
"Baik Dokter-." sebelum Chalondra berkata dengan sempurna. Weslay lebih dulu memotongnya. "Tentu mereka tidak menyusahkan ibunya, karena papanya sydah datang dan menyapanya tadi malam." ucap Weslay. Yang mampu membuat Chalondra tak bisa menatap wajah dokter Ronald karena sudah sangat malu atas pengakuan sang suami.
"Ayo nyonya istri, kita masuk, silahkan dokter kita sudah di tunggu oleh tuan rumah." ucap Weslay seraya merangkul pinggang sang istri.
"Saya bisa jalan sendiri." desisnya
"Aku tau, aku hanya tidak ingin dokter itu mendekatimu." Sahutnya
Mereka sudah memasuki ruang utama om Tama. Baru kali ini rumah mewah nan megah itu begitu ramai dengan kehadiran keponakannya. Selama ini om Tama sangat memimpikan momen ini.
Banyak jamuan yang di hidangkan oleh keluarga om Tama.
"Kau, ikut saya masuk." ucap om Tama yang tujukan pada Weslay.
Weslay segera mengikuti langkah om Tama. Mereka berjalan menuju teras belakang, om Tama hanya ingin menasehati Weslay agar tidak gegabah dalam mengatakan sesuatu pada istrinya, mengingat istrinya sedang hamil muda.
"Kenapa kau terlantarkan keponakanku?" tanya om Tama langsung pada permasalahan.
"Maafkan saya om, inilah kebodohan saya, saya yang mudah terpercaya oleh musuh saya. Saya yang tidak percaya jika istrinya adalah wanita baik baik." ucapnya
"Kau mengakuinya?" tanya om Tama. Weslay langsung mengangguk. Karena tidak ada gunanya menyangkal. Semuanya memang begitu.
Weslay berjanji, setelah ini akan memenjarakan ibu tirinya serta adiknya yang sudah membuat nyawa orang hilang karena fitnahnya. Dan akan segera membawa Nathan pada jalur hukum karena sudah menyebar isu yang tidak benar.
...♡♡♡...
Sedangkan di tempat yang berbeda.
"Bagaimana keadaan kantor Ken?" tanya papi Landolfo yang masih terbaring di rumah sakit. Landolfo sedikit tenang saat mendengar, jika Weslay sudah menemukan Chalondra dan sekarang tengah menjemputnya.
"Semuanya bisa di atasi oleh Lay, kak. Kakak tenang saja." jawabnya. Landolfo yakin putranya itu bisa di andalkan. Pemasok ikan laut yang sempat ingin belok pada juragan baru, akhirnya bisa Weslay tarik kembali, walaupun dirinya harus menghabiskan waktu yang lumayan lama untuk menyelesaikan.
"Aku yakin, putraku bisa di andalkan." gumamnya yang langsung di angguki oleh Gisel serta Kenan.
"Kak, bagaimana dengan kasus Irena, apa kakak tetap akan menceraikan?' tanya Kenan, walaupun bukan ranahnya menanyakan hal itu, tapi Kenan sangat bahagia jika kakak sepupunya itu bisa terlepas dari Irena.
"Aku sudah mengurus semua Ken, kau tenang saja." Sahutnya.
"Lagian, aku tidak memilki anak darinya, jadi tidak ada pertimbangan apapun." imbuhnya, benar juga, jika ada anak pasti akan memikirkan perasaan anak mereka. Beruntung sekali buat Landolfo, ketika Irena menolak hamil anaknya. Alasannya mau fokus urus Weslay.
"Tuan, di luar ada nyonya Irena." ucap seorang pria yang bertugas menjaga Landolfo.
"Mau apa lagi dia?" gumamnya
"Suruh saja masuk Ren." tambahnya.
