Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 53 - Hukuman Setimpal


__ADS_3

"D-dia.." 


"Dia siapa, nak?" Tanya Agnes sambil menatap putri nya, dia benar-benar penasaran dengan sosok baik hati yang sudah menyelamatkan putri nya dari bahaya. 


"Tidak, bukan siapa-siapa kok, Ma.." Jawab Ayyara, entahlah kalau sampai Jayden mendengar hal ini, bisa-bisa dia di hukum semalaman di kurung di dalam kamar. Sudah jelas apa yang akan dia lakukan bukan? 


"Hmm, ya sudah tak apa-apa yang penting kamu sudah pulang dengan selamat, nak." Ucap Arumi, dia mengusap wajah putri nya lalu kembali menarik nya ke dalam pelukan. 


"Ayya seneng deh kalian mulai care lagi sama Ayya." Ucap Ayyara lirih, membuat kedua orang tua nya saling melempar tatapan. Ya, benar. Sudah saat nya mereka berubah, putri nya sudah dewasa dan bisa membedakan benar dan salah. Tapi saat ini, dia sedang terjebak dalam pesona seorang Jayden hingga membuat nya buta. Tidak bisa membedakan salah dan benar. 


"Maafin kami berdua ya, sayang?"


"Tidak apa-apa, Ma. Ayya seneng kalau kalian udah mulai perhatian lagi sama Ayya." 


"Kamu pasti lelah kan? Istirahat lah, sayang." Ucap Agnes sambil mengusap wajah cantik Ayyara dengan lembut. 


"Iya, Ma. Ayya ke kamar dulu ya.."


"Iya, sayang." Kedua nya menjawab bersamaan, membuat hati Ayyara berbunga saking bahagia nya. Ya, dia benar-benar bahagia karena perlahan kedua nya mulai memberikan perhatian lagi. 


Ayyara pun pergi ke kamar nya untuk beristirahat, dia memang belum sepenuhnya baik-baik saja. Tapi, dia tidak suka dengan aroma dan suasana di rumah sakit. Jadi dia memilih untuk pulang dan mengatakan kalau dia sudah baik-baik saja pada Jayden, agar pria itu mau mengantarkan nya pulang. 


Sedangkan di lain tempat, Jayden tengah mengemudikan kendaraan roda empat nya dengan kecepatan tinggi. Setelah mengantarkan sang gadis ke rumah dengan selamat, Jayden pun memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat. 


Tak lupa, dia menghubungi sang asisten yakni Jack untuk stand by di markas karena dia sudah dalam perjalanan kesana sekarang. Dia ingin melihat wajah Rendy, pria yang sudah berani bermain-main dengan nya. Mencari gara-gara dengan nya, berarti siap mati bukan? 


Jayden menatap datar, lurus ke depan. Mata nya menyalak tajam, dia benar-benar dalam pengaruh amarah yang membuncah saat ini. Bahkan saat sampai di markas, pria itu langsung memarkir mobil nya dengan satu gerakan saja, membuat penjaga yang ada disana terkejut dan terkagum-kagum dengan cara pria itu memarkir mobil nya. 


Jayden memberikan remote mobil nya pada penjaga dan langsung pergi ke dalam markas. Pria itu membuka jas yang membalut rapuh tubuh nya sambil berjalan. Dia berjalan dengan cepat, tubuh nya yang tegap menimbulkan suara langkah kaki yang cukup nyaring. 


Tapi, bagi Rendy saat ini, suara sepatu Jayden yang beradu dengan lantai itu terdengar seperti suara kematian. 


Tap.. tap.. tap.. 


Langkah kaki itu semakin mendekat, membuat bulu kuduk pria itu meremang seketika. Sungguh demi apapun, melihat tatapan Jayden lebih horor ketimbang di suruh menonton film hantu. 


"Jack.."

__ADS_1


"Ya, Jay.." Jawab Jack, pria itu langsung berjalan mendekat ke arah Jayden yang saat ini sedang dalam mode pemimpin. Bukan mode teman, jadi Jack juga harus lebih serius. 


"Kau sudah memutuskan apa hukuman yang pantas bagi orang yang sudah menyakiti gadis ku, Jack?" Tanya Jayden membuat Jack menatap kilas ke arah Rendy. Jujur saja, dia merasa tidak tega tapi dia harus di hukum sesuai dengan perbuatan nya. 


"Kaki nya, Jay."


"Good, aku rasa itu setimpal dengan luka fisik dan batin yang gadis ku rasakan." Jawab Jayden, pria berwajah tampan namun terlihat menakutkan itu tersenyum smirk. 


"Jadi, kau tahu apa tugas mu, bukan?"


"Of course, Jayden."


"Lakukan!" Tegas Jayden, Jack pun mengambil jas khusus yang tidak tembus air, lalu memakai nya. Pria itu mengambil gergaji listrik untuk memotong kaki Rendy. 


Malam itu, di markas di penuhi dengan suara-suara teriakan penuh rasa sakit yang berasal dari Rendy. Hari ini, dia resmi kehilangan kedua kaki nya karena satu rencana yang gagal total. Sebenarnya, rencana itu sudah cukup terancang. Tapi bukan Jayden yang menjadi lawan nya, harusnya. Pria itu terlalu tangguh untuk bisa di kalahkan, belum lagi orang-orang nya yang ada di setiap tempat. 


