
"Kak Ocha, kak Ocha makan dulu saja. Biar papa yang suapin." ucap Cilla
uhukkk.. Chalondra yang baru saja bangun dari rebahannya mendadak terbaik ketika Cilla berkata agar papanya yang menyuapi.
"Pa, kak Ocha batuk. " teriak Cilla histeris saat melihat papanya bukannya menawarkan air pada Chalondra. Tapi malah melamun seraya menatap wajah Chalondra yang kemerahan.
"Oohh i..iya." ucapnya seraya mengangsurkan air minum untuk Chalondra. Entah kenapa perasan Ronald padaChalondra, semakin hari semakin menebal rasa kagumnya. Tertarik iya, namun Ronald kembali mengingat jika Chalondra masih sah istri orang.
"ayo Cha di makan, apa perlu aku suapin seperti permintaan Cilla?" tanya Ronald yang mulai menggoda Chalondra
"Oohh.. Ti..tidak usah dokter, saya akan makan sendiri." ucapnya malu malu. Padahal disini Chalondra yang bekerja dengan dokter Ronald, namun malah Chalondra yang di layani seperti majikan
"Cha, mumpung masih hangat." tegur Ronald lagi.
Chalondra segera mengambil sendok dan mulai menyendok untuk di masukkan kedalam mulutnya.
"Enak nggak?" tanya Ronald, Cilla juga menatap Chalondra menunggu jawaban dari Chalondra
"Enak dokter." jawabnya malu malu.
"Kak Ocha, Cilla juga mau." rajuk Cilla yang mulai menempelkan tubuhnya pada Chalondra.
Chalondra ragu untuk menyuapi Cilla, lalu memandang Ronald yang juga tengah menatap Chalondra sejak dari tadi. Mendapati dirinya menjadi pusat perhatian Ronald, Chalondra semakin canggung. Lalu segera menyiapkan sesendok makan untuk Cilla, supaya objek Ronald teralihkan dengan teriakan Cilla
Benar saja, ketika Cilla sudah membuka mulit, Cilla langsung berteriak.
"Nggak enak, oekk" Cilla berusaha memuntahkan isi perutnya ketika merasakan masakan papanya yang tidak ada rasanya.
"Cilla kok gitu sihh" sahut Ronald yang sudah menghampiri Cilla
"Papa itu masak nya tidak enak. Paoa sengaja mau membunuh adek bayi kak Ocha?" tanya Cilla dengan tatapan tajam pada papanya.
Ronald mengerutkan keningnya, ketika mendengar ungkapan dari Cilla. "Masa sihh nggak enak." sahutnya.
"Makanya papa kalau masak jangan mikirin kak Ocha terus, tapi juga masakan papa." tegur Cilla yang lebih kepada menasehati sang papa. Sudah beberapa kali setiap membuatkan sarapan untuk Cilla, Ronald selalu lupa memasukkan garam. Sehingga rasanya tidak enak sama sekali.
Mendengar celotehan Cilla, Ronald menjadi canggung. " Dasar bocil," gumamnya. seraya mendusel ndusel ceruk leher Cilla yang langsung membuat sang empunya Cilla menjadi geli karena bulu rahang Ronald yang mulai tumbuh lagi.
"Papa gelii" teriak Cilla.
"Kau cerewet sekali." lirihnya, yang membuat Chalondra hanya mampu tersenyum menanggapi keakraban papa dan anak angkat itu.
"Cha, jangan di makan." cegah Ronald yang melihat Chalondra masih melanjutkan makanannya.
"Tidak apa apa dokter, ini enak kok." jawabnya. Ronald segera mengambil makanan yang ada di depan Chalondra, lalu segera menyendok dan memasukkan kedalam mulutnya, seperti yang di lakukan Cilla, Ronald pun juga memuntahkan suapannya itu.
"Kau keterlaluan Cha, tidak ada rasanya pun kau bilang enak. Emang yaa,, jatuh cinta itu memang buta, kadang gula jawa pun di bilang rasa coklat. Kau jatuh cinta padaku Cha?" goda Ronald. yang semakin membuat Chalondra tertunduk malu.
