
"apa maksud papi, papi tau dari mana?" tanyanya. Landolfo segera melempar foto dan laporan dokter milik Emily itu ke meja.
"Itu tidak mungkin pi, pasti ini jebakan saja. Nathan tidak mungkin seperti itu, kan papi yang mendidik Nathan pi." bantah Irena.
"kita harus bawa wanita yang bernama Emily itu kerumah sakit. Kita buktikan tentang kebenaran nya mi." sahut Landolfo
"Eemmm..." Irena sedikit berpikir, memikirkan nasib putranya jika Landolfo sampai tau dan marah pada Nathan. Bisa bisa Nathan tidak punya kesempatan untuk menguasai harta milik Weslay.
"papi yakin itu perbuatan Nathan? Kalau misalkan iya, papi mau lakuin apa ke Nathan?" tanya Irena
"Papi hanya ingin Nathan bertanggung jawab mi. Dan papi sangat senang jika itu anak Nathan, itu artinya papi sebentar lagi punya cucu." sahutnya.
"Ayo mi, kita harus menghentikan pernikahan ini. mumpung pegawai catatan sipil belum datang." ucap Landolfo. Namun Saat Landolfo sydah kekuar, Landolfo melihat dua pria dengan pakaian dinas, sudaj duduk di depan Weslay.
pegawai catatan sipil itu sudah mengulurkan tangan untuk memulai proses pernikahan.
...♡♡♡♡...
Berbeda dengan Chalondra,.
Chalondra masih terisak di pangkuan Ronald, Evelin dan juga Kenzo sudah di antar lebih dulu di kontrakan.
"Cha, sudah dong jangan nangis, saya sedih kalau lihat perempuan nangis." bujuk Ronald.
"Dokter, saya kecewa dok. selama ini dia selalu mengatakan mencintai saya, dan saya ingin hubungan kami kembali membaik dan membesarkan kedua anak kami, tapi dia.. dia malah udah nikah lagi." ucapnya walau tidak jelas, Ronald cukup paham apa yang Chalondra ucapkan
"Dokter, bawa saya pergi dok, saya tidak ingin bertemu dengan dia lagi." ujar Chalondra.
"Tenang Cha," sahut Ronald
Ronald terdiam beberapa saat, "Oohh iya, apa kau mau hidup di suatu tempat yang jauh dari sini." ujar Ronald
"Asal tidak bertemu dia lagi." sahutnya.
"Ok, nanti aku dan Cilla akan serong mengunjungimu." ucapnya.
Ronald segera melajukan mobilnya menuju jalur luar kota, melewati hutan hutan yang begitu rindang.
"Cha, kau tidak takut jika aku bawa kabur?" tanya Ronald.
"Saya yakin kau orang baik Dok, membesarkan keponakan dan rela di panggil papa walaupun bukan orang tuanya. jadi saya tidak begitu takut." jawabnya
"Bagaimana jika aku membunuhmu?" tanya Ronald
"Itu jauh lebih baik buat saya dokter, setidaknya rasa sakit dan kecewa saya hilang." sahutnya.
"Dokter tidak apa apa hari ini tidak ke rumah sakit." tanya Chalondra
__ADS_1
"Ya ampun Cha, aku sampai lupa jika harus mengganti prakteek dokter Ria." jawabnya. dengan menampakkan wajah sedih.
"Dokter, maaf.. karena saya dokter pekerjaan dokter jadi terbengkalai." sahut Chalondra yang merasa bersalah.
"Tidak bisa kalau hanya ucapan maaf Cha, kau harus mengganti nya dengan yang lebih dari kata maaf." ujar Ronald
"kalau di minta mijitin, maaf dokter saya tidak bisa." balasnya.
"terserah aku dong Cha, lagian aku suka sekali di pijit." jawab nya.
"Jangan dokter, saya hanya mau mijitin suami saya." tolaknya.
"Kalau begitu kau menikahlah denganku Cha," sahut Ronald.
"Duuhh salah ngomong lagi." batin Chalondra.
Ronald kembali melirik kearah Chalondra yang tiba tiba diam. "kenapa Cha, kau mau kan menikah denganku. lagian suamimu juga rupanya sudah menikah dengan wanita lain. dan lagi Cilla juga sudah siap memilki mama baru." sahutnya
"Maaf dokter. saya masih mencintai suami saya." balasnya
"Tidak buru buru, sampai kau melahirkan juga nggak papa aku menunggu." sahut Ronald.
Chalondra lagi lagi di buat cengo oleh ungkapan Ronald. sedangkan Ronald biasa saja menanggapi gombalan yang di keluarkan sendiri. "Kau serius sekali sih Cha, aku cuma becanda." balas Ronald tiba tiba.
