
Jayden masih berada di ruangan tempat Ayyara berbaring dengan tubuh lemah nya, pria itu terus menatap nanar wajah sang gadis yang nampak pucat.
"Tuan Jayden?"
"Iya, saya sendiri. Ada apa, dok?" Tanya Jayden sembari menoleh dan menatap dokter yang berdiri di samping nya, lengkap dengan sneli putih dan stetoskop yang menggantung di leher nya.
"Apa Nona Ayyara mengalami mual, muntah-muntah atau semacam nya?"
"Kata pelayan nya, iya dok. Dia mengalami nya, bahkan dia tidak berselera makan sama sekali." Jelas Jayden, sesuai dengan apa yang di jelaskan oleh anak buah nya yang menjadi maid di rumah Ayyara.
"Apa Nona Ayyara telat datang bulan, Tuan?"
"Aku kurang tahu tepat nya kapan, tapi sudah hampir dua bulan ini dia tidak mengeluh kalau perut nya sakit karena datang bulan, dok." Jawab Jayden jujur. Biasanya, Ayyara akan sangat manja kalau sedang datang bulan. Dia juga selalu mengadu padanya kalau perut nya sakit karena datang bulan hari pertama. Tapi, sudah dua bulan ini Jayden kehilangan itu. Meskipun dia tidak yakin, apakah perkiraan nya benar atau malah meleset jauh.
"Untuk lebih tepat nya, sebaiknya saya akan menanyakan hal yang sama pada Nona Ayyara nanti, setelah dia sadarkan diri. Tapi, menurut prediksi saya Nona Ayyara positif mengandung." Jelas dokter perempuan itu, membuat Jayden membulatkan mata nya. Benarkah ini? Dia tidak sedang bermimpi bukan? Dia benar-benar akan menjadi seorang ayah? Itu artinya cita-cita nya akan terwujud kan? Sungguh, ini adalah pencapaian yang paling membanggakan bagi Jayden.
"Maksud anda, dia hamil kan, dok?" Tanya Jayden lagi, dokter itu menganggukan kepala nya.
"Di lihat dari gejala nya, juga dari denyut nadi juga vonis terakhir, Nona Ayyara memang sedang mengandung." Jelas nya lagi, membuat Jayden tersenyum manis sambil menatap wajah cantik Ayyara dengan tatapan hangat penuh cinta.
"Untuk lebih jelas nya, nanti akan saya tanyakan lagi pada Nona Ayyara setelah dia sadarkan diri. Kalau memang sudah jelas, silahkan pergi ke bagian obygn untuk memastikan semua nya." Dokter itu tersenyum lalu mengundurkan diri dari hadapan Jayden, dia ingin memberikan waktu untuk Jayden.
"Saat ini, biarkan Nona Ayyara di rawat intensif dulu disini, karena tubuh nya sangat lemas. Karena dia tidak memakan apapun, di tambah dengan terus muntah-muntah membuat nya kehilangan banyak cairan. Jadi untuk beberapa hari ke depan, sebaiknya di rawat saja." Ucap Dokter itu, dia sudah berada di ambang pintu, tapi dia malah melupakan sesuatu yang sangat penting.
"Baik, Dokter."
"Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu. Kalau ada apa-apa, silahkan hubungi saya." Jayden menganggukan kepala nya, dokter itu pun membuka pintu dan keluar dari ruangan.
Sepeninggal nya dokter itu, kini hanya ada Ayyara dan Jayden di ruangan ini. Jayden terus menatap wajah cantik sang gadis yang masih belum juga sadarkan diri, padahal ini sudah hampir dua jam lama nya.
"Sayang, bangunlah. Aku ada kabar baik lho." Lirih Jayden sambil mengusap-usap punggung tangan Ayyara. Lagi-lagi dia tersenyum manis saat melihat perut rata gadis cantik itu. Dia menyingkap pakaian nya, lalu mengecupi perut Ayyara dengan lembut. Dia juga menempelkan telinga nya di perut Ayyara.
"Hay baby, apa kamu benar-benar hadir di dalam sini? Ohh come on, Daddy akan sangat bahagia kalau kamu benar-benar hadir disini. Daddy dan Mommy akan menjaga kamu dengan baik, tumbuh yang baik di dalam perut Mommy ya?"
