
"Bang, ikuti mobil itu ya." ujar Chalondra
"Siap non." jawab bang Jek.
Chalondra mengawasi mobil yang suaminya tumpangi, dan jalan yang di lalui begitu asing. Chalondra melihat ada beberapa bangunan yang tidak terpakai.
Sekitar 1 jam mengikuti mobil Weslay. Ahirnya mereka berhenti, dan Weslay sudah memasuki sebuah bangunan kosong namun tertata sangat rapih, banyak tanaman yang sepertinya memang sengaja di rawat.
Chalondra melihat Weslay sudah memasuki bangunan itu, penasaran Chalondra segera mendekat dengan sangat pelan. Berjalan dengan mengendap endap. Tak berapa lama Chalondra melihat pengendara roda dua keluar dengan safety lengkap. Helm full face yang di pakai di kepalanya, membuat Chalondra tidak mengenali pria itu. Pria yang keluar dari bangunan itu memang tidak mirip dengan Weslay.
Chalondra semakin mendekat, dan nampaklah dari dalam luar, jika didalam tidak ada penghuni nya. Bahkan pakaian formal yang di kenakan Weslay sudah menggelantung di gantungan pakaian.
"Tuan, benarkah itu tadi tuan suami, jika benar. Jadi selama ini dia pura pura cacat.?" batinnya.
Chalondra melihat ponsel yang tergeletak di bangku masih menyala, menandakan jika ada seseorang yang baru saja menghubungi.
Chalondra mencoba membuka benda pipih Weslay, memang tidak di privasi. Karena selama ini Chalondra tidak pernah ingin tau, dengan siapa suaminya itu bergaul. Yang Chalondra tau, setiap hari suaminya itu hanya bersamanya.
Chalondra membuka obrolan di apk hijaunya. Dan yang pertama ia buka adalah obrolan dengan kontak yang bernama William.
Chalondra membaca hingga mensecrol keatas sampai Chalondra menemukan, jika suaminya itu tidak benar benar cacat. "Jadi apa yang dia lakukan padaku waktu itu, dia sadar... Benar benar sadar.." gumamnya. Tak terasa air mata Chalondra keluar tanpa di minta..
"Non, ini gi mana?" tanya bang Jek.
"Bang, antar ke alamat ini." ucapnya.
"Mari non." ucap bang Jek.
Chalondra berjalan keluar dengan perasan kecewa, marah dan benci. Cinta yang ia tanam ahir ahir ini, hilang jadi sebuah kebencian.
Chalondra kembali menoleh ke belakang, dan sekali lagi, Chalondra menghapus jejak air matanya. Chalondra segera menaiki motor yang sudah mengantar sampai kesini.
"Non, tapi ini jalannya cukup terjal, apa non tidak apa apa?" tanya nya.
"Tidak apa apa bang. Saya cukup kuat" jawabnya. Tiba tiba saja Chalondra merasa perutnya sedikit kram.
"Adduuhhh..." desisnya
"Nona, nona tidak apa apa? Apa kami kembali saja?" tanya bang Jek.
"Tidak bang, kita lanjut saja." jawabnya
"Kenapa perutku tiba tiba sakit, apa aku mau datang bulan?" gumamnya
Chalondra memaksa untuk berjalan, ingin memergoki pekerjaan suaminya yang sesungguhnya. Selama ini Chalondra sudah merasa di bodoh oleh suami nya sendiri.
"Kau pembohong tuan, aku pernah bilang jika aku sangat membenci yang namanya pembohong."
Ouuhh... Pekik Chalondra.
"Saya sudah bilang nona, jalanan ini cukup terjal." ucapnya
"Tidak apa apa bang."
...♡♡♡...
__ADS_1
Sedangkan di tempat yang berbeda.
"Katakan, bagaimana kelanjutannya." tanya Irena lewat benda pipih yang ia genggam.
"Nanti mami akan tau sendiri, kita cukup lihat bagaimana kabarnya setelah ini." ucap Nathan
Semalam Nathan memang pulang kerumah, karena sudah sangat larut, Nathan pulangnya tanpa suara.
Sampai dirumah, Nathan segera pergi kedapur untuk mengambil minuman berada dan membawanya ketuang televisi. Rasa lelah sehari jalan jalan bersama Sekar membuatnya ingin segera merebahkan diri di tempat tidurnya.
Namum ketika Nathan tengah membuka botol soda di tangannya. Tidak sengaja telinganya mendengar suara pria yang sangat familiar di telinganya.
Nathan berjalan pelan menaiki tangga, dan Nathan cukup terkejut ketika melihat Weslay tengah mengobrol dengan seseorang. Dan menyebut nyebut barang bukti.
"Jadi selama ini, Weslay pura pura cacat, untuk mengumpulkan barang bukti yang di lakukan mami." gumamnya.
Nathan masih mendengar hingga pembicaraan itu habis. Nathan segera menyelinap ketila Weslay berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Nathan masih bersembunyi di tempatnya. Hingga Weslay kembali keluar dan menuruni anak tangga satu satu persatu.
Nathan segera masuk ketika melihat pintu kamar Weslay sedikit terbuka. Nathan segera mengambil ponsel milik Wesley yang tergeletak. Lalu melihat di atas tempat tidur Weslay ada Chalondra yang sudah terlelap.
Nathan mendekatinya, dan sedikit membuka selimut yang di gunakan untuk menutup tubuh polos Chalondra.
