Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 65 - Perubahan Hormon Bumil


__ADS_3

"Dad, hari ini gak kemana-mana kan?" Tanya Ayyara, dia gemas sendiri saat melihat suami nya masih betah bergelung di dalam selimut tebal nya. Sedangkan dirinya sudah wangi karena baru saja habis mandi sekalian keramas, karena semalam dia habis melakukan rutinitas ala suami istri. Apalagi kalau bukan bergelut di atas ranjang sambil berbagi keringat. 


"Enghh, kenapa sih Mom?" Tanya Jayden dengan suara serak nya, dia membuka mata nya sedikit. Dia ingin tahu, kira nya ada apa yang membuat istrinya heboh pagi-pagi begini. Disaat dirinya masih menikmati tidur nya. 


Semalam, dia bermain empat ronde bersama istri kesayangan nya. Jangan salahkan Jayden, tapi mood ibu hamil itu sedang ingin bermain dengan suami nya. Jadi, setelah Jayden keluar. Ayyara malah meminta lagi dan lagi, sampai akhirnya dia tertidur saat Jayden masih asik bermain di bawah sana. 


"Bangun, jangan mentang-mentang gak ada kegiatan kamu jadi males-malesan, Dad." Ucap Ayyara.


"Lima menit lagi, Mom."


"Gak ada, ayo bangun. Terus mandi, badan Daddy bau!" Ucap Ayyara sambil menarik selimut yang di kenakan oleh suami nya, membuat tubuh polos sang suami terpampang jelas. Telanjaang bulat seperti bayi baru lahir. 


"Bau ya? Oke, Mom." Jawab Jayden, dia pun langsung bangun dan mengambil handuk yang di ulurkan oleh sang istri dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ayyara cekikikan, dia merasa lucu saat melihat ular sang suami yang keriput gundal gandul kesana kemari. Menggemaskan sekali, ingin sekali dia pukul. Tapi, kalau di pukul nanti si junior nya ngambek terus gak mau bangun lagi gimana? Dirinya juga yang rugi bukan. 


Kenapa Jayden langsung pergi ke kamar mandi setelah Ayyara mengatakan kalau tubuh nya bau? Ya, jawaban nya karena dia takut tidak di ajak tidur oleh istri cantik nya. Dia khawatir kalau istri nya itu tidak memperbolehkan nya untuk tidur di kamar yang sama. Cukup saja waktu itu Jayden begadang semalaman karena tidak bisa memejamkan mata nya sama sekali, gara-gara tidak bisa memeluk istri nya.


Dan sekarang, itu menjadi kelemahan Jayden. Dia paling tidak bisa kalah tidur tanpa memeluk istri nya, tanpa mengusap-usap perut istri nya, dia benar-benar tidak bisa. Jadi, sebelum Ayyara mengatai dirinya bau, mendingan Jayden segera bangun dan mandi. Nurut saja lah, dari pada mood bumil itu memburuk. Siapa juga yang repot? Jayden lah, masa author. 


Tak lama kemudian, Jayden keluar dari kamar mandi dengan handuk selutut dan rambut yang basah. Ayyara tersenyum, dia sedang membereskan ranjang bekas pertempuran sengit semalam. 


"Jangan kecapean, Mom."


"Gak kecapean kok, cuma kebutin kasur doang. Capek apanya? Aku lebih capek di gempur sama kamu semalaman nonstop." Jawab Ayyara sambil tertawa.


"Main empat ronde itu bukan usulan Daddy lho, Mom. Tapi Mommy yang minta terus, kalo Daddy sih ya ayo-ayo aja. Orang doyan kok di kasih nambah ya gas aja." Ucap Jayden sambil memeluk tubuh istri nya dari belakang.


"Lepasin, Dad.."


"Kenapa, Mom? Takut pengen lagi ya, si junior udah bangun lagi lho ini. Siap nyembur, mau nambah ronde?" Tanya Jayden menggoda. 


"Enggak ya, lutut aku aja masih lemes gemetaran ini, Dad." 


"Hahaha, sayangku." Jayden mengecup singkat pipi kanan sang istri dengan mesra. 


"Pake baju sana, terus kita makan. Hari ini jadwal nya aku periksa kandungan ke dokter." Jawab Ayyara, membuat Jayden seketika melepaskan pelukan nya. Dia menatap wajah istri nya yang terlihat tenang.


