
Keesokan hari nya, Ayyara merasa sangat lemas, tubuh nya terasa tak bertenaga. Dia juga merasa tidak enak di sekitaran perut nya, terasa ada yang mengaduk-aduk nya hingga membuat nya mual.
"Aduhh, aku kenapa ya? Kok lemes gini, mual lagi." Gumam Ayyara sambil memegangi perut nya yang terasa sedikit panas. Entahlah, ada apa dengan tubuh nya? Sakit sih tidak sama sekali, tapi lemas seolah tubuh nya tidak bertulang.
"Hueekk.."
Ayyara berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perut nya di wastafel, gadis itu meringis saat merasakan tenggorokan nya yang terasa pahit. Gadis itu bersandar di dinding kamar mandi, sungguh dia tidak mengerti dengan kondisi tubuh nya saat ini.
Baru saja beberapa menit berlalu, tapi Ayyara kembali merasa mual dan akhirnya dia kembali muntah. Setelah merasa lebih baik, gadis itu mencuci mulut nya dengan air mengalir, lalu mencuci wajah nya juga sekalian.
"Wajah ku pucat seperti mayat hidup.." Gumam gadis itu sambil meraba-rabaa wajah nya, benar saja dia terlihat sangat pucat.
Ayyara pun kembali ke kamar sambil memegangi perut nya, sebelum muntah saja dia sudah merasa sangat lemas, apalagi sekarang? Setelah isi perut nya terkuras habis, yang dia butuhkan saat ini hanya beristirahat.
"Sebaiknya aku tidur saja." Gumam nya, dia pun kembali membaringkan tubuh nya di atas kasur, menarik selimut untuk menyelimuti tubuh nya dan memejamkan mata nya dengan perlahan. Tapi, baru saja dia akan tidur, suara ponsel berdering dengan nyaring membuat gadis itu kembali terjaga. Bahkan rasa kantuk yang sempat dia rasakan, kini hilang tak bersisa.
Ayyara meraih ponsel nya yang dia simpan di atas nakas, gadis itu melihat kalau panggilan video dan Jayden lah yang menghubungi nya. Ayyara menghembuskan nafas nya, lalu dengan cepat mengoleskan liptint di bibir nya agar pria itu tidak curiga kalau dirinya sedang tidak enak badan.
Tanpa ragu, Ayyara menggeser ikon berwarna hijau, gadis itu menyapa dengan senyuman hangat nya di pagi hari yang cukup cerah ini.
"Hallo, Daddy.." Sapa gadis itu, dia berusaha sekuat mungkin untuk terlihat baik-baik saja. Jelas itu tidak mudah, karena dia harus menahan mati-matian rasa mual yang terasa mengaduk-aduk perut nya.
'Hey, Baby. Sedang apa hmm?' Tanya Jayden dengan senyuman nya, terlihat jelas kalau pria itu sedang bersantai di balkon apartement nya, Ayyara tahu benar tempat sang Daddy duduk sekarang. Jayden nampak sangat seksii, pria matang itu hanya menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuh polos nya yang baru saja dia guyur dengan air dingin.
Ya, pria itu baru pulang dari markas. Semalaman dia berada di tempat gelap, dingin dan sunyi itu bersama Jack untuk membicarakan tentang bagaimana ke depan nya antara dirinya dengan Ayyara. Solusi nya, hanyalah menikahi gadis itu dan membawa nya ikut serta bersama nya kemana pun.
Tapi, yang Jayden khawatirkan adalah gadis itu masih memiliki kedua orang tua. Bagaimana kalau musuh malah banting stir dan mengganti target mereka? Target awal adalah Ayyara untuk melumpuhkan hati nya, kalau gadis itu selalu bersama nya, maka bagaimana dengan orang tua nya? Dia tidak ingin membuat Ayyara merasakan sakit nya kehilangan, lagi pula kedua orang tua nya tidak bersalah apapun. Tapi, bukankah musuh tidak pandang bulu? Mereka menyerang di titik sensitif.
"Baru saja bangun, Dad. Daddy sedang apa?" Tanya balik gadis itu, dia menutup mulut nya saat rasa mual kembali menyerang nya. Sebisa mungkin dia ingin menyembunyikan pada Jayden dan menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Dia tak mau membuat pria itu khawatir.
'Daddy baru selesai mandi, semalam Daddy tidak pulang.'
