
"Mom, hari ini Daddy harus keluar sebentar. Ada pekerjaan yang harus di selesaikan, kamu gapapa kan kalo Daddy tinggal dulu?" Tanya Jayden, pria tampan itu sudah bersiap dengan pakaian rapih serba hitam nya. Dia menggulung kemeja nya hingga ke siku, membuat Jayden terlihat jauh lebih gagah.
"Kemana, Dad?" Tanya Ayyara, wanita hamil itu sedang mengemil buah di ruang tamu sambil menonton televisi. Sejak hamil, Ayyara tidak bisa berjauhan dengan yang nama nya cemilan. Mau buah ataupun ciki. Tapi, Jayden lebih menyarankan kalau istri nya itu mengemil buah-buahan segar.
"Ke markas, Mom."
Kedua mata Ayyara langsung terbelalak saat mendengar kata markas, tempat itu membuat Ayyara merinding.
"Mau ngapain Daddy disana?"
"Ada barang datang, Mommy. Jack tidak bisa menangani nya sendirian."
"Hmmm, tapi jangan lama." Pinta Ayyara sedikit merengek. Sebenarnya, dia tak mau di tinggalkan oleh suami nya. Mau bagaimana pun, dia akan sendirian kalau Jayden pergi. Tentu saja, itu akan membuat nya kesepian.
"Iya, Mommy. Setelah pekerjaan nya selesai, Daddy pasti langsung pulang. Tidak perlu khawatir, oke?"
"Pulang lah dengan keadaan yang sama saat Daddy berangkat." Ucap Ayyara lirih, Jayden melihat kalau istri nya sedang khawatir. Dia juga tidak bisa menyalahkan kenapa istri nya bisa se khawatir ini, karena dia adalah seorang mafia dengan musuh yang berada di mana-mana dan siap menyerang nya kapanpun. Hanya itu alasan nya, tak ada yang lain lagi.
"Tentu, Mommy. Daddy kan kuat seperti T-rex."
"Tapi, sekelas T-rex aja punya kekurangan, Daddy. Tangan nya kecil, hehe." Jawab Ayyara sambil terkekeh, begitu juga dengan Jayden.
"Baiklah, kalau begitu Daddy pergi dulu. Jack dan yang lain pasti sudah menunggu Daddy di markas."
"Oke, Dad." Jawab Ayyara pelan.
"Kalau bosan, kamu boleh pergi keluar tapi dengan bodyguard."
"Tapi, kenapa harus sama bodyguard sih, Dad? Aku kan.."
"Mommy, ingat kalau situasi kita saat ini masih belum sepenuh nya aman. Musuh bisa saja memanfaatkan kepergian ku untuk bisa mengambil mu dari Daddy, tolong kamu mengerti ya?" Bujuk Jayden.
"Baiklah, Dad. Aku di rumah saja, lagi pun aku betah di rumah karena banyak makanan, seperti di minimarket." Jawab Ayyara sambil tersenyum. Jayden mengusap puncak kepala sang istri dengan mesra, lalu mengecup kening nya.
"Hati-hati di jalan nya, Daddy."
"Yes, Mom. Ada beberapa orang-orang Daddy yang berjaga disini demi keamanan mu."
"Baik, Dad." Jawab Ayyara, kali ini dia mematuhi ucapan Jayden tanpa menolak lagi. Karena dia sadar kalau situasi saat ini benar-benar tidak aman bagi nya dan juga bayi yang tengah dia kandung.
"Baby, jangan rewel sama Mommy ya? Daddy mau keluar sebentar untuk masalah pekerjaan, nanti kalau sudah selesai, Daddy akan langsung pulang." Ucap Jayden, dia juga berpamitan ke calon anak nya yang masih ada di perut Ayyara.
"Oke, Daddy. Baby janji gak nakal, gak bakalan bikin Mommy kesusahan." Jawab Ayyara dengan menirukan suara anak kecil. Jayden tersenyum, dia kembali mengecup mesra kening sang istri. Dia pun pergi dari apartemen menuju ke markas. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia awasi secara langsung, bahkan Jack pun tak bisa dia percayai tentang hal ini.
