
"Kita akan sedikit mencicipi minuman hangat Ley. Siapa tau kau bisa sedikit melupakan mendiang istrimu."
"Tidak, aku tidak akan pernah melupakan dia." sahut nya
"Iya, tidak melupakan selamanya, namun sebentar saja kau bisa merasa tenang dan seperti tidak ada masalah." sambungnya.
Weslay mengangguk dan segera mengikuti langkah Nathan. Di sana Nathan sudah di tunggu seorang wanita, yang seperti Weslay pernah melihatnya namun lupa.
"Ley, kenalin niihh temenku Emily," ucap Nathan
"Hai, Weslay." sambutnya. Mereka pun saling menjabat tangan dengan menyebutkan namanya masing masing.
Nathan datang dengan membawa 3 gelas minuman yang beralkohol.
"Ini kau minum yang ini saja Ley, kau kan belum pernah kesini." ucap Nathan
"Nath, aku tidak minum beginian. " tolak Weslay Setelah Nathan mengangsurkan segelas minuman yang bau nya lumayan menyengat buat Weslay.
"Di coba sedikit saja Ley, kau pasti akan menyukainya.' bujuk Nathan. " dan lagi, aku tau kau juga tidak pernah mencicipi minuman surga ini. makanya aku mengajakmu kesini." ujar Nathan.
"Nath, kalau Weslay tidak mau. Jangan di paksa " tegur Emily, sebenarnya Emily tidak mau melibatkan Weslay dalam urusan dirinya dengan Nathan.
"Ini urusanku, kau masih ingin ku nikahi tidak?" tanyanya.
"Iya, tapi kenapa musti membawa dia ke klub" tanya Emily
"Kau diam saja, ikuti rencanaku saja." Emily langsung diam, tak ingin mendebat rencana yang sudah disusun oleh kekasihnya. yang Emily harapkan secepatnya Nathan mau menikah dengan dirinya.
...♡♡♡...
"Weslay, apa yang kamu lakukan?"
"Ya tuhan, Weslay belum 1 minggu kau sudah begini kelakuanmu. " geram Landolfo ketika memasuki kamar putranya dan melihat Weslay sedang tidur bersama wanita yang tadi malam menemani di klub.
"Ya tuhan, apa yang kau lakukan padaku Hikzz?" tangis Emily yang ketika bangun sudah berada di atas ranjang yang sama bersama Weslay. dan lebih membuat Emily menangis, mereka sama sama tidak memakai sehelai benang yang menutupi tubuhnya.
"Aku.. aku tidak melakulan ini.. aku tidak melakulan ini." ucap Weslay, seraya mengambil handuk yang menggantung di samping nya.
"Apa maksud kamu, kamu sudah melakukan ini pada saya, tapi kau bilang tidak melakulan ini." tangis Emily.
"Pi, semalam Weslay bersama Nathan, kami hanya mencicipi sedikit minuman di klub saja. tapi kenapa bisa di kamar dengan wanita asing ini.. yaa aku ingat, kau adalah wanita yang dulu pernah bersama Nathan di sebuah restoran. dan kau adalah kekas..." ucapan Weslay terpotong ketika Nathan juga sudah berada di kamar Weslay
"Lay, semalam aku berusaha melarangmu, tapi kau malah menghajarku." kilah Nathan yang wajahnya babak belur akibat serangan Weslay
"Tidak, aku tidak melakukan itu Nath, kau jangan mengada ada." sahut Nathan
__ADS_1
"Aku tidak mengada ada, ini beneran ulah kamu Ley." sela Nathan.
"Kau harus bertanggung jawab Ley, dia itu wanita baik baik." ujar Irena. Irena sudah tau semua apa yang Nathan rencanakan.
Irena juga tau, jika wanita itu tengah mengandung benih Nathan.
"Tidak, saya tidak melakukan apapun. ini saya di jebak." tolak Weslay. Emily masih menangis di atas tempat tidur.
"Ley, papi tidak pernah mengajarkan kamu untuk tidak bertanggung jawab, kau harus menikah dengan wanita itu." ucap Landolfo
sedangkan di tempat yang berbeda.
"Dokter, saya ijin hari ini mau mencarikan sekolah untuk kedua adik saya." ucap Chalondra.
"Tenang saja, mereka sudah mendapat sekolah. aku sudah mencarikan mereka sekolah. nanti setelah kita antar Cilla, kita langsung datangi kedua adikmu." ucap Ronald.
"Beneran dokter, terimakasih dokter." ucapnya
"Iya Cha, kembali kasih." sahutnya. David hanya tersenyum menanggapi sikap Chalondra, gadis yang wajah tidak membosankan untuk di pandang itu, membuat David berkeinginan menjadikan Chalondra sebagai menantunya. Namun kalau dari cerita Ronald tadi malam, Chalondra masih memiliki suami yang belum resmi menceraikan. Dan Ronald memang belum mau berumah tangga, entah apa yang membuat Ronald sulit untuk membuka hatinya untuk wanita.
Setelah selesai sarapan, Chalondra segera keluar mengantar Cilla sekolah. Dengan di antar oleh Ronald. Setelah berpamitan pada opanya, Cilla segera menghampiri Chalondra yang sudah duduk di bangku teras.
