
Jayden mengawal mobil yang di kemudikan oleh Sherena, tapi baru saja setengah jalan, Jayden merasakan firasat yang buruk. Jadi, dia menghubungi nomor sang gadis agar dia menepikan mobil nya di tepi jalan terlebih dulu.
Ayyara yang tengah fokus mengemudi, dia tidak menyadari kalau ponsel nya berbunyi. Dia memang selalu fokus kalau mengemudi, meskipun kadang dia mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan.
Jayden mengumpat saat Ayyara tidak juga mengangkat telepon nya, dia khawatir. Benar-benar khawatir saat ini, apalagi di belakang mobil nya sekarang ada beberapa orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan memakai masker mulai menyalip mobil mereka. Seperti nya, mereka tidak tahu siapa orang yang ada di dalam mobil itu.
Jayden tak punya pilihan lain, dia yakin kalau orang-orang itu datang untuk mencelakakan gadis nya. Mereka datang dengan niat yang tak baik, Jayden yakin akan hal itu. Akhirnya, Jay mengeluarkan senjata api dari saku jas nya.
"Jack, kemudikan mobil nya dengan baik."
"Kau akan melakukan nya?" Tanya Jack, dia melirik ke arah Jayden yang tengah mengisi peluru nya. Dia yakin kalau Jayden akan melakukan hal nekat, apalagi ini di jalan. Jack khawatir akan membahayakan orang lain yang tak bersalah.
Jack memang kejam, tapi hanya pada orang yang bersalah saja. Selebihnya dia memang tidak tegaan, dia tidak ingin membunuh seseorang tanpa alasan atau kesalahan yang berat.
Jayden membuka jendela mobil nya, lalu mengeluarkan senjata api nya. Dia membidik dengan fokus, itulah salah satu keahlian Jayden. Dia bisa membidik sasaran dengan tepat, meskipun mobil sedang melaju kencang.
Dorr..
Jayden membidik tepat sasaran, bukan kepala orang yang dia incar, tapi ban motor nya. Sesuai dugaan nya, satu orang yang mengendarai sepeda motor itu oleng dan menabrak pembatas jalan. Dia terkapar, membuat Jayden tersenyum. Tapi, di depan masih ada beberapa motor lagi yang tetap mengejar mobil milik Ayyara.
"Masih ada enam lagi, Jack."
"Ya, aku melihatnya, Jay. Fokus saja, serahkan semua nya padaku."
"I believe you, Jack!" Jawab Jayden, dia pun kembali membidikan senjata nya. Satu persatu mulai tumbang dan akhirnya semua nya habis. Jack menyalip kendaraan milik Ayyara, membuat gadis itu terpaksa harus menghentikan kendaraan nya di tepi jalan.
Jayden keluar dari mobil nya, dengan topeng nya. Agar tidak ada pihak musuh yang melihat wajah nya secara langsung. Karena sejauh ini, dia selalu memakai topeng saat mengeksekusi musuh. Kapan pun dan dimana pun itu, dia tak mau wajah nya di lihat oleh musuh.
Itulah kenapa Jack mengatakan kalau Harry adalah salah satu pria yang beruntung, karena dia bisa melihat wajah seorang Jayden secara langsung.
"Baby.."
"D-daddy.." Jawab Ayyara dengan terbata, dia terkejut saat melihat Jayden mengenakan topeng, tangan nya bergetar, bisa di pastikan kalau saat ini gadis itu tengah ketakutan.
"Yes, baby. Why?"
"I'm so scared, Daddy." Jawab Ayyara, dia langsung memeluk Jayden. Dia benar-benar merasa ketakutan saat ini. Gadis itu tidak pernah mendengar atau melihat orang yang memainkan senjata api, tapi ini benar-benar tepat di belakang mobil nya. Dia bisa melihat nya dari kaca spion belakang.
"No problem, baby. Don't be afraid, i'm here." Ucap Jayden. Kedua nya malah asik berpelukan, hingga membuat Jack menekan klakson beberapa kali. Karena kondisi nya saat ini benar-benar tidak tepat. Di tengah situasi genting seperti ini, mereka masih bisa bermesraan? Astaga, benar-benar keterlaluan bukan?
"Cepat, masuk!" Pinta Jack, Jayden pun langsung mendorong Ayyara masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Daddy, ada apa ini sebenarnya?"
"Nanti, Daddy jelaskan. Sekarang kita harus pergi menghindari orang-orang itu." Jawab Jayden, Ayyara pun menurut dia tidak lagi bertanya. Yang penting sekarang dia pulang dulu dengan selamat.
Jayden mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, Jack juga menghubungi anak buah tambahan untuk mengawal mereka. Situasi nya benar-benar sedang urgent saat ini, bisa saja mereka kalah. Tapi Jack harus mengakui kalau pihak musuh mulai menunjukkan taring nya. Mereka berani menyerang secara terang-terangan di jalanan, membuat Jayden dan Jack cukup terkejut.
Mereka bersyukur karena tadi Jayden memutuskan untuk mengawal Ayyara karena khawatir hal ini akan terjadi. Dan benar saja, hal yang di takutkan oleh Jayden benar-benar terjadi. Seperti nya Jayden sudah memiliki ikatan batin yang membuat hati nya bisa merasakan ada nya bahaya yang mengancam gadis nya.
Pria itu mengemudikan mobil milik Ayyara dengan kecepatan tinggi, tapi sayang nya mobil milik gadis itu bukan lah tipe mobil yang biasa di ajak kebut-kebutan. Ayyara memejamkan mata nya, apalagi saat mendengar beberapa suara tembakan yang bisa di pastikan itu berasal dari senjata milik Jack.
