
"Oke, Mom." Jawab Arsen, lagi-lagi Ayyara tersenyum dan menepuk-nepuk puncak kepala putra nya.
"Kamu suka telur, boy?" Tanya Ayyara, membuat Arsen mendongak menatap wajah Mommy nya.
"Arsen suka makan semua, Mom. Arsen gak pilih-pilih makanan kok, biasa nya Arsen harus mulung dulu biar bisa makan." Jawab Arsen dengan senyum polos nya, membuat hati Ayyara mencelos.
"Nah sekarang Arsen gak perlu melakukan hal itu lagi, cukup menjadi anak yang baik dan penurut, sekolah yang bener, belajar yang bener, nanti Mommy kasih apapun yang Arsen mau."
"Benarkah itu, Mom?" Tanya Arsen dengan senyum manis nya.
"Tentu saja, kalau Arsen nya jadi anak baik memang nya apa alasan Mommy tidak mengabulkan keinginan Arsen hmm?"
"Arsen cuma mau Mommy sama Daddy menyayangi Arsen saja, itu sudah cukup untuk Arsen." Jawab Arsen lirih, membuat Ayyara menatap anak itu dengan nanar. Dia mematikan kompor, lalu berlutut dan membingkai wajah Arsen dan mengusap kedua sisi wajah nya dengan jemari lentik nya.
"Mommy sama Daddy bakalan sayang sama Arsen kok, apapun yang terjadi kami akan melindungi kamu, apapun alasan nya, sayang."
"Benarkah, Mom? Bahkan setelah adik bayi lahir?" Tanya Arsen membuat Ayyara terkejut. Apakah Arsen takut kasih sayang nya terbagi karena kehadiran bayi yang sedang dia kandung ini?
"Kenapa mengatakan hal itu, sayang? Kamu adalah anak pertama Mommy, jadi tentu saja Mommy sama Daddy bakalan tetap sayang sama kamu."
__ADS_1
"Terimakasih, Mommy." Ucap Arsen sambil memeluk Ayyara, begitu juga dengan Ayyara yang membalas pelukan putra nya tak kalah erat nya.
"Arsen gak boleh berpikiran seperti itu lagi ya, sayang?"
"Iya, Mom. Arsen janji gak bakalan berpikir seperti itu lagi." Ucap Arsen dengan senyum manis nya yang membuat Ayyara juga ikut tersenyum.
"Ya sudah, sekarang Arsen mandi dulu pakai air hangat ya."
"Sama Mommy kan?" Tanya Arsen, Ayyara mengangguk. Dia pun meminta Minah untuk melanjutkan acara memasan nya, hanya tinggal mematangkan nya saja.
Ayyara pun memandikan Arsen dengan telaten, tanpa merasa jijik atau merasa canggung sedikit pun. Baginya Arsen adalah putra nya, hal ini wajar bagi seorang ibu dan anak. Memandikan anak nya seperti ini adalah moment-moment yang tak bisa terulang saat anak-anak itu sudah besar nanti nya.
Setelah selesai memandikan nya, Ayyara pun mengoleskan kayu putih dan memakaikan pakaian yang sudah dia siapkan untuk di pakai Arsen hari ini.
"Dari mana, Mom?"
"Habis mandiin Arsen, Dad. Mau kopi?" Tanya Ayyara.
"Hmmm, kopi hitam tanpa gula seperti biasa." Jawab Jayden. Ayyara pun langsung bergegas membuatkan kopi untuk suami nya. Arsen duduk di kursi yang ada di samping Daddy nya, dia menatap takut-takut pada pria itu.
__ADS_1
"Ngapain curi-curi pandang begitu?" Tanya Jayden dengan suara datar nya, membuat Arsen langsung menunduk. Jangankan melihat wajah atau tatapan mata nya, mendengar suara nya saja Arsen ketakutan.
"Hisshh, Daddy. Gak baik gitu sama anak, ketus amat."
"Siapa yang ketus? Perasaan biasa aja."
"Ya, biasa buat kamu tapi enggak buat orang lain, Daddy." Ucap Ayyara, membuat Jayden menghela nafas nya.
"Iya iya, maafin Daddy ya Mom."
"Kok minta sama maaf sama Mommy, tuh sama Arsen."
"Maafin Daddy ya, Boy." Ucap Jayden sambil mengacak rambut Arsen yang sudah di sisir rapih oleh Ayyara.
"Issshh Daddy! Itu aku sisir rapih-rapih, malah di berantakin lagi."
"Hehe, maaf Mommy."
"Sebel." Ketus Ayyara, dia pun merapikan rambut putra nya dengan sisir tangan. Arsen tersenyum manis, dia senang karena kedua nya sama-sama terlihat menyayangi nya. Meskipun Jayden masih terlihat agak datar pada nya, tapi dia yakin perlahan Jayden akan bersikap hangat juga seperti Ayyara memperlakukan nya. Tidak masalah, semua nya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri nya sendiri. Termasuk dirinya.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