
"Apapun yang terjadi, Daddy akan tetap bersama mu dan Mommy, Boy. Jangan takut ya?"
"Daddy.." Arsen memanggil Jayden lalu menangis sejadi nya di pelukan hangat sang Daddy.
"Yes, Boy. Jangan menangis, air mata mu itu sangat berharga bagi Daddy. Kamu meneteskan air mata seperti ini, sama saja dengan Daddy yang gagal menjaga mu, Boy." Jelas Jayden membuat Darren pun langsung mengusap air mata nya.
"Enggak kok, mana ada Arsen nangis. Arsen kan anak laki-laki, harus kuat kayak Daddy. Biar bisa melindungi Mommy sama adik bayi kan, Dad?" Tanya Arsen kecil dengan suara gemas nya, membuat Jayden tersenyum kecil lalu mengacak rambut anak itu dengan gemas.
"Iya, kamu harus tumbuh menjadi anak yang kuat dan hebat seperti Daddy."
"Iya, Daddy." Jawab Arsen, dia pun kembali memeluk Jayden dengan erat. Ayyara juga ikut memeluk tubuh suami nya, tadi dia sangat ketakutan saat mendengar suara tembakan, dia juga merasa ketakutan saat suami nya pergi dari kamar.
Dia khawatir kalau hari itu ternyata adalah hari terakhir mereka bertemu, tapi dia merasa lega dan bersyukur karena Jayden pulang dengan keadaan baik-baik saja bahkan tidak terluka sedikit pun, jangankan luka tembak, tergores saja tidak. Bukankah itu hebat?
"Daddy tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua, itu janji Daddy. Kalau pun semisal Daddy lebih dulu di panggil oleh Tuhan, kalian harus hidup dengan baik." Ucap Jayden membuat Ayyara menatap wajah suami nya dengan air mata yang masih berderai.
"Daddy tidak boleh bicara seperti itu, Dad."
"Hmmm, baiklah." Jawab Jayden. Dia pun melerai pelukan nya dan menatap kedua wajah orang-orang yang paling dia sayangi dan paling berharga dalam hidup nya.
"Daddy sangat menyayangi kalian berdua." Ucap Jayden. Lalu ketiga nya kembali berpelukan dengan hangat.
__ADS_1
"Kami juga." Jawab Ayyara.
"Astaga, Daddy melupakan adik bayi di perut Mommy. Daddy juga menyayangi kamu, baby." Ucap Jayden sambil mengusap lembut perut sang istri.
"Aihh, iya Daddy melupakan adik bayi. Itu gak boleh lho Dad, gak baik." Ucap Arsen sambil menggelengkan kepala nya, begitu juga dengan Ayyara. Kedua nya sama-sama menggelengkan kepala mereka.
"Iya iya, maafkan Daddy ya Boy, Mom."
"Hmm, untuk kali ini kami maafkan karena kami sedang berada di masa yang sangat mendukung." Jawab Ayyara sambil tersenyum kecil.
Sedangkan di lain tempat, pimpinan pihak musuh merasa sedikit panik karena sampai sekarang tidak ada kabar apapun dari anak buah kepercayaan nya, bahkan semua anak buah nya tidak ada yang memberikan respon apapun pada pesan suara nya.
"Sial, apa mungkin mereka gagal? Tapi rasa nya itu tidak mungkin, rencana yang ku rancang ini sangat bagus." Gumam pria itu sambil meremat gelas berisi minuman beralkohol lalu meminum nya dengan sekali tegukan.
Musuh terlalu menganggap nya remeh kemampuan Jayden dan anggota mafia nya, padahal nyatanya Jayden dengan mudah memprediksi taktik murahaan nya itu dengan sangat mudah, bahkan tak perlu membutuhkan waktu yang lama.
"Sialan.." pria itu meninju tembok, dia mulai memikirkan banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi sekarang ini.
"Apa mungkin semua anak buah ku habis tak bersisa di tangan Jayden? Tidak mungkin kan, bahkan Ansel?" Gumam nya. Padahal saat ini, pria bernama Ansel saat ini berada di markas Jayden dengan pengamanan ketat. Disana juga ada Arka dan Roy. Bima sedang membereskan kekacauan di rumah Jayden bersama Jack dan juga yang lain nya.
"Ansel adalah anak buah terbaik yang aku miliki, tanpa nya aku bisa apa? Astaga.." Gumam pria itu. Dia melempar semua barang yang ada di meja hingga membuat nya pecah berhamburan.
__ADS_1
Dia menelan pil pahit kegagalan, ini bukan kekalahan pertama yang dia dapatkan, sungguh demi apapun dia tidak akan menerima kekalahan lagi, tapi ternyata dia harus kalah lagi sekarang.
Di markas sendiri, Ansel meronta-ronta meminta di lepaskan, tapi Roy dan Arka hanya membiarkan nya saja, karena dia sudah di ikat dengan erat, juga berada di balik jeruji besi. Jadi, kalaupun seandainya dia berhasil melepaskan tali yang mengikat nya, dia harus bisa melepaskan diri dari dalam jeruji besi itu.
"Lepaskan aku sialan!"
"Tidak akan pernah." Jawab Roy dengan seringai jahat nya.
"Ckkk, bajingaan! Ku bilang lepaskan aku!" Pria itu mengumpat sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuh nya.
"Hahaha, memang nya kau siapa? Kau hanya musuh, jadi untuk apa kami menuruti perintah mu itu? Tidak akan pernah, jadi jangan bermimpi." Jawab Bima.
"Ckk, harusnya aku membunuh mu dulu, Bim."
"Hmmm, kau menyesali keputusan mu hari itu kan? Hahaha, makan tuh. Sekarang aku bersama Tuan Jayden, jadi jangan ragukan lagi kemampuan ku. Sekarang saja, aku bisa membunuh mu kalau saja aku di berikan perintah oleh Tuan Jayden!" Jelas Bima membuat Ansel meringis.
Dulu, mereka pernah bertemu dua kali dan disaat pertemuan terakhir, Bima kalah telak hari itu. Dia juga belum bergabung bersama Jayden, dia terluka parah lalu Ansel datang dan memberikan nya minum lalu pergi.
Saat itulah, Jayden kebetulan melintas dan melihat Bima tengah sekarat di tengah jalan dengan tubuh penuh dengan luka. Karena naluti kemanusiaan nya, akhirnya dia pun membawa Bima ke markas dan di obati oleh dokter pribadi nya disana hingga sembuh dan akhirnya dia memutuskan untuk bergabung dengan Jayden.
Sekarang, Ansel benar-benar menyesali keputusan nya saat ini. Andai saja hari itu dia membunuh Bima, tentu nya sekarang dia takkan menjadi bumerang bagi nya. Tapi semua nya sudah sangat terlambat, karena sekarang Bima bukanlah Bima yang dulu.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