
"Saya berani jamin tuan, jika nona Chalondra tidak seperti yang di tuduhkan oleh foto foto itu. Saya yang setiap hari seruangan dengan dia." ucapnya.
"Dan saya merasa ahir ahir ini, nona Chalondra berbeda, dia lebih manja dan banyak makan. Saya rasa nona sedang mengandung?" ucap Gisel lagi.
"Apa maksudmu Gis? Apa benar yang kau katakan itu?" tanya Landolfo yang mulai menyesal.
"Benar tuan, saya lihat dari bentuk tubuhnya yang berbeda dari sebelumnya." sahutnya
"kalau Dia sedang hamil, berarti itu adalah keturunan Wardhana, dia adalah pewaris keluarga Wardhana yang akan datang?" gumam Landolfo.
"Mumpung semuanya belum jauh, sebaiknya tuan segera melakukan pengecekan. Sebelum nyawa dua bayi itu terancam." ucap Gisel.
"Apa maksudmu Gis? Terancam dari apa?" tanya Landolfo mulai gelisah.
"Sepertinya ada musuh tuan yang sesungguhnya. Sebaiknya tuan harus berjaga agar korban nya tidak semakin jadi." sahut Gisel
"Saya tidak punya musuh Gis. Kau jangan mengada ada." bantah Landolfo.
"Kalau bukan musuh. Lalu di sebut apa, orang yang sudah berusaha menghancurkan kebahagiaan putra anda, Tuan." imbuh Gisel
"Mungkin itu memang benar Chalondra, karena wajahnya benar benar sangat mirip." ujar Landolfo
"Tuan Weslay, seharusnya tuan Weslay bisa mengenali istrinya, karena dia lah yang setiap hari melihatnya. Namun jika tuan Weslay saja sudah meragukan nona, saya tak bisa berbuat banyak." ucap Gisel.
Weslay yang mendengar semua obrolan Gisel dengan papinya, mulai ragu, karena apa yang di katakan Gisel itu adalah banyak yang benar.
Weslay segera keluar dari kantor, lalu segera menuju parkiran kendaraan. "bodoh , kenapa aku bisa sebodoh ini mempercayai sesuatu yang tidak mungkin di lakukan oleh istriku. Aku sungguh bodoh.. " racau Weslay. Seraya mengendarai kendaraan roda 2 nya.
Weslay akan segera menyusul Chalondra ke kampung halamannya. Weslay berharap, jika Chalondra sudah sampai di rumahnya dengan selamat.
Dalam hatinya, Weslay mengutuk dirinya atas kebodohan yang sudah membuat sang istri terluka. Apalagi kini dia sedang membawa anaknya dalam rahim.
Dengan kendaraan roda duanya, Weslay melaju begitu cepat. sudah tidak sabar untuk melihat istri yang sedang hamil anaknya. Selama ini Weslay sangat berharap Chalondra mengandung anaknya agar Chalondra tak bisa pergi jauh, karena anak sebagai pengikat hubungan Weslay dengan Londra, namun setelah harapan itu terwujud, Weslay malah menghancurkannya sendiri.
Setelah perjalanan di tempuh sekitar 2,5 jam. Ahirnya Weslay sudah memasuki area kampung halaman milik sang istri.
Tiba tiba tenggorokan Weslay tercekat, ketika melihat bangunan rumah istrinya masih mengeluarkan asap. "Aapa yang terjadi?" gumamnya, Weslay begitu lemas melihat bangunan yang beberapa bulan yang lalu sempat ia singgahi, kini hanya tinggal puing puing yang sudah di makan oleh api.
Weslay segera turun dari roda duanya, lalu segera berjalan pelan menuju rumah yang sudah rata dengan tanah.
"Nek Iroh, Chalondra, Kenzo dan Evel, bagaimana keadaan kalian?' gumamnya.
"Weslay, kau mencari istri dan keluarga nya?" tanya Rania, Rania baru saja pulang dari pasar habis membantu ibunya di pasar.
"Kemana mereka? Katakan pada saya." tanya Weslay dengan emosi.
Rania segera mengeluarkan majalah yang bergambar Chalondra. " Karena gambar itu, warga sangat marah. Dan mereka di bakar hidup hidup di dalam rumahnya sendiri." sahut Rania
Wajah Weslay menjadi pucat pasi, "Kau berbohong kan, kau berbohong jika Chalondra juga ikut terbakar. KATAKAN.. KAU BOHONG..!" Weslay mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Weslay segera melempar Rania. Ketika Rania menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ouuhh... Desis Rania yang sudah terjerembab di tanah basah.
"jika kau tidak percaya. Kau bisa melihat makamnya sekarang. Tanah itu baru saja selesai si kubur." ucap Rania dengan suara terengah engah.
Aarrgghhh.... Teriak Weslay. Weslay menatap Rania dengan pandangan intimidasi.
"Katakan, siapa yang membawa majalah ini kesini?" tanya Weslay seraya mencengkeram lengan atas Rania
"sakit.." desisnya
"Katakan...!"
"Aku tidak tau. Ada beberapa pria yang membawa kesini bersama pak lurah." balas Rania
Weslay kembali mengamuk, kali ini Rania yang menjadi sasarannya.
"Ouuhh.. Tolooongh.. Tolooongh...!" teriak Rania yang sudah mulai lemas.
Tak berapa lama ada beberapa warga datang setelah mendengar lolongan minta tolong. Pak Rt segera menarik tubuh Weslay.
"Pantas saja Chalondra bermain api, orang suami nya aja gila seperti itu." celetuk seorang wanita.