"Saya nggak enak, udah di buatkan makanan eehh malah mengatai ngak enak." sahut Chalondra
"Ya kalau nggak enak bilang ngak enak Cha, jangan bilang enak. hindari rasa tidak enak pada orang lain. Kalau A ya bilang A. jangan A bilang B. nanti kau bisa di manfaatin." ujar Ronald.
__ADS_1
"Bukan kah sebaik baik orang itu, yang bisa bermanfaat untuk orang lain." balas Chalondra.
"emmm, seperti aku kan, bisa bermanfaat untuk orang lain. termasuk kamu." sahut Ronald.
Ronald segera membawa keluar mangkuk bekas makanan yang di santap Chalondra, Cilla memandang wajah sendu Chalondra, lalu berteriak pada papanya yang hampir keluar.
"Papa.. dedek bayi mau makan lagi." teriak Cilla. Yang mampu mengalihkan atensi kedua orang dewasa itu. Mereka berdua langsung memandang satu sama lain.
Cilla hanya menampakkan gigi putihnya saat keduanya menatap dirinya.
"Ayo, kita cari makan di luar." ajak Ronald. Namun langsung ditolak oleh Chalondra, karena perjalanannya tadi begitu sangat melelahkan.
"Tidak usah dokter, saya mau istirahat saja menemani Cilla." sahut Chalondra.
"kau belum makan Cha, tadi juga baru sedikit." timpal Ronald
"Tapi saya sudah kenyang dokter." balas Chalondra. Akhirnya Ronald pun tidak memaksa lagi Chalondra untuk makan diluar.
Cilla segera menarik pergelangan tangan Chalondra, "Ayo kak Ocha, Cilla udah ngantuk."
Chalondra pun mengikuti langkah Cilla yang membawa keatas tempat tidur. Chalondra mengelus elus kepala Cilla, dulu ketika Chalondra sulit tidur, ibunya selalu mengelus kepalanya dengan sangat lembut. Tak berapa Ronald datang untuk mengucapkan selamat malam pada Cilla. Namun setelah itu, Cilla malah mencekal pergelangan tangan Papa nya yang penuh dengan bulu.
"Papa juga temani Cilla, Cilla ingin merasakan tidur seperti di temani mama dan papa." ucapnya
"La, papa harus membersihkan badan papa dulu, kau tidurlah di temani kak Ocha. " ucap Ronald
"Papa" rajuk Cilla. Kalau melihat wajah Cilla yang mirip dengan kakaknya, Ronald jadi nggak tega menolak.
Cilla meraih tangan Chalondra dan menaruhnya di atas perutnya, lalu mengambil tangan papanya dan melakukan hal yang sama, sehingga tangan Chalondra dan Ronald saling menindih.
Jantung Ronald kian tak bisa di ******, saat kulit mereka saling bertemu, sedangkan Chalondra merasa tidak nyaman, Chalondra segera menarik tangannya dari bawah tangan Ronald, namun Ronald memegangnya lebih erat,
"Biarkan dia tidur dulu," ucapnya, Chalondra tak bisa menolak. Chalondra hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ronald
Ronald memandang wajah Chalondra yang sangat cantik. "Suamimu beruntung sekali mendapatkan istri seperti dirimu Cha, seandainya dulu aku bertemu denganmu lebih dulu, mungkin aku akan menjadikannya untuk mama Cilla." batinnya. Ronald masih memandang wajah gugup Chalondra yang terlihat dari perubahan warna kulit wajahnya. lambat laun Ronald melihat
Chalondra pun ikut terpejam, mungkin karena lelah dan ngantuk sehingga dirinya juga tertidur di tempat tidur Cilla.
Setelah keduanya tertidur, Ronald segera menjauhkan tangannya dari perut Cilla. Lalu memberi selimut untuk kedua wanita beda generasi yang ada di depan nya.
...♡♡♡...
Pagi pagi Cilla sudah membuat drama di dalam rumahnya, Cilla menangis karena tidurnya semalam sendiri. Tadi pagi saat Cilla bangun, tidak mendapati Chalondra maupun papanya.
Padahal semalam Chalondra menemani hingga ayam jantan berkokok. Namun karena Cilla masih tidur, Chalondra segera pindah kekamar yanh di tempati Chalondra.
"Kak Ocha buat telur mata sapi mau?" tanya Chalondra setelah menghampiri Cilla yang berada di gendongan Ronald.
