Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 98 - Menjenguk Adik Bayi


__ADS_3

"Boy.." Panggil Jayden pada Arsen, anak laki-laki itu langsung mendekat pada sang ayah yang sudah datang menjemput nya. 


"Kok Daddy yang jemput, Om Roy kemana?" Tanya Arsen, karena biasa nya Roy yang selalu menjemput nya ke sekolah, tapi hari ini sang Daddy yang menjemput nya ke sekolah. 


"Iya, Om Roy nya sakit hari ini."


"Oh, benarkah?" Tanya Arsen dengan wajah polos nya, Jayden mengangguk. Roy terkena luka tembak di lengan nya, jadi dia tidak bisa mengemudi karena tangan nya belum sembuh. Selain itu, ada juga luka sayatan di bagian tubuh lain nya, membuat nya harus beristirahat untuk sementara waktu. 


"Nanti kita jenguk Om Roy ya, Boy?"


"Iya, Dad. Ayo pulang, Mommy pasti udah nunggu kan?"


"Mari, Boy." Jayden membukakan pintu mobil nya untuk Arsen. Anak laki-laki itu pun masuk dan duduk di kursi depan, di samping sang ayah. 


"Dad, apa Daddy tahu kalau orang tua teman-teman ku langsung berteriak heboh saat melihat Daddy tadi?" Tanya Arsen. Tadi dia sendiri mendengar wali murid yang sedang menjemput anak nya masing-masing itu berteriak histeris begitu melihat Jayden turun dari mobil untuk menjemput putra nya.


"Tidak, lagi pula Daddy tidak peduli. Di rumah sudah ada bidadari yang menunggu Daddy, kenapa memang nya, Boy?"


"Tidak kenapa-napa sih, tapi mereka nya aja heboh. Keliatan banget baru liat orang setampan Daddy kayaknya." Jawab Arsen yang membuat Jayden tertawa.


"Iya, Boy. Tapi jangan bilang-bilang ini sama Mommy ya? Nanti Mommy marah, kamu tahu kan gimana posesif nya Mommy sama Daddy?" 


"Oke Daddy.." Jawab Arsen. Dia tahu benar bagaimana pencemburu nya si Mommy pada Daddy nya. Bahkan pria itu pergi sebentar pun, Ayyara selalu meneror suami nya itu dengan pesan dan juga telepon. 


Kadang, Jayden heran kenapa dengan istri nya. Padahal dulu, dia tidak seposesif itu pada nya, tapi semenjak hamil barulah Ayyara seperti itu. Bahkan terkadang Jayden di buat kewalahan sendiri dengan tingkah wanita hamil itu yang selalu berubah-ubah setiap hari nya. Tidak, bukan setiap hari, sikap dan sifat Ayyara bisa berubah dalam hitungan menit saja. 


"Mommy pesen makanan tadi, kita beli dulu ya? Nanti adik bayi nya ileran kalau Mommy ngidam nya gak keturutan."


"Iya, Daddy. Mommy pesen apa memang nya?" Tanya Arsen penasaran.


"Macaroni schotel, Boy."


"Makanan apa itu, Dad?" Tanya Arsen membuat Jayden menatap putra nya lalu tersenyum.


"Nanti Daddy tunjukkan, rasa nya enak kok. Macaroni di kasih keju leleh."


"Terdengar sangat enak ya, Arsen mau juga, boleh?"


"Boleh, tentu saja boleh, Boy." Jawab Jayden sambil mengusap puncak kepala sang putra dengan lembut.


Beberapa menit kemudian, Jayden menghentikan kendaraan nya di sebuah restoran yang menyediakan makanan yang di inginkan sang istri, Jayden memesan beberapa porsi macaroni schotel untuk sang bumil. Karena dia tahu benar kalau nafssu makan istri nya itu benar-benar luar biasa. Dia mana kenyang kalau hanya makan satu porsi.


Tapi, Jayden memaklumi saja. Karena sekarang ini istrinya sedang hamil, jadi otomatis dia makan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi berdua dengan anak yang sedang dia kandung. Apapun yang di inginkan oleh Ayyara, Jayden pasti mengabulkan nya, apapun itu. Selagi dia mampu membelikan nya untuk istri kesayangan nya itu. 


Jadi, jangan heran kalau berat badan Ayyara sekarang ini sudah naik beberapa kilogram, karena ya itu semenjak hamil dia sering makan banyak. Tapi tetap di selingi dengan cemilan yang sehat agar seimbang. Tentu nya, hal itu bukanlah masalah bagi Jayden. Meskipun Ayyara gendut sekali pun, wanita itu tetap cantik di mata nya. 