"Kenapa Dad?" Tanya gadis itu dengan nada khawatir. Jayden tidak pulang ke apartemen, lalu kemana pria itu dan dimana dia semalaman suntuk? Itulah yang menjadi pertanyaan Ayyara saat ini.
'Ada sedikit pekerjaan dan memberi hukuman pada cecunguk kecil, sayang.'
"Cecunguk? Jangan bilang kalau itu Rendy, dad?"
'Kalau iya, memang nya kamu mau apa hmm?' Tanya Jayden membuat Ayyara gelagapan sendiri. Dia paham benar, memang kalau pria itu sudah sangat menyakiti nya, tapi hukuman apa yang di berikan oleh Jayden? Hukuman apapun, pasti itu berat dan Ayyara yakin akan hal itu karena dia tahu siapa Jayden dan seperti apa pria itu kalau ada yang berani mengusik kehidupan nya.
"Daddy apakan Rendy?" Tanya Ayyara, wajah nya terlihat sangat khawatir. Apakah Rendy sudah hanya tinggal nama saja?
'Hanya melepas salah satu anggota tubuh nya, baby.' Jawab Jayden dengan santai, seolah apa yang dia katakan itu bukanlah beban sama sekali.
Ayyara membulatkan mata nya, dia benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan oleh Jayden.
"H-hanya, Dad?"
'Yes, baby. Why? You look surprised.' Tanya Jayden, bahkan pria itu sempat-sempatnya terkekeh di saat begini, disaat Ayyara masih terlihat shock dengan apa yang di katakan oleh pria itu.
"Daddy, are you serius?" Tanya gadis itu.
'My face look's like i'm joking, baby?'
"No.." Lirih Ayyara, artinya dia benar-benar sudah menghukum Rendy sesuai dengan perbuatan nya mungkin.
'Daddy belum membunuh nya, sayang. Tapi, dia ada bersama Daddy. Tubuh nya sudah tidak sempurna.'
"Dad, aku takut.." Lirih Ayyara, membuat Jayden terlihat keheranan.
'Why are you scared, honey? What happen?' Tanya pria itu.
"Daddy sangat mengerikan."
__ADS_1
'Hahaha, aku begini pada musuh. Tapi, aku tidak akan menunjukkan nya pada orang yang Daddy sayangi.' Jelas Jayden.
"Entahlah, Dad. Tapi sekarang, tiba-tiba saja aku merasa takut."
'Daddy tidak akan melukai mu, percayalah.'
"Bagaimana bisa aku percaya pada Daddy? Sedangkan, Daddy terlihat sangat menakutkan seperti ini." Tanya Ayyara membuat Jayden terkejut.
'Hey, Baby. Trust me, Daddy tidak akan pernah menyakiti atau bahkan melukai mu. Daddy melakukan ini juga demi keamanan dan keselamatan mu, Daddy memberikan nya hukuman setimpal berdasarkan dengan apa yang sudah dia perbuat.' Jelas Jayden panjang lebar.
"Apa dengan cara seperti ini, Dad? Apakah tidak ada cara lain selain dengan ke kerasan?" Tanya Ayyara lagi. Entahlah, dia tahu kenapa Jayden melakukan hal itu, tapi otak nya tidak mau bekerja sama.
'Baby..'
"Aku lemas, Dad. Aku ingin beristirahat, silahkan apapun yang ingin Daddy lakukan." Ucap Ayyara, dia pun mematikan sambungan telepon nya. Ayyara melempar ponsel nya ke atas kasur, dia juga ikut membaringkan kembali tubuh nya yang terasa lemas itu di atas ranjang.
'Rendy, maafkan aku. Semua nya gara-gara aku, andai saja aku tidak bermain curang, pasti semua ini takkan terjadi.' Batin Ayyara.
Tapi, ini semua bukanlah sepenuh nya kesalahan Ayyara. Tapi letak kesalahan nya ada di dalam hati Rendy, dia memiliki dendam yang sudah membutakan hati nya. Ayyara saja tidak menyangka kalau pria yang selama ini dia kenal, kini menjelma menjadi pria yang menakutkan. Tapi, pria yang dia cintai juga tidak kalah menakutkan nya. Bahkan dia bisa disebut sebagai pembunuh, meskipun Ayyara belum pernah melihat secara langsung kalau Jayden membunuh orang.