Jayden mengemudikan mobil sport nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, sudah biasa bagi nya mengemudi secara ugal-ugalan seperti ini. Baginya, kebut-kebutan di jalan adalah sebagian dari hidup nya. Dia menyukai sensasi nya, apalagi kalau ada yang memarahi nya. Bukan nya marah, dia malah akan tersenyum karena itu adalah salah satu kebahagiaan nya. Gila bukan? Cara nya membahagiakan diri sendiri sedikit berbeda dari yang lain.
Hanya dalam waktu tidak sampai satu jam, Jayden sudah menginjakkan kaki nya di markas besar. Disana sudah ada Jack dan yang lain nya, mereka langsung menyambut kedatangan Jayden, selaku pimpinan mereka.
"Bagaimana?" Tanya Jayden, pria itu terlalu to the point, dia seperti nya tidak butuh beristirahat sejenak. Dia hanya ingin pekerjaan nya segera selesai dan dia bisa kembali ke rumah untuk bertemu dan bermanja-manja bersama istri nya.
"Kami menemukan pergerakan musuh, Tuan."
"Musuh? Yang mana?" Tanya Jayden dengan wajah super duper datar nya.
"The black angel."
"Bukankah hari itu aku sudah memenggal kepala pemimpin sialaan nya itu?"
"Ternyata, itu adalah pemimpin palsu, Tuan."
"What? Apa maksud mu?" Tanya Jayden, dia terlihat cukup terkejut.
"Pemimpin yang hari itu berhasil anda kalahkan hanyalah bidak catur yang di kendalikan oleh pemimpin yang asli. Untuk saat ini, pemimpin nya masih misterius."
Jayden terdiam, dia perlu memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Terlebih saat ini, dia juga memiliki dua orang yang harus dia lindungi. Istri dan juga calon buah hati nya.
__ADS_1
"Seperti nya, mereka juga sudah mengetahui tentang Ayyara, Jay." Ucap Jack, dia ikut bersuara juga.
"Dari mana kau tahu, Jack? Harusnya identitas Ayyara, status nya dan apa hubungan nya dengan ku itu masih tetap menjadi rahasia!"
"Segala kemungkinan bisa saja terjadi meskipun kita sudah melakukan segala antisipasi untuk tetap merahasiakan identitas Ayyara, tapi musuh juga punya seribu cara untuk mencari informasi tentang mu, Jay." Ucap Jack, Jayden menganggukan kepala nya. Benar, apa yang di katakan oleh Jack benar adanya.
"Sekarang, kita hanya perlu memperketat penjagaan untuk Ayyara. Jangan sampai kecolongan, karena ini menyangkut nyawa istri dan juga anak mu, Jay!"
"Ya, aku tahu akan hal itu Jack."
"Istri anda sedang mengandung, Tuan?"
"Hmmm, harusnya kau jangan menanyakan hal ini sekarang. Waktu nya tidak tepat." Ucap Jack ketus, membuat orang itu terdiam.
"Kau, awasi terus pergerakan musuh. Yang lain nya, harus berjaga-jaga di sekitaran markas." Perintah Jayden, membuat semua anggota langsung menganggukan kepala mereka dengan serentak.
Rapat itu pun selesai, Jayden masuk ke dalam ruangan nya di ikuti oleh Jack. Pria itu berjalan tegap dengan tatapan lurus ke depan. Begitu juga dengan Jack, lingkaran hitam di bawah mata nya terlihat dengan jelas, menandakan kalau dia kurang tidur beberapa hari ini karena ada banyak kesibukan, sedangkan sang pemimpin masih sibuk dengan istri nya. Jack memaklumi nya, karena Jayden masih menikmati masa-masa menjadi pengantin baru.
Jay mengambil rokok dan menyalakan nya, sudah lama dia tidak merokok. Apalagi sekarang dia sudah menikah dan istri nya sedang hamil, ibu hamil seperti Ayyara tidak baik saat terkena asap rokok. Jadi, dia hanya bisa merokok saat di markas.
"Jay.."
"Hmm.."
"Kau harus memperketat pengawasan istri mu."
"Ya, aku tahu Jack!"
"Bagaimana pun juga, Ayyara tidak bersalah."
"Dia memang tidak bersalah, tapi aku. Aku adalah dalang dari semua masalah yang dia alami sekarang. Gara-gara aku, dia tidak bisa bepergian dengan bebas. Dia hanya bisa tinggal di rumah sekarang, kalau pun ingin keluar dari rumah haruslah bersama ku atau bersama bodyguard demi keselamatan nya." Ucap Jayden panjang lebar. Dia menghembuskan nafas nya, hingga asap rokok terbang dengan bebas nya memenuhi ruangan yang di dominasi serba hitam itu.
