
Kedatangan Jayden di sambut dengan hormat oleh anak buah nya, mereka kompak menunduk hormat saat pria itu datang dengan wajah datar dan langkah tegap nya, di belakang nya ada Jack yang memiliki aura yang tak kalah kuat dari Jayden, sang pemimpin.
"Selamat datang, Tuan Jay.."
"Hmmm.." Jayden hanya berdehem sebagai jawaban nya, kedua pria berwajah tampan namun datar itu masuk ke markas. Mereka berdiri tegap di depan sebuah jeruji besi yang di dalam nya ada Ansel yang menatap nya dengan tajam.
"Tundukan pandangan mu sialan! Kau tidak tahu siapa dia bukan?" Tanya Jack membuat Ansel mencebikan bibir nya dengan sinis.
"King Jayden Wiratama." Jawab Ansel sambil tersenyum sinis.
"Hmm, kau tahu benar nama ku. Tapi seperti nya kau tidak mengenal ku dengan baik, Ansel." Jayden akhirnya bersuara, Ansel terlihat terkejut. Benar, suara Jayden terdengar sangat menakutkan bagi telinga Ansel. Suara nya saja sangat menyeramkan, apalagi wajah nya.
Tapi tak lama kemudian, seseorang masuk dengan wajah datar dan langkah tegap nya dengan wajah yang mirip dengan Jayden datang.
Ansel terlihat terkejut, dia benar-benar terkejut saat melihat ada dua Jayden disini? Pria yang datang dengan wajah serupa itu menyeringai, lalu yang mana Jayden yang asli? Kedua nya nampak sangat serupa.
"Kami masih sangat membutuhkan mu untuk menangkap pimpinan mu, Ansel.." ucap Jayden yang palsu, sedangkan Jayden yang asli memilih untuk diam saja. Dia tidak mau membuang-buang tenaga nya untuk bicara. Kalau ada yang bisa mewakilkan, kenapa tidak? Dia lebih baik diam saja.
"Tidak akan pernah."
"Baiklah, berarti kau ingin mati dengan kepala terpisah dari badan mu, begitu?" Tanya Jack dengan menunjukkan sebuah samurai yang bisa membuat kepala terpenggal hanya dalam satu kali tebasan saja. Melihat samurai yang terlihat mengkilat itu, apalagi saat terterpa cahaya dari lampu yang cukup terang.
"Bagaimana? Aku beri kau waktu satu detik. Satu.. Selesai, jadi apa jawaban mu?" Tanya Jack sambil memainkan samurai itu di tangan nya, mengusap-usap nya.
"Tebas saja, Jack. Seperti nya dia akan tetap dengan keputusan nya tidak mau buka mulut." Ucap Arka sambil tersenyum jahat.
"Hmmm, benar. Lagi pula, samurai ini sudah lama tidak di gunakan. Jadi dia akan dengan sangat senang hati memutuskan kepala mu dark tempat nya." Balas Jayden. Dia bersiap untuk melangkah, tapi pria itu mengurungkan niat nya kala mendengar ucapan Ansel.
"Baiklah, aku akan memberikan kalian informasi tentang pimpinan ku." Jawab Ansel lirih. Jayden tersenyum jahat, artinya langkah ini cukup untuk membuat dia sedikit puas karena ternyata ancaman Jack masih sangat efektif untuk membuat musuh akhirnya mau membuka suara nya.
"Bagus, jadi.."
"Aku akan mengatakan nya, tapi kau harus melepaskan aku!"
"Seperti nya tidak, kau harus di hukum atas perbuatan mu. Paling, aku hanya akan memundurkan waktu kematian mu saja."
"Bisakah kau memberikan pesan pada keluarga ku atas kematian ku nanti?" Tanya Ansel, sebenarnya dia memang takut mati dan tak siap untuk hal itu, tapi sekarang yang dia hadapi bukanlah musuh sembarangan, dia adalah King Jayden Wiratama. Ketua mafia paling di takuti di negara ini karena terkenal akan ke kejaman nya.
