
'Tuan, pergerakan musuh mulai terlihat. Tadi, ada yang mengikuti mobil Nona Ayyara.' Lapor seorang anak buah Jayden. Pria itu mengepalkan kedua tangan nya, dia menggertakan gigi nya pertanda kalau dia benar-benar sedang marah saat ini.
"Lalu?"
'Kami berhasil menghalangi mobil itu, tapi kami memastikan kalau Nona Ayya selamat sampai rumah.' Jelas nya lagi, membuat Jayden mengernyitkan kening nya. Bagaimana bisa dia seyakin itu?
"Benar? Gadis ku tidak tergores sedikit pun kan?" Tanya Jayden.
'Kami bisa menjamin kalau Nona Ayyara baik-baik saja. Kami juga berpencar, ada yang mengenakan mobil dan juga motor. Jadi bisa di jamin kalau Nona Ayya tidak terluka sedikit pun.'
"Baguslah, terus ikuti gadis ku. Jangan sampai dia terluka sedikit pun, atau kalian akan merasakan akibat nya."
'Baik, Tuan. Sekarang saya tengah berjaga di depan rumah Nona Ayyara.' Ucap pria itu, membuat Jayden menggelengkan kepala nya.
"Jangan terlalu mencolok, nanti ada yang curiga."
'Saya menyamar menjadi tukang bakso, tuan.' Jawab nya, membuat Jayden mengernyit lalu tersenyum di detik berikutnya. Anak buah nya benar-benar bisa di andalkan. Mereka juga punya cara masing-masing untuk bekerja dan menyelesaikan misi yang di berikan oleh Jayden sebagai ketua.
"Baguslah, jangan lupa kabari aku terus."
'Baik, Tuan. Maaf, sudah dulu ya? Ada yang beli.'
"Ya, dalami peran mu dengan baik. Lagi pula, wajah mu memang cocok untuk menjadi tukang bakso." Ucap Jayden, lalu mematikan sambungan telepon nya, tak peduli akan seperti apa reaksi pria itu, karena dia pasti akan protes saat dirinya mengatakan kalau dia pantas menjadi tukang bakso.
"Jack.."
"Oyy.." Jawab Jack dengan malas, dia tengah merokok di balkon kamar Jayden saat ini. Dia ingin bersantai terlebih dulu sebelum Jayden kembali memerintah nya.
"Yang bener jawab nya." Ucap Jayden sambil melempar pena ke arah Jack dan berhasil mengenai kening pria itu.
Jack meringis sambil mengusap-usap kening nya, rasanya cukup sakit tapi lebih sakit kena tembak, iya gak sih?
"Iya, Tuan Jayden yang terhormat. Ada apa?" Tanya Jack membuat Jayden terkekeh pelan.
"Kau sudah membuat janji temu dengan pemilik cafe itu?" Tanya Jayden. Jack menganggukan kepala nya, dia langsung melaksanakan perintah pria itu begitu dia selesai mengatakan nya.
"Hmm, sudah."
"Sekarang?" Tanya Jayden. Jack menganggukan kepala nya, lalu dia baru sadar kalau dia baru saja duduk. Bahkan sebatang rokok pun belum dia habiskan, tiba-tiba saja dia menyesal karena sudah menganggukan kepala nya, harusnya dia menggeleng.
"Kenapa diam saja, cepatlah! Aku tak sabar ingin memberi pelajaran pada wanita sialan itu." Ucap Jayden. Jack menghembuskan nafas nya dengan kasar, dia benar-benar menyesali anggukan kepala nya.
"Kau menggerutu di belakang ku, Jack?"
"Tidak, tidak sama sekali." Jawab Jack, dia memaksakan senyum nya agar pria itu percaya. Jayden memicing menatap wajah pria itu, lalu berbalik dan kembali berjalan. Selain apartemen, Jayden punya sebuah rumah di tempat yang cukup sunyi.
__ADS_1
Tempat nya berada tak jauh dari kawasan perkotaan, tapi udara nya masih sangat segar. Itulah yang membuat Jayden memutuskan untuk membangun sebuah rumah di tempat ini. Tempat nya masih sangat asri, dengan pepohonan yang cukup rimbun. Sangat cocok untuk orang yang menyukai kesunyian dan kesendirian. Disini juga, Jayden sering merenungkan tentang ibu nya, setiap satu tahun sekali.
Jack pun masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Jayden. Kebiasaan, kalau ada Jack pasti Jayden tak mau menyetir sendiri.
"Kau bisa beristirahat seharian besok, Jack."
"Benarkah? Aahh baiklah, terimakasih Jay." Jawab Jack dengan antusias, dia tersenyum manis saking bahagia nya karena besok akan libur.
Hingga beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di tempat yang sudah di sepakati. Kedua nya berjalan dengan langkah tegap, bahkan Jayden terus saja menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam nya.
