
Setelah selesai mengajak gadis nya jalan-jalan, Jayden pun mengantarkan nya pulang ke rumah. Gadis itu berpamitan dengan manis pada Jayden. Ya, nama nya juga wanita kalau keinginan nya sudah terpenuhi pasti dia akan bersikap manis seperti ini. Bukankah itu terlalu tertebak?
"Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi Daddy, oke?"
"Oke, Dad. Hati-hati di jalan nya, jangan ngebut kalau gak lagi dalam bahaya ya?" Peringat Ayyara, Jayden menganggukan kepala nya. Pria yang biasa nya paling tidak suka di atur itu, kini menurut-menurut saja saat Ayyara yang mengatakan nya. Itu kah yang di namakan kekuatan cinta? Saking kuat nya, bahkan bisa mengalahkan iblis sekali pun.
"Yes, baby."
"Aku masuk dulu ya." Jayden menganggukan kepala nya, dia memperhatikan gadis nya sampai dia masuk ke dalam gerbang dan hilang di balik pintu.
"Tuan.." Sapa anak buah Jayden yang menyamar jadi tukang bakso.
"Apa?"
"Bakso saya belum laku, beli dong? Mau gimana pun, saya pake modal ini." Ucap nya, membuat Jayden terheran. Ada-ada saja pria ini, kok bisa sih dia punya anak buah yang konyol seperti ini.
"Udahan aja, nyamar jadi tukang somay sana jangan bakso." Jayden pun memilih pergi untuk pulang. Tidak, bukan pulang. Tapi dia akan pergi ke markas dan menginterogasi dua orang yang tadi dia curigai di mall. Bisa-bisa nya mereka menyusup masuk ke dalam mall, padahal tempat itu sudah dia tutup secara khusus hanya untuk nya dan Ayyara. Tapi bisa-bisa nya masih ada saja yang mengganggu nya.
Tatapan pria itu menahan saat dia melihat bangunan yang selama ini dia jadikan markas. Jayden memiliki dua markas, yang satu markas besar tempat semua senjata yang di selundupkan dari negara-negara distributor itu di simpan dengan aman, tentunya dengan penjagaan super duper ketat. Disini, hanya ada tawanan saja yang di penjara di bawah tanah.
Jayden keluar dari mobil nya, dia membanting pintu mobil nya dengan keras. Jay berjalan dengan tegap, dia melemparkan kunci mobil miliknya pada salah satu anak buah nya yang sedang berjaga.
"Jack.."
"Iya, Jay."
"Bagaimana, kau bisa mendapatkan informasi dari kedua pria itu?" Tanya Jayden. Jack menggelengkan kepala nya, Jay tersenyum smirk. Kali ini dia sendiri yang akan turun tangan.
"Tak apa, terimakasih kau sudah melakukan yang terbaik. Ambilkan jas ku, Jack."
"Baik, Jay." Jack pun menurut, dia mengambil jas dari ruangan khusus. Jayden langsung memakai nya, kenapa dia memakai jas? Agar darah tidak menyiprat ke pakaian nya, atau tidak itu akan menimbulkan kecurigaan nanti nya.
Jayden menyelipkan pisau kecil di saku jas nya, lalu berjalan mendekat ke arah dua pria yang sudah terkapar. Wajah nya lebam, mungkin di tampol oleh Jack karena mereka tak mau buka suara.
__ADS_1
Jay tersenyum smirk, apalagi saat melihat keduanya langsung menundukan kepala mereka saat melihat dirinya datang. Terlihat jelas kalau mereka ketakutan.
Jayden memainkan pisau tipis berwarna emas itu di tangan nya, satu goresan saja mampu membuat tangan Jayden mengeluarkan darah segar yang mengalir. Itu membuktikan kalau pisau yang saat ini ada di tangan Jayden itu benar-benar tajam.
"Terbayang bukan kalau pisau ini menyayat leher kalian?"
Kedua nya tampak kesulitan menelan ludah mereka, bahkan suara Jayden saja terdengar sangat menakutkan seperti malaikat pencabut nyawa. Ya, memang Jayden datang untuk melenyapkan mereka jika saja mereka tetap tidak mau buka suara tentang siapa yang sudah meminta mereka mengikuti nya.
"Kalian ingin mati di tangan ku atau bicara?" Tanya Jayden, tangan nya masih tetap memainkan pisau kecil itu dengan lihai.
"A-ampun, Tuan.."
"Katakan!"
"Sebenarnya.."
