
"Makanya, papa sangat menyayangi Cilla, di sisi lain dia adalah obat penawar rindu pada putrinya. Juga sebagai pengobat lara terhadap kepergian orang orang yang ia cintai." ujar Ronald.
Mereka pun sudah sampai di kontrakan yang di tempati Evellin dan juga Kenzo. Chalondra segera keluar dari mobil yang di tumpanginya. Lali disusul oleh Ronald
"Kalian sekarang bersiap siap, kita akan melihat sekolah kalian yang baru." ucap Chalondra.
"benarkah?" tanya Kenzo.
"Hehemm."
kenzo dan Evel segera bersiap untuk melihat sekolah barunya, karena mereka masih di tingkat menengah, Chalondra tidak ingin pendidikan mereka hanya berhenti sampai di sini. Chalondra berharap kedua adiknya bisa sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi darinya.
Setelah mereka bersiap, mereka segera keluar rumah, mencari sarapan terlebih dahulu. tadi Evel sebenarnya sudah menyiapkan makanan. hanya saja Ronald pingin mengajak makan bersama di luar.
"Kak Ronald, sudah lama jadi dojter?" tanya Kenzo.
"Sekitar 2 tahunan, Ini juga masih koas karena masih di jenjang pendidikan." sahutnya. Usia Ronald memang masih terbilang muda untuk menjadi seorang dokter spesialis. namun mungkin karena tidak pernah berhenti belajar. kini Ronald mengambil spesialis anak.
"Tapi kok sudah punya anak? padahal masih dalam proses belajar." sahut Evel
"ceritanya panjang. biar kakak kalian saja yang cerita " sahut Ronald. mereka kembali melanjutkan sarapannya. Chalondra hanya pesan jajanan pasar, karena sepertinya dirinya sangat menyukai jajanan tradisional untuk saat ini.
"Kakak nggak makan?" tanya Evelin
"Sudah kenyang." jawabnya. Chalondra melihat ada jajanan keliling yang sangat menggoda lidah.
"Sebentar yaa.." pamitnya
"Kak." seru Kenzo
"Kakak pingin jajanan itu." jelasnya. Chalondra melihat jajanan yang dulu pernah dimakan saat bersama Weslay, jajanan anak anak yang sering di sebut cilur.
Tiba tiba wajahnya terlihat murung, air matanya mulai menganak sungai pada pelupuknya, "Kenapa tiba tiba aku merindukan nya." gumamnya. Chalondra menutup wajah nya untuk menutupi wajah yang memerah. saat ini Chalondra sangat ingin bertemu dengan ayah dari anak anaknya.
Chalondra berjalan menuju parkiran. lalu menyetop mobil taxi yang lewat. rasanya benci terhadap Weslay tiba tiba saja hilang. yang ada di dadanya hanyalah rasa rindu.
"Tuan suami, ku mohon untuk kali ini saja, kau mau mendengarkan aku. Aku tidak mungkin melakulan perbuatan sehina itu." gumamnya setelah masuk kedalam mobil taxi. Chalondra beberapa kali menghapus pipinya yang di banjir oleh airmata.
"Sabar ya nak. mama mau menciba menjelaskan pada papa kalian. semoga papa kalian mau mengerti." bisiknya
"Ini kemana bon?" tanya sang sopir.
"Ini pak, ke alamat ini." tunjuknya pada layar ponsel.
__ADS_1
"Ok non, tapi agak mahal non. soalnya lumayan jauh." ujar sang sopir
"Tidak apa apa pak." Jawab nya.
Chalondra beberapa kali mengelus perutnya masih rata. berharap kedua anaknya mau mengerti jika papa nya memang tidak bisa menerima kembali.
Tak berapa lama, mobil yang Chalondra tumpangi sudah memasuki kota yang di tinggal oleh Weslay.
Chalondra segera turun setelah memasuki komplek. Chalondra berjalan dengan begitu semangat, rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan suami tercintanya. "Sayang, kita sudah sampai, kalian yang tenang yaa.. biar mama aja yang gugup." ujar Chalondra.
Chalondra berhenti melangkah ketika melihat banyak mobil yang terparkir di halaman rumah mewah milik keluarga suaminya.
"Ada apa ini? apa yang terjadi dengan tuan suami." lirihnya.
"Pak, ini ada apa?" tanya Chalondra pada seorang pria yang berpakaian serba hitam
"Ini ada acara pernikahan, anda mau cari siapa?" tanyanya
"Siapa yang menikah?" tanya Chalondra
"emmm.. tuan kami, tuan muda Weslay." jawabnya
"Apa,, ini tidak mimpikan? gumamnya. pria yang bertugas untuk menjaga itu hanya memandang Chalondra.
"Anda cari siapa nona?" tanya nya lagi.
"Saya tidak tau, coba saja anda cari. mungkin ada." ucap penjaga itu lagi.