"Oh hoo, seperti nya kau memang tidak takut kematian ya?"
"Hmmm, cepat atau lambat aku akan mati juga meskipun tidak berhadapan dengan mu, Jay." Jawab Ansel membuat Jayden tertawa.
__ADS_1
"Atau, haruskah aku merekrut mu menjadi anggota disini? Aku lihat kau cukup bagus mengatur strategi." Ucap Jayden membuat Jack menatap Jayden dengan tatapan tajam nya. Jangan terlalu percaya pada musuh, apalagi ingin menjadikan nya anggota di perkumpulan mafia ini hanya karena dia memiliki kemampuan yang mumpuni.
"Aku tidak berniat untuk bergabung." Jawab Ansel membuat Jack tersenyum, sedangkan Jayden tertawa.
"Baiklah, aku memberi waktu sampai besok. Pilihan nya, kau mau mati atau menjadi bagian the black wolf." Jawab Jayden.
"Aku yang akan menyampaikan pesan kematian mu, Ansel. Jadi, sekarang telpon nomor pimpinan mu dan buat janji temu!" Ucap Jack. Dia memberikan ponsel milik Ansel yang berhasil dia ambil tadi dari saku nya. Dia juga menyita alat komunikasi yang terhubung dengan pimpinan nya itu.
"Lepaskan tangan ku dulu.."
"Kau pikir kami bodoh? Biarkan aku yang memegang ponsel dan kau hanya perlu bicara, jangan membuat dia curiga." Ucap Jack. Akhirnya Ansel pun membiarkan pria itu membuka sandi ponsel nya dengan petunjuk dari nya.
'Hallo..' Suara itu terdengar.
'Hallo, Ansel. Dimana kau?'
"Baik, Tuan. Saya disini, saya sedang berada di rumah milik Jayden untuk mengambil apa yang harus nya kita dapatkan." Jawab Ansel, dia berbisik seolah-olah dia sedang mengendap-endap di rumah Jayden untuk menculik Ayyara.
'Syukurlah kau masih hidup, bagaimana yang lain?'
"Habis, Tuan. Tapi masih ada beberapa lagi yang bertahan, saya akan mendapatkan istri Jayden dengan cepat lalu memberikan informasi yang akurat nanti melalui pesan dan kita bisa bertemu di tempat biasa."
'Ya, baiklah. Aku tunggu kabar selanjutnya dari mu, aku tak sabar ingin melihat Jayden hancur!'
"Drama yang sempurna.." Ucap Jayden sambil tersenyum.
"Jeda 15 menit, kirim pesan kalau dia sudah berhasil menangkap Ayyara dan mengajak nya bertemu, setelah itu kalian tahu apa yang harus kalian lakukan." Tegas Jayden, lalu pergi dari ruangan itu bersama Jack di belakang nya.
Jayden bersama Jack dan pria yang menyamar menjadi dirinya juga Jack berkumpul. Kedua pria itu membuka topeng nya dan duduk bersama Jayden, sang pimpinan.
"Jadi, apa langkah kami selanjutnya, Tuan?"
"Kalian berdua lah yang harus pergi kesana untuk menangkap pimpinan musuh, aku dan Jack akan menunggu disini. Kalian paham?"
"Paham, Tuan." Jawab Antonio.
"Baguslah, berperan sebagai aku dengan baik, Antonio. Aku percaya kau bisa memerankan aku dengan baik, jadi lakukanlah sebaik mungkin jangan membuat musuh curiga. Kalau kau sudah berhasil menangkap musuh, bawa kesini dalam keadaan hidup-hidup." Jelas Jayden dengan serius. Antonio menganggukan kepala nya pertanda kalau dia paham dengan arahan yang di berikan oleh Jayden.
Artinya, dia harus memerankan sebagai Jayden dengan baik, dia harus bisa melakukan nya karena keberhasilan misi ini berdasarkan kemampuan dirinya dalam berdrama. Untung saja, dulu dia sering membuat drama dan ternyata hal itu berguna saat ini.
