
Sesampai nya di rumah, Ayyara dan Jayden keluar dari mobil, sedangkan Arsen seperti nya dia kesulitan untuk membuka pintu mobil nya. Harap di maklumi saja, ini adalah kali pertama nya dia naik mobil.
"Lho, Arsen.." ucap Ayyara, dia berbalik begitu menyadari kalau Arsen tidak ada di belakang nya. Ayyara kembali ke mobil dan membukakan pintu nya untuk anak kecil itu.
"Kenapa gak turun, hmm?"
"Gak tau cara buka nya gimana, kak." Jawab Arsen sambil tersenyum. Ayyara terkekeh, lalu mengacak rambut anak itu dan menggandeng tangan nya memasuki rumah. Lagi-lagi, Arsen terlihat takjub saat melihat pemandangan di depan nya. Rumah besar yang di dominasi serba putih itu terlihat sangat cerah saat tersorot cahaya matahari di siang yang cukup terik ini.
"Ayo masuk, sayang." Ajak Ayyara, Arsen menganggukan kepala nya. Dia membuka alas kaki nya karena melihat lantai marmer yang dia pihak begitu bersih, jadi dia pikir ada baiknya kalau dia membuka alas kaki agar tidak mengotori lantai nya.
Tapi, justru hal itu membuat Ayyara terkekeh. Dia menggelengkan kepala nya, tapi dia masih merasa wajar karena selama ini Arsen hidup di jalanan, sendirian. Tapi begini saja, sudah menunjukkan kalau Arsen memiliki sopan santun.
"Sayang, pakai sendal nya."
"Lantai nya bersih sekali, kak. Nanti kotor gimana?" Tanya Arsen dengan polos nya.
"Hahaha, Arsen.."
"Pakai saja sendal mu, kalau kotor bisa di pel lagi besok." Jawab Jayden, membuat Arsen langsung menurut tanpa bertanya lagi karena dia ketakutan begitu melihat tatapan tajam pria itu.
Ayyara pun kembali menggandeng lengan Arsen dan membawa nya masuk. Lagi-lagi, anak itu terlihat kagum begitu masuk ke dalam rumah yang terlihat besar dan luas itu. Perabotan nya tertata rapih dengan lantai yang bersih mengkilat.
"Selamat datang di rumah, sayang.."
"Kakak.." Kedua mata Arsen berkaca-kaca, membuat Ayyara berlutut untuk menyamai tinggi Arsen. Tangan lentik nya mengusap lembut wajah Arsen yang hitam legam, terlihat jelas kalau dia anak yang kekurangan segala nya termasuk kasih sayang orang tua. Entah siapa orang tua yang tega menelantarkan anak semanis Arsen. Begitu tega, jahat dan kejam. Padahal anak bukanlah kesalahan, harusnya di berikan kasih sayang yang berlimpah, bukan malah di buang seenaknya.
"Jangan menangis, boy. Anak laki-laki tidak menangis." Ucap Ayyara sambil tersenyum. Tanpa ragu, wanita cantik itu meraih Arsen ke dalam pelukan nya. Dia sama sekali tidak jijik, padahal bisa di bilang kalau tubuh Arsen kumal dan kotor. Hidup di jalanan pasti membuat nya kesulitan untuk membersihkan tubuh nya sendiri.
Ayyara mengusap-usap punggung Arsen dengan lembut, dia mendengar suara isakan anak itu. Ya, dia menangis. Mungkin saking terharu nya, dia tidak pernah menyangka kalau hidup nya akan berubah. Dia mengira, selama nya dia akan hidup di jalanan sebagai gelandangan. Tapi ternyata, Tuhan memang maha adil. Dia mengirimkan Ayyara dan Jayden sebagai perantara untuk nya.
"Mulai sekarang, Arsen panggil kakak itu Mommy ya. Anggap kakak sebagai Mommy kamu."
"Mommy.." Lirih Arsen sambil mengusap air mata nya yang terus saja menetes tanpa bisa di cegah.
"Iya, seperti itu." Jawab Ayyara, dia tersenyum lalu mengusap air mata di ujung mata Arsen dengan ibu jari nya.
"Terimakasih, Mom.."
"Sama-sama, sayang. Terimakasih juga sama Daddy."
