Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 51 - Bersama Ayyara


__ADS_3

Jayden masuk ke dalam ruangan, dia melihat kalau gadis nya masih belum juga sadarkan diri. Pria itu mendekat, lalu duduk di sebuah kursi yang tersedia di dekat brankar. Pria berwajah tampan itu menggenggam tangan Ayyara dan mengusap nya, beberapa kali juga dia mengecup punggung tangan sang gadis dengan tujuan agar dia segera bangun. 


"Tuan.."


"Iya, sus."


"Maaf, apa Nona Ayyara memiliki masalah dengan trauma yang di sebabkan oleh rasa takut?" Tanya perawat itu membuat Jayden mendongak. 


"Seperti nya tidak, sus." 


"Baik, setelah Nona Ayyara sadarkan diri, kami akan kembali memeriksa nya." Ucap perawat itu, Jayden menganggukan kepala nya. Pria itu kembali menatap wajah cantik Ayyara dengan sendu. Mata nya terlihat sembab, mungkin karena sedari tadi gadis nya terus menangis. 


Jayden mengepalkan kedua tangan nya saat melihat sudut bibir gadis nya terluka, pipi nya lebam, dan masih ada beberapa luka yang masih mengeluarkan darah, kalau saja pesawat itu tidak menutupi nya dengan plester. 


"Baby, wake up please. I'm here, baby." Gumam Jayden, dia benar-benar marah saat melihat keadaan Ayyara. Apalagi saat mengingat ketika pria itu menjamah tubuh Ayyara yang tak berdaya, dia juga mengikat nya di atas ranjang. Ingin sekali dia membunuh pria itu di tempat yang sama dengan ayah nya dulu, tapi niat dia urungkan karena Jack. 


Ya, Jack mengatakan ada baiknya kalau mengeksekusi pria itu di markas. Karena markas adalah tempat yang paling aman, sedangkan rumah itu kan kita tidak tahu ada apa yang tersimpan di dalam nya. Bisa saja Rendy sudah memasang jebakan, seperti kamera tersembunyi misalnya. 


Tapi, tidak mungkin rasanya kalau Rendy sepintar itu. Mengingat dia sangat bodooh, rencana yang dia lakukan juga masih sangat amatiran. Dia juga dengan boddoh nya membiarkan ponsel milik Ayyara tetap menyala, tentu saja itu memudahkan Jayden untuk melacak lokasi nya dan dalam waktu yang tepat, pria itu datang untuk menyelamatkan Ayyara. 


"I'm so sorry, baby. I really failed to protect you, dear." Gumam pria itu lagi, dia menundukan kepala nya. Kalau bukan Ayyara yang dia lindungi, lalu siapa? Dia menyesal karena kemarin dia mengabaikan pesan-pesan yang di kirimkan oleh gadis nya karena terlalu fokus dengan rencana yang bahkan menurut Jack, itu sangat konyol. 


"Wake up, baby. Daddy mohon, sayang." Ucap Jayden lagi. Tapi nihil, gadis nya tidak kunjung bangun juga. Jayden pun merasa putus asa, dia mengusap kepala Ayyara lalu mengecup kening gadis itu dengan lembut dan dalam penuh kasih sayang. 


Keesokan hari nya, tepatnya pagi hari. Jayden masih tertidur dengan posisi terduduk, kepala nya tertunduk sambil tetap menggenggam tangan Ayyara dengan erat. Gadis itu mulai terbangun, dia membuka kedua mata nya dengan perlahan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk melalui celah jendela. 


Tempat yang sangat terang, berbeda dengan tempat yang kemarin dia ingat. Seingat nya, tempat itu sangat menakutkan. Gelap, pengap, sunyi dan yang paling menakutkan adalah banyak kecoa disana. Saat itu juga, Ayyara menyadari kalau ini bukanlah tempat yang kemarin.


Ayyara menggerakan tangan nya, dia melihat ada jarum infus yang tertancap di punggung tangan nya. Gadis itu tahu berarti saat ini dia berada di rumah sakit, syukurlah kalau begitu. Dia merasa lega karena akhirnya dia bisa keluar dari tempat menyeramkan itu dalam waktu yang singkat. 


"Siapa yang membawa ku kesini?" Gumam Ayyara.


