Gairah Pria Autisme

Gairah Pria Autisme
episode 26. Kilas balik


__ADS_3

"Apa Weslay di bawa kerumah sakit... emm psikiater?" tanyanya agak ragu. hawatir kakak iparnya akan tersinggung.


Tapi penasaran saja, apakah yang di bilang kakaknya itu benar, jika Weslay kembali seperti dulu lebih parah.


"kita bahas pekerjaan saja, karena setelah ini aku akan keluar kota." ucap Landolfo. Rasanya tidak nyaman membicarakan masalah keluarganya di tempat yang tidak semestinya. Ini adalah kantor, kantor untuk bekerja bukan untuk menuangkan segala isi hatinya.


Ahirnya Tian pun mengikuti penuturan kakak iparnya. Mereka segera lanjut bekerja di ruang meeting dengan di temani oleh Gisel. Tian sejak dari tadi hanya mencuri pandang pada Gisel, wanita yang cantik, memiliki bentuk tubuh yang sempurna. Sedangkan Gisel fokus pada pekerjaan yang di berikan oleh atasannya


♡Dirumah sakit.♡


Wesley celingak celinguk mencari seseorang. Yang katanya akan menemuinya di rumah sakit.


"Selamat siang tuan." ucap seorang Pria yang memakai seragam perawat.


"hmmm.. Katakan sekarang, Aku tidak banyak waktu." balasnya dengan tatapan tajam seperti yang sering di perlihatkan oleh pria satu ini.


"Tuan, Nyonya Irena sudah berselingkuh." ucapnya. Seraya menundukkan wajahnya.


Weslay mengernyit, "Jangan mengada ada," geramnya. Pria itu segera mengeluarkan amplopnya, lalu memberikan pada Weslay. Weslay pun segera menerima amplop yang di sodorkan oleh pria itu.


Weslay memandang foto itu dengan sorot mata tajam, dan rahang mengeras, kedua tangannya terkepal seolah ingin menghancurkan apapun yang di depan nya. Dengan dada yang semakin bergemuruh Weslay segera melempar lembaran foto yang sudan tidak berwujud akibat cengkramannya.


"Kurang ajar, setelah berusaha menghancurkan aku. kau juga akan menghancurkan papaku. lihat saja Irena, apa yang akan aku lakukan." geramnya.


"Bersihkan." titahnya, Weslay segera berpaling dan meninggalkan pria yang berdiri tidak jauh dari Weslay.


Weslay memasuki kamar mandi, lalu segera membasuh muka untuk mengurangi amarah yang sudah menguasai dirinya.

__ADS_1


"Den Ley kemana?" tanya bik Sam pada perawat pria yang tengah mengumpulkan lembaran foto


"Sedang di toilet." jawabnya agak gugup karena terkejut.


"Apa yang terjadi." tanya bik Sami dengan memandang perawat itu yang tengah membersihkan lantai.


"Saya tidak tau bu, sepertinya dia menginginkan seseorang. Dari tadi saya melihat hanya menyebut emmm.. Siapa ya .. Saya nggak begitu dengar." ucapnya


Bik Sami segera berjalan menuju toilet. "Den, Den Weslay, keluar den." seru bik Sami


...♡♡♡...


Pov Weslay


Di usiaku 5 tahun. Aku mengalami demam tinggi, Arnetta yang bertanggung jawab sebagai pengasuhku tidak tau apa yang harus di lakukan.


Waktu itu kebetulan papi dan mamiku baru pulang dari luar negeri. Papi langsung membawaku kerumah sakit dalam keadaan aku sudah tak sadarkan diri. Tapi mulutku selalu maracau memanggil mami.


Mami yang aku panggil bukanlah mami Irena, tapi entah wanita itu siapa, kenapa tiba tiba muncul dalam mimpi di kala aku sedang sakit. Wanita itu mengatakan jika dia adalah mamiku. Wanita itu mengelus lembut pucuk kepalaku dengan lembut. dan mengatakan jika aku harus sembuh karena ada tugas yang harus aku selesaikan sendiri. Itulah yang membuatku semakin demam.


Selama itu, aku tidak tau jika mami Irena adalah ibu tiriku. Karena perlakuannya yang sangat menyayangiku, papi juga tidak pernah cerita jika mami Irena hanya ibu sambungku.