Chalondra mengangguk dan berjalan dengan sangat pelan. rasanya langkah ini begitu berat untuk sekedar melihat kebenaran yang ada di dalam sana. " Benarkah tuan suami menikah lagi? ternyata cinta dan sayang dia itu hanya sebatas bibir." batinnya.
Chalondra mulai memasuki rumah yang sudah ia tinggali beberapa bulan. walau begitu singkat namun banyak memberi kenangan indah bersama Weslay, senang dan susah hidup bersama Weslay ternyata lebih banyak senangnya.
Chalondra menghentikan langkahnya, dadanya begitu sesak ketika melihat dua mempelai berada di depan meja penghulu. Chalondra hampir saja terjatuh, jika Ronald tidak menangkapnya.
Bibirnya tak bisa berkata kata lagi, hatinya begitu sakit, Hikzz.. Chalondra memeluk Ronald.
"Kuatkan dirimu Cha, semua akan segera membaik." bisik Ronald.
Beruntung Ronald tadi punya inisiatif untuk mendatangi rumaj Weslay, karena tiba tiba saja tadi Chalondra menghilang. dan bertanya pada sopir taxi yang lain. jika Chalondra pergi dengan taxi kearah selatan.
"Sesakit inikah di bohongi oleh cinta, jika saja aku tau akan sesakit ini, mungkin aku tidak akan menaruh hatiku padanya." ucapnya dengan suara parau.
Ronald segera membawa keluar Chalondra, karena tidak ingin melihat Chalondra semakin sakit dan akan menimbulkan jadi pusat perhatian tamu yang hadir.
__ADS_1
Chalondra masih menangis sesenggukan di dada Ronald. "Apa suaminya sudah ketemu tuan?" tanya seorang pria yang menjaga
"Sudah, dia sedang menikah dengan wanita lain." Jawab Ronald. dan segera berlalu.
penjaga itu menatap kepergian Ronald dan Chalobdra dengan perasaan bingung. "memangnya siapa suaminya itu? masak iya tuan Weslay?" gumamnya
...♡♡♡...
"Ok, aku akan ikuti permainan kalian." batin Weslay. Jangan di kira Weslay tidak tau apa apa. Sebenarnya setelah kejadian itu, William selalu mengikuti kemanapun Weslay pergi. Termasuk tadi malam klub yang menjadi tujuan Nathan.
Weslay hanya ingin tau, sejauh mana mereka membodohi dirinya dan sang papi. Dan langkah selanjutnya yang akan mereka lewati. Weslay akan mengikuti permainan mereka.
Disinilah Weslay dan juga Emily duduk berdampingan dengan di keliling oleh beberapa saksi untuk menyaksikan pernikahan Weslay dan juga Emily.
Hanya dengan cara ini, semua nya akan terkuak. Weslay memandang satu persatu wajah mereka, Melihat wajah Nathan yang terlihat berbinar, lalu pada ibu tirinya yang juga sama ada kebinaran. cuma Emily yang terlihat kurang bahagia, disana juga ada orang tua Emily yang tidak tau apa apa.
Rangkaian acara pernikahan Weslay dan Emily pun segera di mulai. William datang dan segera membisikkan sesuatu pada Weslay. Weslay terlihat sumringah ketika William membisikkan sesuatu.
"Kalau begitu, segera lakukan sesuatu." ucap Weslay
"Baik Bos." jawabnya.
William segera menghampiri Landolfo yang masih duduk di samping Irena.
"Tuan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." ucap William.
"Disini saja." sahut Landolfo
William sedikit berpikir, lalu melihat kearah Irena yang masih terlihat menyunggingkam senyum. "Ternyata Irena sangat bahagia luar dan dalam. Lihat saja, apa yang akan terjadi setelah ini." batin William.
Weslay hanya ingin, semuanya segera terungkap. Weslay yakin, jika kematian keluarga istrinya adalah perbuatan ibu tirinya.
"Baiklah tuan, saya akan berikan ini pada anda. Tapi tuan Weslay meminta agar anda cepat membukanya." ucapnya.
Beruntung, setelah kejadian terbarunya Weslay di kamar mandi waktu itu, Weslay meminta William untuk lebih ketat penjagaannya. Karena Weslay yakin, jika musuhnya masih mengincar nyawanya.
Landolfo segera membuka amplop yang baru saja William serahkan. Landolfo sangat terkejut ketika melihat foto rekaman cctv nya. Lalu kembali melihat foto lainnya.
"Ada apa pi?" tanya Irena, ketika melihat perubahan wajah suaminya yang tiba tiba memerah.
"Ikut saya," jawabnya. Landolfo segera menarik pergelangan tangan Irena dan meninggalkan ruang acara yang sebentar lagi akan di gelar.
"Ada apa sihh pi?" tanya nya.
__ADS_1
"Wanita itu tengah mengandung. Dan mami tau siapa ayah bayi itu?" tanya nya.
"apa maksud papi, papi tau dari mana?" tanyanya. Landolfo segera melempar foto dan laporan dokter milik Emily.