
"Roy, bawa Arsen pulang ya?"
"Tapi, Tuan.."
"Hmm, kenapa?" Tanya Jayden, dia menatap Roy dengan heran.
"Saya khawatir Arsen akan marah saat dia terbangun sudah ada di rumah." Jelas Roy. Jay mengangguk, dia sudah menduga akan hal itu. Tapi dia tidak mungkin juga membiarkan Arsen tidur di rumah sakit, dia khawatir kalau Arsen terserang penyakit, karena seharian berada di rumah sakit.
"Tidak apa-apa, aku yang akan menangani nya. Bawa Arsen pulang, disana ada Mama nya Ayyara."
"Baiklah." Jawab Roy, dia pun mengambil alih Arsen dari gendongan sang Daddy. Pria itu pun membawa Arsen dalam gendongan nya, dia harus pulang dengan membawa Arsen dalam pelukan nya.
'Kamu terlihat sangat terpukul dengan hal ini, Boy. Tapi, Om percaya kalau kamu adalah anak yang kuat. Bersabarlah, sebentar lagi Mommy mu pasy ku akan bangun dan kembali bersama kalian lagi.' Batin Roy, jujur saja dia benar-benar ikut bersedih saat melihat keadaan Arsen yang terlihat murung. Bahkan anak itu sampai ketiduran di pelukan Jayden.
"Fisik mu memang kecil, Boy. Tapi, aku yakin hati mu lebih besar dari fisik mu, kamu pasti bisa melewati ini semua." Gumam Roy sambil melihat ke samping, dimana ada Arsen yang tertidur di samping nya. Roy tersenyum kecil, lalu mengacak pelan rambut Arsen dengan lembut.
Roy pun membawa anak itu pulang ke rumah, disana sudah ada Agnes yang menyambut nya.
__ADS_1
"Tolong jaga dia, Nyonya. Saya harus pergi ke markas untuk memastikan sesuatu." Ucap Roy, dia pun berpamitan pada Agnes.
"Ya, terimakasih sudah mengantarkan Arsen kesini." Jawab Agnes, Roy menganggukan kepala nya lalu pergi dengan mengendarai mobil sedan nya.
Di rumah sakit, Jayden terlihat menunggu di kursi ruang tunggu dengan menutup wajah nya dengan kedua tangan nya. Tak lama, Jack datang dengan wajah datar nya. Jujur saja, dia tidak suka melihat sahabat plus pimpinan nya itu frustasi seperti ini.
Pria itu duduk di samping Jayden, dia menepuk pundak pria itu pelan. Membuat Jayden menoleh sekilas, lalu kembali menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Aku tahu kau sedang kalut saat ini, tapi jangan melupakan kedua putra mu, Jay. Mereka juga membutuhkan mu, jangan terlalu fokus melihat dalam satu sisi saja." Jelas Jack membuat Jayden menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Aku tahu kau terpuruk melihat keadaan istri mu sekarang, tapi kau juga harus memikirkan perasaan kedua anak mu, Arsen dan bayi yang sudah baru saja lahir."
"Tidak, ini bukan kesalahan siapapun. Baik karma atau tidak, ini sudah terjadi bukan atas kehendak siapapun kecuali yang di atas. Kau pasti mengerti apa maksud ku, Jay."
"Hmm, tapi Tuhan menghukum istriku seberat ini. Harus nya, Tuhan menghukum aku saja, jangan istriku. Dia tidak salah apapun, satu-satunya yang bersalah disini adalah aku." Lirih Jayden. Jack menepuk-nepuk pundak sahabat nya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, aku rasa ini bukan saatnya. Harus nya, sekarang kau menunggui istri mu di dalam. Beri dia motivasi, kuatkan dia, dukung Ayyara agar dia segera bangun."
__ADS_1
"Baiklah, Jack. Terimakasih karena kau selalu menjadi penasehat yang baik." Ucap Jayden membuat Jack terkekeh.
"Guna nya temen ya gini, kalau lagi terpuruk gini ada yang nguatin. Semangat, Jay."
"Thanks, Jack. Aku ke ruangan Ayyara dulu." Jack menganggukan kepala nya, Jayden pun beranjak dari duduknya. Dia pun masuk ke dalam ruangan sang istri, hati nya seketika terasa nyeri saat melihat keadaan istri nya yang lemah tak berdaya di atas brankar rumah sakit dengan berbagai alat kesehatan yang menempel di tubuh nya.
Bibir yang biasa nya melengkung karena senyuman, sekarang terlihat pucat. Kedua mata bulat yang biasa menatap nya dengan hangat itu kini terpejam rapat.
"Selamat malam, istriku. Kapan kamu akan bangun? Kamu masih kelelahan ya setelah melahirkan anak kita? Hmm, aku ingin sekali melihat mu bangun dan tersenyum seperti biasa nya. Aku merindukan semua tentang mu, sayang."
Jayden duduk sambil menggenggam tangan Ayyara dan mengecupi punggung tangan nya dengan mesra. Dia menatap wajah pucat sang istri dengan wajah sendu nya.
"Mommy tahu? Arsen sangat marah sama Daddy saat tahu keadaan Mommy. Dia marah, sampai menangis sambil memukuli Daddy. Tapi, Daddy tidak marah karena Daddy memang merasa tidak bisa menjaga Mommy, maafin Daddy ya Mom."
"Jangan khawatir ya, Mom. Daddy berhasil menenangkan Arsen, putra kita juga saat ini berada di inkubator karena dia meminum air ketuban, jadi dia harus berada disana beberapa hari. Cepat bangun ya, Mom. Daddy, Arsen, bayi kita sangat membutuhkan Mommy." Lirih Jayden, tak terasa air mata nya menetes.
Ini adalah pertama kali nya Jayden menangisi seseorang, dan itu adalah karena rasa sakit yang benar-benar terasa menyiksa batin nya. Kalau saja, wanita ini bukan istrinya dia takkan mau menangisi siapapun.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