
"Kak, minum kak." ucap Cilla seraya mengangsurkan segelas air putih pada Chalondra.
Ronald hanya mampu menyaksikan interaksi antara Cilla dan Chalondra. Cilla begitu akrab dengan Chalondra, dan ternyata memang Chalondra gadis yang mudah bergaul. Buktinya Cilla langsung nyaman dengan Chalondra.
"Cilla, Cilla nggak boleh bicara seperti itu." tegur Ronald
"Papa, Cilla nggak mau mama Vanes, mama Vanes jutek, Cilla nggak suka." adunya.
"Siapa yang ingin menjadikan Vanes jadi mama Cilla, papa juga nggak suka." balasnya.
"Haa.. Yang benar pa? Jadi mama Vanes bohong sama Cilla." ucapnya dengan binar. Ronald mengangguk. Karena memang untuk saat ini, Ronald tidak memilki perasaan apapun sama Vanes dan sama wanita yang lain manapun.
Akhir nya, makan siang mereka selesai dengan damai, Tidak ada drama keselak keselak karena ulah Cilla.
Mereka segera beranjak dari duduk mereka. Karena makanan yang di pesan sudah habis. Ronald segera menuju kasir.
"Tuan, kok tidak bayar?" tanya Chalondra
"mereka akan menagih di kantor nanti. Yuk, keburu sore." sahut Ronald.
"Papa... Cilla minta gendong pa." Teriak Cilla
"Jalan sendiri Cilla," sahut Ronald.
Chalondra yang mendengar penolakan Ronald terhadap permintaan putrinya itu merasa heran, "aneh saja, kenapa sikap Ronald seperti itu pada putrinya sendiri yang masih berusia 6 tahun." batinnya
Cilla menggerutu seraya memanyunkan bibirnya kesal. "Cilla mau kak Ocha gendong?" tawar Chalondra
"Oohh no no.." tolak Ronald
"jangan sekali kali gendong Cilla, ingat kau sedang hamil." ucap Ronald.
"Tapi tu.."
"biarkan saja, dia memang selalu mencari pembelaaan dari orang lain." sahut Ronald. Ronald segera membukakan pintu mobilnya. "Papa jahat." kesal Cilla
Sekitar 30 menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah milik keluarga Ronald. Rumahnya juga lumayan bagus dari rumah milik suaminya yang sebentar lagi menjadi mantan suami.
"Ayo kak Ocha, kita masuk. Papaku pasti sudah menunggu." ujar Cilla seraya menarik tangan Chalondra dan membawanya masuk.
"Cilla pelan pelan, kak Ocha sedang hamil loh." tegur Ronald, hawatir saja jika dengan sikap tergesa gesa Cilla membuat Chalondra jatuh dan berakibat buruk untuk Chalondra dan juga bayinya
"Opaa...!" teriak Cilla begitu kencang. Sontak saja sang opa yang sedang membaca koran segera menengok dan segera menyambut dengan rentangan tangan saja di atas kursi roda.
"Cucu opa, lama sekali perginya." keluh pria yang di panggil opa.
"tadi kita melihat orang di kubur opa, nenek kak Ocha yang di kubur." sahut nya
"Kak Ocha siapa?" tanyanya. Tak berapa lama Ronald datang dengan membawa oleh oleh kesukaan papanya.
"Pa," ucap Ronald dan segera menghampiri sang papa. Pria yang duduk di kursi roda pun segera mendongak dan memandang putra nya. Lalu beralih pada wanita yang ada di belakang Ronald.
"Nald, dia siapa?" tanya papa Ronald
"Ohh iya pa, ini Chalondra yang akan mengasuh Cilla," jawab nya. Chalondra terdiam ketika melihat pria yang duduk di kursi roda, seperti pernah melihat wajah itu, tapi di mana. batinnya.