"Cilla maunya papa yang buatin," sahutnya.
"Tapi Cilla diem, kalau masih nangis papa nggak mau buatin untuk Cilla." tawar Ronald.
__ADS_1
Mendengar keributan di ruang tengah, David pun juga ikut keluar dengan kursi roda nya. Sebenarnya David bisa berjalan, namun karena tidak bisa berdiri terlalu lama, akhirnya David selalu menggunakan kursi roda.
"Oohh ada nak Ocha juga," ujar opa David yang sudah berada di ruang tengah.
"Selamat pagi opa" sapa Chalondra
"Pagi juga, ini kenapa Cilla pagi pagi nangis " tanya opa David
Ronald pun mulai bercerita awal masalah yang membuat Cilla menangis.
"Cilla mau lihat adek bayi nggak?" tanya Ronald
"Adek bayi, Cilla mau." jawabnya sambil terisak
"Kalau mau, Cilla diam dong. Nanti kita antar kak Ocha kedokter untuk lihat adek bayinya." ucap Ronald , Seketika tangis Cilla mereda, lalu berubah menjadi senyum yang merekah yang di perlihatkan oleh Ronald.
"Gadisku ini, mudah sekali berubah." identitas, seraya mencium pipi Cilla yang masih basah karena air mata.
"Tuan, sarapannya sudah siap." ucap seorang wanita paruh baya.
"Iya bik, terima kasih." sahut Ronald. Wanita uang panggil bik itu segera meninggalkan ruang tengah. Setelah 3 hari libur karena harus mengurus orang tuanya yang sakit, kini bibik yang menjadi juru masak di rumah Ronald kembali bekerja.
Disinilah Chalondra sekarang berada, pagi ini Chalondra sudah antri di poli kebidanan di sebuah rumah sakit. Ronald sudah masuk keruangan kerjanya, karena jadwal pagi ini jam 8 sampai 10 siang. Dengan di temani oleh gadis kecil yang menggemaskan namun juga cerewet.
"Kak Ocha, nanti adek bayinya akan di beri nama siapa?" tanyanya
"Eemmm.. Siapa ya, kak Ocha belum tau." jawabnya. ketika sedang ngobrol dengan Cilla, Chalondra melihat pria yang sangat dia kenal tengah berjalan lewat depannya.
"Nathan," gumamnya lirih. Nathan sepertinya baru keluar dari ruang rawat.
"Siapa yang sakit." batinnya.
"Nyonya Bahran." seru seorang wanita yang bekerja sebagai perawat. Beruntung Nathan tidak mengenali nama belakang Chalondra, jadi Nathan tidak menciptakan drama di sebuah rumah sakit ini.
Chalondra segera berdiri setelah Nathan sudah keluar dari poli kebidanan. Chalondra segera masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang bidan.
"Bagaimana? Apa yang anda rasakan nona?" tanya dokter wanita yang bertag nama Nuri
Chalondra pun mulai menceritakan keluhan yang di alaminya. Chalondra segera rebahan di tempat pemeriksaan untuk melihat hasil usg kedua bayinya.
"Tidak mual? Pusing?" tanya dokter Nuri
"Tidak dokter, hanya mudah lelah saja " jawab nya. Dokter Nuri itu kembali tersenyum.
"Ini ya bu, usia kandungannya sudah memasuki 14 minggu. Ukuran panjang badan janin 9 cm dengan berat badan berkisar 45 gram, sudah terlihat menonjol keluar." terang dokter. "Sebaiknya hindari memakai pakaian ketat, karena akan mengganggu pertumbuhan janin." ucapnya lagi.
Setelah melakukan pemeriksaan, Chalondra juga Cilla segera kekuar, lalu berjalan menuju ruang rawat Ronald yang tudak begitu jauh.
Lagi lagi Chalondra melihat Weslay dari jendela yang terhubung dengan lorong rumah sakit ke parkiran. Chalondra melihat Weslay yang baru saja keluar dari mobil, dan di susul oleh seorang wanita yang sepertinya juga tengah hamil.
"Apakah itu istrinya? Jadi dia juga sudah membuat wanita itu hamil?" gumamnya.
__ADS_1
"Keterlaluan kau tuan, sudah ada yang baru hingga kau melupakan aku dan calon anak kita." lirihnya