Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 47 - Ayyara Di Culik


__ADS_3

Keesokan hari nya, Jayden memilih untuk fokus dengan rencana nya. Dia bahkan mengabaikan beberapa pesan yang di kirimkan oleh Ayyara. Saat ini, gadis itu merasa kesal sendiri karena sudah beberapa jam dia tidak mendapatkan balasan juga dari sang pria. 


"Isshhh, Daddy ini kemana sih? Nyebelin deh. Kebiasaan suka ngilang tiba-tiba kayak gini." Gumam Ayyara sambil menghentak-hentakan kaki nya, pertanda kalau dia memang benar-benar sedang kesal saat ini. 


Ayyara sudah mencoba menelpon nomor Jayden beberapa kali, tapi sayang nya pria itu tidak juga mengangkat nya. Bahkan sekarang, nomor nya tidak aktif.


'Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi biip.' Bukan Jayden yang menjawab, tapi operator. 


"Isshhh, ngeselin nya.." Gerutu Ayyara, dia tidak terbiasa menunggu hanya untuk sebuah kabar. Kekasih nya saja menghilang dia tidak mencari nya sama sekali, dunia nya sudah teralihkan oleh sosok bernama King Jayden Wiratama. Dia bahkan tidak lagi mempedulikan hubungan nya dengan Rendy. 


Benar, sahabat dari kecil, pacar yang sudah menjalin hubungan selama beberapa tahun, akhirnya kalah dengan orang baru yang lebih bisa memberikan nya perhatian sebanyak yang dia inginkan.  Terhitung, Jayden dan Ayyara baru saling mengenal dan dekat dua bulan belakangan ini. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, malam-malam bersama juga. Jangan lupakan kalau Jayden juga banyak mengeluarkan uang untuk Ayyara. 


Ayyara mendengkus, lalu dia memutuskan untuk turun dari kamar nya. Gadis cantik itu menuruni tangga dengan perlahan, dia melihat ada sang ibu dan ayah di ruang tamu. Sudah beberapa hari ini, David terlihat seperti menghindari interaksi dengan Ayyara. Tentu saja, itu membuat gadis itu keheranan. Sebenarnya ada apa dengan ayahnya?


"Pagi, sayang.." Sapa Agnes, dia tersenyum ramah menyambut putri nya yang baru saja turun dari kamar nya. 


"Pagi, Ma." Jawab Ayyara dengan wajah datar nya. Jangan heran, wajah Ayyara memang selalu datar saat di rumah. Berbeda jika di luar, kenapa? Ya, alasan nya karena dia malas untuk menunjukkan senyuman nya. Hati nya selalu saja terasa sakit saat melihat wajah kedua orang tua nya. 


"Mau makan sekarang, sayang?" Tanya Agnes sambil mengusap rambut panjang putri nya. 


"Ayya belum ingin." Jawab Ayyara, dia melengos pergi keluar rumah. Gadis itu memilih menyendiri di taman belakang. Disana ada kolam ikan, jika bosan biasa nya dia akan kesini dan memberi makan ikan-ikan hias berharga fantastis itu untuk menghilangkan rasa bosan. Melihat ikan-ikan berenang kesana kemari selalu membuat pikiran dan hati nya lebih tenang. 


Gadis itu menaburi pakan khusus yang memang selalu tersedia di gazebo dekat kolam ikan hias itu. Ayyara tersenyum saat melihat ikan-ikan itu langsung menyambar pakan itu dengan cepat hingga tidak bersisa, bahkan mereka saling berebut. 


"Hmmmm, andai hidup semenyenangkan mereka." Gumam Ayyara. Gadis itu asik memberi makan ikan-ikan, hingga tak menyadari kalau hari sudah sore. Gadis itu masuk ke dalam rumah, dia pergi ke ruang makan untuk makan siang. Ya, gadis itu melewatkan makan siang karena terlalu asik memberi ikan makan, tapi perut nya sendiri tidak dia beri makan. 


Gadis berwajah cantik itu makan dengan perlahan, sang ibu memasak steak yang terasa sangat lezat. Ayyara bahkan bisa menghabiskan dua porsi jika steak itu ibu nya yang memasak, berbeda jika dia membeli nya di restoran. Rasa nya jauh berbeda.


"Sayang.."


"Hmmm, iya Ma."


"Rendy kemana? Kok gak pernah keliatan lagi, apa dia baik-baik saja?" Tanya Agnes membuat Ayyara mendongak dan menatap wajah sang ibu dengan intens.


"Memang nya kenapa?"