"Terimakasih, Daddy." Ucap Arsen lirih, membuat Jayden yang sedang sibuk dengan ponsel nya menghembuskan nafas nya lalu menatap ke arah Arsen dengan tatapan datar nya. Membuat Arsen terlihat ketakutan.
"Isshh, Daddy. Jangan menatap Arsen seperti itu dong, dia ketakutan nanti."
"Hmm, sama-sama. Jangan memanggil saya Daddy kalau kamu masih cengeng, boy." Ucap Jayden membuat Arsen sedikit terhenyak.
"Arsen gak nangis kok, Dad." Ucap Arsen sambil menggelengkan kepala nya. Dia mengusap bekas air mata di wajah nya.
"Bagus, itu baru anak Daddy." Jawab Jayden, dia mengusap puncak kepala Arsen dengan lembut dan berlalu pergi ke kamar untuk membersihkan tubuh nya. Arsen menatap kepergian Jayden dengan tatapan sendu nya.
"Jangan sedih, Daddy hanya belum terbiasa. Daddy sebenarnya baik kok, cuma dia terlalu datar. Kalau ada apa-apa, Arsen harus bilang sama Mommy, oke?"
"Oke, Mom." Jawab Arsen sambil tersenyum.
"Besok, kamu ikut Mommy sama Daddy beli perlengkapan sekolah kamu ya?"
"Ini beneran, Mom? Aku bakalan sekolah?" Tanya Arsen, dia masih belum mempercayai kalau akhirnya keinginan nya akan segera menjadi kenyataan berkat Ayyara dan Jayden.
__ADS_1
"Tentu, Arsen senang kan? Mommy akan mendaftarkan kamu di sekolah terbaik disini, jangan khawatir ya."
"Mommy, terimakasih."
"Sama-sama, sayang. Kamu putra Mommy dan Daddy sekarang, jadi ini sudah kewajiban Mommy sama Daddy." Jelas Ayyara sambil tersenyum kecil.
"Mau lihat kamar Arsen gak?" Tanya Ayyara, Arsen terlihat senang. Sedari tadi, senyuman nya tidak pernah luntur dari bibir nya.
"Kamar? Jadi Arsen punya kamar sendiri, Mom? Arsen mau, Mom. Mau sekali."
"Ayo, Mommy tunjukkin kamar kamu." Ayyara menarik tangan mungil Arsen ke salah satu kamar yang ada di ruangan itu. Begitu membuka pintu, Arsen langsung masuk dan melihat-lihat kamar baru nya dengan kegirangan.
"Mom, ini beneran kamar Arsen?"
"Iya, sayang." Jawab Ayyara. Tadi nya, kamar ini di buat untuk bayi yang saat ini masih ada di dalam kandungan nya, tapi sekarang ada Arsen yang akan menghuni nya. Nanti dia bisa membuat kamar baru untuk bayi nya, adik Arsen.
"Terimakasih, Mommy. Arsen jka sekali dengan kamar nya."
"Sama-sama, sayang. Kalau mau tidur, kamu mandi dulu ya." Ayyara pun mengajarkan Arsen cara mandi di shower juga mengisi air di bath up agar Arsen bisa menjadi anak mandiri.
"Pakaian kamu ada di lemari ya."
"Mommy menyiapkan nya?" Tanya Arsen, dia mendongak menatap Ayyara yang juga tengah menatap nya sambil tersenyum. Entahlah, saat melihat kepolosan dan kelucuan Arsen membuat nya tidak bisa berhenti tersenyum. Sekarang, Arsen adalah mood booster bagi Ayyara. Segala tingkah laku nya selalu menghibur bagi Ayyara.
"Tidak, Daddy dan asisten Daddy yang menyiapkan nya." Jawab Ayyara. Ya, tadi Jayden sempat menghubungi Jack untuk membeli beberapa perlengkapan untuk Arsen, pakaian, sabun mandi, sendal, sepatu. Hanya saja Jayden melupakan alat sekolah dan mendaftarkan Arsen ke sekolah yang terbaik di kota ini.
"Mommy, terimakasih sekali lagi."
"Sudah, sekarang kamu mandi ya. Terus pake baju, setelah itu keluar untuk makan malam ya."
"Daddy.."
