tidak begitu percaya begitu saja, mereka tetap membawa orang-orang itu untuk membuktikan ucapan mereka.
Akhirnya rombongan itu pergi menuju rumah sesuai alamat yang di berikan penculik itu, di sepanjang perjalanan Evan benar-benar sangat marah, "Siapa sebenarnya penculik itu, aku tidak akan membiarkan orang itu kalau sudah tertangkap!" Gumam Evan.
Bersambung.....
KALI INI DUA BAB READERS ......
__ADS_1
jangan lupa dukung terus author ya terimakasih....