
Elena masih terdiam dalam pelukan Ibu kandungnya, Pak Renaldy yang melihat Rita disana sedikit iba. Dia pun segera memegang pundak Rita sambil berkata.
"Rita duduklah! Kita bicarakan sambil duduk." Rita pun akhirnya melepaskan pelukannya pada Elena, Rita pun segera mengusap air matanya yang sedari tadi berderai. Mereka bertiga akhirnya duduk dimeja restoran itu.
"Nak, apa kamu mau memaafkan Mamamu ini!" Ucap Bu Rita setelah duduk di hadapan Elena.
"Maaf, saya sudah memaafkan anda sejak dulu. Jadi anda tidak perlu meminta maaf." ucap Elena tanpa melihat kearah wajah Mamanya yang ada didepannya.
"Sayang Mamamu memang bersalah, tapi disini Papalah yang sangat bersalah sayang...Semua ini tidak akan terjadi kalau Papa tidak meninggalkan kalian, jadi Papa harap kamu jangan membenci Mamamu ya!"
Elena mulai mendengarkan ucapan Papanya, dia mulai mengerti kenapa Mamanya sampai meninggalkannya di panti asuhan.
Bu Rita nampak bersedih mendengar ucapan Renaldy yang menyalahkan dirinya atas semua yang telah terjadi, padahal dia mengira kalau Renaldy dulu dengan sengaja pergi karena tidak mau bertanggung jawab.
Mata Elena mulai melirik pada wanita di depannya, wanita yang telah melahirkannya serta wanita itu juga yang meninggalkannya di panti asuhan.
"Bolehkah saya tahu alasan anda meninggalkan bayi tak berdosa itu di panti asuhan?" Rita paham mungkin Elena masih butuh penjelasan darinya. Dengan satu tarikan nafas Rita mulai berucap.
"Mama terpaksa sayang, saat itu Mama sudah di usir oleh orang tua Mama. Sedang Mama saat itu baru saja melahirkan tapi Papamu tiba-tiba menghilang setelah kamu di lahirkan. Mama sangat stres sekali menghadapi semuanya sendiri.
Mama tidak bisa membesarkanmu sendiri karena Mama saat itu tidak punya pekerjaan sayang. Akhirnya Mama putuskan untuk menitipkan mu di panti, mungkin di panti asuhan kamu akan lebih terurus di banding ikut dengan Mama."
"Lantas kenapa baru sekarang anda datang!"
"Maafkan Mama, saat itu Mama sudah menikah, dan suami Mama menutup semua akses media Mama, serta Mama di kurung di rumah suami Mama dan tidak di perbolehkan keluar dari rumah tanpa suami Mama. Mama tidak bisa berbuat apa-apa sayang!" Dengan terus meneteskan air matanya Rita harus menceritakan semuanya.
__ADS_1
Sebenarnya Elena sudah sedikit mulai bisa menerima penjelasan Mamanya, melihat wanita itu menangis entah mengapa hatinya juga ikut menangis, mau bagaimana pun dia lah orang yang sudah melahirkannya tanpanya mungkin dia tidak akan ada di dunia ini.
Tanpa berpikir panjang akhirnya Elena segera bangkit dari tempat duduknya dan mulai mendekati Mamanya.
"Bolehkah saya memeluk anda ma-ma!" Dengan suara terbata Elena berucap. Rita benar-benar tidak menyangka putrinya akan memanggilnya Mama.
"Tentu sayang!" Dengan antusias Rita juga mulai berdiri dari tempat duduknya dan merentangkan kedua tangannya untuk segera menerima pelukan putrinya.
"Elena putriku!"
"Mama!"
Kedua anak dan Ibu itu saling berpelukan kali ini Elena bisa merasakan sentuhan Mamanya yang begitu hangat, melihat itu semua Pak Renaldy sungguh terharu, matanya juga mulai berkaca-kaca melihat kedua orang yang disayanginya didepan matanya sungguh membuat dia bahagia, akhirnya Elena bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Tidak menyia-nyiakan waktu Pak Renaldy juga segera berdiri dan ikut berbaur memeluk Elena dan juga Rita.