"Yes, Mom. Why? Apa Arsen merepotkan mu?" Tanya Jayden, dia bangkit dari rebahan nya. Tadi, dia sedang meluruskan pinggang nya yang terasa pegal setelah seharian ini dia sibuk jalan-jalan bersama istri nya, bukan jalan-jalan sih karena mereka baru bepergian setelah Ayyara selesai periksa kandungan.
"Tidak kok, Arsen anak yang baik." Jawab Ayyara. Dia membuka cardigan yang sedari tadi membalut tubuh nya, lalu menggantung nya.
"Hmm, Daddy juga merasa seperti itu."
"Besok, anterin aku beli perlengkapan sekolah buat Arsen ya, Dad? Sekalian kita daftarkan Arsen di sekolah."
"Iya, Mom. Sebelum itu, sini pijitin dulu. Pinggang Daddy terasa pegal sekali." Pinta Jayden, Ayyara pun menuruti permintaan sang suami. Dia memijat pinggang nya dengan lembut, membuat Jayden memejamkan mata nya menikmati pijatan sang istri.
"Dad.." Panggil Ayyara, tapi ternyata Jayden tertidur. Wanita hamil itu terkekeh saat melihat suami nya tertidur hanya dalam hitungan menit saja. Ayyara pun membiarkan suami nya tidur, mungkin Jayden sangat kelelahan hingga dia tidur dengan lelap.
Ayyara pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dengan guyuran air shower yang membuat tubuh nya terasa sangat segar saat ini. Ayyara juga sekalian keramas sekarang ini, sejak hamil dia lebih sering keramas.
Sejak hamil juga, dia sering meminta bermain pada suami nya. Setelah bermain, dia takkan puas hanya dengan satu ronde saja. Dia pasti akan meminta ronde tambahan, hingga membuat Jayden cukup kelelahan tapi karena dia doyan ya jadi nya pria itu tidak pernah mengeluh. Belum lagi, Jayden di pusingkan dengan pergerakan musuh yang mulai terlihat dan itu harus segera di atasi sebelum membahayakan istri dan anak nya.
Selain anak yang saat ini tengah di kandung oleh Ayyara, ada Arsen juga yang harus dia lindungi sekarang. Tapi sebagai seorang pria, juga seorang suami dan ayah, dia di tuntut untuk melindungi istri dan anak-anak nya.
Ayyara selesai dengan mandi nya, dia pun keluar dari kamar mandi dan masuk ke ruang ganti untuk berpakaian, setelah dia keluar kamar untuk memasak. Dia ingin memasak spesial untuk menyambut anggota keluarga baru di rumah ini, siapa lagi kalau bukan untuk Arsen.
"Selamat sore, Nyonya."
"Sore, Bi." Jawab Ayyara. Disini ada beberapa maid yang Jayden pekerjakan khusus. Tentu nya, mereka harus lolos berbagai test terlebih dulu agar bisa bekerja di rumah seorang Jayden. Karena bisa saja ada yang menyamar menjadi pembantu, padahal sebenarnya dia adalah musuh. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, kapan pun dan siapapun bukan? Kunci nya jangan terlalu percaya pada seseorang agar tidak kecewa saat mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
Seleksi yang di lakukan oleh Jayden untuk memilih maid juga tidak sembarangan, mereka harus bisa bela diri. Minimal bisa menggunakan senjata bagi pria dan untuk wanita harus bisa bela diri. Tidak cukup sampai disitu saja, mereka juga harus lulus test kepandaian. Pokoknya test nya melebihi seleksi untuk menjadi PNS, padahal hanya menjadi maid saja.
__ADS_1
Tapi, banyak sekali yang mendaftar karena gaji yang di tawarkan Jayden beberapa kali lipat dari gaji seorang pegawai negeri. Jadi banyak sekali yang tergiur dan akhirnya pendaftaran membludak. Siapa yang kesulitan? Jack lah, gak mungkin Jayden karena dia hanya terima beres saja.
"Hari ini, aku ingin memasak menu yang spesial untuk Arsen."
"Arsen? Siapa itu, Nyonya?" Tanya Minah, dia adalah kepala maid di rumah ini karena usia nya yang paling tua dan dia juga maid yang di tunjuk langsung oleh Jayden. Selama ini, dia bekerja bersama Alex, sekarang dia bekerja bersama Jayden, putra nya. Jadi tidak masalah sama sekali, toh sama-sama di gaji kan ya. Tapi jangan remehkan wanita itu, dia lihai dalam memainkan senjata. Jadi bisa di pastikan kalau orang-orang yang ada disini pasti bukanlah orang sembarangan.
