Gairah Pria Autisme

Gairah Pria Autisme
episode 8. Menghancurkan kamu


__ADS_3

"Kita mau kemana?" tanya Wesley. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil.


"Chalondra, kita jadi mencarikan sekolah untuk tuan muda?" tanya pak Budi dari jog kemudi


"Iya pak," jawabnya


"Sekolah, saya tidak mau. Saya tidak mau sekolah." ujar Weslay. lalu segera bersedekap sebagai bentuk protes/ penolakan.


"Tuan, Dengarkan Londra, Tuan harus mulai belajar di tempat yang ramai, Tuan harus mulai membiasakan berinteraksi dengan orang banyak. Tuan pasti akan menyukainya nanti, di sana akan ada banyak teman baru yang bisa menerima tuan berada di lingkungan mereka." ujar Chalondra seraya membujuk tuan mudanya.


"Saya takut, saya tidak berani, mereka pasti jahat" jawabnya


"Tidak ada yang jahat..."


tiba tiba saja ponsel Chalondra berdering. Dan tertera nama Tuan Ando.


"Hallo tuan, selamat siang." ucap Chalondra.


"Londra , alamat sekolah sudah saya kirim, saya sudah menghubungi kepala sekolah. Dan jangan lupa untuk membawa serta guru therapy untuk Ley." ujar Landolfo


"Baik Tuan, ini saya sudah menuju lokasi yang tuan kirim." jawabnya


"Dan jangan lupa, buku perkembangan Ley di bawa juga, untuk berjaga jaga jikalau di butuhkan." ucapnya.


"Iya tuan, miss Ajeng juga sudah berkata seperti itu." jawabnya.


Setelah beberapa detik, mereka terdiam tidak ada sepatah kata dari Landolfo dan juga Chalondra.


"Pi, papi mau ngapain lagi untuk Ley.?" tanya Irena yang terdengar jelas di telinga Chalondra.


"Mi. Papi ingin Ley itu sembuh seperti usia 5 tahun dulu. Lincah dan cerdas. Papi ingin Ley bisa menguasai bisnis papi. Karen bagaimanapun pewaris utama papi itu Ley, jika saja dulu mami mau menambah anak untuk pewaris papi. Papi masih membagi dengan Ley." sahut Landolfo. Dan Lagi lagi Chalondra masih bisa mendengar obrolan mereka.


"Mami setuju pi, Nathan dan Ley kan bisa melanjutkan bisnis papi secara bersama, tanpa harus mengganggu apa yang sudah menjadi hak Ley, Mami akan dukung semua keputusan papi." Irena berkata dengan memberi dukungan penuh atas rencana suaminya.

__ADS_1


"Mii.. Mami serius ingin membantu papi, Terimakasih Mi, tidak salah papi dulu mengambil mami untuk menjadi ibunya Ley. kalian berdua memang sangat penyayang pada Ley." sahut Landolfo seraya memegang pundak sang istri.


"Chalondra, kita sudahi dulu yaa tentang Ley, Kau lanjutkan saja apa yang sudah ku perintahkan." ujar Landolfo.


"Baik Tuan." obrolan mereka pun segera di akhiri. Chalondra segera memasukkan kembali ponselnya.


"Londra, ini sudah sampai." ucap pak Budi.


"Iya pak," jawabnya


"Ayo tuan, kita segera masuk. Mumpung lagi pada di dalam kelas." ujar Chalondra. dengan ragu Ley pun mengikuti langkah Chalondra berjalan menuju halaman sekolah yang begitu besar.


Chalondra segera masuk ke ruang guru dan segera menemui guru yang sudah di hubungi oleh Landolfo.


...•••••...


Di lain tempat .


"Pi, kalau Ley tetap tidak bisa kembali seperti dulu, apa papi tetap akan menyerahkan perusahaan pada Ley?" Irena kembali mempertanyakan yang sebenarnya memang harta peninggalan keluarga Landolfo adalah harta Ley.


Irena menyunggingkan senyum pada suaminya. "Jika itu yang terbaik menurut papi, mami mau kok membantu papi untuk pengobatan Ley. Kalau perlu mami yang akan mencarikan dokter untuk Ley di sini." usul Irena, seraya mengelus dada bidang milik suaminya.


Landolfo tersenyum, lalu segera mencekal pergelangan tangan istrinya, Landolfo mengecup punggung tangan istrinya berkali kali. "terima kasih sayang, tapi papi sudah menghubungi dokter terbaik yang sudah banyak menangani kasus seperti itu." jawabnya. lalu segera membalikkan dirinya dan menghadap pada istrinya.