Chalondra membolak balikkan ponsel milik Weslay. "Sebaiknya aku kembalikan saja, aku tidak ingin terbayang oleh wajah imut suamiku." gumamnya.
Sebenarnya Chalondra masih berharap sang suami itu datang dan mencarinya, berharap sang suami minta maaf karena menyadari jika dirinya tidak pernah melakukan perbuatan menghinakan seperti itu. Tapi harapan Chalondra itu ternyata sia sia. Sang suami bahkan tidak mencarinya kemarin waktu Chalondra tersesat di jalan. Bahkan tudak ada itikad mendatangi rumah neneknya.
pletak... Chalondra baru tersasar saat ponsel sang suami terjatuh karena ulah Cilla
"maafin Cilla kak, Cilla nggak tau."
"Iya nggak papa. Yuk berangkat." sahutnya
Ronald ternyata sudah berada di dalam mobil dari tadi. " kau kenapa sih Cha, dari tadi melamun." tanya Ronald setelah mereka berada di perjalanan menuju sekolah Cilla.
"Saya itu mau mengembalikan ponsel milik suami dok, cuma saya tidak bertemu dengannya, saya masih kecewa " ucap Chalondra.
"Kalau tidak mau bertemu, kenapa tidak kirim saja lewat jasa pengiriman Cha." sahut Ronald.
"Ohh iya ya, kenapa saya tidak kepikiran sihh.. Tapi saya tidak tau alamat rumah itu dok. Saya hanya tau komplek perumahan saja." sahut Chalondra.
"Cha, Cha.. Sekarang gampang cari alamat, hanya apa nama komplek perumahan nya, nanti di cari lewat google." sahut Ronald.
"Oohh iya, kenapa saya mendadak twlmi ya dok, ketika teringat tuan suami." ujar Chalondra
"Karena kau terlalu mencintainya mungkin." ucap Ronald. Tak terasa dengan obrolan mereka ternyata lebih cepat sampai sekolahannya Cilla.
__ADS_1
"Mama, papa Cilla masuk dulu." ucapnya.
"Kok mama sihh.." cebik Chalondra, Ronald kembali terkekeh ketika mendengar Ocha menyebut mama padaChalondra.
"Sepertinya, Cilla sangat ingin kau menjadi mamanya Cha," sahut Ronald.
"Dokter, kita itu tidak sepadan, dan dokter tau sendiri, saya itu masih punya suami." ucap Chalondra
"Kalau suamimu sydah resmi menceraikan kamu, kamu nggak jadi mamanya Cilla.?" tanya Ronald
"Dokter, sudah deh jangan bercanda terus. Buruan saya udah kangen sama kedua adik saya " omelnya
"Iya iya. " ucap Ronald. Ronald sebenarnya hanya ingin menandai Chalondra saja, tambahkan Ronald tidak memiliki rasa pada Chalondra. Yang ada hanya kasian saja, setelah di usir keluarga suaminya kini di usir oleh warga kampung dan harus kehilangan nenek nya.
Setelah mereka berada di dalam mobil, Ronald mulai membuka obrolannya.
"Papa itu sebenarnya memiliki anak perempuan Cha." ucap Ronald tiba tiba.
"Ohh ya, terus kemana dia?" tanya Chalondra
"Anak perempuan itu sebenarnya kakakku. Dan dia sudah punya suami dan anak." imbuhnya.
Chalondra terdiam, mulai mendengarkan cerita serius dari Ronald.
"Tapi karena sebuah kecelakaan, tuhan memanggil kakakku dan kakak iparku bersama mama." ucapnya. "Waktu itu, mereka akan mengantar kakakku kerumah sakit karena kakakku akan melahirkan. Namun naas musibah itu telah merenggut nyawa ketiga orang dewasa yang berada di dalam mobil." ucapnya lagi.
"Turut berduka ya dok,' sahut Chalondra
"Terus, bayi itu?" tanya Chalondra
"Kakak sempat sadar sebelum melahirkan bayi yang ada dalam perutnya. Setelah proses oprasi caesar yang di lakukan, kakakku meninggal dunia dan meninggalkan anaknya yang masih berwarna merah." ucapnya
"Dokter, jangan bilang..." ucapan Chalondra yang berhasil membuat Ronald menoleh pada Chalondra.
"Iya, bayi merah itu adalah anak kakakku." ucapnya kemudian.
"Ya tuhan." gumam Chalondra
"Aku sudah bertekad untuk menganggap Cilla ada putriku, aki rela menukar kebahagiaanku demi putriku yang sebenarnya keponakanku." ucapnya lagi.
"makanya, saya akan berusaha memberi apa yang putriku inginkan. Walau terkadang apa yang ia suka tidak aku suka." ucapnya lagi
"Termasuk waktu Cilla minta gendong?" tanya Chalondra
"Kalau untuk gendong menggendong, Cilla itu sebenarnya hanya butuh perhatian dari kita." sahut Ronald.
__ADS_1
"Makanya, papa sangat menyayangi Cilla, di sisi lain dia adalah obat penawar rindu pada putrinya. Juga sebagai pengobat lara terhadap kepergian orang orang yang ia cintai."