"Daddy.." Lirih Ayyara, membuat Jayden langsung menutup kembali perut Ayyara yang tadi dia buka. Jayden tersenyum lalu memeluk sang gadis dengan hangat.
"Ini dimana, Dad?" Tanya Ayyara lagi sambil mengusap kepala nya yang masih terasa sedikit pusing.
"Di rumah sakit, sayang."
"Lho, memang nya aku kenapa?" Gadis itu mulai cerewet lagi, membuat Jayden terkekeh pelan.
"Kamu tadi pingsan setelah melihat pesta kembang api, sayang." Jelas Jayden dengan senyuman yang terkembang di bibir nya, membuat Ayyara heran. Karena tak biasa nya Jayden jadi murah senyum seperti ini, bukankah itu cukup aneh?
__ADS_1
"Ada apa, Dad? Daddy terlihat sangat bahagia."
"Iya, Daddy memang sedang bahagia, sayang." Jawab Jayden membuat kening Ayyara mengernyit heran, kira-kira apa yang bisa membuat Jayden sebahagia ini?
"Wah, kasih tahu aku dong, Dad? Penasaran, hehe." Ayyara terkekeh, dia belum mengetahui kalau dirinya tengah mengandung.
"Apa kamu tahu, kalau kamu sedang hamil sekarang, sayang?" Tanya Jayden, membuat Ayyara membulatkan kedua mata nya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau tengah mengandung saat ini.
"H-aahh?"
"Kenapa? Apa kamu tidak senang dengan kehadiran nya, sayang?" Tanya Jayden, seketika ekspresi wajah nya berubah total.
"B-bukan begitu, hanya saja aku terkejut dengan berita yang tiba-tiba ini, Dad." Jawab Ayyara membuat Jayden menghembuskan nafas nya dengan lega. Dia sudah khawatir kalau Ayyara tidak mengharapkan kehamilan ini, tapi dia sangat mengharapkan kehadiran buah hati. Seorang anak, mau laki-laki atau perempuan sama saja. Dia akan tetap menyayangi nya dengan sepenuh hati, masalah jenis kelamiin nya nanti Jayden tidak akan mempermasalahkan nya.
"Kamu telat datang bulan kan, sayang?" Tanya Jayden. Ayyara terlihat seperti memikirkan sesuatu. Dia lupa kalau dia telat kedatangan tamu bulanan nya selama hampir dua bulan.
"Kayaknya aku memang telat deh, ada dua bulan deh keknya. Lupa."
"Kamu aja yang menstruasi nya lupa, apalagi Daddy. Tapi dua bulan ini kamu gak manja atau ngeluh sakit perut sama Daddy." Jelas Jayden. Ayyara cengengesan, bisa-bisanya dia melupakan kalau dia tidak datang bulan selama dua bulan. Artinya kandungan nya saat ini, mungkin saja sudah lebih dari dua bulan.
"Hehe, aku kan agak sedikit pelupa."
"Hmmm, tidak apa-apa. Apa kamu keberatan dengan kehamilan ini, baby?" Tanya Jayden, Ayyara menggelengkan kepala nya dengan yakin. Dia mengusap perut rata nya dengan lembut, dia memang masih muda, tapi di usia nya saat ini dia akan mengambil keputusan yang cukup berat, apalagi bagi gadis seusia nya.
"Tidak sama sekali, aku malah merasa bahagia dengan kehadiran nya. Itu akan lebih menyempurnakan kebahagiaan kita kan, Dad?"
"Of course, baby. Terimakasih karena sudah mau mengandung anak Daddy dan terimakasih juga karena mau menerima bayi ini, sayang." Ucap Jayden, membuat Ayyara tersenyum manis. Dia merasa ini bukanlah keputusan yang salah, ini adalah keputusan yang sangat benar.
Dia sudah di berikan kepercayaan dengan janin yang hidup dan bertumbuh di dalam rahim nya, jangan di sia-siakan. Dia tahu ada banyak orang yang tengah berusaha mati-matian untuk bisa memiliki keturunan. Jadi, Ayyara sangat bersyukur karena dengan kehadiran bayi ini akan semakin mendekatkan hubungan nya dengan Jayden.
"Sama-sama, Daddy. Aku juga bahagia dengan kehamilan ini."
