
"Segera di rias calon mempelai wanitanya, ini sudah memasuki jam 8" titah bu lurah sudah tidak sabar.
Bayangan uang 2 M sudah di depan mata. jika pernikahan ini berhasil. Bu lurah tersenyum bahagia.
sedangkan Chalondra berusaha berontak, sehingga persiapan pernikahan ini tidak kunjung selesai.
"Bagaimana bu, apa sudah siap semua." tanya pak Lurah antusias.
"Ini pak, gadis itu tidak mau di mak'up." keluh bu lurah
"Di paksa bu, jangan sampai gadis itu mempermalukan keluarga kita " geram pak lurah Galih
"Saya tidak mau, saya tidak melakukan apapun dengan anak pak lurah " jeritnya
"Masih saja mengelak, padahal sudah jelas jelas kepergok." geram pak lurah lagi
Ahirnya dengan di paksa, Chalondra pun di mak'up secara asal. walau pun asal tetap saja terlihat cantik.
Chalondra masih sesenggukan di ruang mak'up. Berusaha menolak, namun karena anak buah pak lurah begitu banyak, Chalondra tak bisa berbuat banyak. Selain hanya meminta untuk melepas dirinya.
ponsel pak lurah berdering. sehingga dirinya harus menyingkir sesaat untuk mengangkat panggilan dari bos barunya
"Iya, Hallo tuan."
"Bagaimana, apa semuanya sudah selesai?" tanyanya
"Belum tuan, gadis itu selalu menolak." ucapnya
"Paksa, sampai gagal tidak ada 2 m untuk kalian." Geramnya
"Baik Tuan." jawabnya
Setelah itu pak Galih segera memerintahkan anak buahnya untuk segera menyelesaikan tugasnya, yaitu merias Chalondra
...♡♡♡...
Sedangkan di tempat yang berbeda
"Aku sudah terlihat seperti papi kan,Mi?" gumamnya seraya mematut dirinya di depan cermin. pandangannya terfokus pada poto kedua orang tuanya dulu saat menikah.
Ceklekk..
pintu di buka dari luar. Dan nampaklah wajah pria yang sering di panggil papi.
__ADS_1
"Kau sudah siap?" tanya nya. Weslay hanya mengangguk.
"Kau menyimpan foto papi dan mami?" tanyanya lagi
"Seperti papi." jawabnya
"Ya, kau memang seperti papi. Semoga pernikahan kalian lancar, dan kau bisa menjadi orang tua yang baik dan menjadi contoh." ucap Landolfo
"Papi, mami tidak datang?' tanya Weslay
"Mamimu tidak bisa di hubungi, nomer Nathan juga." jawabnya. " Jangan bersedih, setelah ini kita akan ke sana. Papi sudah berniat untuk menjadwalkan waktu berobat untukmu. Kita bawa Chalondra juga." ucapnya.
Weslay segera menoleh, lalu memandang papinya yang tengah tersenyum padanya. Menyadari hal itu, Weslay segera mengalihkan interaksinya.
Weslay memang memiliki sifat yang kurang percaya diri. Itu karena jarangnya berinteraksi dengan orang orang terdekatnya. Jadi mereka menganggap jika Weslay mengalami autisme stadium ringan.
"Kak, kakak dan Weslay belum siap?" tanya Tian yang ternyata sudah datang karena Landolfo yang meminta.
"Bagaimana? Apa kau bisa menghubungi Irena?" tanyanya.
"Ternyata dia mengalami kecelakaan kak, ponselnya tidak bisa di hubungi karena hilang." jawabnya.
Weslay yang mendengar penuturan om nya pun hanya menggigit giginya geram. Tangannya terkepal seolah ingin menghajar wanita yang sudah menghianati papinya.
"Tidak apa apa Kak. Tadi kak Iren pesan di lanjut saja pernikahannya. Dan kak Iren minta maaf karena tidak bisa ikut mengantar Ley pada mempelai wanitanya." ucapnya
"Tian, atau kau saja yang mengantar Ley ke sana. Aku terbang ke baijing." usul Landolfo
"Tidak, papi jangan pergi." rengek Weslay seraya menggelengkan kepalanya.