"Kebetulan hari ini saya memang sedang tidak ada jadwalnya Cha, kau tenang saja." sahutnya kemudian
"Kita mau kemana dokter?" tanya Chalondra
"Aku akan membawamu ketempat yang nyaman jauh dari suamimu." sahut Ronald.
Ronald mulai memasuki kawasan bukit bebatuan yang sering di lalui oleh para pengemudi kendaraan roda 4. Ronald mulai memasuki halaman luas yang di depan nya ada rumah mewah di pinggir pantai.
Setelah di buka oleh penjaga pintu gerbang, Ronald kembali melajukan mobilnya menuju depan rumah.
"Ini villa siapa?" tanya Chalondra
"Ini adalah villa keluarga kami, kau tinggalah disini dan disini kau tidak akan kesepian, karena disini aku juga memilki restoran yang menyediakan menu hasil tangkapan laut. Kau bisa bekerja di sana." ucap Ronald.
"Ayo masuklah, di dalam ada bik Rubi yang akan menemani mu selama kamu di sini." ujar Ronald.
...♡♡♡...
"HENTIKAN PERNIKAHAN INI,!" seru Landolfo. Nathan yang tengah duduk di samping Weslay terinjak, dan segera menoleh memandang pria yang selama ini ia sebut papi.
"Pi," Nathan segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Landolfo.
"Seharusnya kau yang menikah dengannya Nath, bukankah dia sedang mengandung anak kamu." ujar Landolfo
__ADS_1
"Tidak pi, itu fitnah." sahut Nathan tergagap.
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu fitnah. Lihat ini foto dan bukti nya Nath, Dasar bodoh." Plak.. Geram Irena. Bagaimana bisa Nathan seceroboh ini, hingga menggagalkan acara pernikahan yang seharusnya di laksanakan oleh Weslay dan Emily.
Nathan langsung menunduk saat di tatap oleh Irena, Nathan tau pasti maminya sangat marah padanya. Awalnya memang ini rencana Nathan, agar ketika Emily melahirkan anak itu di akui sebagai pewaris utama Wardhana, setelah itu rencana akan berjalan mulus sesuai yang Nathan dan Irena susun. tapi nyatanya, sebelum semuanya berjalan memuaskan, semua nya sudah terbongkar lebih awal.
"Sekarang kalian menikah." titah Landolfo. Weslay segera pergi meninggalkan acara pernikahan yang tidak penting ini buatnya. Weslay segera keluar, Weslay merasa jika saat ini ada yang mengawasi dirinya dari jendela. bayangan Chalondra itu tiba tiba saja muncul dari jendela dengan deraian air mata.
Weslay segera berjalan keluar mencari sosok wanita yang selama beberapa bulan ini mengisi kekosongan hatinya.
"Tuan, tian cari siapa?" tanya seorang pria yang memakai pakaian hitam.
"Tidak, tidak ada." jawab nya. Weslay baru ingat, jika selama beberapa hari ini tidak melihat ponselnya.
Weslay segera berlari menuju kamar utama yang ia tempati bersama Chalondra. mencari ponsel miliknya. Weslay mulai membuka laci dan susunan buku buku milik Chalondra yang masih tertata rapi. padahal malam kemarin meja ini begitu berantakan
"Ponselku, di mana ponselku." gumamnya. Weslay kembali mengingat ingat dan terahir dirinya menggunakan ponsel itu ketika berada di bangunan di mana kendaraan itu ia simpan.
Weslay kembali keluar, "Bodoh, kenapa aku melupakan benda itu." lirihnya.
Weslay segera keluar dan bertemu dengan Kenan di depan pintu.
"Om, ada apa?" tanya nya.
"Kak, ada yang nyari kakak di luar." ujar Tian
"Siapa?" tanyanya
"Kenan," balas Tian
Landolfo segera keluar, kalau Tian yang mencari, pasti sangat penting. Ada sesuatu yang harus di selesaikan.
"Bagaimana om, ada apa?" tanya Weslay yang sudah lebih dulu menemuinya.
"Gini Ley, pemasok ikan segar kita sudah tidak mau memberikan pada kita, katanya ada yang berani membayar dengan harga lebih." ucap Kenan
"Kenapa begitu?" tanya nya.
"Ada yang mencoba nyrebot pelayan kita. Sepertinya mereka sudah tau dari mana kita mengambil ikan itu." ujar Kenan.
"Ada apa Ken?" tanya Landolfo tiba tiba
Kenan kembali menjelaskan kedatangannya. " Ayo kita keruang kerja." ajak Landolfo. Kenan dan Weslay pun mengikuti keruang kerja. Rencana untuk mengambil ponsel terlupakan lagi.
"Ley, coba kau selidiki, papi yakin kau bisa menyelesaikan permasalahan ini." ucap Landolfo.
"Ley akan berusaha pi." balas nya. mungkin dengan begini, bayangan Chalondra bisa sedikit tersisihkan walau hanya sementara.
__ADS_1