Setelah 15 menit berlalu, Jack kembali ke ruangan dan dia lah yang mengirimkan pesan ke nomor musuh dan di seberang sana musuh langsung mengiyakan untuk bertemu di tempat biasa.
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Apa nya?" Tanya Ansel dengan datar. Dia menatap Jayden dengan wajah acuh nya.
"Tawaran ku tadi.."
"Akan aku pertimbangkan." Jawab Ansel membuat Jayden tertawa.
"Baiklah, sekarang kita berangkat?" Tanya Jack. Dia pun membawa Ansel ke dalam mobil tanpa melepaskan ikatan di tangan dan kaki nya, tentu nya mereka melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Mereka mengantisipasi sebelum tahanan kabur dan itu akan sangat menyulitkan bagi mereka.
Saat Ansel lengah, Jack dan Jayden yang asli langsung bertukar tempat dengan Antonio. Mereka pun pergi dengan menggunakan mobil.
"Ke kanan.." Ucap Ansel.
Sampai juga, setelah beberapa jam mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi. Ansel terlihat sedikit gugup, apalagi saat dia melihat kalau mobil pimpinan nya sudah ada disana dan sekarang dia sedang menatap ke arah mobil yang di kemudikan oleh Arka dengan senyum jahat nya.
Dia berpikir kalau rencana nya itu benar-benar berhasil, tapi seperti yang sudah di duga sebelum nya kalau pria itu pasti akan kalah di tangan Jayden.
Arka keluar lebih dulu, membuat pria itu langsung mundur saat melihat orang asing yang tidak dia kenali turun dari mobil yang tadi dia yakini sebagai mobil yang membawa Ansel dan Ayyara, tapi ternyata bukan. Itu adalah orang asing yang entah siapa nama nya.
"Hallo.." Kedua mata pria itu semakin membulat saat melihat Jayden keluar dari mobil yang sama dengan Jack. Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari dari mobil dengan menyeret Ansel yang tertunduk dengan kepala yang tertunduk.
"Tidak.. tidak.."
"Terima ke kalahan mu." Ucap Jayden dengan tersenyum smirk, buru-buru pria itu akan kabur tapi dengan sigap, Antonio menembak sebelah kaki pria itu dan membuat nya tak bisa berjalan, dengan begitu memudahkan mereka membawa pria itu ke dalam mobil.
"Aaarrgghhh, sakit.." Pria itu mengerang kesakitan karena timah panas yang menembus kaki nya, membuat dirinya tak bisa berjalan karena hal itu. Dia benar-benar kesakitan hingga tak sadarkah diri.
"Ckkk, sok-sokan pengen lawan Tuan Jayden, baru di tembak di kaki saja sudah pingsan, lemah." Cibir Antoni dengan sinis. Dia pun meminta anggota mafia yang lain untuk membawa pria itu ke markas.
Dengan keadaan tidak sadarkan diri, buru-buru pria itu langsung mengikat pria itu di atas kursi dan membuat pria itu tak berdaya. Tapi dokter khusus klan mafia, sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki pria itu dan telah menjahit luka nya.
Karena merasa bosan menunggu, pria itu tidak kunjung sadarkan diri juga. Akhirnya pria itu mengambil air dan mengguyur pria itu dengan seember air membuat nya langsung terbangun dengan keadaan megap-megap karena terkejut.
"Malah molor Lo bangsaaat!" Umpat Jack palsu, membuat pria itu menatap ke sekeliling nya. Tempat yang sangat asing dan orang-orang yang entah siapa, banyak orang yang tidak dia kenali. Tapi, ada Ansel disini dia juga duduk di kursi dengan ikatan yang sama seperti dirinya.
"Ansel.."
"Maaf, Tuan.." Lirihnya, membuat Pria itu benar-benar yakin kalau dia saat ini sudah gagal lagi.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