"Tidak, hanya saja tidak biasa nya dia tidak berkunjung kemari selama beberapa hari ini, sayang. Apa hubungan kalian baik-baik saja?" Tanya nya lagi membuat Ayyara mendengus kesal, membahas Rendy selalu membuat nya mengingat saat dia di permalukan hari itu. Harga diri nya terasa di cabik-cabik oleh wanita yang tidak lebih hanya seorang pelayan. 


"Ayya gak tahu."


"Maksud kamu? Apa kalian sepakat untuk putus?"


"Tidak, belum. Tapi Rendy sama sekali tidak memberi kabar pada Ayya setelah hari itu." Jawab Ayyara lagi membuat Agnes mengernyitkan kening nya. 


"Hari itu?"


"Ya, terakhir kali dia mengajak Ayyara makan siang di cafe, sekitar seminggu yang lalu. Apa Mama tahu apa yang dia lakukan sama Ayya? Dia pergi ninggalin Ayya sendirian, karena dia pulang duluan. Katanya sih sakit perut, terus di juga bilang kalau makanan yang Ayya makan itu udah dia bayar." Jelas Ayyara.


"Lalu?"


"Setelah selesai makan, yaudah Ayya mau pulang dong. Eehh ternyata makanan nya belum di bayar, sialnya lagi Ayya gak megang uang cash hari itu. Secara langsung, Ayya sudah di permalukan oleh pria itu." Jawab Ayyara membuat Agnes menutup mulut nya dengan kedua tangan. Dia tidak menyangka kalau pria yang selama ini terlihat baik itu, rupanya bisa melakukan hal serendah ini juga. 


"Apa itu alasan nya kenapa dia tidak datang berkunjung lagi?"


"Maybe yes, maybe not." Jawab Ayyara acuh, gadis itu mengendikan bahu nya dengan acuh. Harusnya, dia tidak lagi peduli dengan Rendy. Dia juga tidak peduli padanya, jadi berhentilah peduli dengan orang yang tidak mau peduli pada kita. 


"Semoga ke depan nya hubungan kalian baik-baik saja dan Rendy akan datang dengan itikad yang baik, Nak."


"Ayya gak mau berharap, toh perasaan Ayya sama Rendy udah hambar." Jawab Ayyara dengan wajah datar nya. 


"Apa kamu menyukai pria lain?"


"Yes." Jawab Ayyara, lagi-lagi dengan wajah datar nya. Dia juga tidak menatap ke arah sang ibu yang duduk tepat di depan nya.


"Wah, siapa pria itu, Nak?"

__ADS_1


"Mama akan mengetahui nya nanti." Jawab Ayyara, dia meletakan garpu dan sendok nya di atas piring secara menyilang, lalu beranjak dari duduknya.


"Sudah selesai makan nya, Nak?"


"Ya, aku kenyang, Ma." Jawab Ayyara. 


"Baiklah, sayang." Ayyara menatap sekilas ke arah sang ibu, lalu pergi ke ruang tamu. Disana ada David yang tengah duduk dengan laptop di pangkuan nya. Melihat Ayyara datang, pria itu langsung beranjak dan pergi dari ruang tamu dengan membawa semua barang-barang yang dia perlukan untuk bekerja. 


Ayyara mengernyit, dia heran. Ada apa dengan ayah nya? Dia berubah 90 derajat, biasa nya semarah apapun David, dia akan tetap duduk atau sekedar memarahi nya, tapi sekarang dia terlihat menghindari nya. Bahkan untuk duduk di ruangan bersama, David tidak ingin. 


"Dia kenapa sih? Apa aku menakutkan, sampai dia tidak mau berada satu ruangan dengan ku?" Gumam Ayyara, sambil menggelengkan kepala nya. Gadis itu pun memilih duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Sayang.."


"Iya, Ma." Dia berbalik dan menatap ke arah Agnes yang datang dengan membawa sepiring cemilan buatan nya khusus untuk putri nya.


"Ini, Mama buatin cemilan buat kamu, sayang."


"Makasih, Ma." Jawab Ayyara, dia memakan kue buatan sang ibu dengan perlahan. Asik juga, ngemil sambil menonton televisi. Agnes juga membuatkan teh hangat untuk Ayyara, wanita baya itu tersenyum kecil. Dia bahagia karena akhirnya Ayyara mau bicara lagi dengan nya. Minimal, dia menjawab semua pertanyaan nya dengan ekspresi biasa. Tidak ketus, atau kadang dia tidak menjawab sama sekali, alias hanya diam. 