Gadis itu melirik ke samping, dia terlihat mengernyit saat melihat sosok pria yang tengah tertidur di samping nya. Pria dengan rambut kecoklatan itu tertidur menelungkup dengan tangan yang menggenggam tangan nya dengan erat hingga Ayyara kesulitan untuk melepaskan nya. 


"Aroma ini.." Gumam Ayyara, dia tahu benar kalau ini adalah aroma yang tercium sangat familiar. Ya, ini adalah parfum dan aroma tubuh Jayden. 


"Daddy.." Panggil Ayyara pelan, Jayden dengan perlahan mendongakan kepala nya. Ayyara menghembuskan nafas nya dengan lega saat melihat kalau itu memang benar Jayden. Tadinya, dia takut kalau seandainya itu bukan Jayden. Dia bersiap akan berteriak keras, meskipun tenaga nya belum kembali sepenuhnya. 


"Baby, kamu sudah bangun, sayang? Ada yang sakit, atau.."


"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Ayyara membuat Jayden langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Dia ingin menangis, tapi di depan Ayyara dia tidak boleh terlihat lemah. Dia harus terlihat kuat dan kokoh, agar gadis itu percaya kalau dia bisa melindungi nya. 


"Daddy, lepaskan. Aku tak bisa bernafas.." Lirih Ayyara membuat Jayden langsung melerai pelukan nya, kini dia beralih mengecupi seluruh bagian wajah sang gadis dengan mesra. 


"Daddy.."


"Yes, baby. I'm sorry.." 


"No, Daddy. Daddy tidak bersalah dalam hal ini, jadi jangan meminta maaf." 


"Daddy gagal melindungi mu, sayang. Maaf, Daddy terlalu ceroboh hingga semua ini terjadi." Jawab Jayden, dia menyesal. Benar-benar menyesal, apalagi begitu melihat tubuh gadis nya yang terluka di beberapa bagian. Hati nya terasa sangat sakit melihat itu semua, bahkan sakit nya peluru yang menembus tubuh nya saja dia rasa tidak sesakit ini. Tapi saat melihat gadis yang dia cintai terluka? Sakit nya the another level. 


"Tidak, Dad. Aku saja yang bodooh karena terlalu percaya pada Rendy." 


"Ya, pria itu harusnya Daddy bunuh saja." Ucap Jayden dengan mata yang berkilat karena amarah. Ayyara menatap wajah tampan namun menakutkan sang pria, dia meraba lembut rahang tegas sang pria yang di tumbuhi sedikit bulu-bulu halus nya. 


"Jangan seperti itu, Dad."


"Kenapa? Sudah Daddy katakan kalau Rendy bukanlah pria yang baik kan? Daddy bahkan sudah meminta mu untuk putus dengan nya, tapi apa? Kamu malah mau mempertahankan nya dengan alasan gak tau mau mutusin nya gimana. Sekarang kamu udah punya alasan buat mutusin dia, jadi kamu mau tetap mempertahankan pria itu, sayang?" Tanya Jayden panjang lebar, membuat Ayyara cengo. 


Ini adalah pertama kali nya dia mendengar pria itu bicara panjang lebar seperti ini, biasa nya paling banyak bicara pun hanya dua atau tiga kata, atau jika sedang menggombal barulah dia bicara panjang lebar. Tapi tidak pernah sepanjang dan selebar ini, ini benar-benar pertama kali nya. Itulah yang membuat Ayyara cengo. 

__ADS_1


"Sayang, heeyy.."


"Eehhh, kenapa Daddy?"


"Putuskan pria itu, sayang.."


"Iya, sekarang aku sudah punya alasan yang tepat untuk memutuskan pria itu, Dad." Jawab Ayyara membuat Jayden tersenyum penuh kepuasan. Artinya, Ayyara hanya akan menjadi miliknya seorang saat ini, dia paling tidak suka dengan yang nama nya berbagi. Dia tidak suka berbagi barang, apalagi wanita. 


"Baguslah kalau begitu, sayang. Dengan begitu, kamu hanya milik Daddy seutuhnya sekarang."


"Hmm, aku bukan milik siapapun." Jawab Ayyara yang membuat Jayden menatap nya dengan tajam. Melihat itu, nyali Ayyara menciut seketika, dia takut saat Jay menatap nya sedemikian tajam nya. 


"Iya iya, aku memang milik Daddy." Jawab Ayyara meralat ucapan nya, sebelum Jayden menatap nya lebih tajam dari ini. Yang ini saja dia sudah ketakutan setengah mati ya kan? 