"Jay.."
"Apa, Jack? Memang benar bukan? Aku adalah sumber masalah bagi Ayyara. Kalau saja dia tidak mengenal ku, mungkin dia takkan perlu serepot ini."
"Andai saja aku ini orang biasa, bukan seperti aku yang sekarang, mungkin semua ini takkan terjadi dan Ayyara takkan merasa ketakutan untuk bepergian, begitu juga aku. Mungkin aku bisa bebas, kemana-mana tidak perlu membawa senjata di balik jas ku."
"Cukup, Jay! Ini bukan Jayden yang aku kenal, kau berubah Jay. Ingat, jangan karena cinta kau jadi lemah seperti ini. Kembalilah, Jay. Ini bukan dirimu." Ucap Jack, Jayden menatap Jack sekilas lalu kembali menatap lurus. Dia menyandarkan kepala nya di sandaran sofa lalu memejamkan kedua mata nya.
Dia ingin sekali hidup seperti orang normal pada umum nya, yang tidak pernah di bayang-bayangi oleh musuh. Kalau saja dia orang biasa, pasti keselamatan istri dan calon buah hati nya akan terjamin. Tidak seperti saat ini.
"Aku lelah, Jack."
"Ya, manusia memang memiliki titik lelah sendiri, Jay. Tapi jangan menyerah, kau akan menyerah dengan semua ini? Bodooh, kau bukan Jayden kalau hanya karena hal ini kau menyerah, Jay!"
"Hmm, entahlah. Tapi semenjak aku bersama Ayyara, hidup ku hanya terfokus pada nya. Itu yang membuat aku takut kalau suatu saat musuh akan mendapatkan nya."
"Jangan berandai-andai hal yang tidak akan pernah terjadi, kau Jayden. Mafia terkejam dan sadis ada di belakang nama mu, itu predikat yang kau sandang selama ini, Jay. Setiap manusia pasti akan merasa takut akan sesuatu, itu wajar Jay. Maka dari itu agar semua ketakutan mu itu tidak terjadi, kau harus mengusahakan yang terbaik untuk Ayyara saat ini." Nasehat Jack panjang lebar.
"Terimakasih, Jack.."
"Ya, sama-sama. Aku paham benar kalau kau sedang di landa bucin saat ini, jadi aku yang masih waras ini mencoba memberikan nasihat yang terbaik." Jawab Jack membuat Jayden mendelik.
"Jadi menurut mu aku tidak waras, Jack? Kau ingin mati?" Tanya Jayden sambil merogoh saku nya bersiap untuk mengambil senjata nya.
"Hehe, enggak kok. Maaf Jay, aku kan sahabat mu."
"Cihhh, sahabat ngeselin. Harus nya, ku buang kau ke palung mariana." Ucap Jayden membuat Jack merasa merinding. Bukankah itu adalah lautan paling dalam di dunia?
"Isshh, mendengar nya saja membuat aku merinding, Jay. Nanti kalau sahabat mu ini di makan hiu megalodon bagaimana?"
"Bodo amat, justru itu lebih bagus. Dengan begitu, tidak ada lagi yang akan merecoki aku!"
"Astaga, kau kejam sekali, Jay." Ucap Jack dengan mimik wajah yang di buat sesedih mungkin, tapi bukan nya iba Jayden malah gumoh melihat wajah sahabat nya itu.
__ADS_1
Hueekk..
"Lho, kenapa?"
"Gak tahu, mendadak aja mual lihat wajah Lo, Jack."
"Sialan." Ucap Jack sambil melempar kulit kacang pada Jayden. Sedangkan pria itu, dia tertawa melihat ekspresi kesal Jack.
"Jack, sudah larut malam. Aku harus pergi."
"Ya, berhati-hatilah di jalan."
"Oke, Jack." Jawab Jayden, dia pun pergi meninggalkan Jack di markas. Ada Bima dan Arka juga disini, sedangkan yang menjaga Ayyara di apartemen adalah Roy.
