
Jayden berlari masuk ke rumah sakit, dia tidak peduli dengan pandangan orang lain pada nya dia hanya peduli dengan istrinya. Yang ada di pikiran nya saat ini hanya harus segera menemui istri nya yang sedang kesakitan sekarang. Dia pasti sangat membutuhkan dirinya sekarang sebagai penguat.
Tak lama kemudian, Jayden bertemu dengan mama mertua nya, Agnes yang sedang duduk bersama Ansel dan Bima. Wanita itu langsung beranjak dari duduk nya begitu melihat Jayden datang dengan berlari, keringat membanjiri wajah nya.
"Dimana istriku?"
"Di dalam, dokter belum keluar lagi dari sana."
"Astaga, kenapa bisa melahirkan sekarang? Padahal dari hasil USG masih ada waktu seminggu lagi kan?"
"USG tidak bisa di jadikan patokan, Jay. Jika sudah waktu nya, dia bisa melahirkan kapan saja." Jelas Agnes membuat Jayden terdiam, ya benar. USG hanya lah perantara, alat ciptaan manusia yang tidak pasti.
"Padahal tadi dia baik-baik saja.." Gumam Jayden lirih. Pria itu duduk di samping Ansel, membuat pria itu menatap Jayden dengan tatapan heran. Ternyata seorang Jayden yang notabene nya seorang mafia terkuat, terkejam dan sadis juga bisa seperti ini jika berhubungan dengan orang yang dia cintai.
Hanya berselang beberapa menit saja, Arsen datang bersama Roy. Wajah anak itu terlihat sangat khawatir, dia melepaskan genggaman tangan Roy saat melihat Daddy nya sedang duduk di kursi tunggu.
"Dad, mana Mommy? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Arsen, Jayden mendongak dan membingkai wajah Arsen.
"Daddy belum tahu, Boy. Dokter masih di dalam memeriksa keadaan Mommy."
"Tapi Mommy pasti akan baik-baik saja kan, Dad?"
"Iya, Boy. Mommy pasti akan baik-baik saja. Kita harus mendukung Mommy, Boy." Ucap Jayden, dia pun memeluk Arsen. Anak itu mampu menjadi penguat nya saat ini, bicara dengan Arsen membuat hati nya sedikit merasa lega.
"Keluarga Nyonya Ayyara.." Panggil seorang perawat, membuat Jayden langsung melerai pelukan nya dan maju ke depan perawat itu.
"Saya suami nya, sus. Bagaimana keadaan istri saya?"
"Maaf, Tuan. Saat ini pembukaan nya sudah lengkap, tapi ternyata pinggul Nyonya Ayyara terlalu sempit hingga kami tidak yakin beliau akan bisa melahirkan secara normal." Jelas perawat itu membuat Jayden cukup shock.
"Lalu, bagaimana sus?"
"Dengan terpaksa kami harus melakukan tindakan operasi, Tuan. Tapi nyonya Ayyara menolak, dia ingin melahirkan secara normal."
"Lakukan saja yang terbaik, sus. Saya yang akan membujuk istri saya." Ucap Jayden.
"Baiklah, silahkan tandatangani surat pernyataan ini."
"Biar saya saja yang menanda tangani surat nya, saya ibu nya, sus. Tolong lakukan yang terbaik untuk putri dan cucu saya." Ucap Agnes.
"Baik, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Mari, ikut saya." Ucap perawat itu sambil keluar dengan membawa surat pernyataan yang harus di tandatangani. Jayden juga masuk ke dalam sana, meninggalkan Arsen bersama Roy.
Anak itu menangis, dia meronta karena ingin bertemu dengan Mommy nya, dia ingin memastikan kalau Mommy nya itu baik-baik saja.
"Lepasin, Om. Arsen mau lihat keadaan Mommy."
"Sayang, jangan seperti ini. Tenang lah, Mommy pasti akan baik-baik saja. Kemarilah, duduk sama Omma." Ucap Agnes, barulah Arsen diam dan duduk di samping nenek nya.
"Oma, Mommy pasti baik-baik saja kan?"
