Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia

Gadis Nakal Kesayangan Om Mafia
Bab 36 - Jayden Manja


__ADS_3

"Sayang, kita tidur ya? Ini sudah sangat malam." Ajak Jayden, Ayyara mendongakan wajah nya, Jay tersenyum manis lalu mengecup mesra kening Ayyara. Dari mata nya saja, Jayden bisa tahu kalau gadis itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Pengen di gendong lagi." Rengek Ayyara, Jayden sebenarnya tidak keberatan untuk menggendong Ayyara, tubuh gadis itu juga tidak terlalu berat. Tapi, yang dia khawatirkan adalah, dia tak mau mengambil resiko kalau Ayyara kembali menggoda nya seperti tadi. Susah payah dia membuat junior nya tertidur, masa sekarang harus di bangunkan lagi?


"Eemm, kamu jalan saja ya?"


"Aaaa, Daddy.." 


"Yaudah, gendong belakang aja." Jayden memberi penawaran, tapi Ayyara tak mau. Dia ingin di gendong seperti tadi. Akhirnya, Jayden pun pasrah. Dia menurut dan menggendong gadis nya seperti bayi koala lagi. Gadis itu tersenyum senang, Jayden benar-benar pria yang baik, dia tidak bisa menolak keinginan nya. Apapun itu. 


"Ayo, sayang. Manja nya gadis ku." Ucap Jayden, dia mengecup pipi kanan dan kiri gadis nya. Lalu meletakan nya di atas kasur dengan penuh kelembutan, seolah Ayyara adalah kaca yang mudah pecah. Jadi pria itu meletakkan nya dengan penuh kehati-hatian. 


"Aku manja hanya padamu, Daddy. Lagian, nanti Daddy marah lagi kalau aku manja sama pria lain, iya kan?" Tanya Ayyara dengan senyum menggoda nya, Jayden terkekeh. Benar, dia akan marah kalau seandainya Ayyara manja pada pria lain selain dirinya.


"Iya, manja saja padaku, baby. Aku tak keberatan kalau kamu manja padaku." Jawab Jayden sambil mengusap rambut Ayyara, pria itu juga merapikan anak rambut gadis nya ke belakang telinga.


"Hmmm, Daddy aku ingin di peluk."


"Of course, baby." Jawab Jayden, dia pun memeluk Ayyara dengan erat. Tangan pria itu juga terus menerus mengusap punggung Ayyara dengan lembut, membuat gadis itu merasa nyaman dan akhirnya dia tertidur dalam hitungan detik. 


Jayden tersenyum kecil saat melihat kalau Ayyara sudah tertidur, dia kembali mengusap-usap wajah sang gadis. Dia benar-benar jatuh cinta dengan gadis kecil ini, sungguh. Rasanya dia benar-benar sudah jatuh cinta dengan Ayyara. 


"Secepat itu kamu tertidur, sayang? Sebegitu nyaman nya kah pelukan Daddy, Bby?" Gumam Jayden, dia mengecup kening Ayyara, lalu dia juga ikut beristirahat. Dia memejamkan mata nya dan menyusul Ayyara ke dalam mimpi. 


Sedangkan di rumah, David terus mencoba menghubungi nomor putri nya. Meskipun dia egois, tetap saja dia khawatir kalau putri nya tidak juga pulang padahal ini sudah cukup malam. 


"Sial, kenapa dia tidak mengangkat telepon nya?" Gumam David, dia kembali mencoba menghubungi nomor Ayyara. Tapi sialnya, dia tidak mengangkatnya juga. Karena ponsel nya di silent oleh Ayyara, jadi tidak ada yang mengetahui kalau ada yang menelpon ke ponsel nya berkali-kali. 


Kenapa di silent? Tujuan nya ya ini, dia tidak ingin di ganggu saat sedang beristirahat, apalagi di bebankan oleh perdebatan dan kata-kata kasar yang sudah pasti akan di lontarkan oleh sang ayah. Jadi, dari pada membuat hatinya sakit, ada baiknya Ayyara tidak mengangkat telepon nya sama sekali. 


"Kenapa, Mas?"


"Coba kau hubungi Ayyara, dia belum pulang juga."


"Tumben, padahal kan biasa nya kamu gak peduli, Mas." Tanya Agnes, dia memicing saat melihat wajah suaminya. 

__ADS_1


"Apa aku salah mengkhawatirkan putri ku sendiri, Agnes?"


"Tidak, tentu saja tidak. Tapi tumben saja, biasanya kan kamu gak peduli. Kalau kamu khawatir, jangan di ajakin berdebat dulu dong anak nya, kasian dia." Ucap Agnes, membuat David menatap wajah istrinya. Agnes juga menatap suami nya dengan penuh arti. 


"Diamlah, Agnes." 


"Hmm, ya sudahlah." Jawab Agnes, dia pun melengos pergi ke kamar nya, meninggalkan David yang terdiam di ruang tamu.