"Sudah, Boy. Kita pulang?" Ajak Jayden, tapi Arsen seperti nya menginginkan sesuatu, membuat Jayden mengernyitkan kening nya.


"Kami ingin sesuatu?"


"Bolehkah, Daddy?" Balik tanya Arsen dengan wajah berbinar nya. 


"Tentu, apapun itu kamu bisa minta sama Daddy, Boy. Jadi, katakan apa yang kamu inginkan sekarang." 


"Arsen mau es krim, Dad." Ucap Arsen dengan senyuman manis nya.


"Boleh, tapi jangan terlalu banyak makan es krim nya ya? Nanti kamu sakit gigi, oke?"


"Yeee, oke Daddy." Jawab Arsen, dia pun menarik-narik tangan Jayden saling antusias nya. Dia senang, sekarang apapun yang dia inginkan, asal dia mengatakan nya, pasti Jayden akan membelikan nya. 


Tapi, sering kali Arsen merasa malu untuk mengatakan apa yang dia inginkan karena dia tahu benar siapa dirinya. Jayden dan Ayyara juga hanyalah orang asing yang berbaik hati pada nya, jadi dia tidak ingin bertindak sebagai anak yang tidak tahu diri dengan meminta ini itu pada kedua orang tua baru nya.


"Kamu mau es krim rasa apa, Boy?"


"Coklat sama vanilla, Dad." Jawab Arsen dengan senyum manis nya. Jayden pun memesankan es krim untuk putra nya, setelah mendapatkan nya, Jayden membayar lalu kedua nya pun memutuskan untuk pulang sebelum bumil nya bad mood gara-gara makanan nya telat datang. 


"Makan nya sambil kita jalan ke rumah ya, Boy. Nanti Mommy marah-marah kalo makanan nya telat."

__ADS_1


"Okey, Daddy." Jawab Arsen, Jayden pun menggandeng lengan putra nya lalu membawa nya ke mobil dan setelah itu dia melakukan nya dengan kecepatan rata-rata. Pria itu terlihat fokus mengemudi, begitu juga dengan Arsen yang anteng dengan es krim nya. Dia terlihat sangat menyukai es krim nya, hingga memakan nya dengan lahap, bahkan hingga belepotan kemana-mana. 


"Boy, pelan-pelan makan nya. Lap dulu pakai tissu, nanti ketahuan Mommy kalo kamu habis makan es krim, Daddy yang di marahin." 


"Hehe, iya Daddy." Jawab Arsen, dia pun dengan cepat menghabiskan es krim di tangan nya, lalu mengelap sudut bibir nya dengan menggunakan tissu. 


"Oke, sudah bersih." 


Kedua nya pun turun dari mobil dan berjalan dengan tangan yang saling bertautan. Tadi nya, Jayden berencana untuk membuat surat adopsi, tapi ternyata Roy sakit jadi dia mengurungkan niat nya itu dan meminta Arka mewakilkan dirinya. Sedangkan dia harus menjemput putra nya ke sekolah. 


"Mom, Daddy pulang.." panggil Jayden, membuat Ayyara yang sedang beres-beres di kamar Arsen langsung keluar dengan wajah semringah nya. Sedari tadi, dia sudah membayangkan enak nya macaroni schotel yang penuh keju dan creamy oleh susu dan krim. Membayangkan nya saja, membuat iler nya hampir menetes.


"Mana pesenan Mommy, Dad?" Tanya Ayyara langsung.


"Ini, Mom." Jawab Jayden, wanita itu pun merebut kresek berisi beberapa kotak berisi makanan yang di inginkan oleh Ayyara.


"Sisain buat Arsen, Mom. Dia mau nyobain katanya."


"Oke, Daddy. Terimakasih."


"Hmmm, sama-sama." Jawab Jayden, Ayyara pun memeluk suami nya lalu mengecup wajah pria itu berkali-kali dengan mesra. 


'Giliran di sogok makanan aja, baru cium-cium gini. Kalau enggak di kasih, pasti bawaan nya kesel aja.' Batin Jayden. Dia menggelengkan kepala nya sambil melihat punggung istri nya yang sudah menghilang di balik pintu dapur, di ikuti oleh Arsen di belakang nya. 


Jayden mengikuti istri nya juga ke dapur, dia melihat kedua nya sedang makan dengan lahap. 


"Enak, Boy?"


"Enak sekali, Daddy." Jawab Arsen sambil menyuap macaroni nya dengan lahap, bahkan suapan nya terlihat sangat besar. 