"Dia putra ku."
"Aahhh, maaf Nyonya. Saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa, aku membawa nya dari jalanan. Dia anak yang baik, aku harap kalian akan menerima kehadiran nya dan perlakukan dia dengan baik. Sekarang dia anak ku, aku takkan segan-segan untuk memberi siapapun hukuman kalau sampai melukai putra ku. Tolong sampaikan hal ini pada yang lain ya, Bi."
"Baik, Nyonya. Saya mengerti." Jawab Bi Minah. Ayyara pun memutuskan untuk memasak cumi asam manis, soto ayam dan beberapa makanan lain nya.
Dia sedang ingin memakan cumi asam manis yang di campur dengan kuah soto, terasa sangat menyegarkan pastinya. Maid pun dengan sigap langsung membantu nyonya muda mereka memasak.
Tak lama, Arsen keluar dari kamar karena mendengar suara di area luar. Anak itu berjalan pelan, hingga tak sengaja dia berpapasan dengan seorang maid yang baru saja selesai mengerjakan tugas nya. Dia mengernyitkan kening nya saat melihat ada anak kecil kotor dan terlihat asing ada di rumah ini.
Tadi, dia tidak melihat kalau Arsen datang bersama Ayyara dan Jayden. Jadi dia tidak tahu kenapa ada anak kecil asing di rumah ini.
"Siapa kamu?"
"A-aku, Arsen.." Jawab Arsen takut-takut, jujur saja dia ketakutan saat ini.
"Ngapain kamu disini? Mau maling ya?"
"T-tidak kok, aku.."
"Bohong, katakan mau apa kau kemari hah?" Tanya nya lagi tapi Arsen hanya menatap perempuan berseragam maid itu dengan tatapan polos nya.
"Jawab aku? Kamu mau maling ya disini? Keliatan dari wajah mu!"
"Tapi aku tidak mencuri disini.."
"Bohong, lalu untuk apa kau disini kalau bukan untuk mencuri hah? Kecil-kecil sudah berani maling, orang tua mu pasti tidak mengajarkan hal-hal yang baik padamu!" Bentak nya dengan suara tinggi. Sontak saja keributan itu membuat Ayyara terusik, dia yang sedang mengaduk masakan nya di wajan seketika melongok ke arah ruang tamu, tempat suara ribut itu berasal.
"Ada apa sih? Kok teriak-teriak." Ayyara meminta Minah untuk mengambil alih masakan yang ada di dalam wajan itu.
Dia membuka celemek yang dia kenakan tadi dan pergi ke ruang tamu, alangkah terkejut nya Ayyara saat melihat salah satu maid tengah marah-marah pada Arsen, bahkan menunjuk-nunjuk putra nya dengan kata-kata kasar yang bernada tinggi.
"Cukup!" Ucap Ayyara, membuat Maid itu menoleh seketika. Ayyara berjalan pelan dan merangkul Arsen.
"Dia putraku, kenapa hmm? Kau hanya maid disini, tak sepantasnya kau memaki-maki anak majikan mu bukan?" Tanya Ayyara membuat Maid itu terlihat terkejut setengah mati. Mata nya terbelalak saat mendengar ucapan Ayyara, putra? Tapi kapan dia memiliki anak dan kapan anak itu datang?
"M-maaf, Nyonya. Ini salah paham, saya tidak tahu kalau dia putra Nyonya."
"Meskipun kamu tidak mengetahui siapa anak ini, tidak seharusnya kamu mengatakan hal tak pantas, bahkan memaki nya dengan kata-kata kasar, menunjuk-nunjuk nya. Itu tidak pantas di lakukan oleh seseorang yang berpendidikan!" Tegas Ayyara membuat Maid itu menundukan kepala nya.
"Kau tidak berpikir kalau perkataan mu ini akan melukai psikis anak ini hmm? Aku tidak menerima permintaan maaf mu, pergi dari sini." Ucap Ayyara dengan tegas, dia mengusir maid itu.
"Ada apa ini?"
.....
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1