__ADS_1
"Ohh, nggak pantas dia jadi pengasuhnya Cilla." sahut papa Ronald
"Pa, Cilla sudah cocok sama Chalondra. Tolong deh pa," protes Ronald
"Maksud papa. Tidak pantas jadi pengasuhnya, tapi lebih pantas jadi mama angkat Cilla." sahut papa Ronald
"Aahh papa," gumamnya
"Cha, kenalin ini papaku, namanya David." sahut Ronald.
"Oohh selamat sore tuan, saya Chalondra." ucapnya
"Saya David, papanya Ronald dan opanya Cilla." jawabnya
"Tadi apa yang di katakan Cilla, benar nenek Ocha meninggal?" tanyanya
"Iya pa, panjang ceritanya." sahut Ronald. Chalondra baru ingat, jika mata dan ketika Opa David tersenyum mirip seperti Nathan.
"Turut berduka ya nak Ocha atas meninggalnya nenek kamu." ucap David.
"Terimakasih tuan Opa." sahut Chalondra
"Opaa saja, tidak perlu pakai tuan, kan yang menggaji kamu bukan saya, tapi Ronald." bantah David.
...♡♡♡...
Sedang kan di tempat yang berbeda, Weslay masih duduk berlutut di pinggir makam Chalondra yang masih basah, penyesalan tinggal penyesalan. Karena apa yang sudah di buang, tidak akan mungkin kembali seperti dahulu.
Sungguh orang yang sudah memberi kabar bohong itu sangatlah kejam. Membayar semua warga kampung agar mengatakan jika Chalondra dan keluarga nya sudah meninggal dalam kebakaran.
"Setelah ini, hidupmu akan jauh lebih buruk Ley, karena aku tidak ingin kau menghancurkan rumah tangga mamiku." gumamnya.
Weslay mencengkeram gundukan tanah yang masih basah. "Aku berjanji padamu Cha, nyawa harus di bayar nyawa. Aku akan mencari siapa yang sudah membuat kehidupan kita seperti ini." janji Weslay.
"Bos, kira harus pergi dari sini. Karena hari sudah mulai gelap." ucap William .
"Ley," seru Landolfo. Ternyata Landolfo menyusul Weslay ke kampung halaman Chalondra bersama Irena.
"Ya tuhan, tega sekali warga di sini." ucap Irena yang terlihat sedih.
"Ley, kau harus cari tau dalang dari semua ini. Mami akan membantu mu." ucap Irena
"Tidak perlu, karena saya sudah mengantongi data orang orang yang sudah membuat kami berpisah." sahut Weslay tanpa melihat lawan bicara.
"Ley, biarkan mami dan papi ikut membantu." sela Landolfo
"Tidak perlu pi."
"Ley, apa kau tau. Jika Chalondra sepertinya tengah mengandung." tanya Landolfo.
Weslay semakin geram ketika mengungat obrolan papinya dengan Gisel pagi tadi. "Dan Weslay akan membuat orang yang sudah membuat istri dan calon anakku meninggal itu harus membayar nyawanya. nyawa harus di bayar nyawa." ucapan tegas Weslay mampu membuat Irena sulit bernafas. Tenggorokanya seolah kena musim kemarau yang panjang.
"Kita serahkan pada yang berwajib Ley. Papi yakin kau bukanlah pria kejam seperti mereka." Landolfo berkata begitu, agar putranya tidak menjadi pria pendendam
"NYAWA HARUS DI BAYAR NYAWA." tegasnya
__ADS_1
"Ayo Wil, kerahkan semua orang orangmu, sebarkan mereka di daerah ini." ujar Weslay yang mampu di dengar oleh Irena
"Pi," gumam Irena
"Papi juga hawatir jika Weslay memilki dendam mi, tapi papi tidak bisa berbuat apa apa, karena ini menyangkut keluarga Weslay. Jika Papi di posisi Weslay pun, papi akan melakukan hal yang sama." balas Landolfo.
