Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 66 - Keluarga Baru


__ADS_3

Jayden tersenyum manis saat menatap istri nya yang tengah sibuk dengan cemilan nya, tadi wanita hamil itu meminta berhenti di area dekat pasar yang banyak orang berjualan makanan.


"Mau beli itu, Dad."


"Apa, Mom?" Tanya Jayden sambil tersenyum, akhirnya sang istri mau mengajak nya bicara lagi. Padahal dia sudah yakin kalau sang istri takkan mau bicara, karena dia masih kesal dengan nya tadi. Entahlah sekarang, apa kira nya dia masih kesal atau tidak, Jayden tidak tahu. Tapi, mendengar wanita itu bicara saja sudah membuat hati nya senang bukan main, setidaknya dia tidak lagi mendiamkan nya.


"Telur gulung." Jawab Ayyara, tiba-tiba saja dua ingin memakan telur gulung dengan saus. 


"No, itu tidak sehat, Mommy." 


"Adek bayi nya yang mau, bukan aku!" Rengek Ayyara, akhirnya Jayden kalah. Lagi-lagi dia kalah saat melihat mata sang istri yang terlihat sangat menggemaskan bagi nya. Sungguh, dia tidak bisa keras kepala dengan istri nya yang saat ini sedang di landa sensitif berat. 


"Baiklah, Mommy." Jawab Jayden, dia pun menghentikan laju kendaraan nya di area yang banyak orang berjualan. 


Ayyara turun, begitu juga dengan Jayden. Pria itu nampak sangat mencolok dengan pakaian serba hitam nya, kemeja hitam berlengan pendek dan celana bahan juga sepatu pentopel yang mengkilat. Terlihat jelas kalau pria itu berbeda dengan orang-orang yang ada disana. 


"Yang ini?"


"Iya, Dad." Jawab Ayyara, dia pun menghentikan langkah nya di salah satu gerobak yang menjual telur gulung. 


"Bang, mau telur gulung nya sepuluh tusuk ya."


"Iya, Nona." Jawab abang-abang itu, dia pun langsung membuatkan pesanan Ayyara. Gadis itu tersenyum, mulut nya semakin berair saat melihat telur nya sedang di goreng di atas wajan. 


"Sabar ya, Dek. Sebentar lagi telur gulung nya matang kok." Ucap Ayyara sambil mengusap perut nya yang sudah membuncit. 


Ayyara celingukan, hingga mata nya tak sengaja melihat seorang anak kecil yang tengah memulung sampah dengan karung besar yang dia pikul di punggung kecil nya. Hati Ayyara mencelos, masih banyak orang yang kurang beruntung dari nya. 


"Adek, kemari.." Panggil Ayyara, membuat anak kecil itu menoleh. Dia mendekat saat melihat Ayyara melambaikan tangan nya. 


"Iya, kak. Ada apa?"


"Kamu lagi apa?" Tanya Ayyara sambil tersenyum, dia mengusap wajah anak itu tanpa jijik sedikit pun. Padahal anak itu terlihat kotor. 


"Mulung, kak."


"Gak sekolah, hmm? Berapa usia mu?"


"Sepuluh tahun, kak. Saya putus sekolah, soalnya gak ada biaya." Jawab anak itu lirih. 


"Mau sekolah?" Tanya Ayyara, sedangkan Jayden hanya diam saja menyimak dari belakang. 


"Mau, tapi gak ada biaya nya. Lagipun, siapa yang akan membiayai sekolah saya?"


"Orang tua kamu, kemana?"


"Sudah meninggal, kak. Saya anak jalanan disini." Jawab Anak itu, membuat hati Ayyara terasa sesak. Dia yatim piatu? Anak sekecil ini berjuang sendirian di dunia yang kejam ini, tubuh kecil nya takkan mampu menahan semua beban itu. Tapi, dengan tegar nya dia tetap bekerja sebagai pemulung dari pada harus meminta-minta. Bukankah itu sudah cukup bagus? Artinya, ada niat untuk bekerja keras dari anak kecil itu. 


"Dad.."


"Yes, Mommy."


"Boleh kan aku membawa anak ini ke rumah?" Tanya Ayyara membuat Jayden terlihat terkejut. 


