Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 97 - Pelukan Anak Pertama


__ADS_3

"Ckk, ternyata penjahat lemah." Cibir Jayden saat melihat pria itu yang duduk di kursi dengan tatapan tajam menyalak ke arah nya. 


Jayden tersenyum licik, dia tahu benar siapa pria yang berada di depan nya sekarang. Dia ingat karena apa sebelah wajah pria itu rusak parah. Ya, itu karena dirinya. Dia yang menyiram air keras ke wajah pria itu hingga membuat wajah nya rusak parah tak berbentuk.


"Harusnya, sebelum membuat rencana untuk menghancurkan aku, kenapa kau tidak melakukan operasi dulu untuk memulihkan wajah buruk mu itu?" Cibir Jayden, dia tertawa mengejek membuat pria itu mengepalkan kedua tangan nya. Urat-urat di leher nya menegang karena amarah, dia terpancing dengan ucapan Jayden yang sangat meremehkan dirinya. 


"Tuan.." 


"Hmm, ada apa?" Tanya Jayden, Arka mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga sang atasan.


"Baiklah, sebentar lagi aku kesana. Sekarang aku masih ingin bersenang-senang dengan pria bajingaan ini. Berani-berani nya si tengil ini ingin menghancurkan ku dengan cara yang murahan!"


"Baik, Tuan." Arka pun segera pamit undur diri. Tadi, dia memberitahukan Jayden kalau Ayyara sudah mulai menanyakan keberadaan nya. Wanita hamil itu selalu merasa panik berlebihan, padahal Jayden sudah mengatakan kalau tidak ada pertarungan lagi sekarang, dia hanya pergi ke markas untuk melihat siapa dalang dari semua rencana busuk ini. 


"Jack.."


"Iya, Jay. Ada apa?"


"Hukuman apa yang pantas untuk cecunguk itu?" Tanya Jayden dengan senyum smirk yang membuat pria itu merasa sedikit takut. Harus nya, sebelum bertindak sejauh ini, dia memikirkan kembali siapa yang akan dia lawan. Orang nya sekelas Jayden Wiratama, ketua perkumpulan mafia terbesar di negara ini. Tapi, pria itu malah seolah ingin bermain-main dengan Jayden dan pria itu melayani nya dengan senang hati.


Dia mengikuti drama yang di buat pria itu untuk menyenangkan nya, menerbangkan nya tinggi ke awan, lalu menjatuhkan nya sekaligus, kebayang kan sakit nya seperti apa? Dia sudah merasa senang karena rencana nya berhasil, tapi ternyata orang yang dia percaya saja malah tertangkap dan berada disini juga bersama nya.


"Tebas saja kepala nya biar cepet, Jay." Usul Jack membuat Jayden tersenyum menyeringai. 


"Lakukan saja, aku tidak bisa melakukan dosa sebesar itu sekarang karena istri ku sedang hamil. Aku khawatir dia yang menanggung semua dosa ku, jadi kau saja yang melakukan nya. Aku tidak mau tangan ku kotor terkena daraah pria gilaa itu, Jack." Perintah Jayden membuat Jack dengan senang hati akan melakukan nya. 


Memang sudah cukup lama dia tidak mengeksekusi musuh karena sekarang ini pasti Jayden menolak untuk membunuh musuh, jadi dia menampung musuh di penjara bawah tanah. Tapi sekarang, dia benar-benar membenci pria yang baru saja berhasil dia tangkap, jadi dia memerintahkan Jack untuk mengeksekusi pria itu. 


"Baiklah, dengan senang hati."


"Jangan sampai merusak organ penting nya, kita bisa menjual organ-organ nya, Jack."


"Ya, aku mengerti. Kau pandai memanfaatkan situasi ya, Jay."


"Tentu saja, kalau aku tidak pandai seperti ini, mana bisa aku kaya hingga memupuk harta ku seperti ini."


"Jangan lupa kalau kau terlahir dari keluarga konglomerat, Jayden! Tanpa melakukan bisnis ilegal seperti ini pun, kau memang sudah kaya." Celetuk Jack, membuat Jayden terkekeh. 


