
"*Em, kau tau kan. Jika Ley kembali normal seperti dulu. Kemungkinan besar aku akan jadi bawahan Ley." ucap Nathan di sela sela keheningan
"Aku juga sedang mikirin itu Nat, bagaimana kalau baikan saja sama mereka. Kau juga bisa berpura pura tidak masalah bergabung dengan pelayan. Seperti sandiwara mu waktu itu." usul Emily
"Bosan terus bersandiwara. Tapi aku akan coba, biar Landolfo itu percaya sama aku." ucapnya kemudian.
"Ya kau kan sudah berusaha tidak terlihat sekali jika memilki ambisi untuk penguasaan bisnis papi tirimu. Dan kau harus ingat, bahwa kau membawa uang untuk modal bisnis barumu." timpal Emily mengingatkan
"Iya aku tidak lupa itu, makanya aku akan memperlihatkan bisnis kecil itu jika sudah ada, aku akan beritahukan pada Landolfo." ucapnya kemudian.
...♡♡♡♡...
Sore pukul 17.00
Weslay serta Chalondra sudah bersiap untuk pulang dari les piano. les piano sendiri sudah Weslay tekuni semenjak dengan Arnetta. Namun sempet off, karena Arnetta kelelahan jika harus mengantar lagi begitu setiap hari. Sedangkan Weslay memang tidak pernah mau di tinggal.
Mereka mampir dulu di taman untuk melihat lihat. awalnya Weslay menolak karena tidak terbiasa dengan keramaian orang yang berlalu lalang, di tambah lagi teriakan teriakan anak kecil yang merengek minta jajanan.
"Tuan harus bisa menerima tempat tempat yang banyak orang, karena tuan tidak akan bisa hidup di dunia tuan sendiri. suatu saat tuan akan butuh orang orang yang seperti itu." ujar Chalondra. Namun Weslay tetap diam sambil berjalan, tidak lupa jemari Ley ia tautkan pada jemari Chalondra. bahkan lebih kencang lagi. Jika di lihat, mereka seperti sepasang kekasih, Chalondra yang cerewet sedang kan Weslay yang diam mendengarkan penuturan dari Chalondra, dan tidak pernah menanggapi apapun.
Chalondra menunjuk nunjuk suatu pohon, pandangan Weslay pun mengikuti arah telunjuk yang Chalondra tunjukkan
"Kita lihat yang sedang main bola yuk." ajak Chalondra, lalu menarik tangan Weslay dan mereka pun berlari menuju taman yang lebih luas. di sana sedang ada beberapa remaja tengah bermain sepak bola.
banyak muda mudi yang asyik bersorak sorai memberi kan dukungan pada para pemainnya.
Chalondra memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang agak jauh dari lapangan bola, karena Weslay benar benar tidak mau mendekat. takut jika terlempar oleh bola.
"Tuan mau nggak jadi pria yang kuat seperti mereka." tanya Chalondra. seketika pandangan Wesley langsung tertuju pada Chalondra yang masih asyik melihat para pemuda di tengah lapang.
Merasa tidak ada sahutan dari lawan bicaranya, Chalondra segera memiringkan wajahnya. dan hasilnya tatapan bola mata mereka saling bertemu. Chalondra masih terpaku pada mata bola tuan mudanya yang berwarna hitam. sedangkan Weslay, Weslay terpaku pada wajah polos Chalondra yang sangat menggemaskan.
Plukk.. sontak kedua insan itu segera tersadar ketika ada bola yang melayang di pangkuan Chalondra.
"Kak, lempar ke Cilla bolanya kak." seru bocah kecil yang berusia sekitar 3 atau 4 th.
__ADS_1
"Ok, tangkap ya Cilla." balas Chalondra.
"Eehh tidak jadi, kakak mau nggak temenin Cilla main bola?" tanya Cilla.
Chalondra pun segera mengangguk. namun Weslay segera meraih pergelangan tangan Chalondra. "Jangan tinggalkan saya, saya tidak mau sendiri." ucapnya.
Huhhh.. Chalondra menghela nafas. "Ya sudah kita main ber3" ucap Chalondra
"Saya tidak suka dia. dia sudah mengganggu saya." ucapnya seraya menunjuk Cilla yang masih berharap ingin main bola bersama.
"Cilla, ayok sini main sama papa." teriak seorang pria yang mungkin berusia 28 tahun.