Jayden membawa mobil sport nya itu dari markas dengan kecepatan tinggi, pria tampan itu ingin segera sampai di rumah hingga melupakan keselamatan nya sendiri karena ingin cepat-cepat bertemu dengan istri kesayangan nya.
Tapi, saat di tengah-tengah perjalanan, ponsel Jayden malah berbunyi nyaring. Pria itu pun menghentikan sejenak kendaraan nya di tepi jalan, dia pun mengambil ponsel dan mengangkat telepon yang ternyata berasal dari istri cantik nya.
'Hallo, masih dimana Dad?' Tanya Ayyara di seberang telepon.
"Ini sudah di perjalanan mau pulang kok, Mom. Kenapa?"
'Hehe, tiba-tiba aja Mommy mau makan pizza.'
"Oke, yang ekstra chesee?"
'Yes, Daddy.' Jawab Ayyara membuat pria itu menganggukan kepala nya.
"Waiting me, Mommy."
'Of course, Daddy. Baby bakalan nungguin pizza nya.'
"Ya sudah, Daddy lanjut lagi ya? Biar cepet pulang nya." Setelah itu panggilan pun selesai, Jayden kembali menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana nya, dia pun kembali melajukan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan tinggi.
Tak lupa, dia membelikan pizza yang di pesan oleh istri nya. Dia juga membelikan jus mangga dengan es krim di atas nya, kesukaan istrinya. Kalau dia membeli pizza di toko ini, pasti setelah membeli makanan itu, Ayyara akan membeli minuman itu karena stand nya bersebelahan.
Setelah mendapatkan nya, Jayden pun pulang. Dia merasa ada yang sedikit janggal dengan sebuah mobil yang berada tepat di belakang nya, feeling nya seketika bekerja. Pria itu tersenyum smirk.
"Baiklah, akan aku ikut permainan kalian. Lihat saja! Kalian takkan bisa membuntuti ku." Gumam Jayden, dia menginjak pedal gas dengan kuat. Dia melajukan kendaraan nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekarang, mobil di belakang juga mengimbangi kecepatan mobil yang di kendarai oleh Jayden, tapi sayang sekali seperti nya skill nya dalam mengemudikan kendaraan roda empat itu belum seberapa jika di bandingkan dengan kemampuan seorang Jayden.
Jayden tertawa saat dia menoleh ke belakang, ternyata mobil itu tidak terlihat lagi. Jauh tertinggal di belakang saat lampu merah, pria itu tertawa penuh kepuasan. Jangan bermain-main dengan nya, karena ini benar-benar tidak lucu.
Sesampai nya di apartemen, Jayden pun meminta Roy dan anak buah nya untuk pergi karena dia sudah ada di rumah, dia bisa melindungi Ayyara.
"Aku sudah kembali, Roy."
"Baik, Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu."
"Aman?" Tanya Jayden sebelum ke empat pria bertubuh tinggi besar itu akan pergi.
"Aman, Tuan."
"Baguslah, kalian bisa pergi. Temani Jack di markas, dia bersama Bima dan Arka. Aku takut dia akan tertekan saat bersama kedua orang itu." Jelas Jayden, Roy menganggukan kepala nya.
Semua orang juga tahu kalau Arka dan Bima itu sedikit berbeda. Mereka berdua terlalu nyeleneh untuk ukuran seorang mafia, tapi saat sedang mode serius mereka benar-benar menakutkan. Itulah alasan nya kenapa dua orang itu menjadi orang yang cukup Jayden percayai setelah Jack tentu nya.
Jayden membuka pintu nya, dia pun masuk dan melihat istrinya ketiduran di sofa dengan televisi yang masih menyala. Piring di atas meja yang tadi berisi buah itu bersih tak bersisa saat ini.
Pria itu tersenyum manis, tapi dia kebingungan. Haruskah dia membangunkan istri nya? Tapi, dia tidak tega. Apalagi saat melihat wajah tenang sang istri yang tengah tertidur itu, Jayden selalu bahagia saat melihat wajah tenang sang istri saat tidur. Itu membuat nya terhibur, padahal wajah Ayyara tidak lucu sebenarnya kalau bagi orang lain.
Tapi, beda lagi dengan pandangan seseorang yang tengah di landa kebucinan. Apapun yang di tunjukkan oleh Ayyara, pasti tetap menggemaskan di mata Jayden.
"Mom.."
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