"Kalau keadaan kamu sudah membaik, kita periksa ke bagian obygn ya, untuk memastikan semua nya." Ucap Jayden sambil mengusap-usap perut rata Ayyara dengan lembut.
"Iya, Dad."
"Omong-omong, kenapa tidak bilang sama Daddy kalau kamu mengalami morning sickness, sayang?"
"Lho, dari mana Daddy tahu?" Tanya Ayyara dengan kening yang mengernyit, tanda kalau dia sedang keheranan saat ini. Padahal, tidak ada yang mengetahui kalau dia sering muntah-muntah kecuali maid yang ada di dapur.
"Kamu lupa siapa Daddy, hmm? Orang-orang Daddy bertebaran dimana-mana, sayang."
"Termasuk maid yang ada di rumah, Dad?" Tanya Ayyara, Jayden tergelak. Cukup, melihat reaksi Jayden saja Ayyara mendapatkan jawaban nya. Artinya iya.
__ADS_1
"Tentu saja, sayang."
"Hmmm.."
"Jadi, kenapa kamu gak bilang sama Daddy?" Tanya Jayden sambil mengusap kepala sang gadis dengan lembut.
"Tadi nya mau bilang, tapi setelah di pikir-pikir lagi Ayyara takut bikin Daddy khawatir. Mana Ayya tahu kalau bakalan pingsan di acara itu, Dad."
"Gimana gak pingsan kalau kamu nya gak mau makan, sayang? Cuma makan buah doang, mana kenyang. Jelas lah kamu lemes." Jelas Jayden membuat bibir Ayyara mengerucut pertanda kalau dia tak terima dengan omelan Jayden.
"Ngomel aja terus, Daddy gak tahu apa kalau cium bau makanan aja bikin perut aku bergejolak." Ketus Ayyara membuat Jayden langsung menatap wajah cantik sang gadis yang sudah berpaling ke samping.
"Maaf, sayang. Daddy benar-benar tidak tahu hal ini."
"Hmmm, makanya jangan rusuh ngomel. Daddy gak ngerasain sih, jadi seenaknya aja ngomel-ngomel. Kalau jadi aku, Daddy juga bakalan seperti ini."
"Iya, maafin Daddy ya?"
"Gapapa." Jawab Ayyara singkat. Jayden pun tersenyum lalu mengusap perut Ayyara dengan lembut lagi. Seperti nya, setelah buah kenyal di dada Ayyara, sekarang perut gadis itu adalah bagian tubuh gadis itu yang akan sering dia sentuh.
"Kamu makan mau?" Tanya Jayden, Ayyara menggelengkan kepala nya. Baru mendengar kata makanan saja, Ayyara sudah merasa mual. Apalagi kalau mencium bau nya, bisa-bisa dia muntah-muntah parah seperti tadi pagi.
"Kalau gitu, kamu mau ngemil sesuatu? Buah atau sayur misalnya?"
"Aku pengen buah melon sama jeruk, Dad." Jawab Ayyara. Jayden pun dengan sigap mengambil ponsel nya dan menelpon Jack, dia lupa kalau Jack sedari tadi ada di luar menunggu nya. Tapi, saking panik nya Jayden melupakan kalau orang tua Ayyara dan Jack yang ikut serta ke rumah sakit begitu saja.
"Hallo, Jack.."
'Ya, ada apa Jay? Deket-deket pake telepon segala.' Tanya Jack di seberang telepon.
"Hah, memang nya kau dimana, Jack?"
'Di luar ruangan IGD, kau lupa kalau aku yang mengantar mu kesini hmmm?' Tanya Jack membuat Jayden baru ingat kalau dia memang datang kesini di antarkan oleh Jack.
"Haha, aku lupa, Jack. Sekarang bisakah kau membelikan buah melon dan jeruk, Ayyara menginginkan nya."
'Bisa, selalu bisa. Gue beli sekarang, yang kualitas premium kan?'
"Ya, kau tahu apa yang akan aku katakan, Jack. Terimakasih dan jangan lama." Perintah Jayden, Jack mengiyakan perintah Jayden dan langsung beranjak dari duduknya. Dia meninggalkan kedua orang tua Ayyara di kursi tunggu, kedua nya sedang tertidur sekarang ini. Saking lama nya menunggu kabar dari dalam ruangan, mereka pun ketiduran.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1