"Papa, Cilla mau main sama kakak ini. papa sibuk terus sama hp papa. Cilla nggak mau.," balas gadis kecil yang bernama Cilla.
Pria itu segera mendekat ke Cilla, lalu segera berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan putrinya.
"Maafin papa, papa tadi sedang ada telpon." ucapnya.
"Janji, papa tidak main hp terus kalau sedang bersama Cilla." ucap gadis itu.
"Tuan kita pulang yuk, sudah sore." ucap Chalondra. Weslay segera berdiri dan tidak menjawab "Ayo" ataupun "Iya ".
"Kakak..." seru bocah kecil itu lagi. yang membuat langkah Chalondra harus berhenti
"Besok kita main kesini lagi ya kak. Kakak mau kan main bola sama Cilla," ucap Cilla seraya memegang tangan Chalondra.
Chalondra tersenyum lalu mengangguk.
"Tidak, kita tidak akan kesini besok." tolak Weslay tiba tiba.
"Om, boleh yaa, sekali saja om." mohon Cilla pada Weslay. Chalondra rasanya ingin tertawa ketika Weslay di panggil om.
"Cilla, sudah nak, kita harus pulang. karena sudah hampir malam ini." lagi lagi pria yang di sebut papa itu kembali datang di antara mereka.
"Maaf ya nona, putri saya sudah membuat anda terganggu." ucap Pria itu. lalu mereka pun segera berpisah karena Weslay sudah menarik pergelangan tangan Chalondra untuk segera pergi.
__ADS_1
"Kamu kenapa tertawa terus?" tanya Weslay ketika mendengar suara tawa Chalondra dari tadi.
"Tuan tadi nggak denger di panggil "Om" oleh Cilla?" tanya Chalondra
"Denger, tapi biarkan saja." balasnya. Chalondra terheran saja mendengar jawaban yang tidak mempermasalahkan. padahal jika ada anak kecil yang menyebut dirinya di panggil "Tante" pasti Chalondra akan marah.
"Tuan tau nggak apa artinya 'Om', tanya Chalondra
"Tidak" jawabnya. "pantas saja tidak tau." gumam Chalondra.
"Tuan tidak ingin tau?" tanya Chalondra lagi. Weslay segera menggeleng, karena rasanya panggilan OM itu tidak penting. yang terpenting buat Weslay dirinya ingin segera menjauh dari gadis itu. Weslay sangat tidak menyukai jika ada yang mendekati Chalondra.
♡Sedangkan di tempat yang berbeda.♡
Landolfo tengah memandang foto putranya yang berjalan dengan bergandengan tangan dengan pengasuhnya, Yaa semenjak tragedi jatuh nya Weslay di kamar mandi, dan Chalondra berkata jika ada yang sengaja ingin mencelakai Weslay, di tambah lagi sang istri yang tidak sepenuhnya percaya pada Chalondra. Landolfo ahirnya menyewa bodyguard secara diam diam untuk mengawasi Ley.
Landolfo ingin setiap saat setiap Weslay keluar rumah, Landolfo ingin tau kabar Weslay.
Dan saat ini Landolfo tengah memandang foto Weslay bersama Chalondra. Foto itu baru saja di dapatkan dari orang kepercayaannya untuk menjaga keamanan Weslay dari jauh.
"Sepertinya Chalondra gadis baik baik, bahkan dia tidak malu menggandeng tangan Weslay, yang secara Weslay adalah cacat secara mental." gumamnya.
"Kalau di jodohkan dengan Weslay, kira kira mau nggak yaa." lirihnya.
"Siapa yang ingin papi jodohkan dengan Weslay,?" tiba tiba Irena datang dan langsung berkomentar.
"Mami, mami sudah pulang?" tanya Landolfo
"Jawab pertanyaan mami, Pi. Siapa yang ingin papi jodohkan dengan Weslay?" ulangnya lagi.
"Tidak ada mi, Papi hanya punya rencana saja. Siapa tau Weslay bisa sembuh." ujar Landolfo
"Pi, bahkan mungkin Weslay itu tidak memilki na*su sama wanita." hina Irena.
Plaakk...
__ADS_1
Irena segera memegang pipi yang terasa amat panas. "Papi, Papi nampar mami" lirihnya dengan bola mata yang sudah berkaca kaca.