Terlihat di salah satu meja, seorang pria paruh baya duduk dengan menatap sekitar nya takut-takut. Tatapan pria itu bertemu dengan tatapan tajam Jack, membuat nya langsung menunduk. Tapi seperti nya dia belum melihat siapa yang berjalan di depan Jack, tatapan nya jauh lebih tajam dari pada Jack.
Jack duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan pria itu, dia menyedekapkan tangan nya di dada. Begitu juga dengan Jayden, kedua nya kompak menatap wajah pria itu dengan tajam.
"M-maaf, tuan.."
"Kau tentu tahu, kenapa aku meminta mu untuk datang kemari, bukan?" Jack membuka suara nya. Suara yang berat, datar, yang membuat pria itu ketakutan.
"Siapa nama mu?" Tanya Jack lagi.
"Harry."
"Oke, Harry. Kau pasti tahu jelas dengan apa yang sudah di perbuat oleh salah satu karyawan mu itu bukan?" Tanya Jack, pelan namun terdengar menusuk. Membuat jantung pria itu berdetak lebih kencang dari biasa nya saking takut nya.
"I-iya, Tuan. Maafkan atas perbuatan karyawan saya, Tuan."
"T-tidak, tuan."
"Kau mengenal Jayden? Atau mungkin pernah mendengar nama nya?" Tanya Jack, seketika wajah pria itu menjadi pias seketika.
"Saya pernah mendengar nama nya, tapi tidak pernah melihat wajah nya."
"Siapa Jayden?"
"M-mafia.." Jawab Harry, pria itu menundukkan wajah nya. Dia takut begitu mendengar nama pria yang paling dia hindari, siapa sih yang mau berurusan dengan pria seperti Jayden? Mafia yang terkenal akan ke kejaman nya, semua orang akan berpikir banyak kali untuk mencari gara-gara dengan nya.
"Kau takut dengan nya?"
"Sangat, Tuan. Siapa memang nya yang tidak takut dengan mafia? Apalagi Jayden, dia terkenal kejam dan sadis." Jawab Harry, membuat Jayden yang mendengar hal itu tersenyum kecil.
"Kau tak tahu seperti apa wajah Jayden?"
"T-tidak, sama sekali."
"Selamat, kau salah satu pria yang beruntung bisa melihat wajah nya." Jack tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Hallo, Harry.." Jay membuka suara nya, suara yang berat hingga membuat bulu kuduk Harry meremang seketika.
"D-dia, Jayden?"
"Yes, it's me." Jawab Jayden membuat wajah Harry memucat seketika.
"Tuan, maafkan keteledoran saya, sungguh saya meminta maaf."
"Jangan minta maaf padaku, minta maaf saja padanya karena gadis yang di permalukan oleh karyawan mu itu adalah kekasih Tuan Jayden." Jawab Jack, membuat Harry menganga. Dia benar-benar tidak berekspektasi kalau Jack akan mengatakan hal itu. Jadi, gadis itu adalah kekasih Jayden? Astaga, lalu apa yang akan terjadi padanya setelah ini? Semoga saja esok hari, dia masih bisa menghirup udara bebas.
"T-tuan Jay, saya minta maaf.."
"Minta maaf yang benar!" Suara yang membuat Harry terlonjak kaget, suara nya sangat menakutkan. Suara Jayden terdengar seperti suara malaikat kematian.
"Maaf tuan, ampuni kesalahan saya."
"Tidak semudah itu, setelah apa yang karyawan mu lakukan."
"T-api tuan.."
"Cafe mu aku tutup." Tegas Jayden membuat kedua mata Harry membeliak seketika.
"Tuan, tolong tuan.."
"Jack, kita pulang." Ucap Jayden dengan datar, Jack mengangguk dan kedua pria itu beranjak dari duduk nya.
Harry berlari mengejar kedua nya, dia tidak segan-segan untuk berlutut di depan Jayden untuk meminta keringanan karena ini bukanlah sepenuhnya kesalahan nya.
"Tuan, saya mohon. Ini bukan sepenuhnya kesalahan saya, tuan."
"Lho, Daddy.." Ucap Ayyara, dia sedang berjalan-jalan bersama teman-teman nya. Tak sengaja dia berpapasan dengan pria itu, dia memanggil nya dan membuat pria itu berbalik.
"Baby.."
"Ngapain Daddy disini, ini juga kenapa?" Tanya Ayyara.
"Kamu disini sedang apa?"
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan, Dad. Jawab aku!"
"Kalian, pulanglah. Biar Ayyara dengan saya!" Ucap Jayden pada teman-teman Ayyara. Ketiga nya pun mengiyakan dan berpamitan pada Ayyara.
"Masuk.." Ajak Jayden pada Ayyara, gadis itu pun menurut dan mengekor di belakang Jayden. Meskipun dia heran, ada apa dengan pria itu dan siapa pria yang tadi seperti mengemis pada sang Daddy. Tapi, Ayyara akan segera mengetahui nya sebentar lagi.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