Dia adalah mafia, sudah pasti kalau dia punya pekerjaan sampingan selain bisnis yang dia jalankan, pasti ada bisnis lain di dunia mafia. Tapi, Ayyara tidak ingin mengetahui nya. Dia tidak ingin banyak tahu tentang dunia hitam itu, cukup saja sekedar dia tahu kalau Jayden adalah mafia.
Ayyara memejamkan kedua mata nya, dia pun bisa tertidur dalam hitungan detik. Seperti nya dia kelelahan setelah muntah-muntah.
Sore harinya, gadis itu terbangun karena merasakan perut nya yang keroncongan. Dia lapar, karena semua yang dia makan kemarin sudah di kuras habis. Gadis itu pun keluar dari kamar, dia tidak melihat siapapun di ruang tamu kecuali art yang berlalu lalang, terlihat kalau mereka tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Tapi, yang membuat Ayyara heran. Ada acara apa disini? Sehingga membuat semua art sibuk. Gadis itu menghentikan seorang maid yang tak sengaja melintas di depan nya.
"Ada apa ya, Bi?"
"Nona, akan di adakan acara makan malam bersama di rumah ini nanti malam."
"Makan malam bersama, tapi dengan siapa?" Tanya Ayyara dengan kening yang mengernyit heran.
"Ohh, ya sudah kalau begitu. Terimakasih ya, Bi."
"Sama-sama, Nona." Jawab Ayyara, gadis itu pun tak mau di sibukkan dengan memikirkan hal yang tidak penting. Dia hanya ingin ke dapur dan mengisi perut nya yang kosong melompong.
Ayyara duduk di kursi yang kosong, dengan sigap maid langsung melayani nya. Kedua mata gadis itu berbinar saat melihat banyak makanan kesukaan nya, dia sangat senang dan akhirnya dia bisa makan dengan lahap.
Tapi, sayang sekali itu hanya angan-angan semata. Nyata nya, Ayyara tidak memakan nasi dan lauk yang sudah dia ambil. Gadis itu hanya mengaduk-aduk nya tanpa berniat memakan nya sama sekali, nafssu makan nya seketika hilang. Mulut nya terasa sangat pahit, tapi perut nya benar-benar lapar.
Ayyara pun memaksakan, tapi dia malah mual dan akhirnya muntah-muntah lagi. Gadis itu kembali memuntahkan semua isi perut nya, tapi kali ini yang keluar hanya cairan berwarna kekuningan, karena perut nya sudah kosong. Jadi, tidak ada yang bisa dia muntahkan lagi.
"Bi, buang aja makanan nya."
"Lho, kenapa Nona? Ini semua adalah makanan kesukaan anda, Nyonya besar sendiri yang memasak nya." Jawab salah satu maid yang sedari tadi melayani nya.
"Ayya gak mau, Bi. Mual sekali rasa nya, Ayya mau makan buah aja."
"Baik Non, akan bibi kupaskan." Jawab nya, wanita paruh baya itu pun mengambil berbagai jenis buah dari kulkas dan mulai mengupaskan nya untuk Ayyara. Selain mengupas nya, mereka juga memotong-motong nya menjadi seukuran gigitan lalu menyimpan nya ke dalam piring.
"Ini, Non."
"Terimakasih ya, Bi. Maaf sudah merepotkan.."
"Tidak, Nona. Sama sekali tidak, ini sudah tugas kami untuk melayani anda." Ayyara hanya melempar senyuman kecil nya, setelah itu dia mencoba untuk memakan buah nya. Berhasil, kalau makan buah dia tidak merasakan mual sama sekali.
"Seperti nya, aku hanya bisa makan buah saja agar perut ku terisi." Gumam gadis itu sambil menyuapkan sepotong buah melon ke dalam mulut nya dan mengunyah nya dengan perlahan.
"Nona, ada buah stroberi ternyata." Maid memberikan tambahan variasi buah nya.
"Makasih, Bi. Omong-omong, mama sama papa kemana ya?"
__ADS_1
"Tadi katanya mau pergi sebentar, mereka mengatakan akan pulang sebelum sore hari." Jelas nya, tapi saat ini saja sudah sore kan? Bahkan hampir petang. Lalu, siapa yang akan makan malam bersama kalau tuan rumah nya gak ada disini sama sekali?
"Yaudah, Bi. Makasih ya."