"Baiklah, aku harus pulang karena istri dan anak ku sudah menunggu di rumah, lakukan dengan cepat agar dia tidak perlu merasakan sakit dulu."


"Siap." Jawab Jack, tapi mana ada menghilangkan nyawa yang tidak menimbulkan rasa sakit? Semua nya juga pasti sakit, itulah alasan kenapa orang itu mati. Kalau tidak sakit, mana bisa dia mati. Iya kan?


Jayden pun pergi dari markas dengan membawa rasa lega karena musuh nya sudah tertangkap, jadi dia bisa menghela nafas lega. Untuk sekarang ini keluarga nya aman, semoga saja tidak ada musuh yang menampakan diri setelah ini. Jujur saja dia lelah, dia ingin berhenti dan hidup dengan normal seperti orang lain pada umum nya. 


Tapi, dia juga tidak mungkin melepaskan apa yang selama ini melekat padanya karena dia sudah lama berjibaku dengan dunia hitam itu. Terlebih, dia juga belum menemukan sosok yang tepat untuk menggantikan posisi nya sekarang ini.


Memang ada Jack yang selalu siap siaga di samping nya, dia juga sudah memenuhi standar untuk menjadi seorang pemimpin. Tapi dia tidak yakin apakah Jack akan mau mengemban tugas itu, jadi sejauh ini dia yang akan tetap memimpin dan setelah membereskan semua musuh, dia akan memikirkan bagaimana dirinya ke depan nya nanti.


Jayden mengemudikan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tentu nya, setelah dia mendapatkan jajanan street food pesanan sang istri. Dia harus membeli nya sebagai oleh-oleh, kalau tidak ya sudah pasti istri cantik nya itu akan marah.


Memang harusnya tidak boleh memakan makanan seperti ini bagi bumil, tapi Jayden tak mungkin merusak mood ibu hamil itu, lagian kalau dia merajuk siapa yang sudah? Dirinya juga kan, gak mungkin dia minta pada Jack atau anak buah nya. Jadi sebisa mungkin dia harus menjaga mood bumil cantik itu. Tak apa lah sesekali makan makanan yang tidak sehat, asal jangan setiap hari. Itu saja yang Darren gunakan sebagai pedoman.


"Mommy, Daddy pulang.." Ucap Jayden, saat keluar dari mobil pria itu langsung berlari ke rumah dengan menenteng kresek kecil berisi beraneka macam jajanan street food kesukaan sang istri, dia juga membelikan nya untuk Arsen. 


"Wah, Daddy udah pulang ternyata." Ucap Arsen, dia berjalan mendekat ke arah sang Daddy lalu memeluk pinggang pria itu.

__ADS_1


"Mana Mommy, Boy?"


"Mommy masih tidur, Dad. Sejak Daddy pergi tadi dini hari, Mommy gak bisa tidur. Baru sekarang Mommy tidur." Jelas Arsen membuat Jayden menatap sendu wajah putra nya.


"Dia tidur di kamar mu, Boy?"


"Iya, Daddy." Jawab Arsen sambil tersenyum kecil.


"Kamu mau kemana, Boy?"


"Ke dapur, Dad. Arsen laper, hehe."


"Yaudah, Arsen sarapan dulu ya. Daddy mau nemuin Mommy dulu." Ucap Jayden, Arsen menganggukan kepala nya dengan patuh. Dia pun segera pergi ke dapur, begitu juga dengan Jayden yang langsung beranjak dari posisi nya menuju ke kamar putra nya. 


Dengan perlahan, Jayden membuka pintu kamar Arsen dan melongokkan kepala nya, benar saja wanita nya itu masih tertidur pulas dengan posisi menyamping. Jayden masuk dan kembali menutup pintu nya dengan perlahan. 