"Iya kak, sebaiknya kita lanjut saja acara nikahan Weslay. mumpung ada yang mau menikah dengannya." ujar Bastian setengah menghina jika Weslay itu adalah cacat permanen.
"Tian, berhenti memperjelas keadaan Ley." sarkas Landolfo
"Maaf kak." balasnya.
"Ayo Ley, kita harus segera berangkat." ajak Landolfo.
Weslay segera mengikuti langkah papinya, lalu disusul oleh Sebastian.
Terdengar suara deringan ponsel dari Sebastian. "Sebentar kak, ada telpon dari rumah." ujarnya.
"Oohh ya, ibu tidak kau ajak?" tanya Landolfo.
__ADS_1
"Ibu sedang kurang enak badan. Tapi katanya ibu memberi restu untuk Weslay dan pengasuhnya itu." balas Tian
"Iya Hallo ibu, ini Bastian lagi mau berangkat." ucap Bastian dengan suara keras.
"Ibu ibu, ini aku Iren. Bagaimana apa kau sudah berhasil menggagalkan pernikahan nya?" tanyanya lirih agar Landolfo tidak mendengar.
"Tenang saja ibu.. Aku sudah membereskan nya tadi malam. Dan nanti kita lihat saja." ucapnya.
Landolfo dan Weslay tetap tidak terpengaruh dengan obrolan Sebastian dan ibu mertuanya. Mungkin Mereka membahas yang lain mengenai urusan istrinya atau anaknya.
"Awas sampai gagal." ancam Iren
"iya siap ibuku yang cantik. Dah dulu kita harus berangkat sekarang." pamitnya.
Sebastian segera menutup ponselnya, lalu segera berjalan menyusul Weslay dan juga Landolfo. Di sana sudah ada Gisel yang akan menemani pernikahan Weslay. Sedangkan pak Budi dan bik Sam juga ikut.
Mereka segera mengendarai mobilnya yang di kemudi oleh pak Budi. Di belakang ada dua mobil yang di tumpangi oleh anak buah Weslay tanpa sepengatuan papinya.
Weslay segera mengecek ponselnya, ketika ada deringan notifikasi.
✍"Tuan, ada yang berusaha meninggalkan pernikahan tuan." isi pesan yang baru saja masuk.
✍ " Apa maksudmu? Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" balas Weslay
✍"Tadi malam, nona Chalondra di jebak oleh seseorang , dan hari ini mereka harus melangsungkan pernikahan." balas Anak buah Weslay.
😡" KURANG AJARR.. " celetuk Weslay yang langsung mendapat tanggapan dari papinya.
"Ada apa?" tanya Landolfo
"Hmm.. Tidak. Tidak ada pi." jawab nya yang memperlihatkan kegugupan.
"Kamu jangan hawatir, papi akan menemani mu nanti." ucapnya seraya menenangkan Weslay yang terlihat tengah menahan emosi. Sangat kentara sekali ketika terdengar serak jantung yang bekerja lebih cepat.
perjalanan menuju kampung yang di huni Chalondra, terasa begitu sangat jauh dan lama menurut Weslay. Semakin memikirkan Chalondra yang sedang di hadapkan antara pernikahan mendadak dan emosi pada seseorang yang sudah berani bermain main dengannya. Kian menyulut api amarah di dadanya.
"Apa .. Masih lama?" tanya Weslay gugup.
"Sabar Ley. Kau sepertinya sydah tidak sabar ingin segera menikah." goda Landolfo. Namun Weslay tidak m menanggapi karena masih fokus pada ponselnya.
✍"Usahakan jangan sampai terjadi pernikahannya. Aku segera sampai." balas Weslay lagi
"Kak, sepertinya kita ada yang mengikuti deh." celetuk Sebastian.
__ADS_1