Tadi, itu adalah moment pertama kali mereka bicara berdua lagi setelah perseteruan yang terjadi di antara mereka. Sudah lama, mereka tidak bicara seperti tadi karena Agnes sibuk mengikuti suami nya bekerja ke luar kota, bahkan ke luar negeri.


Di lain tempat, pria bertopeng itu murka. Dia marah besar karena anak buah nya benar-benar tidak becus. Di berikan tugas yang cukup mudah, menculik gadis bernama Ayyara tapi mereka selalu gagal. Mudah? Ya, mudah. Yang sulit itu menjauhkan gadis itu dari Jayden. Karena, pria itulah yang melindungi nya. 


Dia tahu benar seperti apa kekuasaan yang di miliki oleh seorang Jayden, maka dari itu dia memutuskan untuk turun tangan sendiri. Dia yakin, dia akan bisa mendapatkan Ayyara apapun caranya. 


"Gagal lagi? Ckkk, sudah aku duga!" Ucap pria itu, dia tertawa. Menertawakan ketidak becusan anak buah yang sudah dia bayar mahal-mahal. 


"Kalian tidak becus, padahal itu tugas yang mudah."


"Tapi, Ayyara selalu di kelilingi oleh orang-orang Jayden, Tuan."


"Aku tahu akan hal itu, kau pikir aku tidak mengamati target, begitu?" Tanya pria itu yang membuat anak buah nya seketika menundukan pandangan, menghindari tatapan tajam setajam silet yang di perlihatkan oleh pria itu. Bahkan mungkin, lebih tajam dari pada benda tipis itu. 


"Tuan.."


Di rumah Ayyara, gadis itu masih duduk bersama sang ibu. Saat beberapa detik kemudian terdengar sebuah ketukan lirih di pintu utama. Agnes beranjak dari duduknya, untuk membukakan pintu. 


"Rendy.."


"Eehh, iya Tante. Ayyara nya ada, Tan?" Tanya seorang pria yang ternyata adalah Rendy. Pria itu cukup panjang umur juga rupanya, baru saja mereka membicarakan nya, pria itu sudah nongol.


"Ada, silahkan masuk."


Rendy pun menurut, dia masuk dan berjalan mendahului Agnes, saat wanita itu menutup kembali pintu rumah. 


"Sayang.." 


"Lho, Rendy?" Ayyara terlihat sangat terkejut, ya bagaimana tidak terkejut? Setelah satu minggu tidak bertemu ataupun bertukar kabar dengan nya, sekarang pria itu ada disini, datang ke rumah nya. 


"Iya, sayang. Kenapa terkejut?"


"Kemana aja, seminggu ngilang?" Tanya Ayyara, Rendy terkekeh lalu meletakan satu ikat bunga yang dia beli dalam perjalanan kesini tadi. 


"Ponsel aku di copet, maaf ya."


"Hmm, yaudah sih gapapa." Jawab Ayyara datar, sebenarnya dia malas untuk bertemu apalagi mengobrol dengan pria yang merupakan kekasih nya ini, tapi dia tak ingin membuat nya tidak nyaman juga dengan sikap nya.


"Sayang, kita jalan-jalan keluar yuk?" Ajak Rendy membuat Ayyara menatap tak percaya pada pria itu, dia cukup merasa trauma saat Rendy mengajak nya pergi apalagi jalan-jalan. 


"Ngapain?"


"Ya jalan-jalan aja, nyari udara segar. Aku lagi capek banget sama kerjaan, yang." Jawab Rendy.


"Gue izin dulu."

__ADS_1


Ayyara beranjak dari duduknya mendekati sang Mama untuk meminta izin, dia sangat berharap kalau ibu nya itu tidak mengizinkan nya pergi. Dia malas, sangat malas. Tapi kalau pergi nya bersama Jayden, mungkin dia akan sangat bersemangat. 


"Ma, Rendy ngajakin keluar.."


"Yaudah, tapi pulang nya jangan terlalu malam ya?"


"Hmm, aku ke kamar dulu ganti baju." Pamit Ayyara, Agnes mengiyakan. Sedangkan Rendy menunggu di ruang tengah sambil menonton drama yang tadi sedang di tonton oleh Ayyara.


Tak lama kemudian, Ayyara keluar dari kamar dan terlihat sedang meniti anak tangga satu persatu. Dia membawa tas selempang berwarna biru wardah, tas yang dia beli kemarin bersama Jayden. 


Gadis itu mengenakan blouse berwarna hitam, celana jeans, tak lupa mengenakan cardigan berwarna hitam juga. 