"Tentu saja, Boy. Mommy mu adalah wanita yang baik, dia pasti akan baik-baik saja. Berikan dia semangat ya? Dia pasti akan bisa melewati ini semua. Kamu harus percaya sama Mommy dan Daddy ya?" Arsen menganggukan kepala nya, Agnes tersenyum kecil lalu meraih Arsen ke dalam pelukan nya. Dia berusaha menenangkan anak kecil itu, meskipun sebenarnya dia juga merasakan kepanikan yang luar biasa.
Apalagi saat perawat mengatakan kalau Ayyara tidak bisa melahirkan secara normal, karena pinggul nya yang sempit jadi tidak memungkinkan untuk nya bisa melahirkan secara normal. Tapi dia yakin, kalau Jayden akan mengambil keputusan yang terbaik untuk istri dan anak nya.
Di dalam sana, Jayden menggenggam erat tangan sang istri. Pria itu terus mengecupi punggung tangan istri nya, dia juga menatap wajah Ayyara yang memucat karena menahan rasa sakit yang membuat tubuh nya terasa lemas, tulang-tulang di tubuh nya terasa lepas semua.
"Dad, sa-kit.."
"Iya, sebentar lagi kita akan bertemu dengan baby."
"Daddy tidak menandatangani surat pernyataan operasi kan, Dad?"
__ADS_1
"Daddy menandatangani nya, Mom. Please, jangan marah. Daddy gak kuat lihat kamu kesakitan seperti ini. Jadi Daddy mohon kamu di operasi saja ya?" Ucap Jayden membuat Ayyara meringis saat kontraksi nya semakin terasa.
"Baiklah, tapi bisakah lebih cepat? Mommy sudah gak kuat, Dad. Sakit sekali.."
"Tahan sebentar ya, dokter sama perawat sedang menyiapkan ruang operasi. Kamu pasti bisa, karena kamu adalah wanita paling kuat yang pernah Daddy temui. Daddy mohon kuatlah, bertahanlah demi Daddy, anak kita dan Arsen."
"Arsen, Dad?" Tanya Ayyara, entahlah hati nya terasa ngilu saat mendengar nama putra nya. Dia harus bisa bertahan demi Arsen, dia baru saja menikmati kebahagiaan bersama nya, tak mungkin jika dia harus di tinggalkan lagi bukan? Akan serapuh apa perasaan anak itu nanti nya.
"Iya, dia ada di luar sama Mama kamu."
"Hmm, baiklah. Aku setuju di operasi, Dad."
"Terimakasih, Mom. Daddy yakin, Mommy pasti akan kuat melewati ini semua."
"Temani aku terus ya, Dad?"
"Tentu saja, Mom." Jawab Jayden. Meskipun sebenarnya, dia tidak mau menemani karena dia takkan kuat harus menyaksikan istri nya bertaruh nyawa dengan pisau medis itu, tapi mau bagaimana lagi, dia adalah suami nya, jadi mau tidak mau harus menemani istri nya di masa tersulit nya saat ini.
Tak lama kemudian, dokter dan perawat datang dan masuk untuk membawa Ayyara ke ruang operasi.
"Mari, kita pindahkan ke ruang operasi sekarang." Ayyara menggenggam erat tangan sang istri, dia mengikuti kemana dokter dan perawat itu membawa istri nya.
Orang-orang yang menunggu di luar, termasuk Arsen dan Agnes langsung mengikuti jejak Jayden dan Ayyara dari belakang. Tapi, Arsen langsung melepaskan genggaman Agnes dan berlari menyusul sang Daddy.
"Mom, Mommy harus kuat, Mom. Arsen mohon sama Mommy." Ucap Arsen dengan air mata yang menetes dari kedua sudut mata nya, anak itu dengan cepat mengusap nya karena dia ingat perkataan sang Daddy, kalau anak laki-laki tidak boleh menangis.
Tapi, dari tatapan nya saja sudah terlihat jelas kalau Arsen begitu ketakutan. Ya, dia takut kalau harus kehilangan Ayyara, sosok ibu yang baik. Dia baru saja merasakan seperti apa hangat nya pelukan seorang ibu, kasih sayang orang tua yang benar-benar baru dia rasakan setelah sekian lama dan dia tidak ingin kehilangan itu.
