Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 89 - Ketakutan Roy


__ADS_3

"Roy, masuk!" Ucap Jayden, membuat Roy yang sedang mencuci mobil di luar langsung menoleh, sungguh demi apapun jantung nya terasa berhenti berdetak saat ini juga. Kira-kira, apa yang membuat Jayden memanggil nya dengan suara datar nya. 


Roy pun menghela nafas lalu menurut, dia masuk ke dalam rumah setelah menepuk-nepuk pakaian nya yang kotor karena habis mencuci mobil. Sekarang ini pun, mobil yang tadi dia gunakan untuk mengantar Arsen sekolah masih belum bersih. 


"Permisi, Tuan.."


"Hmm, kemarilah." Jawab Jayden, pria itu tengah duduk di ruang tengah dengan menatap Roy dengan datar. 


"Duduk." 


Roy mengangguk, dia pun duduk di sofa yang masih kosong. Tepat berhadapan dengan Jayden yang menatap nya tajam. Tadi dia menatap datar, tapi sekarang berubah menjadi tatapan tajam.


"A-ada apa, Tuan?" Tanya Roy, jujur saja dia takut melihat tatapan Jayden yang menajam, bahkan itu terasa menusuk ke jantung nya secara langsung. 


"Kau membelikan anak ku makanan tidak sehat, Roy!"


"Maaf, Tuan. Tapi saya tidak tahan saat melihat binar mata nya saat mobil melewati restoran burger itu, Tuan. Maafkan saya, tapi jangan memarahi Tuan muda." Jelas Roy.


"Hah, tentu tidak. Untuk apa aku memarahi putra ku, terimakasih karena kau sudah menyenangkan hati putra ku, Roy." Ucap Jayden membuat Roy mendongakan kepala nya. Pria itu menatap tak percaya ke arah Jayden, dia khawatir kalau pria itu akan marah apalagi saat melihat tatapan nya yang setajam silet. 


"H-ahh? Apa Tuan tidak marah?"


"Tidak, untuk apa aku marah." Jawab Jayden sambil tersenyum kecil, sontak saja Roy mengusap dada nya dengan lega. 


"Kau sudah ketakutan, Roy?"


"Hehe, iya Tuan. Apalagi saat melihat tatapan Tuan yang tajam seperti itu, membuat saya ketakutan." Jawab Roy lirih, membuat Jayden tergelak. 


"Aku tidak marah, tapi lain kali aku minta jangan terlalu banyak memberikan makanan yang tidak sehat pada Arsen. Dia harus terbiasa dengan makan makanan sehat, tapi kalau sesekali aku rasa tidak masalah selama itu tidak mempengaruhi kesehatan nya." Jelas Jayden membuat Roy mengangguk.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya mengerti."


"Bagaimana Arsen di sekolah, Roy?"


"Setelah saya mengamati Tuan muda di sekolah, ternyata dia memiliki karakter yang berbeda, Tuan." Jelas Roy.


"Maksud mu, apa?"


"Tuan muda jarang sekali bicara jika di sekolah, dia lebih suka menyendiri. Tapi, jangan khawatir karena ada anak yang mau bermain dengan nya. Nama nya Ronald, anak dari Tuan Martin." 


"Martin?" Tanya Jayden. Roy menganggukan kepala nya. 


"Iya, Tuan. Martin yang itu."


"Hmmm, anak si cecunguk itu berteman dengan putra ku?" 


"Jadi menurut mu bagaimana?"


"Untuk saat ini, masih aman-aman saja. Tapi saya berjanji akan terus memantau situasi dengan baik. Sejauh ini juga, belum ada hal-hal yang mencurigakan, Tuan."


"Baguslah kalau begitu, Roy. Kau melakukan pekerjaan mu dengan baik." Ucap Jayden, Roy menganggukan kepala nya. Dia mengerti benar dengan apa yang di katakan oleh Jayden. 


"Terimakasih, Tuan."


"Sama-sama, bekerjalah dengan baik. Ingat kalau anak ku sampai tergores sedikit saja, aku akan menebas leher mu. Ingat itu, Roy!" Tegas Jayden, membuat Jayden mengangguk dengan cepat. Sebagai bawahan mafia, Roy sudah terbiasa mendengar ancaman-ancaman seperti ini. Tapi, tetap saja kadang dia terkejut bukan main saat mendengar pria itu mengancam nya seperti itu. 


Bekerja dengan Jayden, salah sedikit saja nyawa taruhan nya kan? Maka dari itu, Roy harus menyiapkan diri dan juga mental nya. Dia harus bekerja semaksimal mungkin yang dia bisa, karena ini menyangkut nyawa nya. 


"Kau bisa pulang, kalau ada apa-apa atau ada hal yang bagimu mencurigakan, langsung katakan padaku agar aku bersiap. Kau mengerti, Roy?"

__ADS_1


"Baik, Tuan." Jawab Roy dengan tegas. Dia pun beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk pulang. Padahal sebenarnya, dia tidak langsung pulang tapi nongkrong dulu di markas bersama teman-teman nya yang lain. Tentu nya setelah dia menyelesaikan cucian mobil nya yang sedari tadi dia tinggal karena di suruh menghadap Jayden. 


"Daddy.."


"Yes, boy. Ada apa?" Tanya Jayden, untung saja dia sudah selesai bicara dengan Roy. Kalau tidak, dia pasti akan kebingungan harus menjawab apa pada Arsen. 


"Tidak, tadi Daddy bicara apa sama Om Roy? Keliatan serius banget."


"Hanya masalah pekerjaan saja, Boy. Kamu juga takkan mengerti kalau semisal Daddy jelasin."


"Ohh, tapi Daddy gak marahin Om Roy kan karena aku beli burger?" Tanya Arsen membuat Jayden segera mengusap puncak kepala Arsen dengan lembut. Dia mengunyel-unyel kedua pipi putra nya itu dengan gemas. 


"Tidak, Boy. Daddy kan sudah bilang gak bakalan marah sama Om Roy."


"Hmm, kali aja Daddy ingkar janji sama Arsen." Ucap Arsen lirih.


"Tidak, Boy. Daddy adalah pria yang selalu menepati janji." Jawab Jayden sambil tersenyum kecil. 


"Baiklah, Arsen percaya sama Daddy."


"Nah, begitu dong. Mana Mommy?" Tanya Jayden karena setahu nya tadi, istri nya itu masuk ke kamar Arsen untuk membantu putra nya bersiap, tapi saat keluar Arsen sendirian. 


"I'm here, Dad." Jawab Ayyara, dia berjalan perlahan mendekat ke arah sang suami dan putra nya.


"Kenapa hmm?"


"Tidak apa-apa, kita makan ya? Daddy lapar." Pinta Jayden, Ayyara pun mengangguk dan menurut saja saat Jayden mengajak nya makan malam. Karena perut nya juga sudah kelaparan.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2