"Papi, papi tidak bisa perlakukan mami begini, hanya kesalahan sedikit saja papi sudah ingin menceraikan mami. Ini nggak adil pi, dan lagi... Kenapa semua ATM mamj di blokir , papi sangat tidak adil dengan apa yang sudah mami korbankan untuk Weslay dan papi." cerocos Irena yang seperti rel kereta api tanpa putus
"Jika menurutmu itu semua tidak adil bagimu? Lalu balasan apa yang harus aku berikan padamu atas semua tipu dayamu tentang Weslay, kau sudah membuat putraku seolah pria gila dan bodoh. Dan semua itu kau anggap pengorbanan? Apa pengorbananmu yang mengeluarkan uang banyak untuk menghancurkan putriku harus aku beri penghargaan semua kekayaan milik keluarga Wardhana. Itu tidak mungkin nyonya, jika saya berada di posisi putraku, sudah pasti saya akan menjebloskan anda ke ruang bawah tanah yang hanya berpenghuni tikus dan kecoa." balas Landolfo yang tak kalah panjang.
__ADS_1
"Mami tidak seperti itu pi, mami sangat menyayangi Ley, sungguh." bantahnya.
"Gis," seru Landolfo, agar Gisel segera mengeluarkan bukti jika Irena sudah terlibat memalsukan data Weslay.
"Coba kau cermati semua yang terekam disitu. Mungkinkah semua itu palsu." ujar Landolfo
"Pi," lirihnya.
"Jika semuanya kurang jelas, kau bisa tanyakan pada pengacara." Sahutnya. Irena langsung menunduk, "Habislah riwayatku, semua yang ku perjuangkan tidak ada yang berhasil ku genggam. Semua ini gara gara Oscar, kenapa dia tidak pikir pikir jika harus mengabadikan waktu itu." batinnya
Irena segera keluar dari ruangan rawat Landolfo. Lalu segera menekan tombol panggilan pada kontak Oscar.
"terima kasih ya Gis, kau bekerja begitu cepat dan rapi." puji Landolfo. Kenan hanya tersenyum melihat kakak sepupunya yang terang terangan memuji Gisel, pekerja yang selama ini tidak pernah di lirik oleh Landolfo.
"Sama saja tuan, ini semua juga tidak lepas dari bantuan om ken- " ucapan Gisel terpotong, ketika Ketika berdehem. Agar Gisel tidak membuka jati dirinya terlebih dahulu.
Beruntung, Landolfo tidak begitu mendengar ucapan terakhir Gisel.
"Tolong Ken, saya mau ke kamar mandi." ucap Landolfo. Dengan gerakan cepat Kenan pun segera membantu Landolfo ke kursi roda.
Gisel segera merapikan tempat tidur bosnya, tadi dokter sudah mengatakan jika Landolfo sudah boleh pulang, Landolfo menderita stroke ringan. Jadi harus memakai kursi roda untuk sampai di tempat yang ia inginkan. Ini hanya sementara, karena dengan therapy dengan rutin bisa disembuhkan.
"Gis, om keluar dulu ya, tolong kau jaga kakak sepupuku." pamit Kenan.
"Tapi om-"
"Sebentar saja." tambahnya. Kenan segera keluar untuk mencari sesuatu untuk sarapan. pagi ini Kenan memang sarapan, itu karena Landolfo menelponnya pagi pagi sekali, hanya ingin tau perkembangan kantor, setelah tadi malam Landolfo meminta perubahan penempatan jabatan yang baru.
Gisel duduk di sofa seraya menunggu bos besarnya kekuar dari toilet. Tak berapa lama, pintu toilet di buka dari luar, Gisel segera menghampiri bosnya.
"Di mana Kenan?" tanyanya
"Pak Kenan sedang keluar sebentar tuan. Pak Kenan meminta saya untuk membantu tuan." balas Gisel.
agak canggung juga sebenarnya di bantu oleh pegawai wanitanya. Gisel segera membantu bosnya untuk berpindah ketempat tidurnya.
"Ternyata, Wajah Gisel sangat cantik dan tidak membosankan, apalagi jika di amati dari jarak yang begitu dekat." batinnya. Mendapat tatapan intens dari bosnya, dada Gisel terasa bergemuruh, tangannya tiba tiba saja dirasa sangat dingin.
Dughhh Dughhh..Dughhh
di tambah lagi dengan suara detak jantungnya. Pipi Gisel mendadak merah saat melirik, dan mendapati bosnya masih menatapnya.