"Untuk apa, Mom?"


"Kasian dia Dad, dia sendirian."


"Bawa saja kalau begitu." Jawab Jayden, entahlah apa dia akan menyesali keputusan ini nanti nya atau tidak. Tapi, melihat kebaikan hati sang istri membuat hati nya menghangat, dia senang karena istri nya begitu baik. Dia bahkan peduli pada sesama, meskipun itu bisa di bilang orang lain. 


"Nah, sekarang kamu mau ikut sama kakak?"


"Kemana?" Tanya Anak kecil itu, dia menatap wajah cantik Ayyara dengan tatapan polos nya. Anak yang sangat tulus, Ayyara bisa mengetahui hal itu lewat tatapan nya. 


"Ikut tinggal sama kakak, di rumah."


"Rumah itu apa, kak?" Tanya nya, membuat Ayyara terhenyak. Dia merasa kesedihan yang teramat sangat, bahkan anak itu tidak tahu apa arti rumah karena selama ini dia tinggal dan hidup di jalanan. 


"Rumah itu, tujuan semua orang untuk pulang. Tempat dimana ada orang yang menyambut dan menunggu mu pulang, itu adalah rumah."


"Hmm, tapi aku tidak punya rumah." Lirih nya, dia menatap sendu wajah Ayyara yang menyunggingkan senyum manis nya.

__ADS_1


"Kakak akan menjadi rumah kamu sekarang, kamu mau ikut kakak? Kakak bukan orang jahat kok." Jelas Ayyara sambil mengusap wajah kumal anak kecil itu, maklum lah dia tinggal di jalanan pasti tubuh nya kotor. 


"Mau kak.."


"Baguslah, kamu mau jajan? Bilang aja, gak usah malu-malu." Tawar Ayyara. 


"Mau ini, boleh kak?"


"Boleh, sayang." Jawab Ayyara, dia pun memberikan telur gulung ke anak itu, dia juga membeli makanan itu untuk nya juga karena sedari tadi dia yang ngidam. 


"Bayar, Dad."


"Baik, Kanjeng ratu." Jawab Jayden, dengan sigap pria itu mengeluarkan dompet nya dari saku celana. 


"Berapa?"


"Semua nya jadi dua puluh ribu, Tuan."


"Tambahin sepuluh lagi." Pinta Jayden, dia akhirnya penasaran, memang nya seenak apa sih makanan ini sampai-sampai Ayyara begitu menyukai nya. Setelah mendapatkan nya, Jayden pun segera membayar nya. Dia memberikan selembar uang berwarna merah pada pedagang yang terlihat sudah cukup berumur itu. 


"Ambil saja kembalian nya."


"Tapi.."


"Anggap saja itu rezeki untuk anak istri di rumah." Jawab Jayden dengan wajah datar nya, dia pun pergi menjauh dari pedagang itu dan menyusul sang istri yang sudah berkelana mencari makanan lain untuk dia coba. 


"Terimakasih, Tuan. Semoga anda panjang umur dan sehat selalu, dia pria yang sangat baik." Ucap pria itu sambil tersenyum, dia memasukan uang nya ke dalam laci agar aman. 


"Beli apa lagi, Mom?"


"Mau baso ikan." Jawab Ayyara, Jayden mengangguk dan membolehkan sang istri untuk membeli. 


"Kaki kamu gak sakit apa jalan gak pake sendal gitu." Celetuk Jayden saat melihat kalau anak kecil yang bersama dengan mereka itu sedari tadi berjalan tanpa alas kaki alias nyeker. 


"Enggak kok, Om. Seperti nya sudah biasa." Jawab anak itu sambil tersenyum manis, membuat hati Jayden sedikit terusik karena senyum anak itu terlihat sama seperti Ayyara, ya sama-sama tulus nya. 


"Mom, sebentar ya.." Ayyara mengangguk, dia juga sedang mengantri untuk membeli baso ikan yang terlihat ramai. 


"Boleh memang nya?" Tanya anak itu, dia memang sudah lama ingin mencoba makanan ini, tapi dia menahan nya karena dia tidak memiliki uang untuk membeli nya. Uang hasil penjualan rongsokan nya, dia belikan nasi atau roti untuk makan. 