"Mami sudah banyak membantu papi, hingga pada bisnis bisnis papi, mami selalu mendukung papi dan menemani papi kemanapun. buat papi itu adalah hal yang sangat papi sukai. Dan lebih yang membuat papi tidak ragu sama mami, mami tidak malu memilki anak seperti Ley." ucapnya. lalu mengecup kening istrinya.


Irena tersenyum lalu memeluk Landolfo dengan begitu erat. "Sudah menjadi tugas seorang istri kan pi, menemani dan mendampingi suaminya dalam menjalankan tugas negara." sahut Irena.


Landolfo menc*um bibir Irena, cium*an yang tadinya lembut berubah menjadi ci*man panas.


Ditempat yang berbeda.


Weslay tengah duduk bersama Chalondra di taman. setelah dari gedung sekolah tadi. Chalondra bermaksud mengenalkan tuan mudanya dengan dunia yang lebih luas. biasanya jika bersama Arnetta langkahnya monoton. hanya sekitar gedung terapis dan mansion gitu tiap hari.

__ADS_1


"Itu apa?" tanya Weslay saat melihat pedagang kembang gula berwarna warni.


"Itu namanya kembang gula, tapi anak kecil tidak boleh makan itu. Nanti giginya bisa habis." ucap Chalondra, seraya memandang wesley.


"Siapa bilang saya masih anak kecil. Saya sudah besar lihat ini otot otot saya." ucapnya seraya menunjukkan lengan yang sudah melebihi ukuran dewasa.


Pffttt.... Chalobdra tertawa melihat reaksi Wesley yang langsung menujukkan ketidak terimaan ketika di bilang anak kecil. dan yang membuat Chalondra geli, ketika mengatakan ada ototnya, padahal lengan Wesley datar tanpa adanya otot otot yang menonjol.


"Kalau sudah besar itu, seperti ini tuan." tunjuk Chalondra pada pria yang berotot pada lengan. Dan terdapat roti sobek di bagian perutnya


"Saya juga bisa seperti itu. Saya akan tunjukkan jika saya sudah besar." jawabnya dengan datar.


"Itu artinya saat ini tuan masih kecil, Dong." goda Chalondra


"Saya sudah besar, saya sudah bisa berbuat seperti yang pernah saya lakukan pada kamu tadi malam."


Degg.. dada Chalondra seperti terhimpit oleh batu besar, Weslay kembali mengingatkan kejadian buruk itu lagi, padahal Chalondra sudah sedikit terlupakan dengan itu, jika tadi malam dirinya habis di nodai oleh tuan mudanya. wajah Chalondra tetiba meredup. Ada kesedihan di mata indahnya.


Wesley segera menoleh ketika tidak lagi mendengar ocehan Chalondra. "Kamu sakit?" tanya Wesley.


Air mata Chalondra tiba tiba keluar, Hikzz...


Wesley bingung melihat Chalondra menangis, tangannya refleks terulur untuk menghapus air mata Chalondra yang mulai membasahi pipinya.


"Kamu sakit? kita pulang saja." ucap Weslay. Namun bukannya segera beranjak, Chalondra malah semakin menjadi tangisannya. Hingga membuat orang orang yang ada di sekitarnya menoleh dan melihat sepasang wanita dan pria.


"Hai mas, kalau jadi cowok itu jangan sesukanya menyakiti pacarnya. Pacar udah cantik gitu masih saja di sakitin." tegur seorang wanita dengan memandang remeh Weslay.


Wesley pun hanya terbengong ketika mendapat teguran dari ibu ibu tadi.


"Londra, sudah, jangan menangis yaa.. Saya bingung harus bagaimana. Katakan mana yang sakit?" tanya Wesley


"Ini.. Ini tuan yang sakit. Yang tuan lakukan pada saya tadi malam sudah menghancurkan hidup saya tuan..." ujar Chalondra dengan isak tangis

__ADS_1


"Menghancurkan hidup kamu? Menghancurkan bagaimana? saya tidak tau Chalondra." ucapnya seraya menilisik tubuh Chalondra.


"Tidak ada yang hancur, ini.. Tidak ada, disini juga tidak ada yang hancur. Saya menghancurkan yang bagian mana Chalondra?" tanyanya lagi.


__ADS_2