"Makan yang banyak kalau begitu." Ucap Jayden, dia membuka kulkas dan membawa pudding buah yang di buat Ayyara. Sejak Ayyara hamil, dia juga lebih suka makan buah karena istri nya banyak memakan buah agar kandungan nya sehat.


"Daddy.."


"Yes, Mommy. Why?" Tanya Jayden pada sang istri.


"Of course, Mommy." Jawab Jayden sambil tersenyum.


"Tapi, Mom.."


"Kenapa, Boy?" Tanya Ayyara sambil menatap putra nya.


"Arsen mau ikut lihatin adik bayi, apa boleh?"


"Tentu, Boy. Kamu boleh ikut, kita berangkat setelah jemput kamu sekolah ya?" Ucap Jayden.


"Benarkah, Arsen boleh ikut Daddy sama Mommy?"


"Ya, tentu saja, Boy. Kita jengukin adik bayi bareng-bareng ya besok." Jayden tersenyum menatap putra nya yang sedang mengunyah itu dengan senyuman simpul nya. 


"Harus nya kamu gak perlu izin seperti itu, Boy. Kamu boleh ikut kemana pun Daddy sama Mommy pergi." Ayyara mengacak rambut Arsen dengan gemas, dia juga mengecupi pipi tembem anak itu. 


"Uhhh, pipi nya gemesin banget. Bikin Mommy gemes deh." Ucap Ayyara sambil kembali mengunyel-unyel pipi Arsen. 


"Astaga Mommy, udah dong kasian Arsen nya kesakitan itu." 


"Eehh, hehe maafin Mommy ya, Boy.." 


"Iya gapapa kok, Mom." Jawab Arsen, padahal pipi nya memerah karena ulah Ayyara yang gemas melihat Arsen. 


"Ututu, pipi nya merah.." Lagi-lagi, Ayyara gemas sendiri melihat putra nya, tapi sekarang dia melampiaskan nya dengan cara mencium nya. 


Jayden yang melihat itu menggelengkan kepala nya. Ada-ada saja tingkah istri nya itu, dia selalu saja gemas dengan Arsen dan yang selalu jadi sasaran rasa gemas nya adalah kedua pipi Arsen. Kalau tidak di cubit, di unyel-unyel, di gigit ya pasti di cium. Untung nya, Arsen selalu sabar dan tidak marah saat Mommy nya sedang dalam mode gemas itu. Kesabaran Arsen memang setebal dompet Jayden, dia juga harus maklum kalau Mommy nya selalu gemas padanya. 


Keesokan hari nya, Jayden kembali menjemput Arsen ke sekolah. Tapi kali ini dia datang bersama Ayyara, wanita hamil itu berdiri di samping Jayden dengan menggandeng lengan nya dengan mesra. Begitu bel pulang berbunyi, semua murid menghambur keluar dari kelas nya masing-masing, termasuk Arsen. Tapi dia berjalan santai saja, tidak berlari-larian. 


"Sayang.." Ayyara melambaikan tangan nya begitu melihat Arsen yang celingukan, mungkin anak itu mencari keberadaan nya. Setelah melihat nya, barulah Arsen berjalan cepat menghampiri kedua orang tua nya dan langsung memeluk Mommy nya.

__ADS_1


"Mommy.." 


"Bagaimana sekolah mu hari ini, Boy?"


"Lancar dan aman, Mom. Arsen belajar dengan baik kok, Mom."


"Baguslah, sayang. Ayo kita berangkat sekarang." Ajak Ayyara sambil beranjak dari berlutut nya, tadi dia berlutut untuk menyamakan tinggi badan nya dengan Arsen.


"Ayo, Mom. Arsen gak sabar pengen lihat adik bayi di perut Mommy." Jawab Arsen sambil tersenyum. Dia menarik-narik tangan Mommy nya ke mobil, dia benar-benar antusias ingin melihat adik bayi yang ada di dalam kandungan Mommy nya.


"Jangan di tarik-tarik gitu dong tangan Mommy nya, Boy."


"Hehe, maaf Daddy.." 


"Gapapa, ayo masuk kita pergi sekarang." Ucap Ayyara. Arsen pun mengangguk dan masuk ke dalam mobil, di susul oleh Ayyara dan juga Jayden. Pria itu yang mengemudikan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan rata-rata menjauhi sekolah tempat putra nya menimba ilmu.


Setengah jam kemudian, Jayden pun sampai di rumah sakit tempat dia dan istri nya selalu melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan nya dengan dokter yang terpercaya. 