"Good girl, kamu ingin makan sesuatu sayang?" Tanya Jayden. 


"Hmm, aku lapar. Aku melewatkan makan siang dan malam, Dad."


"Kamu ingin makan apa, bubur ayam?" Tanya Jayden. 


"Boleh, Dad. Tapi pedes ya bubur nya." Pinta Ayyara.


"Sedikit saja, ya?" Tawar Jayden, dia tidak boleh membiarkan gadis nya ini makan pedas terlalu banyak. 


"Iya, Dad." Jawab Ayyara, Jayden pun langsung menghubungi anak buah nya untuk membelikan bubur ayam dan sarapan juga untuk nya. 


"Dad, Ayya juga mau jus buah naga." Pinta Ayyara, Jayden mengangguk dan mengatakan pesanan nya pada anak buah nya itu. 


Setelah selesai memesan makanan, tak lama seorang perawat datang dengan alat kesehatan yang dia tenteng di sebuah tas kecil. 


"Permisi, Nona. Selamat pagi.." 


"Mari, kita periksa dulu ya. Sudah merasa lebih baik?" Tanya perawat itu dengan ramah. 


"Sudah, sus. Hanya saja masih sedikit pusing, mual juga." 


"Mual, mungkin karena Nona belum sarapan." Ucap perawat itu, dia pun memasangkan alat pengukur tekanan darah dan setelah mengetahui hasilnya, dia pun melepasnya secara perlahan.


"Tekanan darah nya normal, Nona. Apa Nona memiliki semacam trauma?"


"Hmm, tidak terlalu dok. Kecuali kalau saya takut kecoa." 


"Itu juga bisa menyebabkan trauma, Nona." Jawab perawat itu sambil tersenyum.


"Benarkah?"


"Tentu saja, misalkan ada kecoa yang masuk ke dalam makanan, lalu kita tak sengaja memakan nya, itu juga bisa menjadi penyebab rasa trauma yang di alami, Nona." Jelas perawat itu membuat Sherena bergidik. 


"Selain itu, ada hal yang Nona takuti?" Tanya sang perawat lagi, sedangkan Jayden memilih menjadi pendengar yang baik saja. 


"Suara tembakan, ya aku takut akan suara tembakan." Jawab Ayyara membuat Jayden membulatkan mata nya, jadi selama ini gadis nya takut akan suara tembakan? Pantas saja wajah nya selalu memucat saat mendengar ada adegan adu tembak. 


Perawat itu pun memberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa trauma dan phobia Ayyara, dia benar-benar perawat yang sangat ramah membuat Ayyara merasa nyaman saat berbicara dengan nya. 


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Keadaan nona sudah sangat baik, nanti sore sudah bisa pulang." 


"Baik, sus." Kali ini, Jayden yang menjawab. Sepanjang obrolan, dia hanya diam dan baru kali ini dia mengeluarkan suara emas nya. 


"Baby.."


"Yes, Daddy.." Jawab Ayyara, Jayden duduk di kursi dan kembali mengusap-usap punggung tangan Ayyara dengan lembut. 

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang saat kamu takut mendengar suara tembakan?"


"Maaf, Daddy. Aku tidak ingin Daddy khawatir."


"Baby.."


"Ayya punya alasan kenapa menyembunyikan hal ini dari Daddy." Jawab Ayyara membuat Jayden menatap gadis itu dengan sendu. 


"Kenapa, sayang?"


"Daddy adalah mafia, yang pasti mau tidak mau akan berurusan dengan senjata. Jadi, aku sudah berusaha untuk menekan rasa takut ku demi Daddy. Tapi, untuk saat ini belum menghasilkan apapun. Aku masih takut untuk melawan rasa takut ku." Jawab Ayyara membuat Jayden langsung memeluk gadis itu dengan erat. Pria itu mengusap lembut punggung gadis itu. 


"Maafkan Daddy, sayang. Kamu harus berurusan dengan hal ini karena Daddy.."


"Tidak apa-apa, Daddy." Jawab Ayyara, tapi justru jawaban itu membuat Jayden merasa semakin bersalah. Dirinya lah yang sudah menarik Ayyara ke dalam kehidupan nya yang gelap dan kelam. Dia pria yang memiliki banyak musuh, harusnya tidak terlalu mengumbar hubungan nya dengan Ayyara sebagai bentuk kewaspadaan karena pihak musuh bisa ada dimana saja. 


