
Beberapa bulan berlalu, hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Jayden maupun Ayyara. Pagi tadi, Ayyara merasakan perut nya sangat sakit namun karena dia tidak ingin membuat Arsen dan suami nya khawatir, jadi dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Jadi, Arsen pergi ke sekolah bersama Roy dan Jayden pergi ke kantor bersama Jack. Di rumah, ada Arka dan Bima juga Ansel yang berjaga di luar rumah untuk menjaga keamanan sang nyonya muda kesayangan King Jayden Wiratama.
Ansel memutuskan untuk bergabung dengan Jayden, ternyata dia masih ingin hidup dan menikmati dunia nya. Masih ada banyak hal yang belum pernah dia nikmati, jadi dia akan menikmati nya sekarang meskipun dia harus terbelenggu dengan perintah-perintah dari Jayden yang kadang ketat nya gak ngotak.
Sering kali Ansel di buat kesal setengah mati pada Jayden karena dia meminta nya melajukan ini itu dengan waktu yang berdekatan. Padahal disana tidak hanya ada dirinya saja, tapi banyak anak buah Jayden yang lain. Mungkin ini adalah tes dari Jayden untuk memberikan pelajaran untuk Ansel.
Sampai sekarang, dia masih belum bisa mengakrabkan diri dengan orang-orang Jayden. Terutama Jack, pria itu benar-benar berwatak keras. Berbeda dengan Arka dan Bima yang terlihat lebih ramah jika di bandingkan dengan Jack, tapi tetap saja dia masih belum seakrab itu dengan kedua nya. Hanya dengan Roy saja dia bicara, pria itu sedikit lebih manusiawi.
"Aawwhhss, kenapa perut ku semakin terasa sakit seperti ini ya?" Gumam Ayyara sambil mengusap-usap perut nya yang membuncit besar karena usia kandungan nya yang sudah menginjak usia sembilan bulan.
"Ayya, kamu kenapa, sayang?" Tanya Agnes. Dia berada disini untuk menemani Ayyara, atas permintaan Jayden sendiri. Dia khawatir kalau sewaktu-waktu Ayyara akan mengalami kontraksi disaat dirinya sedang pergi bekerja dan ke khawatiran Jayden itu benar-benar terjadi sekarang. Ayyara mengalami kontraksi disaat dirinya, Jack dan yang lain nya tak berada di rumah.
"Perut Ayya sakit, Ma.."
"Apa kamu mau melahirkan, sayang?" Tanya Agnes, dia meraba pinggang Ayyara, terasa panas sekali. Dia yakin kalau ini bukanlah kontraksi palsu, tapi ini benar-benar kontraksi sungguhan.
"Tenang dulu, Ayya. Mama mau panggil Arka dulu ke depan sebentar ya, kita harus ke rumah sakit." Ucap Agnes.
"Tapi perkiraan USG masih seminggu lagi, Ma."
"Itu tidak bisa menjadi tolak ukur kapan kamu akan melahirkan, Ayya." Ucap Agnes, dia pun segera berlari keluar untuk memanggil Arka.
"Arkaa.." panggil Agnes, orang yang di panggil pun segera mendekat.
"Iya, ada apa?"
"Tolong siapkan mobil sekarang juga dan bantu aku, cepat!"
"Ada apa memang nya?"
"Bisa gak kamu gak banyak tanya, cepatlah keburu Ayyara melahirkan disini." Jawab Agnes membuat kedua mata Arka membulat sempurna.
"Bim, siapin mobil. Gue ke dalam dulu, cepatan!" Bima mengangguk dan langsung menyiapkan mobil nya. Ansel juga ikut masuk bersama Arka, barangkali pria itu membutuhkan bantuan kan.
__ADS_1
"Astaga, Nyonya.." Ucap Arka, dia melihat kalau Ayyara sudah terduduk di sofa dengan kaki yang sudah basah terkena cairan yang bercampur dengan daraah segar.
"Cepat bawa Ayyara ke mobil, aku akan membawa tas berisi perlengkapan." Ucap Agnes, Arka pun mengangguk dia membopong tubuh berisi Ayyara di bantu oleh Ansel. Suasana nya saat ini benar-benar membuat panik, bagaimana tidak? Padahal tadi Ayyara terlihat baik-baik saja, tapi hanya berselang beberapa jam saja dia kontraksi dan sekarang akan melahirkan.
"Aaassshhh, sa-kit.."
"Sabar, Nyonya. Tarik nafas, hembuskan." Ucap Arka mencoba untuk tenang, padahal sejujurnya dia sudah sangat panik sekarang ini. Dia memang mafia, berurusan dengan senjata atau darah itu sudah biasa bagi nya. Tapi menangani wanita yang mengerang kesakitan karena akan melahirkan, itu bukanlah keahlian nya. Jujur saja, sekarang perut nya malah terasa ikutan mules juga.