"Sudah sampai, Boy." Arsen pun turun lebih dulu dan langsung menggenggam tangan Ayyara dengan erat. 


Tak lama kemudian, Jayden juga menggenggam sebelah tangan Arsen. Anak itu berada di tengah-tengah antara Jayden dan Ayyara. Anak itu tersenyum manis, inilah yang selama ini dia mimpikan. Mempunyai keluarga yang lengkap seperti ini sangat membahagiakan.


Dulu, dia hanya bisa melihat anak-anak yang beruntung karena mereka bersama orang tua nya, di berikan kasih sayang yang berlimpah, tapi dirinya? Kehadiran nya bahkan tidak di harapkan, itulah alasan nya kenapa orang tua nya membuang nya ke jalanan kan? Hingga dirinya menjadi gelandangan seperti saat ini.


Tapi sekarang? Dia sangat bersyukur karena hari itu dia bertemu dengan Jayden dan Ayyara secara tidak sengaja. Kedua orang yang sangat berbaik hati mengadopsi nya sekarang, dia sangat bahagia saat ini bersama dengan kedua orang tua baru nya. 


"Selamat siang, dok." Sapa Ayyara sambil tersenyum kecil. Dia pun masuk bersama Jayden dan sang putra. 


"Siang, Nona, Tuan. Ehh, ada anak tampan? Ini siapa?" Tanya dokter itu dengan ramah. Tapi Arsen malah menyembunyikan wajah nya di perut Ayyara. 


"Sayang, tidak apa-apa. Bu dokter tuh, pengen kenalan sama kamu." Ucap Ayyara.


"Dia anak pertama kami, Dok." Jawab Jayden sambil tersenyum.


"Wah, tampan sekali. Siapa nama nya?"


"Arsenio Aryan Wiratama, Dok." Jawab Ayyara sambil tersenyum manis, tangan wanita hamil itu terus mengusap puncak kepala Arsen. Dia memang sering terlihat ketakutan saat pergi ke tempat-tempat baru dan juga bertemu dengan orang baru, mungkin karena belum terbiasa.


"Baiklah, selamat datang Arsen." Ucap dokter itu lagi. Pasangan suami istri itu pun duduk, tentu nya dengan Arsen yang memilih duduk di pangkuan Jayden, karena hanya ada dua kursi disini. 


"Ada keluhan apa, Nyonya?"


"Tidak ada, dok. Hanya ingin melakukan pemeriksaan rutin saja."


"Baiklah, ingin di USG?"


"Iya, dok." Jawab Ayyara. Dokter itu pun tersenyum lalu beranjak dari duduk nya, begitu pula dengan Ayyara. Dia berbaring di atas brankar dengan di bantu oleh Jayden. Saat dokter itu akan menyibak pakaian yang di kenakan Ayyara, Arsen langsung menutup nya kembali.


"Boy.."


"Arsen gak suka adik bayi di lihat sama orang lain, Dad."


"Tidak apa, ini memang sudah prosedur nya." Jelas Jayden dengan lembut, akhirnya Arsen pun membiarkan dokter itu menyibak kembali pakaian yang di kenakan oleh Mommy nya dan mengoleskan gel di sana. 


"Pertumbuhan nya sangat baik, ini adalah putra anda. Dia laki-laki dan berat nya saat ini sudah sangat ideal, 800 gram." Ucap dokter itu sambil tersenyum kecil.


"Laki-laki? Wah, dia akan jadi teman Arsen main bola nanti." Ucap Arsen sambil tersenyum kecil. Jayden terkekeh, ya dia akan memiliki dua jagoan, putra laki-laki yang akan menjadi pewaris perusahaan nya nanti. 


Pewaris perusahaan saja kah? Ya, karena dia bertekad tidak akan membuat putra-putra nya mengikuti jejak nya menjadi seorang mafia. Dia ingin kedua putra nya bisa hidup normal layaknya orang biasa, tidak di kejar-kejar oleh musuh dan berurusan dengan dunia hitam kelak nanti. 


"Iya, Boy. Dia akan menjadi teman mu bermain bola nanti."


"Arsen gak sabar pengen cepet-cepet ketemu sama adik bayi, dia bakalan mirip seperti Arsen kan, Dad?" Tanya Arsen membuat Jayden menganggukan kepala nya lalu mengusap puncak rambut anak laki-laki nya itu dengan lembut. Rasa sayang nya pada Arsen, benar-benar tumbuh seiring berjalan nya waktu. 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2