"Woowww... Indah sekali milik Chalondra." gumamnya. Tak ingin membuang kesempatan, Nathan segera melepas pakaian atasnya, dan berbaring di sisi Chalondra. Nathan mengambil beberapa gambar dirinya bersama Chalondra yang sama sama tidak memakai pakaian.
Tap..tap.. Tap.
Nathan segera bersembunyi ketika mendengar detak langkah kaki yang mulai mendekat. Namun langkah kaki itu kembali menjauh. Tak ingin ada keributan, Nathan segera keluar dan tak lupa membawa ponsel milik Weslay yang tidak bersandi.
Tak berapa lama, Weslay sudah sampai depan kamarnya, dan menghentikan langkahnya ketika melihat pintu kamar sudah terbuka dan lampu yang menyala.
"Ada apa mi?"tanya Landolfo yang sudah berdiri di belakang Irena.
"Eehh papi, ini pi. Nathan sudah berhasil mengembangkan bisnisnya. Tapi Nathan butuh dana lagi." ucapnya
"Oohh ya, itu artinya sebentar lagi Nathan akan meresmikan usahanya padanya dunia dong mi" puji Landolfo
Landolfo sudah sedikit reda kemarahannya pada Irena, itu karena tadi pagi Irena memberikan apa yang suaminya minta tadi malam.
"Papi, papi mau kan memberikan dananya lagi untuk Nathan. sekarang kan Weslay yang mengelola perusahaan disana, tentu saja Nathan tidak bisa seenaknya minta uang di sana " ucap Irena.
"Nanti papi hubungi Kenan. mami tenang saja." ucapnya
"Terimakasih ya pi, papi memang ayah yang baik." ucap Irena
"Ya sudah papi berangkat dulu."
"Hati hati pi,"
Ponsel Landolfo berdering. Landolfo segera mengambil ponselnya dan melihat nama yang ada di layar pipihnya.
"Hallo Gis, ada apa?" tanya nya.
"*Tuan, ini nona Chalondra dan tuan Weslay tidak ada di ruangan." ucapnya
"Apa maksudmu? Apa mereka tidak datang ke kantor?" tanya Landolfo
__ADS_1
"Tadi ada tuan, tapi setelah saya kembali dari ruang meeting. tuan dan nona sudah tidak ada, dan ponselnya saya hubungi tidak ada yang nyahut." ucapnya*
"Ada apa lagi ini.. ya sudah, biar saya yang menelpon Weslay."
Landolfo segera menelpon Weslay. Namun memang nomernya sedang di luar jangkauan. Lalu beralih pada Chalondra. Sama sedang di luar jangkauan.
"Kalian, semoga saja kalian tidak ada sesuatu yang membahayakan, Ley. Papi cuma berharap kau bisa menjaga istrimu dengan baik." gumamnya
"Papi, ada apa?" tanya Irena
"Mi, papi minta tolong. Tolong hubungi nomer Weslay atai Chalondra. Tanyakan pada mereka, apa mereka baik baik saja?" ucap Landolfo
"Memang kenapa sih pi. Pasti mereka baik baik saja. Mami lihat Chalondra sangat sabar menghadapi Ley." ucapnya
"Papi yang ragi mi, Weslay yang tidak sabar menghadapi Chalondra. Mami kan tau, jika Weslay adalah pria yang tidak bisa menahan emosinya." ucap Landolfo
"Ohh, ok pi. Mami telpon Weslay."
"Terimakasih ya mi." ucapnya. Lalu segera keluar untuk pergi ke kantor.
...♡♡♡♡...
Perut Chalondra semakin merintih. Namun petualangannya sudah hampir sampai. Chalondra kembali melihat bangunan yang lebih seram. bercat hitam dan pintu gerbang sudah hampir terkelupas cat nya.
"Bang Jek, terimakasih ya. ini ongkosnya." ucaonya
"Tapi Non, non benar tidak apa apa?" tanya bang Jek.
"Iya bang, tidak apa apa." ucapnya.
Chalondra segera berjalan memasuki gedung yang tidak layak di pakai. Namun masih banyak barang yang masih bagus. ada sepasang meja kursi yang masih bagus.
"Katakan. siapa yang sudah membayarmu?" seru Weslay. yang terdengar dari luar. Chalondra menghentikan langkahnya, ketika suara itu terdengar sedang marah.
Chalondra kembali masuk dan terpaku pada satu objek yang memegang samurai dengan kilatan cahaya.
Bugghhh... "Kau pilih mati, atau mengatakan semuanya." ancam Weslay seraya mengarahkan samurai pada leher pria yang di ikat.
Chalondra menutup mulutnya agar tidak terdengar ketika sedang bergumam.
"Bos..." gumam seorang pria yang berada di samping Weslay seraya menunjuk kearah Chalondra dengan dagunya.
Weslay segera menoleh. Dan "Sial..." umpatnya.
"Beresi pria ini." titahnya. Lalu segera berbalik dan melihat Chalondra tengah menggelengkan kepalanya pada Weslay.
"Cha, aku bisa jelaskan semuanya." ucapnya seraya berjalan kearah Chalondra
"Jelaskan apa tuan. Anda akan mengatakan jika anda sudah berbohong pada saya " tekan Chalondra
"Cha, saya akan jelaskan semuanya." ucapnya
Chalondra segera berbalik dan pergi meninggalkan Weslay keluar lalu berlari.
"Adduuhhh.. " desisnya
__ADS_1