"Sel, gantiin dulu jaga nyonya bos. Gue kebelet bentar." Ucap Arka pada Ansel, membuat pria itu melongo.
"Woy, anjir! Gue takut sendirian jagain orang kontraksi." Teriak Ansel tapi Arka sudah berlari terbirit-birit pergi ke kamar mandi.
"Ansel, sakit.."
"Sabar-sabar, nyonya bos. Aduh, saya gak tahu harus ngapain ini.."
"Aaaaa.."
"Sakit, Nyonya.." teriak Ansel saat tiba-tiba saja Ayyara menjambak rambut nya dengan keras untuk melampiaskan rasa sakit yang sedang dia rasakan.
"Nyonya, aisshh baju saya robek ini." Gumam Ansel. Tak lama kemudian, Agnes keluar dari dalam rumah dengan menenteng tas besar berisi peralatan bayi dan ibu nya selama di rumah sakit nanti.
"Ayo berangkat.."
"Nunggu Arka dulu kan?" Tanya Ansel, sebenarnya dia bisa saja mengemudikan kendaraan itu, tapi dia khawatir pada Arka.
"Arka nya kemana?"
"Berak." Jawab Ansel dengan acuh.
"Astaga, berak kok sekarang sih. Kenapa gak nanti aja?"
"Ya mana saya tahu.." Gumam Ansel sambil mengusap-usap kepala nya yang terasa sakit karena di jambak sekuat tenaga oleh istri atasan nya itu. Ingin sekali dia marah hingga menimpuk Ayyara kalau saja dia bukan istri Jayden. Tapi, bisa-bisa pria itu akan menebas kepala nya tanpa basa basi kalah dia sampai melakukan hal itu.
"Itu omong-omong kamu kelihatan kayak gembel gitu, rambut berantakan, baju robek disana sini, kenapa?"
__ADS_1
"Ulah bumil, kita berangkat sekarang saja ya? Saya khawatir ini dedek bayi nya keburu brojol di mobil."
"Iya, gue setuju sama Lu, Sel. Biarin aja si Arka nyusul nanti." Jelas Bima. Mereka pun berangkat dengan mobil. Agnes duduk di samping Ayyara, dia menguatkan putri nya itu, dia tahu benar kalau rasa sakit kontraksi itu memang sangat menyakitkan. Saking sakit nya, seluruh tulang dan urat-urat saraf di tubuh nya terasa lepas semua.
"Aaarghhh, sakit.."
"Sabar, sayang.." ucap Agnes, dia terus mengusap-usap perut Ayyara yang terasa semakin panas karena rasa sakit nya.
Selang setengah jam kemudian, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Bima dan Ansel langsung membawa Ayyara ke brankar dan membiarkan wanita itu di tangani di dalam.
"Tolong hubungi Jayden, juga Roy agar membawa Arsen kesini."
"Baik." Jawab Bima. Pria itu pun langsung menghubungi Jayden atas perintah mama mertua pria itu, dia juga harus tahu tentang hal ini bukan? Mengingat anak yang sedang di kandung Ayyara adalah anak mereka berdua.
Di kantor, entah kenapa sejak tadi berangkat bekerja dari rumah, Jayden merasa sesuatu yang tidak enak menyerang hati nya. Dia khawatir, benar-benar khawatir hingga tidak bisa fokus bekerja. Pikiran nya terbagi kesana kemari, dia mengkhawatirkan istri dan juga anak nya. Apakah mereka baik-baik saja?
Tak lama kemudian, ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja itu berbunyi dengan nyaring nya. Jayden mengambil nya dan melihat kalau Bima lah yang sedang menghubungi nya.
"Hallo, ada apa, Bim?"
'Tuan, bisakah anda ke rumah sakit sekarang? Nyonya Ayyara akan melahirkan.' Jelas Bima, membuat kedua mata Jayden membeliak.
"A-apa? Jangan bercanda, Bima. Tadi pagi istri ku baik-baik saja, bagaimana bisa dia akan melahirkan sekarang?"
'Mana saya tahu, Tuan. Tapi kalau bisa, secepatnya datang karena Nyonya Ayyara sangat membutuhkan kehadiran anda.'
"Ya, aku akan kesana sekarang." Putus Jayden, dia pun langsung mematikan sambungan telepon nya. Pria itu beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi, bertepatan dengan itu, Jack juga bersiap masuk ke ruangan Jayden untuk memberikan file-file berkas penting yang harus di tinjau secara langsung oleh Jayden sendiri. Karena ada beberapa hal yang harus di tinjau.
"Mau kemana, Jay?"
"Istriku akan melahirkan sekarang, kau ikut dengan ku!"
"H-aahh, oke-oke." Jawab Jack, dia pun mengekor di belakang Jayden dengan langkah cepat nya.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