"Kok gak ngasih tahu dari tadi sih, Mom?"


"Ini aku ngasih tahu, Daddy." Jawab Ayyara santai. 


"Ya tapi kenapa gak dari tadi, tau gitu Daddy gak bangun siang."


"Sengaja, soalnya Daddy tuh rempong. Masih pagi pasti udah ngajak berangkat." Jawab Ayyara, memang kan ya? Disaat seperti ini, laki-laki sering kali lebih rempong dari pada perempuan.


"Hmmm, Mommy.."


"Hahaha, sudahlah. Sana pake baju cepet, gak usah pamer roti sobek, aku udah bosen liatnya."


"Bosen? Oke, kamu bosen liat nya karena setiap hari sama Daddy. Gak tahu perempuan di luaran sana, pasti menghayal bagaimana isi di balik jas rapat itu." Jawab Jayden membuat Ayyara mendelik.


"Jadi, ceritanya Daddy bangga ya di hayalin sama cewek-cewek gatal itu? Ohh, oke. No coment, nanti tidur di luar!" 


"Lho kok gitu sih, Mom. Jangan dong, Daddy mau tidur sama Mommy ya?"


"Gak mau, sama aja tidur sama cewek gatal di luar sana." Jawab Ayyara ketus, dia pun memilih keluar dari kamar. 


Jayden terkejut saat mendengar pintu yang berdebum kencang karena Ayyara membanting nya dengan keras. Bingung sekali jadi Jayden saat ini, padahal istrinya yang memulai, tapi dia juga yang kena hukuman. Miris sekali memang. Tapi, di bumi ini ada aturan kalau wanita selalu benar, tidak pernah salah itu pasti adanya. 

__ADS_1


"Mulut ini, kenapa gak ada rem nya sih. Sialan, gimana kalo nanti beneran tidur di luar? Duhh, harus mikirin sogokan apa yang bagus buat luluhin istri mengamuk ya?" Gumam Jayden, beberapa kali dia menepuk bibir nya karena kesal. Harusnya dia tidak perlu mengatakan hal demikian, agar tidak memancing kemarahan istri nya. Kalau sudah begini kan siapa yang rugi, dirinya sendiri. 


Jayden pun masuk ke dalam ruang ganti dan segera berpakaian, kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam menjadi pilihan nya. Pria itu menggulung lengan kemeja nya hingga ke siku, tak lupa dia menyisir rambut nya ke belakang. Dia juga menyemprot parfum agar Ayyara nyaman saat bersama nya. 


Pria tampan yang saat ini akan menjadi seorang ayah itu pun keluar dari kamar dan berjalan perlahan ke dapur, di sana dia sudah di sambut oleh tatapan sinis sang istri. Wanita hamil itu terlihat sedang menyiapkan makanan di atas meja. 


"Mom, biasa aja kali mata nya."


"Ngapain pake baju gitu? Kamu cuma mau nganter aku periksa kandungan, bukan mau ngantor. Sengaja pake baju gitu hmm? Mau tebar pesona ke cewek mana kamu?" Tanya Ayyara dengan ketus, membuat Jayden menganga. Ini kah mood ibu hamil? Dia kok jadi serba salah begini. 


"Mom, gak gitu."


"Ganti." Tegas Ayyara, membuat Jayden terdiam seketika. Jayden yang biasa nya tidak suka di atur-atur itu pun seketika menjadi pria yang penurut setelah dia memiliki istri. 


"Makan dulu ya, Mom? Daddy laper gak kuat, baju nya bisa di ganti nanti kan?"


"Yaudah, makan dulu tuh. Aku masak omelet sayur sama ikan."


"Iya, Mom." Jawab Jayden, dia pun menyajikan makanan nya di depan sang suami. Sedangkan dia sarapan sosis bakar dan bakso goreng kesukaan nya. Jayden sebenarnya ingin menegur, tapi dari pada dia kena amuk lagi, mending biarkan saja selama ada yang masuk ke dalam perut sang istri. 


Kedua nya pun makan dengan lahap, Ayyara sedang tidak ingin makan nasi saat ini. Jadi dia memilih sosis sebagai makanan pengganti nya, tak apa-apa itu juga mengenyangkan. Lihat saja, Ayyara sarapan lebih dari sepuluh buah sosis. 