"Boleh, kakak beliin." 


"Terimakasih, kakak." Ucap nya sambil tersenyum, Ayyara menepuk-nepuk kepala anak kecil itu dengan lembut. 


"Sama-sama, siapa nama mu? Kakak lupa bertanya, padahal dari tadi kita ngobrol-ngobrol ya." 


"Arsen, kak." Jawab anak yang bernama Arsen itu. 


"Oke, Arsen. Nama yang bagus." Puji Ayyara, nama yang bagus tapi tidak sebagus nasib anak itu. Tapi biarlah, sekarang dia yang akan mengurus Arsen hingga dia dewasa kalau perlu. 


"Ini bakso ikan untuk mu." Ayyara mengulurkan mangkuk berisi bakso ikan dengan kuah bening. 


"Terimakasih, kak."


"Sama-sama, Arsen." Jawab Ayyara, dia pun tersenyum dan membiarkan Arsen makan lebih dulu. Tak lama, bakso pesanan nya juga datang dan dia memakan nya dengan lahap. Sesekali, Ayyara tersenyum manis saat melihat Arsen begitu lahap memakan bakso ikan nya. 


"Pelan-pelan saja makan nya, sayang. Kalau kamu menginginkan nya lagi, tinggal pesan saja ya. Biar kakak yang belikan." Ucap Ayyara, Arsen menganggukan kepala nya lalu kembali memakan nya dengan lahap.


Tak lama, Jayden datang dengan sebuah kresek yang dia tenteng. Wajah datar pria itu membuat Arsen ketakutan, dia lebih suka wajah ramah Ayyara yang selalu tersenyum manis, dari pada wajah pria yang selalu bersama Ayyara. 


"Apa itu, Dad?"


"Sendal, buat Arsen." Jawab Jayden, dia meletakan sendal yang baru saja dia beli itu pada Arsen.


"Di coba dulu sendal nya, apa cukup atau tidak. Kalau ke kecilan atau kebesaran, nanti bisa di tuker." 


Arsen menganggukan kepala nya, dia mencoba sendal yang baru saja di belikan oleh Jayden. Ternyata pas, Jayden benar-benar membeli ukuran sendal yang benar. 


"Cukup, Om."


"Ya sudah, pakai itu biar nyaman. Nanti beli baju sama celana, biar gak kayak gembel." Celetuk Jayden, membuat Ayyara menyenggol lengan sang suami. 

__ADS_1


"Daddy, jangan bicara seperti itu."


"Kenapa memang nya? Kan bener, dia tuh kalau rapih, bersih, pasti keliatan bagus." Ucap Jayden, memang sih niat pria itu benar. Tapi cara bicara nya itu lho yang tanpa di saring, dia khawatir kalau Arsen tersinggung.


"Arsen, kamu tidak apa-apa kan?"


"Tidak kok, kak." Jawab Arsen sambil tersenyum manis. 


"Bagus, kamu harus kuat karena ke depan nya akan ada beberapa masalah yang akan kamu hadapi untuk bisa lolos seleksi menjadi anak ku. Kalau kau sudah lolos, aku akan dengan senang hati dan bangga menganggap mu sebagai putraku." 


"Baik, Om. Arsen pasti bisa.." Ucap Arsen kecil dengan senyum manis nya. Ayyara menepuk-nepuk pelan kepala Arsen, dia senang karena ternyata Jayden memberi respon yang cukup baik pada Arsen. Padahal, dia sudah khawatir kalau Jayden akan bersikap ketus pada Arsen, tapi ternyata ke khawatiran nya tidak terjadi sama sekali, dia sangat bersyukur akan hal itu.


"Bagus, boy." Jawab Jayden. 


"Mau makan apa lagi, Mom?" Tanya Jayden. 


"Mommy mau jus alpukat, Dad."


"Disana kak, jus nya enak." Tunjuk Arsen dengan antusias. Sebenarnya, dia yang menginginkan untuk beli jus nya disana. Karena selama ini dia hanya bisa melihat nya dari kejauhan, tanpa bisa membeli apalagi mencoba nya karena harga nya yang cukup mahal.