"T-tidak, jangan.." Teriak Rendy, membuat Jayden menyeringai, dia menyadari kalau mangsa nya sedang ketakutan saat ini. 


"Apa kau pernah berpikir dua kali sebelum melakukan itu pada gadis ku, Rendy Aljigar?" Tanya Jayden, dia memainkan sebuah pisau kecil di dagu Rendy, membuat pria itu menahan nafas nya sejenak. Dia takut kalau sampai bernafas, pisau itu akan menggorook leher nya. 


"Jawab!"


"T-tidak.."


"Ckkk, harus nya dulu aku juga menghabisi nyawa mu, agar kau tidak menjadi penghalang bagi ku di masa depan. Tapi dulu, aku terlalu naif hingga membiarkan anak seorang penghianat hidup, bahkan menikmati udara bebas setiap hari nya." 


"Ayah ku bukan penghianat!" Tegas Rendy membuat Jayden tertawa. Tapi, percayalah tawa yang harusnya terdengar ceria itu benar-benar menakutkan bagi Rendy.


"Ohh ya? Andai saja kau mengetahui tabiat buruk seorang Leonardo Aljigar itu seperti apa, aku yakin kau sendiri akan jijik. Dia adalah pria yang licik, namun ayah ku terlambat menyadari nya." 


"Tidak, ayahku tidak pernah melakukan hal serendah itu!" Tegas Rendy lagi. Jayden mendekat, wajah mereka sangat berdekatan saat ini. 


"Sekali penghianat, tetap penghianat. Tidak anak, tidak bapak, kedua nya sama-sama penghianat yang tidak bermoral." Bisik Jayden dengan suara khas nya, membuat Rendy mendongak menatap wajah Jayden. Dia tidak terima saat ayah nya di katakan sebagai penghianat, meskipun benar begitu adanya. 


"Aku memang mafia, ayah ku juga seorang mafia. Tapi kami adalah mafia terhormat yang tidak akan mengusik orang lain tanpa jelas apa kesalahan nya. Kau paham, Rendy?" 


Rendy menatap Jayden dengan tatapan tajam, tapi saat melihat Jayden memainkan pisau di tangan nya, seketika tatapan itu hilang karena Rendy memilih menundukan kepala nya. 

__ADS_1


"Jack.." 


"Persiapan selesai, Jay." 


"Good." Jawab Jayden, Jack pun mendorong kursi yang di duduki oleh Rendy mendekati gergaji mesin yang tersimpan rapih di atas meja. 


"Tidak, tidak.." Rendy meronta, dia menggelengkan kepala nya, dia takut saat melihat gergaji mesin nya mulai di nyalakan, dia belum siap kehilangan kaki nya karena ulah nya itu.


"Jangan, aku mohon padamu, Jay. Ampuni aku, aku tahu aku salah. Tapi tiada kah maaf untuk ku? Aku bahkan bersedia melakukan apa saja, aku mau juga seandainya kau menjadikan ku salah satu anak buah mu." 


"Hahaha, aku tidak butuh anak buah seperti dirimu. Bahkan, kau tidak bisa melawan satu orang pun anak buah ku, itu menunjukkan kalau kau adalah pria yang lemah!" Tegas Jayden.


"Tidak, jangaaaann…" Teriak Rendy, tapi Jayden menuliskan pendengaran nya.


Malam itu, adalah malam paling buruk dan menyakitkan bagi Rendy. Dimana dia harus kehilangan satu kaki nya sebagai peringatan, bukan hukuman tapi hanya peringatan. Bagaimana kalau sudah masuk ke tahap hukuman? Mungkin nyawa nya sudah melayang jauh entah kemana.


Jayden tertawa puas, dia puas karena akhirnya dia membalaskan semua rasa sakit yang di alami Ayyara pada Rendy dengan setimpal. Ya, dia rasa kehilangan satu kaki nya adalah balasan yang setimpal untuk semua rasa sakit yang sudah di alami gadis cantik nya.


"Lain kali, jangan mencari gara-gara dengan ku, atau nanti bukan hanya kaki yang aku ambil, tapi nyawa mu sekalian." Ucap Jayden, membuat Rendy yang masih berteriak-teriak karena rasa sakit setelah kehilangan kaki nya itu beralih mengumpati Jayden. 


Biarlah sekarang dia tidak menunjukkan rasa takut nya lagi, toh percuma saja sekarang kaki nya sudah hilang satu. Esok hari, dia akan menjadi pemuda dengan satu kaki alias pincang. Tidak terima? Jelas saja, tapi dia benar-benar merasa kalau ini tidak sebanding dengan apa yang sudah dia dapatkan.


Plak… 


Wajah Rendy terhuyung ke samping menahan rasa sakit di pipi nya karena satu tamparan yang melayang pada nya. 


"Itu balasan karena kau sudah menampar gadis ku hingga wajah nya lebam." 


Plak.. 


Lagi-lagi, Jayden melayangkan satu tamparan di pipi kiri, cap lima jari terlihat jelas disana karena Jayden menampar pria itu dengan sangat kuat hingga membuat sudut bibir nya terluka, saking keras nya tamparan yang di layangkan oleh Jayden padanya.


"Itu, karena kau sudah sangat lancang menyentuh tubuh gadis ku!"


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2