"Enak ya, Mom?"


"Mau?" Tawar Ayyara, Jayden hanya tersenyum kecil. Ayyara paham dan memberikan satu sosis nya ke piring sang suami. 


"Enak sosis nya, nanti kapan-kapan kita beli lagi ya."


"Oke, beli sama toko nya sekalian, Mom." Jawab Jayden sambil tersenyum. Tapi ternyata Ayyara masih merasakan kekesalan pada suami tampan nya itu. 


"Gak usah, ngapain? Biar keliatan keren gitu, biar cewek pada naksir sama kamu?" 


"Dahlah, aku males sama kamu." Jawab Ayyara, dia memilih pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan Jayden makan sendirian di ruang makan. Ayyara memilih untuk memakan sarapan nya di ruang tamu, sambil menonton televisi. Entahlah mood nya hari ini benar-benar buruk dan yang selalu menjadi sasaran nya adalah Jayden, suami nya. 


Bodo amat, toh pria itu juga penyebab dari semua ini. Jadi tak apa-apa lah ya membuat dia kesal seperti ini, dia malahan jauh lebih sebal dari pada suami tampan nya itu. 


"Mommy.."


"Apa?" Ketus Ayyara membuat Darren tersenyum, begini kah kalau bumil tengah merajuk? Dia memang belum berpengalaman apapun, tapi satu hal yang dia tahu saat ini adalah jangan mencoba mencari gara-gara dengan bumil yang moodian seperti contoh nya Ayyara. 


"Isshh, jangan ketus-ketus gitu dong, Mom. Nanti cantik nya luntur lho." Goda Jayden, niat nya memang untuk menggoda istri nya. Tapi ternyata Ayyara menangkap maksud lain dari perkataan suami nya. 


Jayden, Jayden, sudah tahu mood istri nya sedang buruk-buruk nya, malah acara segala menggoda seperti itu. Mustahil kalau Ayyara tidak marah saat ini, di tambah dia sudah kesal sedari tadi.


"Ohh, jadi maksud Daddy aku udah gak cantik, begitu?" Tanya Ayyara yang membuat Jayden menganga. Tunggu, kenapa bisa begini? Astaga, dia harus bagaimana lagi sekarang?


Bukan nya luluh, Ayyara malah terlihat semakin kesal pada nya. 


"Mommy, bukan begitu.."


"Aku kesel banget sama Daddy, minggir sana sebelum aku lempar wajah Daddy pake garpu!" Ketus Ayyara, membuat Jayden langsung menjauh. Dia menggelengkan kepala nya. Apa-apaan ini semua? Dia tidak memikirkan kalau mood ibu hamil bisa semerepotkan ini. Tidak, jangan bilang ini merepotkan, karena ini juga hasil dari perbuatan nya yang terlalu doyan main, jadi nya ada kecebong kecil yang saat ini bertumbuh dan berkembang di perut Ayyara. 


"Astaga, istriku." Gumam Jayden, dia pun kembali makan dengan lahap. Menghadapi perubahan istri nya yang terlalu tiba-tiba seperti ini membutuhkan banyak tenaga, juga stok sabar yang banyak agar dia bisa selalu sabar saat istrinya banyak tingkah.


Siang hari nya, Ayyara tetap pergi ke dokter kandungan bersama Jayden. Pria itu dengan sigap membukakan mobil untuk istri nya, meskipun Ayyara membawa mood yang jelek. Dia tetap cemberut saja sepanjang perjalanan, Jayden benar-benar merasa gemas sendiri saat istri nya diam saja. Dia paling tidak bisa saat di diamkan saja seperti ini. 


"Mom.." 

__ADS_1


Diam, Ayyara hanya diam saja tidak merespon apapun. Dia hanya cemberut dengan kedua tangan yang bersedekap di dada. 


"Mommy, bicara dong jangan diem aja."


"Terus Daddy mau aku ngomong apa hah?"


"Astaga, Mom.." Ucap Jayden, sudah paling benar kalau dia diam saja. Dia benar-benar tidak paham dengan hal ini, dia akan menanyakan nya pada dokter kandungan nanti, apakah hal semacam ini wajar atau tidak. Kalau wajar, okelah dia akan mentoleransi nya, kalau semisal tidak wajar dia akan menghukum istri nya di kamar selama 24 jam nonstop. 