"Iya juga sihh.. Mami juga mikirnya begitu. tapi kan kematian itu sudah di gariskan oleh tuhan." sahut Irena
"Kenapa mami begitu khawatir? apapun yang Weslay lakukan, itu artinya Weslay memang sudah menjadi pria yang sehat secara jiwa da. raga, itu artinya usaha mami selama ini membuahkan hasil dalam menjaga Weslay." ucapan Landolfo mampu membuat Irena bungkam. hanya mampu menjawab dengan anggukan saja.
"Ayo mi kita kembali ke kota. Papi akan membawa Weslay berubah menjadi pria yang punya pribadi yang bertanggung jawab yang tidak bergantung pada siapapun." ujar Landolfo
"Apa maksud papi?" tanya Irena
"Papi akan membuat Weslay sedikit demi sedikit melupakan Chalondra, papi tidak ingin Weslay hidup dengan perasaan bersalah yang berkepanjangan. Papi akan mengirim Weslay ke beijing. biarkan Weslay mengurus perusahaan yang ada disana." balas Landolfo.
Irena semakin panik. Irena khawatir Weslay akan semakin membalas dendam lewat Oscar disana. Oscar akan menjadi bawahan Weslay. dan perlu di ingat, Weslay sudah tau kebusukan Irena dengan Oscar.
"Pi, sebaiknya kita saja yang di beijing. Weslay biar mengurus di sini." ucap Irena
"Papi akan menjual perusahaan yang ada disini mi, papi ingin fokus di sana, papi akan membantu Weslay bangkit."
"Apa maksud papi, kenapa harus di jual?' tanya Nya
"Papi sudah punya pembelinya, dan Gisel lah yang mencarikan pembeli itu." ucap Landolfo. Landolfo mulai mengikuti saran Gisel untuk berpura pura menjual perusahaan yang ada disini. ide Gisel memang selalu jernih. Landolfo melirik perubahan wajah Irena yang terlihat sangat sedih.
"Kalau mami tidak setuju, papi akan jual yang ada di beijing. kita kembali ke indonesia saja, menghabiskan masa tua di sini."
"Pi, bagaimana jika Weslay kita jodohkan dengan teman Nathan." usul Irena
"Maksud mami,?" tanya nya
"Emmm.. gini pi, Nathan punya teman wanita, bagaimana jika kitakenalkan dengan Weslaý, mengingat Weslay se karang sedang dalam keadaan. terpuruk siapa tau dengan hadirnya wanita di sisinya mulai sedikit terhibur." ucap Irena
"Tidak mi, papi yakin Weslay belum bisa membuka hatinya untuk wanita lain." ucapnya
tidak terasa perjalanan mereka di habiskan dengan obrolan mengenai keadaan Weslay. Irena mulai menyusun rencana lagi, dan Landolfo mulai menjebak Irena apa yang ada di dalam otaknya.
Weslay sudah memasuki mensionnya, dan melihat Nathan tengah menikmati kopi dan biskuit yang sering tersedia di atas meja.
"Ley," seru Nathan dan langsung berdiri menghampiri Weslay.
"Turut berduka cita atas meninggalnya Chalondra, dan aku turut prihatin dengan perilaku Chalondra yang sudah menghina keluarga kita, dengan memasang fotonya di depan sampul majalah dewasa." ucap Nathan.
"Terimakasih Nath," jawab nya
"Apa kau mau melakukan sesuatu agar sedikit melupakan masalah yang ada." tanya Nathan
"Bagaimana? apa ada solusi?' tanya Weslay
"Kau bersihkan dulu saja tubuhmu. habis itu kita keluar cari hiburan." imbuhnya. Weslay segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Setelah ritual di kamar mandi selesai, kini Weslay dan juga Nathan sudah sampai di sebuah klub malam.
"Kita akan sedikit mencicipi minuman hangat Ley. Siapa tau kau bisa sedikit melupakan mendiang istrimu."
__ADS_1