"Oke, kita beli disana." Ucap Ayyara, dia menggandeng lengan Arsen dan mengajak nya berjalan bersama-sama. Arsen tersenyum menatap wajah Ayyara yang nampak semringah, seperti ini kah rasa nya memiliki orang tua? Ini adalah hal yang tak pernah dia rasakan selama dia sepuluh tahun hidup. 


'Seperti inikah rasa nya memiliki orang tua?' Batin Arsen, kedua netra nya berkaca-kaca. Namun dengan cepat dia mengusap nya karena tidak ingin membuat orang yang sudah berbaik hati padanya ini khawatir. 


"Kamu mau jus apa, sayang?"


"Mangga, kak."


"Kak, jus mangga sama jus alpukat nya masing-masing satu." Ucap Ayyara sambil tersenyum, gadis penjaga toko itu pun mengiyakan dan langsung membuatkan pesanan Ayyara. Sedari tadi, Jayden hanya memakan telur gulung yang tadi dia beli. 


"Ternyata enak juga, pantesan istri ku menyukai nya." Gumam Jayden. Hal itu tak luput dari penglihatan Arsen, pria yang terlihat garang dengan wajah datar dan tatapan tajam nya ini tidak terlalu buruk juga, dia sama baik nya dengan wanita yang mengulurkan tangan nya padanya tadi.


Seumur hidup, dia akan mengenang kebaikan pasangan ini, karena mereka lah yang memperbaiki hidup nya. Mengangkat derajat nya dari gelandangan ke arah hidup yang lebih baik. Kenapa dia bisa yakin? Dia tahu dari tatapan sang wanita, yang entah siapa nama nya. 


"Ini punya kamu, sayang. Di minum sampai habis ya."


"Terimakasih, kakak."


"Iya, sayang. Kamu ini terimakasih aja terus." Jawab Ayyara, dia tersenyum. Dia senang kalau dia menerima kebaikan nya. 


"Mom, kita pulang saja ya? Lihat, udah mendung ini, takut hujan." 


"Oke, Dad." Jawab Ayyara, mereka pun beranjak dari duduknya. Tapi Arsen malah tetap duduk di kursi yang ada di stand penjual jus buah itu. Dia menatap sendu ke arah pasangan yang sudah sedikit menjauh dari stand itu. 


Tapi, Ayyara menyadari kalau Arsen tidak ikut bersama nya. Dia menoleh dan dia mengajak Arsen untuk ikut bersama nya.


"Arsen, ayo ikut. Kita pulang ke rumah, sayang." Barulah, Arsen beranjak dari duduk nya dan mengekor di belakang Ayyara. 


Hari ini, Jayden mengajak istri nya untuk pulang ke rumah mereka sendiri. Karena selama ini mereka tinggal di apartemen, bukan di rumah. Sekarang mereka akan tinggal di rumah baru. 


Rumah baru mereka berada beberapa meter saja dari rumah orang tua Ayyara, karena Jayden yakin kalau Ayyara akan merasa kesepian, jadi dia sengaja untuk membangun rumah di dekat rumah orang tua Ayyara, David. 


"Arsen.." panggil Ayyara, membuat anak kecil itu menoleh, dia sedang menikmati sensasi pertama kali nya dia naik mobil seperti ini. Jangankan naik mobil, dia hanya bisa melihat mobil dari kejauhan. Sekarang, dia bisa merasakan seperti apa rasa nya naik mobil. 


"Iya, kakak.."


"Kamu suka makan apa?"


"Arsen bisa makan apa saja, kak." Jawab Arsen, dia sibuk menatap jendela mobil yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi mencakar langit. Bagi orang yang sudah terbiasa, ini hanyalah pemandangan yang memuakkan. Tapi berbeda dengan cara pandang Arsen, dia menatap takjub ke arah bangunan itu. Jadi, intinya setiap orang pasti memiliki cara pandang tersendiri, tidak jauh-jauh seperti Jayden dan Arsen.


"Baiklah kalau begitu, nanti kakak masakan makanan yang enak buat Arsen."


"Benarkah? Terimakasih, kakak sangat baik sama Arsen."


"Sama-sama, sayang." Jawab Ayyara, dia tersenyum lalu mengacak rambut Arsen dengan gemas.


.....


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_1


__ADS_2