Akhirnya, sampai di rumah sakit pun tidak ada yang membuka suara nya. Mereka kompak diam-diaman. Tapi bukan berarti mereka bertengkar, karena Ayyara masih menggandeng mesra lengan suami nya, tapi wajah nya terlihat di tekuk. Begitu juga dengan Jayden yang wajah nya datar seperti tembok.


"Permisi, saya ingin melakukan pemeriksaan rutin."


"Baiklah, silahkan masuk. Nona dan Tuan sudah di tunggu oleh Dokter Rara di dalam." Ucap seorang perawat sambil menebar senyum ramah nya. Tapi ternyata, Ayyara menyangka kalau suster itu tersenyum pada suami nya. Dia melirik ke arah Jayden yang masih menunjukkan wajah datar nya. Tidak ada senyuman sedikit pun.


"Jangan senyum!" Tegas Ayyara sambil menarik tangan suami nya ke dalam ruangan dokter Rara. 


"Iya iya, Mom."


"Cari perhatian kok sama perawat!"


"Astaga Mom, Daddy gak cari perhatian lho. Apa mommy gak liat wajah Daddy datar seperti ini?" Tanya Jayden, tapi Ayyara malah mendelik kesal ke arah suami nya itu. Sontak saja melihat delikan itu, Jayden langsung terdiam seketika. 


"Selamat siang, Nona Ayyara." Sapa dokter Rara sambil tersenyum. Bukan nya menjawab sapaan dokter Rara, Ayyara malah melirik ke arah sang suami yang memalingkan wajah nya ke arah lain agar sang istri tidak mencurigai nya.


"Siang, dok. Saya ingin melakukan pemeriksaan rutin." 


"Baiklah, Nona." Jayden dengan sigap membantu sang istri untuk berbaring di atas brankar, dia juga berdiri di samping istri nya dan tetap menggenggam tangan nya dengan erat. Setiap akan periksa seperti ini, Ayyara pasti gugup. 


"Kandungan anda sangat baik, ukuran nya saat ini sudah sebesar buah melon kecil, Nona. Saat ini usia kandungan anda sudah menginjak usia ke lima."


"Apa jenis kelamin nya, dok?" Tanya Ayyara penasaran. 


"Menurut perkiraan USG, dia laki-laki, Nona." 


"Wah, jagoan kita Mom."


"Hmmm, iya Dad." Jawab Ayyara sambil tersenyum. Dia baru sadar kalau perut nya sudah mulai membuncit saat ini, Jayden mengusap-usap nya dengan lembut. Sesekali dia mengecup punggung tangan istri nya dengan lembut. 


Selesai dengan pemeriksaan USG, Ayyara pun ingin melakukan konsultasi bersama dokter Rara tentang perubahan sikap nya beberapa hari belakangan ini.


"Silahkan Nona, ingin berkonsultasi apa?"


"Begini, dok. Saya menjadi lebih sensitif, bahkan hal yang seharusnya sepele saja bisa membuat saya tersinggung. Saya juga lebih pencemburu, apakah itu wajar? Saya khawatir kalau itu akan membuat suami saya tidak nyaman, dok." Jawab Ayyara, membuat Jayden terdiam.


Tadi nya, dia yang ingin berkonsultasi tentang hal ini bersama dokter Rara, tapi ternyata malah keduluan istrinya. Artinya, perubahan sikap wanita itu saat ini tidak dia sadari dan itu bukanlah kesalahan nya.


"Itu hal yang wajar di alami oleh ibu hamil, Nona. Perubahan hormon lah jawaban nya, banyak ibu hamil dan calon ayah yang mengeluhkan hal ini. Tapi, itu tidak masalah, Nona. Selama masih bisa di atasi." 


"Ohh, jadi itu wajar ya, dok?" Tanya Jayden kali ini. 


"Iya, Tuan. Itu wajar-wajar saja, harap di tambah ya tingkat kesabaran nya, karena hal ini sering kali membuat suami kesal." Jelas dokter itu sambil terkekeh pelan. 


"Baiklah kalau itu masih wajar, dok." 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1



__ADS_2