Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 85 - Cerita Arsen


__ADS_3

Roy melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, Arsen terlihat anteng-anteng saja. Beberapa kali dia melihat ke arah jendela dan tersenyum saat melihat ada banyak objek yang bisa dia lihat di sepanjang perjalanan ke sekolah. 


"Kamu senang, Boy?"


"Tentu, Arsen sangat senang, Om. Dulu Arsen cuma anak jalanan, tapi sekarang ada Mommy dan Daddy yang mewujudkan semua mimpi yang bahkan sudah Arsen kubur sedalam-dalamnya karena Arsen berpikir kalau hari ini takkan pernah datang, Om." Celoteh anak itu panjang lebar. 


Hati Roy terenyuh, pantas saja Ayyara maupun Jayden terlihat sangat menyayangi Arsen, padahal anak ini hanya anak jalanan yang tak sengaja Jayden temukan saat mereka sedang jalan-jalan. 


Dia bertanya-tanya, seistimewa apakah anak bernama Arsen itu dan sekarang dia mengetahui sendiri bagaimana karakter Arsen. Jangankan Jayden atau Ayyara, dia saja langsung menyukai Arsen di pertemuan pertama nya hari ini. Ternyata, Arsen benar-benar anak yang istimewa. Pantas saja Jayden begitu menyayangi nya. 


"Hmm, itulah yang di namakan takdir, Boy. Bahkan sesuatu yang di anggap mustahil juga bisa saja terjadi jika yang di atas sudah bertindak. Jangan putus harapan, Boy." Jelas Roy, membuat Arsen tersenyum kecil lalu menganggukan kepala nya dengan perlahan. Ucapan Roy memang benar, jangan pernah putus harapan. 


"Arsen gak tahu akan seperti apa Arsen sekarang kalau saja hari itu, Arsen tidak bertemu Mommy dan Daddy saat mulung rongsokan."


"Kamu mulung rongsokan, Boy?" Tanya Roy, dia benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan oleh Arsen. Dia hanya tahu kalau Arsen itu adalah anak jalanan, tapi dia tidak tahu kalau anak ini bertahan hidup dengan memulung barang-barang rongsokan.


"Iya, Om. Arsen bertahan hidup dengan mulung barang rongsokan, kalau gak gitu nanti Arsen gak bakalan bisa makan. Itu juga kadang dapet, kadang enggak. Arsen pernah gak makan sampai empat hari karena gak punya uang, sampai pingsan saat mulung, Om." Jelas Arsen membuat Roy merasa tertampar seketika. 


Dia yang sering mengeluh merasa malu dengan kegigihan seorang Arsen yang menahan lapar hingga empat hari lama nya. 

__ADS_1


"Lalu, Arsen makan apa?"


"Hanya minum air, Om. Lumayan lah, meskipun gak cukup." Jawab anak itu membuat Roy menatap anak itu dengan sendu. Sungguh demi apapun, Arsen benar-benar sosok anak yang membuat sosok Roy yang tidak pernah merasakan nyeri di hati nya, kini dia merasakan nya sendiri saat mendengar cerita anak kecil itu. 


Dia hidup sebatang kara, untuk bertahan hidup di memulung barang rongsokan lalu menjual nya, barulah dia bisa makan. Dia malu, benar-benar malu. Dia yang sering mengeluh karena kehidupan nya yang merasa serba kekurangan benar-benar tertampar oleh Arsen. 


"Baiklah, bagaimana kalau nanti sepulang sekolah, Om traktir Arsen makan burger. Arsen mau?" Tanya Roy. 


"Mau sekali, Om. Mau banget." 


"Ya sudah, sekolah yang rajin nanti Om kasih hadiah kalau Arsen dapat nilai bagus. Oke?"


"Tentu saja, Arsen bisa menagih janji Om nanti." Jawab Roy sambil mengusap lembut puncak kepala sang anak. 


"Baiklah, Arsen bakalan nagih janji Om nanti."


"Tentu saja, Boy. Om akan menunggu nya." Jawab Roy. Dia pun tersenyum lalu kembali fokus mengemudikan kendaraan nya. 


Arsen juga merasa nyaman-nyaman saja saat mengobrol bersama Roy, dia pria yang hampir sama dengan Arsen. Hanya saja beda nya, dia mengetahui orang tua dan tinggal bersama orang tua nya, punya tempat tinggal tetap yang di sebut rumah. Kalau Arsen benar-benar hidup sendirian di jalanan. 

__ADS_1


Tapi, Roy juga gak pernah merasakan kasih sayang orang tua nya, karena orang tua nya selalu sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan dirinya. Itulah yang membuat Roy salah jalan dan berakhir menjadi mafia kepercayaan Jayden. 


"Sudah sampai, Boy." Ucap Roy, dia memarkir kendaraan nya di depan sekolah yang besar dan berdiri dengan megah itu. Ini adalah salah satu sekolah terfavorit dengan biaya termahal. 


"I-ini sekolah nya, Om? Arsen sekolah disini, Om?"


"Iya, kenapa memang nya?"


"Ini sekolah nya terlalu besar dan mewah untuk Arsen, Om."


"Tapi Daddy kamu yang mendaftarkan kamu sekolah disini, Boy." Jawab Roy. 


"Justru Arsen suka, Om. Tapi apa ini buaya nya tidak mahal ya? Bukan nya ini.."


"Andai kamu tahu, kalau Daddy kamu itu termasuk ke dalam jajaran orang terkaya di negara ini. Percayalah, uang nya takkan habis tujuh turunan. Mari kita masuk." Ajak Roy, dia pun menggandeng tangan kecil Arsen ke sekolah. Roy membawa Arsen ke ruangan kepala sekolah untuk mendaftarkan nya secara resmi. 


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2