Tapi, Jayden yang sudah terlanjur bucin mana bisa seperti itu? Andai saja dia bisa, dia pasti sudah mendeklarasikan kalau Ayyara adalah miliknya, saking bucin nya Jayden pada gadis bernama Ayyara itu.


"Daddy kenapa terus meminta maaf sih? Daddy tidak punya salah apa-apa sama Ayya." 


"Baby, Daddy yang sudah membawa mu sejauh ini. Daddy yang sudah membuat nyawa mu dalam bahaya. Daddy bisa melakukan apapun selama kamu ada di samping Daddy, jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Daddy ya?"


"Jika itu terjadi, Daddy akan sangat hancur, sayang." Ucap Jayden, nada suara nya terdengar sangat lemas. Ayyara tersenyum, keputusan nya untuk menerima Jayden apa adanya sudah bulat. Dia tidak memasalahkan tentang siapa Jayden dan juga seperti apa masa lalu nya. 


Karena, disaat sudah bersama nya, dia sudah berubah menjadi pria yang lebih baik lagi. Bukankah itu juga sudah menunjukkan kalau pria itu serius dengan ucapan dan juga perasaan cinta yang sering dia ucapkan padanya? Bagi nya, itu sudah lebih dari cukup. 


"Never, Daddy. Bahkan, jika seandainya aku mati, aku akan tetap berada di samping Daddy meskipun dengan dunia yang berbeda." 


"Tidak! Apa yang kau katakan, Daddy akan melindungi mu, sayang. Daddy tidak akan pernah membiarkan mu pergi dari Daddy, sayang. Apa yang akan Daddy perjuangkan jika kamu pergi meninggalkan Daddy?" Tanya Jayden, membuat Ayyara tersenyum.


"Kita tidak tahu masa depan bukan? Jadi, sebaiknya kita menikmati saja saat-saat kebersamaan ini dengan penuh kebahagiaan."


"Iya, sayang.." Jawab Jayden. Dia pun memeluk Ayyara, gadis cantik itu juga membalas pelukan sang pria tak kalah erat nya. Dia benar-benar menyukai pelukan hangat sang pria, kalau bisa dia ingin mendapatkan kehangatan itu setiap saat. 


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu. Jayden melerai pelukan nya, lalu beranjak dari duduk nya. Dia melihat anak buah nya yang datang dengan membawa satu kresek berisi makanan yang di pesan oleh Jayden.


Pria itu tersenyum sambil berjalan ke arah sang gadis, dia mengeluarkan makanan nya dan mengajak sang gadis untuk sarapan terlebih dulu. 


"Sarapan dulu, sayang.." 


"Iya, Daddy juga makan kan?"


"Tentu saja, Daddy juga lapar." Jawab Jayden sambil terkekeh. Kedua nya pun makan dengan lahap, sesekali Ayyara akan meminta makanan milik sang Daddy. Tapi, biasa nya Jayden yang tak menyukai saat ada orang yang celamitan, beda lagi kasus nya kalau yang celamitan nya itu Ayyara. Dia membiarkan saja, no komen kalau itu Ayyara. Sudah jelas bukan perbedaan nya, benar-benar definisi mafia bucin kebangetan.


"Punya Daddy enak." 


"Tentu saja enak, punya Daddy kan besar, sayang." Jawab Jayden, membuat Ayyara mengernyitkan kening nya. Dia keheranan sendiri dengan jawaban Jayden. 


"Maksud Daddy?"


"Punya Daddy kan, yang ini?" Tanya Jayden dengan percaya diri nya dia menunjuk ke arah celana nya yang memang terlihat menggembung padahal si junior sedang tidak bangun dari tidur nya. 


"Idihh, siapa yang bahas burung Daddy sih? Ayyara bilang enak tuh makanan nya, bukan punya Daddy yang itu." 


"O-ohh, begitu kah?" Tanya Jayden yang memancing Ayyara hingga dia tergelak, apalagi melihat Jayden yang seperti salah tingkah karena terlalu percaya diri seperti nya. Gak nyambung, yang lain bahas nya kemana, eehh dia bahas yang mana. Kan jadi nya salah paham plus malu juga. Wkwk.


"Tapi, yang itu juga enak kok. Bener kata Daddy, besar dan panjang." Jawab Ayyara membuat Jayden tersenyum puas saat mendengar gadis itu memuji si junior secara langsung. 


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2