"Mom.." lirih Jayden, dia tersenyum saat melihat wajah cantik istri nya yang terlihat sangat tenang saat tertidur. Pria itu berlutut dan melihat wajah Ayyara dari dekat karena posisi nya saat ini sejajar. Jayden mengecup singkat kening istri nya, lalu merapikan anak rambut nya yang menghalangi wajah cantik nya dan menyelipkan nya ke belakang telinga.


"Enghh.." Ayyara melenguuh pelan, dia pun mulai membuka kedua mata nya dengan perlahan, menyesuaikan dengan cahaya matahari yang mengintip dari celah gordeng yang belum sepenuh nya terbuka itu.


"Daddy sudah pulang ya?"


"Hmmm, iya Mom. Apa Daddy mengganggu tidur kamu, sayang?" Tanya Jayden sambil tersenyum kecil. 


"Tidak kok, tidak sama sekali. Memang harus nya aku sudah bangun." Jawab Ayyara, dia beranjak dari tidur nya dan melihat kalau kasur di samping nya sudah kosong, padahal semalam dia tidur bersama Arsen kan?


"Lho, mana Arsen? Duhh, aku belum masakin dia buat sarapan, gimana ya? Aduh, pake bangun kesiangan lagi." Ucap Ayyara membuat Jayden tersenyum kecil.


"Sudahlah, Mom. Anak kita sudah besar, dia juga anak yang sangat mandiri. Tadi Daddy bertemu dengan Arsen di luar, dia di dapur sekarang katanya laper." 


"Hmm, baiklah. Tapi apa dia makan makanan sehat dan sesuai untuk pertumbuhan nya ya?" 


"Dad, semalam aku pesen makanan. Daddy bawain gak?" Tanya Ayyara membuat Jayden tersenyum kecil.


"Iya, Daddy bawain kok. Tuh di meja, sayang." Jawab Jayden. Ayyara pun tersenyum lalu mengambil kresek dan melihat ke dalam kresek berwarna hitam itu. Lagi-lagi dia tersenyum kecil lalu membawa makanan itu ke dapur untuk memakan nya bersama Arsen.


Ayyara menatap putra nya yang sedang makan sendiri dengan lahap, dia sedang memakan sarapan nya berupa sereal, buah dan susu. Arsen terlihat sangat menikmati sarapan nya itu. Dulu, saat masih menjadi anak jalanan, dia tidak bisa memakan makanan seperti ini. Tapi sekarang, semua nya serba ada karena Ayyara dan Jayden yang menyediakan macam-macam makanan untuk Arsen yang kandungan vitamin nya sesuai dengan usia Arsen, bagus untuk pertumbuhan anak lelaki ini.


"Enak sarapan nya, Boy? Fokus sekali sampai gak sadar kami datang." Ucap Jayden sambil mengusap puncak kepala sang putra dengan lembut lalu mengecup nya dengan penuh kasih sayang.


"Hehe, iya Dad. Ini enak sekali. Arsen suka menu sarapan yang ini, Dad."


"Jadi, maksud nya Arsen gak suka sarapan buatan Mommy?" Tanya Ayyara yang membuat Jayden memberi kode pada putra nya itu lewat mata. Untung nya, Arsen adalah anak yang cerdas jadi dia paham benar dengan kode yang di berikan oleh sang Daddy.


"Bukan begitu, Mom. Arsen menyukai semua nya, apalagi masakan Mommy. Masakan Mommy tuh suka di mintain sama teman-teman Arsen di sekolah lho saking enak nya, Mom. Tapi, sekarang Arsen memang lagi suka sama ini aja. Besok Mommy lagi yang bikinin, pokoknya masakan Mommy itu paling luar biasa." Celoteh anak itu panjang lebar, membuat Ayyara tak kuat dan akhirnya tersenyum lebar. 


Siapa sih yang gak gemes melihat putra nya bicara seperti ini? Ayyara saja sampai tersenyum mendengar kalimat pujian-pujian yang terlontar dari mulut mungil putra nya. Dia adalah anak yang pintar membujuk dan Arsen tahu kelemahan nya sebagai seorang ibu adalah apresiasi terhadap apapun yang sudah dia buatkan untuk nya, bukankah itu sangat membahagiakan? 