"Tidak, kami tidak akan buka mulut!" Cegah yang satu nya lagi, membuat Jayden menyeringai.
"Baiklah, berarti secara langsung kau yang meminta sendiri untuk kematian mu, bajingaan!"
"Aaaarghhhh.." Pria itu memekik kesakitan, darah segar mengalir dari leher nya. Ya, Darren menyayat leher pria itu. Hanya dengan satu sayatan saja, di pastikan pria itu akan mati kehabisan darah.
"Kalian punya keluarga bukan? Bagaimana kalau aku.."
"Tidak, jangan tuan. Mereka tidak bersalah, mereka tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Saya mohon jangan lakukan apapun pada keluarga saya." Mohon pria yang satu nya lagi. Sedangkan pria tadi, sudah merasa lemas karena darah dari luka sayat itu terus saja mengucurkan darah segar.
"Jadi, kau bersedia bekerja sama dengan ku? Aku juga kejam seperti ini karena ingin melindungi orang yang aku sayangi, kalian berdua paham bukan?" Tanya Jayden, dia menatap pria itu dengan tajam.
"Saya tidak tahu siapa pria itu, tapi dia datang pada kami untuk menawarkan sebuah kerja sama. Saya harus menculik Nona Ayyara dan membawa nya dalam kondisi hidup padanya, sebagai bayaran nya kami di janjikan uang yang banyak. Tapi, dia tidak mau menunjukkan wajahnya." Jelas pria itu membuat Jayden tersenyum di balik topeng nya. Ya, dia juga mengenakan topeng serigala nya.
"Berapa nominal yang dia janjikan hmm?"
"D-dua ratus juta."
__ADS_1
"Ckkk, hanya segitu? Aku bahkan mampu membayar kau dua atau tiga kali lipat dari pria itu membayar kalian. Tapi sayang, kalian terlalu naif."
"Ampuni kami, Tuan."
"Tiada ampun bagi kalian berdua, meskipun kalian tidak berhasil membawa gadis ku, tapi tetap saja kalian adalah musuh yang wajib di musnahkan." Ucap Jayden.
"Bim, bawa dia ke penjara bawah tanah."
"Baik, Tuan." Jawab Bima. Dia pun dengan mudahnya menyeret kedua tubuh lemas pria itu. Sedangkan Jayden, dia pergi dari ruangan itu menuju ruangan nya, tentu nya dengan Jack yang sentiasa berada di belakang nya.
"Jay.."
"Ya, apa kau berpikiran hal yang sama dengan ku?"
"Ya, artinya pria itu belum mati, Jay!"
"Hmmm, dia memalsukan kematian nya, Jack. Jaman terlalu canggih hingga kematian saja bisa di manipulasi."
"Jadi, apa langkah mu selanjutnya, Jay?" Tanya Jack.
"Langkah selanjutnya, hanya ada satu jalan untuk memancing nya keluar dari persembunyian."
"Jangan konyol, Jay! Untuk apa kau melakukan semua ini tapi kau malah memberikan gadis mu pada musuh, Jay?" Tanya Jack. Dia paham benar kalau Jay akan menjadikan Ayyara sebagai umpan agar musuh mau keluar dari persembunyian nya.
"Apa kau bisa mengusulkan ide yang lebih baik, Jack?"
"Tidak untuk saat ini, tapi bukan berarti kau bisa melakukan hal itu, Jay! Ingat, dia gadis yang harus kau lindungi."
"Aku tahu, Jack. Tapi bukankah untuk mencapai sesuatu itu harus mengorbankan sesuatu juga?" Tanya Jayden membuat Jack menggelengkan kepala nya. Dia tak habis pikir dengan cara berpikir Jayden. Kenapa bisa dia mengusulkan ide sekonyol ini? Kalau Ayyara di jadikan umpan, untuk apa dia mengawal nya selama ini? Sekalian saja biarkan dia di culik oleh dua orang tadi.
"Aku tak tahu, Jay. Tapi bagiku, ini keputusan terbodooh yang pernah kau ambil, aku tak ikut-ikutan." Ucap Jack, dia beranjak dari duduknya. Dia membela Ayyara, bukan berarti karena dia menyukai nya. Tapi, dia gadis yang tak bersalah dalam hal ini, dia hanya terseret karena kedekatan nya dengan Jayden. Moto mereka selama ini adalah, mengorbankan orang yang bersalah. Tapi Ayyara? dia bahkan tidak tahu kalau saat ini dirinya terancam akan di korbankan oleh pria yang dia percayai.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