"Udah siap, sayang?" Tanya Rendy. Ayyara menganggukan kepala nya, setelah itu mereka pun pergi. Tentunya setelah berpamitan pada Agnes, tak mungkin jika pergi tanpa berpamitan dulu kan?


Ayyara duduk di kursi depan, dia memasang seatbelt nya seperti biasa. Rendy juga duduk di balik kemudi, tapi Ayyara merasakan kalau hati nya tidak enak saat ini.


"Sayang.."


"Iya, kenapa?" Tanya Ayyara. 


"Maaf tidak mengabari mu selama hampir lebih dari satu minggu."


"Tidak apa-apa, kita mau pergi kemana?" Tanya gadis itu, Rendy tersenyum kecil lalu segera mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang. 


"Nanti kamu akan tahu sendiri, sayang. Kita akan pergi ke suatu tempat yang pasti kamu tidak akan menyangka." Jawab Rendy. Ayyara pun mengangguk, dia mengira Rendy hanya akan membawa nya ke tempat yang indah sebagai kejutan, atau sebagai permintaan maaf karena dia sudah membuat nya malu oleh kejadian yang terjadi seminggu yang lalu. 


Tapi, semakin lama Ayyara merasakan kalau ada yang aneh, terutama dengan cara Rendy mengemudi. Bahkan pria itu berubah menjadi pendiam saat ini, padahal biasa nya dia adalah pria yang akan terus bicara selama ada yang mendengarkan. 


Puncaknya, Rendy menghentikan laju kendaraan beroda empat nya di sebuah tempat yang belum pernah Ayyara lihat, tempat nya memang nya cukup indah tapi cukup ngeri juga karena kanan kiri nya adalah jurang.


"Ren, ini kan.."


"Hmm, kenapa? Pemandangan nya indah bukan?" Tanya Rendy sambil membuka seatbelt nya, dia keluar lebih dulu. Ayyara juga mengikuti nya. Kedua nya keluar dari mobil dan menikmati udara sejuk di tempat ini. Hingga, tiba-tiba saja ada beberapa orang yang terlihat mencurigakan melihat ke arah nya. Ayyara yang peka langsung mengajak Rendy pergi, dia takut kalau musuh sang Daddy masih mengejar nya. 


"Ren, aku gak nyaman disini. Kita pergi yuk?"


"Kenapa, baby?" Tanya Rendy.


"Tidak, tapi sebaiknya kita pergi dari sini saja." Ajak Ayyara lagi.


"Baiklah, tapi sebentar aku ingin pipis dulu." Ayyara menganggukan kepala nya, lalu membiarkan pria itu pergi. Ayyara menatap pemandangan yang benar-benar indah, dengan hembusan angin sejuk yang menenangkan. Tapi tempat ini begitu sunyi, hanya ada empat orang disini. Dia, Rendy dan dua orang pria yang mencurigakan.


Tak lama kemudian, Rendy datang namun tatapan nya benar-benar berbeda. Pria itu berjalan dengan langkah tegap nya, dia terlihat memegangi sesuatu. 


"Ren, ay.." 


Secepat kilat, Rendy menutup mulut Ayyara dengan sapu tangan yang sudah di bubuhi oleh obat bius. Hanya beberapa detik saja, obat itu langsung bekerja. Ayyara terkulai tak sadarkan diri, Rendy tersenyum penuh kemenangan lalu kembali membawa Ayyara masuk ke dalam mobil nya. 


"Kau kalah, Jay! Gadis mu ada padaku sekarang, kita lihat saja apa yang akan kau lakukan untuk menyelamatkan nya dari ku." Gumam Rendy. Dia menyeringai, lalu kembali mengendarakan kendaraan roda empat nya ke sebuah tempat yang dia sebut sebagai markas. 


Sedangkan di tempat lain, Jayden merasakan sesuatu di hatinya, perasaan nya berubah menjadi tidak enak. Dia yakin kalau ini adalah sebuah firasat.


Jayden mengambil ponsel dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Ayyara, juga pesan dari gadis cantik itu. Jayden berusaha menghubungi nya, tapi yang mengangkat nya bukan Ayyara tapi suara laki-laki.


'Hallo..'


"Siapa ini, mana gadisku?" tanya Jayden membuat seseorang di seberang sana tertawa.


'Kalau kau ingin mengetahui gadis mu ada dimana dan siapa aku, datang ke tempat yang aku tunjukkan. Kalau tidak, ucapkan selamat tinggal pada gadis mu itu.'


"Jangan sentuh gadisku!"


'Hahaha, kau tidak berhak mengatur ku, Jayden!'


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2