"Dad.."
"Tidak apa-apa, sayang. Pejamkan saja mata mu, tutup telinga mu, jangan sampai melihat atau mendengar apa yang terjadi di luar, baby." Jawab Jayden. Dia fokus mengemudikan mobil nya.
Setelah situasi di rasa aman, barulah Jayden mengajak gadis nya untuk pulang ke rumah. Dengan langkah gemetar gadis itu berjalan keluar dari mobil, mereka berpisah di gang kecil menuju rumah milik kedua orang tua Ayyara.
"Daddy, siapa mereka?"
"Musuh Daddy, sayang." Jawab Jayden yang membuat Ayyara membulatkan kedua mata nya. Dia takut, apalagi jika harus berurusan dengan musuh sang pria.
"Aku takut, Dad."
"Jangan takut, ada Daddy yang akan selalu menemani mu, sayang." Jawab Jayden sambil menarik Ayyara ke dalam pelukan nya.
"Of course, baby. I'm promise."
"Berjanjilah kalau Daddy juga akan baik-baik saja."
"Ya, Daddy akan baik-baik saja agar bisa melindungi mu, sayang." Jawab Jayden sambil mengusap lembut kepala sang gadis.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya?"
"Iya, sayang."
"Daddy juga segera pulang dan hati-hati di jalan."
"Tentu, sayang." Jawab Jayden, Ayyara masuk kembali ke dalam mobil dan mengendarai nya menjauh dari Jayden.
Jayden mengambil ponsel miliknya, lalu menghubungi salah satu anak buah nya yang menyamar menjadi tukang bakso kemarin.
'Hallo, tuan.'
__ADS_1
"Gadis ku baru saja pergi, awasi dia. Jangan sampai kecolongan, ingat itu." Tegas Jayden.
'Baik, tuan.' Jawab nya, Jayden mengernyitkan kening nya saat mendengar suara-suara lain yang ikut masuk ke dalam telepon, bahkan terdengar seperti ramai orang.
"Kau dimana?"
'Saya sedang menjalankan peran saya sebagai tukang bakso di perumahan milik Nona Ayyara, tuan.'
"Kenapa terdengar banyak orang disana?"
'Ini banyak yang beli, Tuan. Kalau begitu saya matikan dulu ya, ini banyak yang komplain karena bakso nya lama.'
"Ohh, oke." Panggilan pun selesai. Jayden menatap layar ponsel nya yang masih menyala, lalu dia menggelengkan kepala nya dengan perlahan.
"Seperti nya, dia akan punya pekerjaan sampingan setelah misi ini. Selain sebagai pengawal dan anak buah ku, dia juga akan menjadi tukang bakso." Gumam Jayden sambil terkekeh.
"Hey, ayo balik." Ajak Jack, Jayden mengangguk dan masuk ke dalam mobil sedan yang di kemudikan oleh Jack. Pria itu duduk dengan anteng di kursi kosong yang ada di samping Jack.
"Jay.."
"Iya." Jawab Jayden singkat. Dia terlihat fokus ke arah depan dengan datar, Jack bisa menebak kalau Jayden pasti sedang memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa menit sebelum nya. Dimana gadis nya hampir saja menjadi tawanan musuh, kalau saja mereka tidak mengawal nya.
"Kau harus menambah anak buah mu untuk mengawasi gerak gerik musuh dan menjaga Ayyara dari musuh."
"Ya, aku sudah melakukan nya, Jack. Tapi, aku heran kenapa bisa kecolongan? Kemana anak buah kita yang selalu bersama Ayyara?" Tanya Jayden membuat Jack kembali berpikir kemungkinan yang bisa terjadi.
"Seperti nya, mereka di lumpuhkan oleh orang-orang itu sebelum mengikuti mobil Ayyara, Jay. Sekarang, kita harus bermain lebih rapih."
"Hmmm, atur saja Jack. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai Ayyara terluka." Ucap Jayden.
"Baiklah, aku akan mengkoordinasikan semua ini dengan anak-anak nanti. Kau bisa beristirahat dan besok, giliran aku yang beristirahat, deal?"
"Yeah, deal Jack. Thanks, karena kau selalu bisa di andalkan."
"Tentu saja, bukan hal yang mudah untuk bisa menjadi orang kepercayaan mu, Jay." Jawab Jack sambil tertawa. Sedangkan Jayden, dia hanya menatap Jack lalu melengos ke samping.
Kepala nya di penuhi dengan segala kemungkinan, termasuk siapa dalang dari penyerangan ini? Dia memang punya banyak musuh, hingga dia tak tahu musuh yang mana yang mulai menunjukkan pergerakan mereka.
Benar ucapan Jack hari itu, musuh pasti akan memanfaatkan Ayyara sebagai titik lemah nya. Karena, dari tingkah nya saja semua orang tahu kalau Jayden sangat mencintai gadis nya, maka dari itu kalau mereka menjadikan Ayyara sebagai tawanan, mereka yakin Jayden akan keluar dari persembunyian atau bahkan dia mengakui kekalahan nya.
'Akan aku cari tahu siapa dalang dari semua ini, aku harus memastikan keselamatan Ayyara. Aku yang sudah membuat nya masuk ke dalam kehidupan ku, maka aku harus bertanggung jawab untuk melindungi nya.' Batik Jayden. Dia harus bisa melindungi gadis nya, apapun cara nya. Selama dia masih bisa berdiri, dia akan terus melindungi Ayyara.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻🌻