Gairah Pria Autisme

Gairah Pria Autisme
episode 65. Kesal dan Kecewa


__ADS_3

"Keterlaluan kau tuan, sudah ada yang baru hingga kau melupakan aku dan calon anak kita." lirihnya


"Kak Ocha, kak Ocha kenapa menangis?" tanya Cilla ketika mendengar Chalondra berucap yang terdengar sedang menangis.


"Tidak. Kakak tidak menangis kok." balas nya seraya menghapus air matanya yang hampir menetes.


Chalondra masih mengamati Weslay yang berjalan mendahului wanita yang Chalondra duga itu isteinya, tak berapa lama Weslay berhenti karena mungkin ada telpon.


Weslay berjalan menjauhi wanita yang bersamanya, Weslay menghadap kearah Chalondra berdiri, sebelum Weslay melihatnya Chalondra segera berbalik. Chalondra segera masuk keruangan Ronald bersama Cilla. Duduk di sebuah bangku panjang untuk menunggu.


Beruntung pagi ini, Ronald tidak begitu banyak pasien sehingga jam prakteknya bisa selesei lebih awal.


"Sudah selesai, bagaimana perkembangan mereka Cha." tanya Ronald yang sudah melepas jas praktek nya.


"Semuanya baik dokter." jawabnya


"Tapi dedek bayinya kecil pa." adu Cilla


"Iya dong, kan masih di dalam perut. Nanti kalau sudah keluar pasti akan besar seperti Cilla." ucap Ronald seraya mengangkat tubuh Cilla keatas kursi.


"Cilla sudah tidak sabar melihat adek bayi." balasnya.


"Cha, kau kenapa?" tanya Ronald yang melihat perubahan wajah Chalondra tiba tiba murung.


"Tadi kak Ocha menangis pa." sahut Cilla seraya memeluk Chalondra dari samping.


"Ada apa Cha?" tanya nya lagi


"ayah nya anak anak tadi ada luar, dia bersama istr...." ucapan Chalondra tak di lanjutkan, ketika mengingat Weslay bersama wanita yang di duga istrinya.


"Cha, kenapa kau tidak samperin dia. dan katakan jika kau sedang hamil anaknya." ucap Ronald. sebenarnya tidak tega dengan Chalondra, gadis semuda Chalondra sudah mendapat cobaan seberat ini.


"Mana mungkin," lirihnya


"kalau kamu hanya menduga duga, masalah tidak akan selesai Cha. kau seharusnya minta kelanjutan rumah tangga kalian itu mau bagaimana? Kalau lanjut yang kalian segera baikan. kalau memang mau cerai, cepat minta di ceraikan, agar aku juga tidak menunggumu terlalu lama." ujar Ronald, walau di selingi canda, tapi Ronald serius ingin melanjutkan membahagiakan Chalondra bersama anak anaknya. jika Weslay tidak yakin mereka anaknya.


"Dokter, tolong jangan bercanda saya lagi sedih." lirihnya


"Saya serius, tapi kalau untuk melanjutkan membahagiakanmu, aku sudah ada niat. cuma mungkin yang namanya rumah tangga, pasti akan ada yang namanya konflik tidak melulu bahagia. itupun jika kau mau melanjutkan kehidupan bersama ku dan Cilla," imbuhnya


Sedangkan di luar.


Weslay mulai tidak fokus ketika melihat bayangan wanita yang ia rindukan selama beberapa bulan ini.


Weslay celingak celinguk mencari sosok wanitanya, seraya ngobrol dengan William lewat ponsel nya.


Weslay segera menyudahi setelah apa yang di laporkan William benar benar memuaskan. Weslay sudah tidak melihat Emily di depan nya. Weslay segera menuju tempat di mana tadi ada bayangan istrinya.


"Aku yakin itu pasti kamu Cha, aku ingat betul caramu merapikan rambutmu sendiri." batin Weslay. Kebiasaan Chalondra adalah mengikat rambut nya di belakang. Sepeti ekor kuda yang menurut Weslay sangat lucu.


Weslay menyusuri lorong lorong rumah sakit menuju ruangan praktek dokter spesialis anak. Weslay semakin mempercepat langkahnya, hingga dirinya berhenti di depan yang bertag nama Dr. Ronald Wirayudha. Weslay mengetuk pintunya, tak berapa lama Pintu pun terbuka dari dalam.

__ADS_1


"Maaf, dokter Ronald sudah selesai praktik." ucap seorang perawat yang sudah selesai merapikan alat kerjanya.


"apa dokter Ronald masih ada di dalam.?" tanyanya


"Dokter sudah keluar , baru saja." jawabnya


"Ok terimakasih." sahut Weslay dan segera berlalu meninggalkan perawat yang masih memandang heran Weslay.


Weslay segera menuju kamar papinya, tadi pagi di telpon perawat jika ada seseorang yang berusaha mencelakai papinya. Dan anehnya di rumah sakit sebesar ini tidak ada cctv yang berada di lorong maupun ruang tunggu. Cctv hanya ada di lobi dan juga halaman rumah sakit.


Weslay segera menghampiri kamar papinya, ternyata Emily sudah berada di sana.


"Bagaimana pi? papi tau siapa tadi yang masuk?" tanya Weslay


"Tidak, dia memakai masker dan aroma parfum nya adalah parfum wanita. tapi dia memilki pergelangan tangan lelaki." terang papi Landolfo.


"Siapa kira kira yang sudah mencoba mencelakai papi." gumam Weslay.


"Ley akan menaruh orang orang papi untuk menjaga di depan." imbuh Weslay.


"Pi, ternyata Chalondra masih hidup pi, Chalondra belum meninggal." ucap Weslay begitu yakin.


"Apa kau yakin? Kau tau dari mana?" tanya nya


"kemarin Ley melihat wanita persis seperti istriku pi, dan tadi Ley juga melihatnya di sini." imbuhnya


"jadi cucuku juga masih hidup?" gumamnya lirih.


Emily yang mendengar obrolan anak dan papinya semakin di buat ketar ketir, " Bagaimana jika mereka kembali bertemu, pasti mereka akan kembali seperti dulu, aku tidak ada kesempatan lagi untuk merebut nya." batinnya.


"Pi," seru Nathan,


"Nath, kau datang juga " sambut papi Landolfo


"Papi ada apa? Kemarin mami cerita pada Nathan. Apa sih yang terjadi pi?" tanya Nathan sok tidak tau apa apa.


Weslay hanya diam mengamati gerak gerik Nathan. Rasanya tidak mungkin jika Nathan tidak tau apa apa.


"Nath, kau tau kan. Jika Papi dan mami sudah hidup bersama begitu lama. Tapi perlu kamu tau, papi paling tidak bisa mentelorir pada seorang penghianat, termasuk mami kamu." ucap Papi Landolfo


"Iya pi, memangnya apa yang sudah mami lakukan pada papi, " tanya Nathan


"Mami kamu sudah berselingkuh dengan Oscar, papi tidak bisa memaafkannya, apa lagi mami kamu sudah merencanakan semua musibah yang Weslay alami. Jadi papi akan menggugat cerai mami kamu." sahut papi Landolfo.


Nathan terdiam, lalu menoleh melihat Emily yang masih sibuk dengan ponselnya. "Kenapa rencananya malah gagal semua. Emily gagal menikah dengan Weslay, mami juga sudah gagal menemani papi sampai habis usianya. Dan kini papi sudah sangat kecewa pada mami. Satu satunya jalan adalah menyingkirkan Weslay ataupun Chalondra, karena Chalondra tengah membawa keturunan Wardhana." batin Nathan


"Tapi papi tidak akan pernah memutuskan hubungan Nathan sama dan Weslay kan? Papi tetap menganggap Nathan adalah anak papi dan kakak Weslay." tanya Nathan yang memperlihatkan wajah sedih.


"Tentu saja, kau tetap anak papi dan kakaknya Weslay. Kau boleh datang kerumah papi. Karena istrimu juga tinggal disana." sahut papi Landolfo


Nathan tersenyum lalu memeluk papinya. "Nathan sangat menyayangi papi dan Weslay." gumamnya.

__ADS_1


"Em, maafkan aku yaa, udah mengabaikan kamu." ucap Nathan yang mulai mendekati Emily.


"Aku harus mengurus bisnisku yang ternyata gagal." lirihnya. "Karena itu, aku malu pada papi dan Weslay juga istriku sendiri." ucapnya lirih seraya menundukkan kepala.


"Kenapa kamu tidak bilang sama papi, papi akan membantumu. Sekarang Weslay sudah bisa di andalkan untuk mengurus perusahaan, kau bisa kembali bekerja membantu Weslay. Atau kamu kalau masih ingin meneruskan bisnismu, papi akan bantu."


"Tidak usah pi, Nathan akan membantu Weslay saja." jawabnya


...♡♡♡...


Setelah menitipkan Cilla ke kontrakan Evellin, kini Dokter Ronald dan Chalondra sedang melakukan perjalanan ke kampung. Chalondra sudah tidak sabar untuk menziarahi makam sang nenek. Beberapa hari ini Chalondra memang selalu di datangi sang nenek lewat mimpinya.


"Kau lelah Cha,?" tanya Ronald.


"Tidak dok. Saya masih segar dan ingin segera sampai." ucapnya.


Chalondra berjanji, setelah ini Chalondra akan mendatangi rumah suaminya untuk minta kejelasan rumah tangganya. Setelah itu Chalondra tidak akan lagi melibatkan Dokter Ronald dalam kehidupan sehari harinya.


Chalondra akan kembali ke kampung dan hidup sederhana di kampung bersama kedua adiknya, sebentar lagi mungkin Evellin dan Kenzo sudah lulus sekolah.


Mereka sudah memasuki wilayah kampung yang di tempati Chalondra dulu, setelah perjalanan yang mereka tempuh cukup lama sekitar 3 jam.


"Baunya aroma persawahan begitu segar ya Cha, pantas saja kau sangat merindukan kampung halaman kamu." ucap Ronald seraya fokus menyetir kendaraan roda 4 nya.


"Iya dokter, terimakasih ya dok, sudah mau di repot kan sampai sini." balas Chalondra


"Karena sejujurnya saya itu juga butuh yang namanya healing Cha, makanya saya selalu mengajak Cilla ke taman." ucapnya.


"Apa Cilla tau, jika dokter bukanlah papa kandungnya?" tanya Chalondra


"Tidak, kami sepakat untuk menyembunyikannya. Karena saya hawatir dia akan semakin sedih jika tau kedua orang tuanya sudah meninggal. Namun saya tidak menyembunyikan ayah kandungnya yang sebenarnya. Saya selalu mengajak Cilla berkunjung ke makam kedua orang tuanya." jawabnya


Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Chalondra. Chalondra di buat cengo oleh keadaan rumahnya yang sudah rata dengan tanah.


"Dokter. Itu ... Itu.. Rumah saya." Chalondra begitu shok mendapati bangunan rumahnya. Pandangannya terfokus pada bangunan yang sudah tidak berwujud.


"Cha, ini kenapa rumah kamu jadi seperti ini?" tanya Ronald yang juga sama keadaannya seperti Chalondra. Padahal setelah pemakaman itu, Chalondra sudah memastikan keadaan rumahnya baik baik saja.


Ya walaupun sempat akan ada orang yang membakar, namun itu berhasil di gagalkan oleh Kenzo. Dan mereka sepakat untuk meninggalkan rumahnya.


"Dokter, rumah saya." lirihnya. Chalondra sudah tak mampu berdiri dengan sempurna. Tiba tiba saja persendian dan tulang kakinya seolah tidak bisa berfungsi seperti biasanya. Chalondra berlutut dengan wajah yang amat sedih. Padahal hanya ini warisan peninggalan orang tuanya.


"Cha," Ronald juga duduk bersimpuh di sebelah Chalondra.


"Kenapa mereka begitu kejam pada ku dan keluargaku dokter. Padahal kami sudah menuruti mereka untuk meninggalkan rumah ini. Tapi kenapa mereka masih membakarnya." Chalondra menangis tergugu di sebelah Ronald.


Ronald membiarkan Chalondra untuk menuangkan segala kesal dan kecewanya. Membiarkan air mata nya keluar, mungkin dengan begitu segala yang membuatnya sakit akan menghilang.


Setelah beberapa saat, Tangis Chalondra mereda. "Cha, kau sudah kuat. Kita lanjut ke makam se karang?" tawar Ronald. Chalondra segera mengangguk. Lalu berdiri dengan di bantu oleh Ronald.


Mereka berjalan menuju makam yang di mana keluarganya di semayamkan. Chalondra mulai memasuki area makam. Chalondra terpaku pada sebuah nisan yang bertuliskan namanya.

__ADS_1


"Cha, itu...


__ADS_2