
"Lepaskan aku, Rendy. Aku mohon!" Ucap Ayyara, dia mengemis agar bisa di lepaskan. Tapi seperti nya Rendy tidak akan melepaskan nya begitu saja, terlebih saat ini dia tengah di kuasai amarah.
"Terus lah memohon, sayang. Aku menyukai nya, tapi jangan harap aku akan melepaskan mu semudah itu. Kau takkan bisa keluar dari sini." Ucap pria itu dengan suara berat nya. Dia menatap tubuh Ayyara dari atas hingga ke bawah.
Saat ini, gadis itu di ikat di atas ranjang yang cukup luas. Pria itu tersenyum menyeringai, sungguh terlihat menakutkan bagi Ayyara, ingin sekali dia pergi tapi sialnya Rendy sudah terlebih dulu mengikat kaki dan tangan nya, hingga membuat nya tidak bisa kemana-mana.
"Lepaskan aku, Ren. Aku tidak salah apa-apa padamu, kan?"
"Tidak bersalah apa-apa katamu? Lalu, menyerahkan tubuh mu pada pria lain disaat kau masih berstatus kekasih ku, apa itu juga bukan kesalahan hmm?" Tanya Rendy dengan rahang yang mengetat.
"Oke, hanya itu saja kesalahan ku, Ren. Aku mohon lepaskan aku."
"Coba saja, kau melepaskan dirimu sendiri. Atau kau berharap saja semoga ada keajaiban yang bisa menolong mu, Sayang." Lagi-lagi tangan Rendy membelai wajah Ayyara dengan lembut, tapi hal itu membuat gadis itu berontak. Dia tidak suka saat Rendy menyentuh nya, apalagi setelah dia mengetahui siapa pria itu.
"Aku percaya, Daddy pasti akan datang untuk menyelamatkan aku!"
"Hahahaha.." Rendy tertawa, dia mencengkeram dagu Ayyara dengan kuat, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan. Rasa nya benar-benar sakit, bukan hanya fisik yang terluka karena perbuatan Rendy, hati nya juga ikut merasakan sakit karena perkataan pria itu yang benar-benar menyakiti hatinya.
"Kau yakin? Jangan terlalu berharap, Nona. Bisa saja pria itu, aaahh maksud ku Jayden sedang bersenang-senang dengan wanita lain di belakang mu, bukankah dia memiliki hasraat yang tinggi?" Hasut Rendy, membuat Ayyara terhenyak.
"Tidak, Daddy mencintaiku. Dia takkan pernah melakukan itu dengan wanita lain kecuali aku!"
"Ohh ya? Seyakin itu kau pada pria bajingaan itu, hmmm? Kalau aku menunjukkan bukti-bukti kalau dia bukan pria yang setia, bagaimana?" Tanya Rendy, dia tersenyum licik membuat Ayyara kembali terkejut.
"Jangan sembarangan bicara, Daddy bukan pria semacam itu." Ayyara berusaha meyakinkan hatinya sendiri kalau Jayden memang bukanlah pria seperti itu, dia benar-benar pria yang baik kan? Dia akan datang kemari untuk menyelamatkan nya dan membawa nya pergi bukan? Seperti apa yang pria itu ucapkan. Dia akan melindungi nya.
"Hahaha, jangan terlalu percaya pada manusia, sayang. Bisa saja manusia itu menipu mu, kau akan menelan banyak ke kecewaan jika tahu seperti apa orang yang sangat kau percayai itu. Ya, tidak jauh-jauh, seperti aku padamu."
"Rendy.."
"Sudahlah, jangan memanggil ku seperti itu. Mau kau menatap ku seperti apapun, aku takkan luluh, Ayyara."
Pria itu merangkak menaiki kasur, perlahan dia menaiki tubuh Ayyara, gadis itu meronta sekuat tenaga, dia tidak mau di sentuh oleh Rendy. Harusnya, dia memang tidak boleh memberikan tubuh nya pada pria lain selain Jayden.
"Jangan, Rendy.."