"Tuan, sudah." ucapnya lirih. Landolfo masih belum sadar dari keterpukauannya terhadap pemandangan di depan nya.
Ceklekk.. Pintu ruangan terbuka dari luar, Kali ini yang masuk adalah Tian, Tian yang bermaksud untuk menjenguk, Tian menghentikan langkahnya, ketika melihat kakak iparnya tengah memandang wanita yang ada di depannya. "Seperti nya kakak iparnya ini tertarik dengan Gisel." batinnya.
"kakak.. " Seru Tian, yang berhasil menyadarkan Landolfo.
"Oohh,, eh Tian." Sahutnya gugup
__ADS_1
"Kakak, Tian hanya ingin bicara 4 mata dengan kakak." ucap Tian
"emmm.. silahkan." jawabnya. "Gis, apa kau bisa melakukan sesuatu untukku.?" tanyanya
"bisa tuan, apa yang tuan butuhkan?" tanyanya.
"Aku ingin, kau hias rumahku untuk menyambut kedatangan putra dan menantunya nanti malam." ucapnya
"Baik tuan, saya akan segera kerjakan." balasnya.
"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan?" ujar Landolfo mempersilahkan Tian untuk mengatakan sesuatu.
"Apa karena wanita itu, kak Ando menceraikan kakak saya?" tanya Tian yang langsung menyerang dengan tuduhan yang tidak berdasar.
Landolfo mengeluarkan tawa jenakanya. "Kau itu lucu Tian, bukankah kau yang sudah menggali lubang untuk kakakmu.?" seorang balik Landolfo
"Apa maksud kakak, mana mungkin saya akan mencelakai kakak saya sendiri." bantahnya
"Ya aku tau, awalnya kau memang akan menyelamatkan keluargamu, dengan menjadikan putraku pria gila yang tidak pantas untuk bersanding dengan orang tuanya. Tapi jika itu sukses Tian, nyatanya apa yang kalian rencanakan sudah terbongkar semua. Jadi ini yang di namakan kau sudah menggali lubang untuk keluargamu." ucap Landolfo lagi.
"Itu tidak benar kak, kami sangat menyayangi Weslay. Itu fitnah." sangkal Tian.
"Sayangnya, apa yang kau anggap fitnah itu. Memang benar adanya, kakakmu sudah mengatakan sendiri disini." Sahutnya
Tian tak bisa mengelak lagi, memang begitu kebenarannya.
...♡♡♡...
Weslay tengah melakulan perjalanan menuju kota, di sampingnya ada sang istri yang dari tadi melihat luar pesawat.
"Kenapa sedih?" tanya Weslay
"Apa papi masih meragukan saya?" tanya nya.
"papi memang masih ragu, makanya nyonya istri harus menjelaskan pada papi." ucap Weslay
"Tapi kan tuan tau, saya tidak melakukan itu. seharusnya tuan menjelaskannya." sahut Chalondra
"Nyonya istri, papi itu lebih percaya dengan mulut menantunya ketimbang anaknya, mungkin papi akan diam untuk sementara waktu dengan nyonya istri." ucap Weslay, Weslay sengaja menakuti Chalondra,
"Kalau papi tidak mau mendengar?" tanyanya
"Itu salah nyonya istri, kenapa tidak kunjung datang untuk menjelaskannya." balas Weslay
"Kok jadi nya lagi saya, kan tuan suami yang menyuguhkan pemandangan akan menikah waktu itu." sahut Chalondra lagi.
Ternyata sepanjang perjalanan di dalam pesawat tudak terasa, sehingga mereka sudah sampai di bandara internasional soekarno hatta. Mereka sudah di tunggu oleh mobil yang di kirim oleh Gisel.
Tak butuh waktu lama, Mereka sudah sampai di depan rumah besar milik keluarga Wardhana. Chalondra menghentikan langkahnya, saat melihat wamita yang pernah ja lihat bersama suaminya.
__ADS_1
"Tian bilang, dia bukan istri tuan."