Yang membuat aku yakin mami Irena adalah mamiku. ketika, papi pulang kerja ingin segera menghampiriku. Namun mami Irena segera menggendongku dan mengatakan pada papi, "Papi ihh, papi baru pulang kerja. mandi dulu biar Ley sama mami." ucapnya


"Sebentar saja mi, papi sangat merindukan Ley." bantah papi. tapi mami tetep kekeh dengan pendirian mami. Sebelum papi benar benar bersih mami tidak pernah akan ijinin.


Setelah itu papi mengalah dan segera mandi. Mungkin yang di lakukan mami itu, karena sangat peduli hidup sehat.

__ADS_1


Setelah itu Aku di bawa mami jalan jalan ke taman. Bersama kak Nathan, kak Nathan juga sangat menyayangiku seperti adik kandungnya sendiri. Setelah lelah berjalan jalan dan membeli beberapa jajanan. Mami membawa kami pulang.


Sampai rumah mami akan meminta kak Nathan untuk menemani bermain hingga makan malam tiba. kak Nathan keluar terlebih dahulu dari kamarku. Sedangkan aku disuruh membereskan mainan yang berantakan di kamar.


Aku turun setelah membereskan semua mainan. Aku melihat papi tengah menoleh dan menatapku dengan senyum. Papi beranjak dari tempat duduknya, namun lagi lagi mami menghalangi papi untuk berinteraksi denganku. Mami segera menggendongku dan menduduklan aku di samping mami. Dengan memberikan segala perhatiannya padaku, sehingga papi lebih memilih ngobrol dengan kak Nathan. Sebenarnya aku pingin sekali di peluk papi, di gendong papi. Tapi mami selalu menggagalkan dengan 1000 cara.


Hingga suatu hari papi harus kembali keluar negeri dan mami pun menemani papi bersama Nathan. Karena kondisiku belum sehat betul, jadi aku di titipkan oleh bik Arnetta seperti hari hari sebelumnya.


Mami memberikan bik Arnetta obat untuk di berikan padaku. setiap pagi aku di kasih obat satu butir, setelah makan dan minum obat aku tidur. Aku terbangun saat menjelang sore. Setelah itu aku hanya bisa duduk dan nonton televisi karena aku sangat lemas. Mungkin karena tidur seharian dan membuatku dehidrasi.


Setelah makan malam bik Arnetta memberiku obat itu lagi, dan ahirnya akupun tertidur sampai pagi. Kadang jam 10 pagi baru bangun. Memang demamku sudah mereda, mungkin yang di bilang mami benar, aku hanya kurang istirahat


Selama beberapa hari aku mengkonsumsi obat yang di berikan mami padaku. Aku mulai tidak bisa melepas obat itu, setiap hari hanya berteriak minta obat itu untuk aku konsumsi. Karena kalau aku tidak minum obat itu, keadaan seperti orang mabuk. Merancau tidak jelas dan mengamuk, dengan merusak semua barang barang yang di kamarku.


Bik Arnetta mulai hawatir, lalu menelpon orang tuaku yang di luar negeri. Karena papi sibuk, ahirnya mami yang mengangkat telponnya dan selalu meminta om Tian untuk membelikan obat yang mami berikan.


Beruntung bibik sempat berkonsultasi dengan dokter psikiater, dan memberikan sample obat yang baru saja di berikan om Tian.


Setelah bibik tau, jika obat itu adalah obat keras dan bisa membahayakan orang yang mengkonsumsinua, bibik jadi tega menghentikan untuk memberi aku obat itu lagi. Setiap hari bibik membuang 3 butir obat itu. Agar mami taunya obatnya benar benar di berikan padaku.


Keadaanku semakin buruk, aku lebih suka menutup diri dan merancau sesukaku.


"Pi, papi berangkat sendiri saja ya, mami akan mengurus Weslay." ucapnya yang terdengar begitu sedih


Papi sangat terharu saat menanggapi ucapan mami. "Beruntung papi di pertemukan dengan wanita sepertimu mi, kamu tidak pernah membedakan antara anak kandung dan anak tiri."


Hingga tak terasa usiaku sudah memasuki 7 tahun. Aku selalu ingin sekolah seperti teman teman yang sering lewat di depan rumah dengan diantar oleh orang tuanya dengan mobil. Karena sikapku yang penutup dan karena obat obatan itu telah membuatku tidak bisa senormal dulu. Mamiku belum juga memasukkan ku ke sekolah. Alasan mami, belum ada sekolah yang pas untukku. Padahal aku bisa bicara dan menulis. Tapi mungkin karena aku yang sering tidak nyambung ketika di ajak bicara, membuat mereka berasumsi aku adalah pria autisme.

__ADS_1


__ADS_2