Dia sangat menyayangi Ayyara sebagai ibu nya, begitu pun sebaliknya. Ayyara sangat menyayangi Arsen layaknya seorang ibu pada anak nya.
"Dok, berhenti sebentar. Bisakah?"
"Baik, saya ingin mengatakan sesuatu pada anak saya." Dokter mengangguk, Arsen mendekat dan memegang tangan sang Mommy dan mengecupi punggung tangan wanita itu.
"Boy, Mommy janji akan baik-baik saja. Tunggu Mommy sama adik bayi disini sama Oma ya? Jangan menangis, ingat kan kata Daddy?" Arsen menganggukan kepala nya dengan cepat.
"Iya, Arsen ingat, Mom." Jawab Arsen lirih.
"Jangan cengeng ya, Mommy baik-baik saja. Kamu tenang sama Oma ya, Mommy akan cepat kembali kok setelah adik kamu lahir."
"Iya, Mom. Arsen akan menunggu Mommy disini." Jawab Arsen, Ayyara pun mengangguk lalu tersenyum kecil. Dia mengusap rambut Arsen sesaat sebelum dokter kembali mendorong brankar nya dan masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Mommy harus baik-baik saja, Mom. Arsen mohon." Gumam Arsen, Agnes langsung memeluk anak itu. Dia paham benar seperti apa perasaan Arsen saat ini, dia malah menangis karena melihat reaksi yang di tunjukkan oleh cucu nya itu.
"Kuatlah, sayang." Ucap Agnes, dia menggendong Arsen dan mengusap air mata yang menganak sungai di wajah tampan anak itu.
"Mommy mu pasti akan baik-baik saja, sayang. Kita harus mendoakan yang terbaik untuk Mommy kamu sekarang." Arsen menganggukan kepala nya.
Agnes dan Arsen pun duduk bersampingan di kursi tunggu, di depan mereka ada Bima, Ansel, Arka dan Roy yang melihat kedua orang itu terlihat begitu rapuh saat ini. Yang terlihat dengan jelas itu adalah Arsen, dia hanya diam saja dengan tatapan kosong ke depan.
"Ya Tuhan, tolong lah Mommy Arsen. Selamatkan lah dia, berikan kelancaran untuk persalinan nya." Gumam Arsen sambil mengusap wajah nya dengan kasar. Dia benar-benar terlihat putus asa, sudah hampir satu jam berlalu tapi belum ada tanda-tanda kalau operasi nya selesai.
"Lihatlah tuan muda, dia terlihat putus asa." Bisik Roy pada Ansel.
"Hmm, kau benar, Roy." Jawab Ansel lirih. Dia tahu ekspresi anak itu benar-benar jujur tanpa di buat-buat, ekspresi yang terlihat benar-benar tulus.
"Semoga saja Nyonya Ayyara baik-baik saja." Ucap Bima dan di angguki oleh ketiga orang yang ada disana. Tak lama kemudian, Jack datang dengan membawa kresek berisi makanan dan air minum.
"Ehmm, sebaiknya kalian makan dulu." Semua nya menganggukan kepala, lalu berkumpul untuk makan dulu. Terkecuali Arsen, dia malah tetap duduk dengan tatapan kosong, tak bergerak sama sekali dari kursi nya.
Jack yang melihat itu langsung mendekat dan duduk di samping Arsen. Dia mengusap rambut anak itu dengan lembut, membuat Arsen menoleh. Dia memang tidak terlalu akrab dengan Jack, karena Arsen takut akan pria itu karena wajah sangar nya. Tapi dia akrab dengan Roy dan Arka, karena kedua nya lah yang sering berada di rumah. Terutama Roy, dia yang bertugas mengantar dan menjemput Arsen ke sekolah atas perintah Jayden secara langsung.
__ADS_1
"Hey, boy.." panggil Jack sambil tersenyum kecil. Tapi Arsen hanya menatap pria itu dengan wajah datar nya.