Dia mendengar dari mulut putra nya itu secara langsung. Bahagia sekali dia mendengarkan pujian tentang apa yang dia buatkan. 


"Kamu pandai membujuk ya? Kamu tahu benar kelemahan Mommy ya, Boy? Belajar dari mana, dari siapa hmm?" Tanya Ayyara sambil mengacak rambut Arsen dengan gemas. 


"Enggak kok, Mom. Arsen begini ya karena takut di marahin sama Mommy, itu saja." Jawab Arsen, tapi dia menatap curiga ke arah suami nya. Ayyara pun mengambil piring dan memindahkan makanan yang tadi di bawa oleh Jayden dan memakan nya dengan lahap. 


"Mommy cantik deh, apalagi kalau mesra-mesraan sama Daddy." Celetuk Arsen membuat Ayyara tersedak, dia terbatuk hingga membuat wajah nya memerah.

__ADS_1


Dengan sigap, Jayden memberikan air minum pada istri nya. Wanita itu mengambil nya dan meminum nya hingga tandas dalam sekali tegukan. Jujur saja, dia terkejut begitu mendengar ucapan Arsen yang terdengar sedikit aneh. Dia yakin ada yang tak beres dengan Arsen dan juga Jayden, dia curiga kalau kedua nya bersekongkol. 


"Dari siapa belajar kayak gitu, hmm?"


"Gak dari siapa-siapa kok, Mom." Jawab Arsen sambil tersenyum manis. Ayyara bergantian menatap putra dan suami nya dengan mata tajam nya. 


"Jujur sama Mommy, atau Mommy gak bakalan mau membuatkan kamu sarapan lagi." Ancam Ayyara membuat Arsen terkejut. Tanpa sarapan buatan Mommy nya? Tidak, rasa nya itu lebih parah dari pada tidak di berikan uang jajan selalani satu tahun. Dia memilih tidak membawa uang jajan dari pada tidak membawa kotak bekal dengan isi yang selalu berbeda setiap hari nya, selain itu Ayyara juga menghias nya dengan lucu. 


Penampilan yang menarik ternyata sesuai dengan rasa nya yang selalu enak dan menu nya yang berbeda setiap hari nya, membuat Arsen selalu menantikan seperti apa bekal yang di buatkan sang ibu untuk nya dan dia selalu menyukai nya, bahkan teman-teman nya pun merasa iri padanya karena setiap hari selalu membawa bekal yang enak dan cantik.


"Hehe, Daddy.." jawab Arsen membuat Ayyara menatap suami nya dengan tajam, sedangkan Jayden hanya cengengesan.


"Modus, mau manja-manjaan pake nyuruh anak kamu bilang. Gak berani bilang langsung apa? Arsen masih kecil gak usah ya kamu ajarin kayak begituan!"


"Iya iya, Mom. Daddy minta maaf." Ucap Jayden, jujur saja dia takut kalau istri nya sudah dalam mode mengomel seperti ini. 


Jika di markas dia menjadi ketua mafia yang menakutkan, kejam dan juga sadis. Berbeda lagi saat dia berada di rumah, dia hanya suami yang takut pada istri nya, itu saja tidak lebih.


"Besok kamu mau sarapan apa, Boy?"


"Arsen terserah Mommy aja, apapun yang Mommy buat pasti Arsen makan. Arsen suka semua yang Mommy masak." Jawab Arsen sambil tersenyum.


"Baiklah, terserah Mommy ya kalau begitu?"


"Iya, Mom." Jawab Arsen, Ayyara pun tersenyum lalu mengacak rambut putra nya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Arsen pun kembali menyantap sarapan nya dengan lahap, ya begitu juga dengan Ayyara yang terlihat lahap memakan telur gulung dan juga cilok bumbu kacang.