Weslay langsung mengalihkan atensinya, dan memandang wanita yang sudah mengatai jika dirinya gila. dengan dada yang naik turun tidak terkontrol, mulai menatap nyalang pada wanita tersebut.
Weslay memang seperti orang yang kerasukan, bagaimana tidak, jika dalam sekejap tuhan mengambil semua yang ia miliki, istri dan calon anaknya. Jika saja Weslay lebih mengedepankan pikirannya daripada emosinya. Mungkin semua ini tidak terjadi.
"Kamu bisa di proses secara hukum, jika kamu berbuat anarkis seperti ini." ujar pak RT.
Dari jauh ada sepasang mata menyaksikan kebrutalan Weslay. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan. "Ayo Ley, bunuh orang orang yang sudah menghalangimu. Dengan begitu, kau akan masuk penjara dan Nathan yang akan menjadi penerus perusahaan milik keluargamu." gumam Irena
"Kita menang kak, kita menang." ucap Tian
tak berapa lama ada mobil polisi yang sudah mendatangi tempat di mana ada keributan. Dan siap orang yang sudah mengundang polisi, tidak lain dan tidak bukan dia adalah Irena.
"Lepaskan... Lepaskan.." Teriak Weslay.
"Lepaskan pak, kami akan mengurus teman kami sendiri." ucap William.
"Dia sudah menyerang seorang wanita, dan kami akan memproses secara hukum yang berlaku disini." ucap polisi seraya menarik tangan Weslay.
Weslay tak mau menolak, mungkin jika di penjara semuanya akan baik baik saja untuk dirinya, karena percuma jika dirinya masih di kuasai amarah.
"Kami berjanji, kami akan mengurusnya" ucap William
"Bos, sebaiknya jaga perilaku anda. Jika anda masuk penjara, siapa yang akan mengungkap kebusukan ibu tiri anda." bisik William. Weslay baru menyadari, jika semua ini pasti ulah ibu tirinya. Weslay memandang William begitu dalam.
"Kami akan melepaskan, tapi jika dia melakulan kekerasan lagi, kami akan membawanya."
"Pak polisi bawa saja dia le rumah sakit jiwa, dia itu gila pak." ucap seorang wanita yang tadi nyeletuk tentang perilaku Weslay
__ADS_1
Setelah semua nya aman, Weslay kembali bersimpuh pada taman yang ada di depan bangunan rumah yang sudah terbakar.
"Bos, kita lihat makam istri anda." ucap William. Weslay baru mau bangkit ketika William mengucapkan kata makam.
...♡♡♡...
"Terima kasih tuan, sudah menolong kami." ucap Chalondra, saat ini mereka sudah sampai di kota di mana Ronald tinggal.
Ronald mencarikan kontrakan untuk Chalondra dan kedua adiknya, Ronald berjanji akan memberi Chalondra pekerjaan agar bisa membiayai kedua adiknya.
"Pa, Cilla di sini saja ya, Cilla mau tinggal dengan kak Ocha saja." kata Chilla yang sepertinya sangat kelelahan setelah perjalanan jauh.
"Tidak nak, kak Ocha pasti ingin istirahat juga "
"Tidak apa apa tuan, lagi pula kami juga tidak kemana mana setelah ini ." ucap Chalondra
"Bukan begitu Cha, opanya selalu mencari Cilla jika sehari tidak melihat, maklum dia adalah pengobat lara papa saya." ucapnya
"Tidak mau, Cilla kesepian pa, di rumah opa. Papa kerja mbak Dina sibuk urus opa. Cilla nggak punya teman." ucaonya dengan manja.
"Cha, bagaimana kalau kamu kerja sebagai pengasuh Cilla saja. Seperti nya dia sangat nurut sama kamu." usul Ronald
"Tapi,"
"Cilla mau, Cilla mau setiap hari bermain sama kak Ocha." girangmya.
Chalondra mengangguk, karena mungkin mencari pekerjaan dalam keadaan hamil akan sulit. Dan menurut Chalondra, Tuan Ronald adalah orang yang baik.
"Yee.." Teriak Cilla.
"Ya udah, ini sebagai gaji pertama saya berikan sekarang ya." ucap Ronald.
"Tidak usah tuan, saya masih ada sedikit uang kok." tolak Chalondra dan segera merogoh tas slempang yang selalu di bawa kerja, Chalondra berhenti mencari ketika menyentuh 2 benda pipih yang juga ikut di dalamnya.
"Ini.. Bukankah ini ponsel milik tuan suami." batinnya. Chalondra baru ingat, waktu itu dia yang membawa ponsel milik suaminya waktu berada di bangunan itu.
"Ada apa Cha?" tanya Ronald.
"Tidak ada tuan. Saya masih pegang atm dari hasil kerja saya." ucapnya.
"Sebaiknya, uang itu kau simpan saja. Siapa tau nanti kau membutuhkan nya." ujar Ronald
"Sudah, ini terima saja sebagai gaji pertamanya." bujuk Ronald.
Setelah saling menolak dan menawarkan uang, ahirnya Chalondra menerima uang itu sebagai gaji pertama kerja.
Cilla langsung mengajak Chalondra ikut bersama, dan membiarkan kedua adiknya hidup di kontrakan. Chalondra berjanji akan mengunjungi setiap hari, karena kontrakan dan rumah milik Ronald tidak begitu jauh.
"Kak Ocha, kak Ocha mau ngga jadi mama Cilla." celetuk Cilla yang mampu membuat Chalondra dan Ronald keselak dari makanan yang mereka makan. pasalnya mereka saat ini tengah makan di sebuah restoran milik orang tua Ronald.
__ADS_1
"Kak, minum kak." ucap Viola seraya mengangsurkan segelas air putih pada Chalondra.