"Iya, Om."
"Kenapa gak ikut makan?" Tanya Jack.
"Gak mau, Om. Sebelum Mommy keluar sama Daddy dari sana, Arsen gak bakalan makan sama sekali." Jawab Arsen, membuat Jack menghembuskan nafas nya dengan kasar. Dia sudah menduga kalau ini adalah jawaban yang di berikan oleh anak itu.
"Apa kamu tahu seperti apa Mommy kamu kalau marah?" Tanya Jack membuat Arsen mengangguk, dia tahu betapa menakutkan Ayyara atau Jayden yang marah.
"Tahu, Om. Memang nya kenapa?"
"Nakutin gak?"
"Banget, nakutin banget deh Om. Apalagi kalau Daddy yang marah, serem." Jawab Arsen lirih dengan wajah polos nya.
"Jadi, kalau mereka tahu kamu gak mau makan gimana? Pasti mereka marah lho, kamu mau di marahin sama Mommy atau Daddy?"
"Enggak mau, Om." Jawab Arsen sambil menggelengkan kepala nya.
"Jadi, kamu harus?"
"Makan, Om." Jawab anak itu, Jack menganggukan kepala nya dengan cepat.
"Oke, jadi Arsen mau makan?"
"Mau, sedikit aja tapi."
"Harus banyak, biar nanti kuat main sama adik bayi." Bujuk Jack lagi, akhirnya Arsen pun menganggukan kepala nya. Jack pun mengambil nasi dan lauk yang sengaja dia beli untuk Arsen.
"Di habisin, kalo gak habis nanti Om bilangin sama Mommy atau sama Daddy." Ancam Jack, dia rasa tidak masalah sedikit melakukan ancaman agar Arsen mau makan. Sedari pulang sekolah tadi, Arsen belum makan sama sekali. Jadi, dia tidak bisa membiarkan perut Arsen kosong begitu. Nanti dia bisa sakit, siapa yang akan kena marah? Dia juga.
"Iya, Om." Jawab Arsen, dia pun makan dengan perlahan.
Arka dan Bima yang melihat itu saling melempar tatapan satu sama lain, ternyata selain handal dalam memainkan senjata, rupanya Jack juga berbakat dalam hal membujuk anak kecil yang mogok makan.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dari dalam ruangan itu.
"Keluarga pasien atas nama Ayyara?"
"Kami, sus." Ucap Agnes sambil mendekat.
"Bagaimana keadaan ibu saya, sus?" Tanya Arsen sambil menarik-narik tangan perawat itu. Dia tersenyum lalu berlutut untuk menyamakan tinggi nya dengan anak kecil yang nampak sangat menggemaskan itu.
"Ibu kamu baik-baik saja, Nak. Sekarang dia sedang beristirahat sejenak setelah operasi, nanti setelah di pindah ke ruang perawatan, kamu bisa menjenguk nya."
"Benarkah? Mommy baik-baik saja? Aaahh syukurlah, senang mendengar nya." Jawab Arsen sambil tersenyum kecil.
"Astaga, kamu sangat menggemaskan." Ucap perawat itu.
"Pasien sedang beristirahat, nanti setelah di pindah ke ruang perawatan, baru bisa di jenguk ya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Ucap perawat itu, semua nya pun kompak menghela nafas dengan lega. Benar-benar melegakan sekali setelah mengetahui kalau Ayyara baik-baik saja.
"Oma, Mommy baik-baik saja. Arsen tak sabar ingin bertemu dengan adik bayi." Ucap Arsen sambil tersenyum kecil. Agnes juga membalas senyuman kecil cucu nya itu, lalu menganggukan kepala nya.
"Kamu senang?"
"Sangat, Oma. Arsen sangat senang, Arsen juga bahagia karena punya adik." Jawab Arsen dengan polos, membuat Agnes langsung memeluk anak itu dan mengecupi kepala nya beberapa kali. Benar, dia menyayangi Arsen seperti cucu nya sendiri. Dia tidak peduli dari mana Jayden mendapatkan Arsen, yang jelas saat ini dia sangat menyayangi Arsen.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1