Benar, kenapa dia tidak bisa akur dengan putri nya sendiri? Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa dia harus selalu berdebat dengan putri nya, padahal gadis itu tidak bersalah. Dia terlalu mengekang Ayyara karena takut kalau putri nya itu akan terbawa arus pergaulan bebas. Tapi, caranya salah. 


"Aaargghh, entahlah. Aku lelah dengan semua ini." 


Dirinya saja lelah, apalagi putrinya, iya kan? Pasti gadis itu merasa sendirian setiap harinya, tak ada tempat baginya untuk bersandar, berkeluh kesah tentang apa yang dia alami selama bertahun-tahun lama nya. Kenapa David baru menyadari nya? Tentu saja, karena selama ini dia di butakan dengan ke egoisan nya sendiri. 


"Dimana putriku? Apa dia baik-baik saja sekarang?" Gumam David, dia kembali mencoba menghubungi nomor ponsel putri nya, tapi hasilnya masih sama. Tidak di angkat.


Mau di angkat gimana, yang punya ponsel nya juga udah tidur nyenyak di pelukan pria nya. 


Keesokan pagi nya, Ayyara terbangun pagi-pagi sekali. Gadis itu membuka kedua mata nya dengan perlahan, dia tersenyum manis. Dia senang karena saat terbangun dari tidurnya, Jayden adalah objek pertama yang dia lihat. 


"Mau kemana hmm?" Tanya Jayden dengan suara serak khas bangun tidur nya, terdengar seksii bagi Ayyara.


"Mau mandi, Dad. Aku harus pulang sekarang." 


"Kenapa? Biasa nya kamu tak suka saat berada di rumah, tapi kenapa sekarang ingin pulang Bby?" Tanya Jayden, dia tetap menahan Ayyara di pelukan nya. 


"Entahlah, aku juga tak suka berada di rumah. Tapi aku tetap harus pulang, sayang."


"Hmmm, baiklah."


"Jangan marah, nanti kita akan bertemu lagi." Ucap Ayyara. 


"Kapan kamu akan memutuskan pacar mu itu, sayang? Daddy bisa bersabar, tapi Daddy tidak suka saat harus berbagi dengan pria lain." 


"Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahas ini Dad." Jawab Ayyara dengan malas. Dia malas harus membahas hal ini, karena dia tahu kemana semua nya berujung. Pasti di akhiri dengan pertengkaran.

__ADS_1


"Kamu tetap ingin mempertahankan nya, baby? Setelah apa yang dia lakukan padamu, dia sudah mempermalukan mu, Bby!" 


"Diam, Dad. Aku sedang tidak ingin membahas nya, tolong jangan membuat aku marah lagi karena hal ini." Kesal Ayyara, benar kan prediksi nya? Pasti berakhir dengan pertengkaran. 


"Baby.." 


"Cukup, Dad. Aku capek, aku mau mandi setelah itu pulang." Jawab Ayyara, dia pun masuk ke kamar mandi dengan membawa rasa kesal nya. Dia bahkan membanting pintu kamar mandi itu dengan keras, membuat Jayden terkejut. 


"Hey, Bby.."


"Daddy ikut mandi, Bby.." Jayden mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, juga berusaha membuka nya. Untung saja Ayyara sudah mengunci pintu nya tadi. Jadi dia aman, meskipun berisik. 


Ayyara membuka pembalut nya yang penuh, lalu mandi setelah mencuci bekas pembalut nya dan membuang nya. Setelah selesai, dia mengganti pembalut nya dan berpakaian langsung di kamar mandi. 


"Baby, isshhh.." Jayden merasa kesal, dia benar-benar kesal karena gagal mandi bersama dengan gadis nya pagi ini. Salah siapa? Dia kan, jadi tanggung saja akibat nya. 


"Apa? Kenapa nangis?" Tanya Ayyara, membuat Jayden langsung mengusap air mata nya. Mana ada mafia yang menangis hanya karena tidak di ajak mandi bersama kan? Lucu sekali. 


Ingin nya sih Ayyara mencubit atau mengunyel-unyel pipi pria itu, tapi dia menahan nya karena dia sedang marah pada pria itu. Lebih tepatnya sih kesal, bukan marah ya. 


"Baby marah?"


"Kalau iya, kenapa?" Tanya Ayyara sambil menyedekapkan tangan di dada.


"Jangan dong, Bby. Daddy minta maaf, oke Daddy gak bakalan nanyain ini lagi. Daddy janji."


"Terserah Daddy saja." Jawab Ayyara dengan acuh. Membuat Jayden langsung meraih tangan gadis itu dan memeluknya.


"Maaf.."


"Iya iya, aku memaafkan Daddy. Sudah, jangan seperti ini. Daddy tahu? Tingkah Daddy membuat aku gemas." Jawab Ayyara, akhirnya dia pun mencubit pipi pria itu hingga memerah.


"Aaaa, sakit.." 


"Dih, manja gini. Yakin kamu seorang mafia yang katanya kejam itu, Daddy?" 

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2