**
Siang itu di persidangan Damian
Damian yang masih dalam proses persidangan mengajukan banding atas apa yang di tuduhkan Evan, menurutnya pembunuhan itu bukan sepenuhnya dia yang melakukannya tapi orang-orang suruhannya yang telah menciptakan kecelakaan itu terjadi.
Disana Bu Sindy dan Evan sungguh geram dengan banding yang diajukan Damian, sudah jelas-jelas semua atas suruhannya tapi dia masih berkilah atas semua tuduhan yang di berikan.
Tapi tiba-tiba Roy disana datang, dia membawa berkas-berkas, serta saksi-saksi yang nantinya akan memberatkan Damian. Dia menggandeng banyak klien yang sudah di rugikan oleh Damian.
Mungkin Damian bisa saja berkilah atas tuduhan yang di berikan pada tuntutan Evan tapi kali ini apakah dia bisa, disana Damian mulai menatap kliennya satu demi satu dia mulai sedikit kehilangan nyali, dia tahu apa yang telah dia lakukan dengan mereka.
__ADS_1
Para pengacara saling membela kliennya baik dari pihak Damian, Evan dan juga para pembisnis yang sudah di rugikan oleh Damian, adu argumen tak bisa di kendalikan. Akhirnya Pak Hakim memutuskan menunda proses persidangan sampai dengan esok hari.
Semua hiruk pikuk orang-orang disana saling mengecam Damian, disana Damian sungguh kesal dengan semua orang yang menghinanya "Tunggu saja pembalasanku, kalian sudah berani mempermalukan harga diriku!" umpatnya dalam hati. Dia masih menatap sinis pada orang-orang di depannya.
Disana Bu Sindy benar-benar sangat mengutuk perbuatan Damian walaupun permintaan mendiang suaminya meminta agar supaya memaafkan adiknya Damian tapi dia hanya manusia biasa. Suaminya memang sangat menyayangi adik tirinya tapi Damaian malah tega menghilangkan nyawa kakak tiri yang benar-benar tulus menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri.
Semua klien menuntut keadilan untuk Damian supaya Damian mengganti semua kerugian yang mereka dapat, dengan licik Damian sudah melakukan kecurangan pada bisnis yang ia jalankan.
Disisi lain Tania sudah sangat frustasi menghadapi masalah yang sedang ia hadapi, Papa angkatnya benar-benar sudah menarik semua fasilitas yang di berikan untuknya, kini dia tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya mempunyai sedikit tabungan untuk dia bertahan hidup. Mobil dan rumahnya sudah terpaksa ia jual, sedang Tania merasa gengsi untuk meminta maaf atas semua perbuatannya pada Papa angkatnya.
"Sial....!! Aku harus bagaimana lagi? Papa benar-benar tega melakukan ini semua padaku, semua kartu yang aku punya juga sudah di blokir, dia benar-benar ingin menyiksaku!"
Tania kini hanya bisa tinggal di apartemennya hanya tempat itulah yang dia punya karena dia membelinya dengan hasil kerjanya sendiri, sedang yang lain adalah milik Papanya.
Disana dia ingin sekali menghubungi Anton, tapi egonya masih kuat, dia sungguh sangat menyesal hanya Anton teman serta mantan kekasihnya yang menyayanginya serta orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya.
Sekarang dia sudah tidak punya hak apapun di perusahaanya semua sudah di ambil alih oleh Pak Renaldy, sebenarnya Pak Renaldy juga tidak tega, tapi mau bagaimana pun dia harus tegas memberi pelajaran pada Tania.
Tania sudah mulai benar-benar bingung bagaimana kedepannya dia harus bertahan hidup kalau dia tidak punya pekerjaan, tapi dia teringat denga ucapan Damian, kalau Ibunya bekerja di sebuah kafe, "Mungkin aku akan mencari keberadaan wanita yang di bilang Ibu kandungku itu!"
Tunggu kelanjutannya ya....
#Terimaksih atas dukungan kalian semua Readers 🙏#
Karya ini akan segera Tamat ya...boleh kasih saran dan kritiknya yang membangun Readers...
__ADS_1