"Kita akan bersenang-senang, baby.." Jawab Rendy, pria itu mulai mengecupi wajah Ayyara, meskipun sekuat tenaga Ayyara berusaha menghindar, tapi tetap saja dia tak bisa menghindari ciuman-ciuman yang di layangkan oleh Rendy.
__ADS_1
"Diamlah, atau aku akan bertindak kasar, Ayya!"
"Jangan sentuh aku, Rendy."
"Kenapa? Kau terlihat jijik padaku, tapi kenapa kau tidak menolak saat pria itu menyentuh mu hah?"
"Karena aku mencintai nya, Rendy. Apa jawaban itu cukup?" Jawab Ayyara membuat Rendy marah.
Plak..
Dia menampar Ayyara hingga membuat wajah gadis itu terhuyung ke samping saking kuat nya Rendy menampar gadis itu. Sudut bibir Ayyara mengeluarkan darah, wajah nya juga memerah. Cap lima jari terlihat jelas di pipi gadis itu.
Ayyara menangis merasakan perih di pipi nya akibat tamparan Rendy. Pria itu menundukkan kepala, dengan lembut dia mengecup kening gadis itu cukup lama.
"Aku juga mencintai mu, Ayyara. Aku tak ingin menyakiti mu, kalau kau tak ingin aku bertindak kasar seperti ini, diam dan jadi lah gadis penurut." Bisik Rendy. Ayyara menangis, dia tak bicara sedikit pun. Gadis itu juga tidak memberikan respon apapun kecuali air mata nya yang tak berhenti menetes dari pelupuk mata nya.
Rendy mengusap wajah Ayyara, lalu mencium bibir gadis itu dengan lembut, pria itu melumaat nya dengan penuh perasaan. Bibir gadis itu terasa sedikit asin, ya mungkin karena bercampur dengan air mata nya. Namun, hal itu tidak membuat Rendy menghentikan niat nya. Pria itu juga membuka kancing blouse yang di kenakan oleh Ayyara, hingga hampir terbuka sepenuh nya.
Pria itu meraba-raba bukitan kenyal milik gadis itu, Ayyara menahan sekuat tenaga hingga akhirnya dia tidak sanggup dan tak sadarkan diri. Rendy belum menyadari nya, dia fokus dengan kegiatan nya bermain-main dengan bibir dan dada kenyal gadis itu. Meskipun tak ada respon sedikit pun, Rendy tetap bersemangat melakukan keinginan yang sudah lama dia pendam.
Rendy menurunkan tali kecil yang ada di pundak gadis itu, juga membuka pengait cup yang menutupi kedua bulatan milik gadis itu. Rendy tersenyum kecil, lalu kembali menundukan kepala nya dan tanpa ragu, dia langsung menyesap nya. Dia menyusu di dada Ayyara seperti bayi yang kehausan. Sebelah tangan nya juga bergerak aktif meremaas sebelah buah kenyal sang gadis.
"Kalian kesana, aku kesini. Cari Ayyara secepat nya, paham?"
"Baik, Tuan." Jawab mereka. Jayden pun mengangguk pelan, lalu mereka pun berpencar. Jayden memilih ke jalur kanan, sedangkan pasukan Bima dan Arka ke arah kiri. Entahlah, Jayden merasa kalau Ayyara ada disini.
Pria itu berjalan secara perlahan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang mampu memancing kecurigaan pihak musuh. Tapi, tempat ini kosong. Hanya ada kursi kecil di tengah-tengah ruangan yang terlihat gelap dan pengap.
"Ini terlalu kosong, aneh. Apa ini jebakan? Tapi, tak mungkin kan?" Gumam Jayden, tempat ini terlalu kosong. Hanya di jaga ketat di bagian luar nya saja, tapi di dalam nya kosong melompong seperti tak ada siapapun di dalam nya.
Tapi, pandangan mata tajam Jayden tertuju ke arah salah satu pintu yang tertutup. Di dalam nya, seperti ada cahaya di dalam sana.
Jayden melangkah mendekat, dia menempelkan telinga nya di pintu. Tapi tidak terdengar suara apapun, kecuali decapaan yang cukup nyaring. Saat mendengar itu, feeling Jayden merasa tidak enak. Dia pun mengetuk pintu itu dengan perlahan, berharap kalau ada yang mendengar lalu membuka nya.
