
Jayden memantau pergerakan seseorang bersama Jack dan Arka. Ya, hari ini dia terpaksa harus meninggalkan istri nya di rumah. Memang dia tidak sendirian, ada kedua orang tua nya di rumah, dia juga memperketat penjagaan rumah selagi dia pergi untuk bertemu dengan Jack dan Arka.
"Jadi ini dalang dari penyerangan malam itu, Jack?"
"Ya, ini adalah orang nya. Menurut keterangan dari salah satu orang yang kita tangkap hari itu, dia mengatakan kalau itu adalah orang yang di jadikan kaki tangan oleh pemimpin mereka." Jelas Jack.
"Hmmm, kalau ini adalah ketua nya juga rasa nya tidak mungkin."
"Betul, Tuan. Tak mungkin jika orang ini adalah pemimpin nya karena identitas nya masih benar-benar misterius sekarang." Jelas Arka, Jayden terlihat menimbang-nimbang sesuatu. Biasa nya dia adalah orang yang mudah menebak, tapi kali ini dia tidak bisa memikirkan siapa yang paling mungkin untuk menjadi pemimpin klan mafia musuh.
"Ini sedikit membingungkan."
"Lambat laun semua nya akan terungkap, Jay. Yang penting sekarang, kau harus memperketat penjagaan istri dan anak mu, Arsen. Karena mereka lah sumber kelemahan mu sekarang ini."
"Hmmm, kau benar, Jack." Jawab Jayden.
Sedangkan di sekolah, Arsen belajar dengan sangat tekun. Ya, meskipun dia anak jalanan tapi dia adalah anak yang pandai, dia bisa menyerap pembelajaran dengan baik. Bahkan dia lebih pintar dari pada teman-teman nya.
"Saya, Bu." Ucap Arsen sambil mengacungkan tangan nya.
"Baiklah, silahkan Arsen."
Arsen pun berjalan ke depan, dia menuliskan jawaban yang sudah dia tulis di dalam buku dan menulis nya di papan touchscreen dengan pensil khusus. Ya, nama nya juga sekolah elit, mana ada white board dengan spidol hitam atau papan hitam yang di tulis dengan kapur. Sekarang, zaman sudah serba modern. Bahkan untuk media pembelajaran saja sudah menggunakan teknologi touchscreen.
"Jawaban nya benar." Ucap ibu guru itu, Arsen tersenyum lalu pergi kembali ke tempat duduk nya. Di kelas ini, semua murid memiliki satu kursi dan meja masing-masing, jadi tak ada teman sebangku.
Saat jam istirahat, Arsen lebih memilih untuk duduk sendirian di kelas nya dia menjadi anak yang cukup pendiam di kelas nya, entah belum bisa menyesuaikan diri, jadi dia seperti ini.
"Hai, Sen. Aku Ronald, selamat datang." Sapa anak laki-laki bernama Ronald itu.
"Hmm, aku Arsenio."
__ADS_1
"Ya, aku tahu karena kau sudah memperkenalkan dirimu tadi. Kita mau ke kantin, ikut gak?"
"Tidak, aku disini saja." Jawab Arsen sambil mengeluarkan kotak bekal yang dia bawa dari rumah. Bekal buatan Ayyara yaitu menu kesukaan Arsen, tumis sosis asam manis dan nugget juga nasi kepal yang di campur dengan rumput laut. Menu sarapan yang sangat enak bagi Arsen.
"Kau mau makan bekal dari rumah? Tunggu sebentar ya, kami akan membeli air minum dulu. Kita makan bareng." Ucap Ronald.
"Ya, jangan lama." Jawab Arsen. Ronald pun segera pergi bersama satu teman nya, tak membutuhkan waktu lama Ronald sudah kembali dengan membawa air minum beberapa botol di tangan nya.
"Yuk makan.." Ajak Ronald. Mereka pun menarik kursi mereka agar mendekat dan ketiga nya makan dengan lahap.
"Nasi mu terlihat sangat enak, Sen."
"Iya, ini memang sangat enak. Buatan Mommy soalnya."
"Wah, Mommy mu pandai memasak seperti nya?" Tanya Ronald. Sedangkan yang satu nya lagi memilih diam sambil makan. Dia tidak terlalu banyak bicara, kalau bicara hanya seperlu nya saja.
"Iya, dia sangat pandai memasak."
"Hmm, ibu ku sibuk dengan pekerjaan nya. Sampai-sampai aku hanya di beri bekal yang di masak oleh maid." Jawab Ronald lirih.
"Iya, tapi ya sudahlah."
"Sabar ya, aku bahkan anak jalanan dulu nya. Tapi Mommy dan Daddy datang lalu membawa ku ke rumah mereka." Ucap Arsen.
"Maksud mu?" Tanya Ronald.
"Aku bukanlah anak kandung, aku adalah anak yang di angkat oleh Mommy dan Daddy dari jalanan."
"Astaga, benarkah?"
"Hmmm, iya. Aku serius, jadi apa kalian mau berteman dengan ku?" Tanya Arsen lirih.
__ADS_1
"Tentu saja, kami mau berteman dengan mu, Arsen." Jawab Ronald.
"Kalau dia, siapa?"
"Revin, dia memang jarang bicara. Kalau bicara, pasti pedes." Jawab Ronald sambil terkekeh pelan.
"Oh, senang mengenal kalian berdua." Ucap Arsen sambil tersenyum kecil.
"Hmm, kami juga senang mengenal kamu Sen."
Siang hari nya, Arsen pulang bersama Roy yang tidak pernah meninggalkan mobil nya sedetik pun. Dia selalu memantau Arsen juga situasi di sekolah tempat anak itu menimba ilmu. Dia harus selalu memastikan keamanan putra sang atasan agar tidak terluka sedikit pun.
"Hallo, Om." Sapa Arsen saat dia bertemu dengan Roy di parkiran.
"Hallo, Boy. Bagaimana sekolah mu?" Tanya Roy sambil melajukan kendaraan nya, tadi dia membantu anak itu memasangkan seat belt nya karena dia tahu Arsen mungkin belum terlalu terbiasa.
"Menyenangkan, Om. Sangat menyenangkan, Arsen juga punya teman baru." Jawab Arsen dengan ceria.
"Ohh ya? Benarkah? Wah, hebat sekali. Baru sehari sekolah, kamu sudah punya teman, baguslah kalau begitu. Anak-anak disana baik kan sama kamu, Boy?" Tanya Roy lagi.
"Iya, mereka baik-baik kok Om. Memang nya kenapa?"
"Tidak, Om hanya menanyakan saja. Kalau ada yang jahatin kamu, langsung bilang sama Om ya. Jangan coba-coba bohong sama Om, kasian ya sama Om."
"Kasian? Kenapa Arsen harus kasian sama Om?" Tanya Arsen dengan polos.
"Harus dong, kalau kamu bohong terus ada jahatin kamu sampai terluka, nanti Daddy kamu marah sama Om. Nanti Om di pukul sama Daddy kamu." Jelas Roy membuat Arsen menganggukan kepala nya.
"Oke deh, Om. Kalau begitu aku janji gak bakalan bohong kok sama Om. Lagi pun kata Mommy, berbohong itu gak baik."
"Iya betul, nanti jadi suatu kebiasaan dan itu harus di hindari ya." Ucap Roy sambil mengacak rambut Arsen dengan gemas. Anak sekecil ini saja sudah paham kalau berbohong itu tak baik.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