"Sama-sama, Nona." Jawab nya, dia pun langsung pamit undur diri. Gadis itu pun kembali memakan buah nya dan mengunyah nya dengan perlahan.
Sedangkan di lain tempat, kedua pasangan itu tengah memilih sesuatu. Ya, kedua nya pergi bersama saat ini. Hubungan mereka juga membaik saat ini, David benar-benar berubah. Dia tidak lagi banyak berkata kasar apalagi sampai melakukan ke kerasan. Dia juga lebih bisa mengontrol emosi nya. Singkat nya, David benar-benar berubah menjadi sosok yang lebih baik sekarang ini. Bukankah itu suatu hal yang bagus?
"Beli yang ini, Mas?" Tanya Agnes. David tersenyum lalu menganggukan kepala nya, dia menyukai gaun berwarna biru yang akan di gunakan oleh putri nya.
"Iya, sayang."
"Ya sudah." Jawab Agnes, dia pun mengambil gaun itu dan segera membayar nya.
Setelah selesai dengan pembayaran, David dan Agnes pun memutuskan untuk pulang. Kedua nya menaiki sebuah mobil dengan David yang mengemudikan mobil nya sendiri. Tapi seperti nya, ada pihak musuh yang mengetahui kalau di dalam sana ada pasangan suami istri yang di rasa ada hubungan nya dengan Jayden atau Ayyara.
"Mas.." Panggil Agnes saat melihat ada banyak motor dengan pengendara nya yang mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan masker dan helm full face. David yang juga mengetahui hal itu, langsung menginjak gas dengan kuat, hingga mobil yang di kendarai nya melesat dengan cepat.
"Siapkan semua nya, sayang."
"Ya, Mas." Jawab Agnes, dia mengambil sesuatu dari dashboard mobil nya dan membuka sedikit kaca mobil. Dia mengeluarkan senjata dan hanya dalam satu bidikan saja, dia berhasil menumbangkan pengendara motor itu.
Dalam sekejap, wanita itu telah menumbangkan semua yang sudah mengikuti nya, membuat mayat berserakan di jalan. Kedua nya tidak peduli dan tetap melaju. Tapi, David menghubungi seseorang melalui headset yang dia gunakan di telinga sedari tadi.
"Kami di ikuti, tapi sejauh ini kita masih bisa menangani nya."
'Ya, tetap berhati-hati.' Jawab seorang pria yang langsung di angguki dengan cepat oleh David. Dia pun kembali fokus mengemudikan kendaraan nya, dan beberapa saat kemudian, kedua nya pun sampai di rumah.
"Simpan senjata nya dengan aman, sayang."
"Baik, Mas." Jawab Agnes, dia pun membuka jok mobil dan menyembunyikan senjata api nya di bawah sana.
Setelah merasa aman, mereka pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah dengan tangan yang saling bertautan mesra layak nya pasangan suami istri yang romantis, seolah tidak terjadi ada apa-apa baru saja.
"Sayang.."
"Iya, Ma.." jawab Ayyara, dia tersenyum menyambut kedatangan kedua orang tua nya.
"Ini, mama membeli gaun yang cantik untuk mu. Warna biru, seperti warna kesukaan mu."
"Wah terimakasih, Ma."
"Sama-sama, sayang." Jawab Agnes.
"Ma, kata maid tadi katanya akan ada acara makan malam bersama ya?"
"Iya, sayang. Akan ada pria yang datang melamar mu nanti." Jelas Agnes, yang membuat Ayyara terhenyak. Dia yang sedang memakan buah semangka langsung tersedak begitu mendengar hal itu.
"M-melamar, Ma?"
"Iya, sayang." Jawab David sambil tersenyum manis.
"Siapa pria itu, Ma? Gak mungkin Rendy kan?"
"Tentu saja tidak, Rendy terlalu brengsek untuk mu, sayang." Jawab David sedikit ketus, lagi-lagi membuat Ayyara terkejut.
"Lalu?"
"Nanti, kamu akan mengetahui nya sendiri. Sekarang, kalau sudah selesai makan buah nya, kamu siap-siap ya. Tampil yang cantik biar dia klepek-klepek sama kamu." Celetuk Agnes sambil terkekeh, sedangkan Ayyara hanya tersenyum terpaksa. Ada pria yang akan melamar nya nanti malam, lalu bagaimana dengan hubungan nya dan Jayden?
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1