Tok.. tok.. tok..
"Siapa?" Tanya nya, membuat Jayden yakin kalau di dalam ruangan itu pasti ada seseorang. Tanpa ragu, Jayden menendang pintu lapuk itu hingga roboh. Kedua mata Jayden memanas tatkala dia melihat keadaan gadis nya yang mengenaskan.
__ADS_1
Pria itu turun dari tubuh Ayyara, lalu menutupi apa yang sudah dia perbuat di tubuh nya. Melihat hal itu, Jayden gelap mata. Dia berjalan cepat dan mencekik leher Rendy dengan kuat hingga tubuh pria itu terdorong ke dinding. Saking kuat nya, tubuh pria itu hingga terangkat.
"Le-paskan aku bajingaan!"
"Kau mengatai aku demikian, tapi kelakuan mu sendiri lebih bajingaan!" Ucap Jayden, dia benar-benar marah karena melihat pria itu tengah menyentuh tubuh gadis nya.
"Jay.." panggil Jack, Jayden menoleh dan melepaskan tangan nya dari leher pria itu, membuat nya langsung mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
"Cecunguk ini yang sudah menculik gadis ku, Jack." Ucap Jayden sambil menendang kaki Rendy yang terduduk di tanah.
"Sudah, biarkan dia menjadi urusan ku. Kau bawa saja gadis mu ke rumah sakit, kau tahu benar penyakit gadis mu, bukan?"
"Ya, aku serahkan cecunguk ini padamu. Jangan kau bebaskan dia sebelum mendapatkan hukuman setimpal dari ku!" Jawab Jayden. Jack menganggukan kepala nya, Jayden pun langsung membuka satu persatu tali yang mengikat gadis itu lalu membawa nya ke rumah sakit dengan mobil nya.
Pria itu berlari dengan cepat membawa Ayyara yang tak sadarkan diri. Beberapa kali, pria itu berdecak karena menyesal kenapa dia harus memarkir mobil nya di tempat yang cukup jauh dari lokasi. Tapi, kalau dia memarkir mobil nya di dekat tempat kejadian, ya sama juga bohong. Iya kan?
Jayden bernafas lega saat dia sudah berada di dalam mobil, dia melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi. Dia tak peduli akan apapun, bahkan keselamatan nya sendiri. Dia hanya ingin cepat sampai ke rumah sakit dan menolong sang gadis sebelum terlambat.
Selang beberapa menit, akhirnya Jayden sampai di rumah sakit. Pria itu kembali menggendong tubuh mungil sang gadis dan membawa nya ke ruangan intalasi gawat darurat atau IGD.
Beruntung nya, rumah sakit ini buka selama 24 jam penuh dengan perawat yang tidak pernah kosong untuk berjaga di depan, jaga-jaga kalau ada yang sakit mendadak seperti ini.
"Sus, tolong istri saya."
"Baik, tuan. Silahkan baringkan disini." Jayden pun membaringkan Ayyara di atas brankar, perawat itu pun langsung membawa Ayyara masuk ke ruang pemeriksaan dan meminta Jayden untuk menunggu, meskipun awalnya Jayden menolak keras, tapi akhirnya dia menurut juga.
Dia memang mafia kejam, tapi kalah oleh seorang perawat yang akan menangani gadis nya? Hufftt, sudahlah. Dia hanya mengalah karena perawat itu akan memeriksa gadis nya. Jayden menunggu di luar dengan gelisah, dia berjalan kesana kemari sambil menunggu gadis nya selesai di periksa.
Dreeettt..
Jayden merogoh celana nya dan mengambil ponsel nya, dia membaca pesan yang di kirimkan oleh Jack.
'Rendy ada di markas, datanglah besok.'
"Ya, jaga dengan ketat jangan sampai lolos." Balas Jayden dengan cepat. Pria itu pun kembali memasukan ponsel itu ke dalam saku celana nya.
"Tuan, silahkan masuk.." ucap sang perawat, tanpa basa basi lagi Jayden langsung masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan gadis nya.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