Setelah selesai dengan acara sarapan nya, akhirnya Jayden bisa bersantai sambil bermanja-manja pada istri nya. Mereka berkumpul di ruang tengah, tepat nya karpet bulu-bulu yang memang di sediakan oleh Ayyara, khusus untuk nya jika ingin menonton televisi sambil rebahan. Maklum lah ibu hamil, pinggang nya sering kali terasa sakit saat di bawa duduk terlalu lama.


Sekarang ini, Jayden tengah mengusap-usap perut buncit istrinya sambil merebahkan kepala nya di pangkuan sang istri yang tengah asik menonton televisi yang menayangkan siaran kartun kesukaan Arsen. Tadinya dia ingin menonton drama Korea, tapi terlalu banyak adegan dewasa yang tak pantas di lihat anak kecil, jadi Ayyara mengurungkan niat nya dan akhirnya dia menyerah lalu memutuskan untuk menonton film kartun saja.


"Mom, kapan dia akan keluar?"


"Hmm? Masih tiga bulanan lagi, Dad. Kenapa? Udah gak sabar ya pengen ketemu adik bayi?"


"Iya, Mom." Jawab Jayden lalu mengecup perut Ayyara dengan lembut.


"Arsen juga, Arsen gak sabar pengen ketemu adik bayi. Pasti dia lucu kayak Arsen kan, Mom?"


"Iya dong, sayang. Ini kan adik kamu, pasti bakalan mirip sama kamu lucu nya. Doain Mommy biar lancar jika sudah waktu nya nanti ya, Boy." Bukan Ayyara yang menjawab, tapi Jayden. 


"Pasti, Arsen bakalan doain yang terbaik buat Mommy. Arsen sayang banget deh sama Mommy." Ucap Arsen sambil memeluk tubuh Ayyara dari samping. Wanita hamil itu tersenyum lalu mengecup singkat puncak kepala sang putra dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia benar-benar sangat menyayangi Arsen, layaknya putra kandung. 


"Sama Daddy, gak sayang kah?"


"Sayang Daddy juga.." Ucap Arsen, Jayden membalas pelukan Arsen dengan tangan terbuka, dia menyukai saat anak itu memeluk nya, rasanya benar-benar hangat dan membuat nya nyaman. Seperti inikah hangat nya pelukan anak laki-laki pertama nya? Rasa nya benar-benar nyaman. Meskipun Jayden tidak menyangkal kalau memang Arsen adalah orang asing bagi nya, tapi sekarang dia benar-benar menyayangi nya sepenuh hati dan menganggap nya sebagai anak.


"Besok, Daddy akan mengurus surat adopsi untuk mu agar tidak ada yang mempersulit kita nanti ya." Ucap Jayden membuat Ayyara terhenyak. Sudah cukup lama dia menyarankan ini pada Jayden.


Dia khawatir kalau suatu saat nanti jika Arsen sudah dewasa, akan ada orang yang mengaku-ngaku kalau Arsen adalah putra nya dan mengambil nya dari mereka. Ayyara tidak rela akan hal itu dan jika itu terjadi dia akan menempuh jalur hukum dan salah satu syarat nya adalah surat menyurat pernyataan adopsi. Dengan begitu, siapapun takkan bisa berkutik jika mereka memiliki surat itu..


"Benarkah, Dad?"


"Iya, benar. Jadi besok kita akan pergi keluar dengan di kawal oleh bodyguard, karena Daddy belum sepenuh nya yakin kalau situasi kita sudah aman sekarang. Memang dia sudah di tangkap, tapi tidak menutup kemungkinan kalau ada musuh-musuh lain nya bukan?" Jelas Jayden membuat Ayyara menganggukan kepala nya, dia paham benar dengan ucapan suami nya. Mau bagaimana pun, nyaman atau tidak, tapi keamanan mereka lebih penting jadi kemana-mana harus menggunakan bodyguard untuk menjamin keselamatan mereka.


"Baiklah Daddy, asalkan itu bersama Daddy aku takkan pernah keberatan." Jawab Ayyara sambil tersenyum, begitu juga dengan Jayden.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2