Gairah Pria Autisme

Gairah Pria Autisme
episode 68. pantai pangandaran


__ADS_3

"Kalau begitu, kita cari dia di rumahnya Ken, biarkan Cilla di sini bersama Evellin." usul Ronald


"Tapi kak, ini Cilla sudah sangat lelah." ujar Evellin


"Ya sudah, kalau begitu besok saja, biar kakak yang mengurusnya. Kalian belajar yang benar saja." pesan Ronald pada kedua adiknya Chalondra.


"Apa kakak tau rumah lurah Galih." tanya Kenzo dengan polos. Ronald hanya menanggapi dengan senyuman, lalu mengangguk. Kenzo tidak tau saja, Ronald juga bisa menyewa detektif. Ronald bukanlah pebisnis yang memilki musuh, makanya Ronald tidak memperkerjakan anak buah seperti Weslay.


"Kalian tidak perlu memikirkan hal itu, cepat atau lambat, kakak akan memberikan kabar buat kalian.


Ronald segera pamit, karena Cilla sepertinya sudah sangat lelah.


"Ayo Cilla pamit kak Evelin." ucap Ronald


"kak Evel, Cilla pulang dulu. besok boleh ya main sama kakak lagi" ujar Cilla


Sedangkan di tempat yang berbeda.


Weslay sudah berhenti di depan rumah mewah milik dokter Ronald, Weslay segera mematikan mesin kendaraannya, lalu segera turun dan berjalan menghampiri pintu gerbang yang menjulang tinggi.


Weslay segera menekan tombol untuk para tamu yang datang. Tak berapa lama, pintu nya di buka dari dalam. Seorang pria paruh baya yang mungkin adalah penjaga pintu.


"Mau cari siapa den?" tanya Pria itu seraya membungkuk.


"Dokter Ronald ada?" tanyanya.


"Dokter Ronald belum pulang den, mungkin sebentar lagi sampai." jawab nya.


"Kalau begitu, boleh saya menunggunya." tanyanya


"Oohh iya den, silahkan duduk di kursi teras saja." ucap pria itu mempersilahkan Weslay untuk duduk. Weslay mengikuti pria baru baya itu membawa.


Tak berapa lama, mobil yang di kendarai oleh Ronald sudah memasuki halaman luas miliknya, Ronald terlihat tengah mengamati tamu yang sudah menunggunya. Ronald turun lebih dulu, lalu segera membopong Cilla yang sudah terlelap di kursi jog depan


Ronald melihat papanya juga keluar dengan kursi rodanya menghampiri Weslay.


"Apa kau teman Ronald putraku?" tanya David tiba tiba


"Oohh iya om. Selamat malam, maaf mengganggu malam malam begini." ucap Weslay


"Tidak apa apa." sahutnya seraya memberikan seulas senyum tulus untuk Weslay. "senyum itu, Weslay seperti sering melihat senyum itu. Tapi siapa ya?" batin Weslay .

__ADS_1


"Pa," sambut Ronald.


"Kau bawa dulu cucuku kekamar." perintah papa David pada Ronald. Ronald pun segera mengangguk dan berlalu meninggalkan papa dan Weslay.


Lalu papa David pun mulai membuka obrolan dengan Weslay. Menanyakan perihal bisnis yang di kelola oleh Weslay, siapa yang tidak mengenal keliarga Wardhana, seluruh kota bahkan luar kota pasti mengenalnya. Mengingat produk yang kelola Wardhana sudah sampai ke penjuru kota dan pelosok.


Setelah obrolan basa basi antara Weslay dan papa David semakin jauh, Ronald pun sudah keluar, dan Ronald ternyata sudah membersihkan tubuh nya dari keringat, dan kini hanya memakai kaos jarang dan celana pendek.


"di minum nak Weslay," ucap papa David mempersilahkan


"Terimakasih om." jawabnya


"Om masuk dulu." pamitnya.


"Ada perlu apa kau kesini?" berang Ronald yang tak ingin melihat wajah Weslay.


"Dokter, katakan di mana istri saya, saya akan menemuinya dan menyelesaikan kesalah pahaman ini, tolong beritahu saya di mana dia?" tanya Weslay yang sudah menghadapkan wajahnya pada Ronald.


"Kau pikir aku akan memberitahukan padamu, setelah kau menyakitinya beberapa kali, kau salah anak manja. Saya tidak akan mengatakannya padamu." sahut Ronald


"Tolong dokter, kau adalah pria dewasa, kau juga sudah punya anak. Kau pasti tau bagaimana rasanya kehilangan itu dokter." ucap Weslay lagi


"Ya aku memang tau rasanya kehilangan, aku juga tau rasanya sakit saat tidak di percaya oleh orang terdekat, aku juga tau rasanya di hina, kau pikir hanya kau saja yang tau rasa itu. Aku tau rasa sakit dari semua itu ketika melihat seorang wanita yang terjatuh pinsan di pinggir jalan karena di usir oleh keluarga suaminya. Dan sejak saat itu rasa sakitu itu selalu datang ketika dia menangis di tengah malam, menangis harus bagaimana melanjutkan hidupnya bersama kedua anaknya. Kau tidak tau itu, Ley." jawab Ronald yang terdengar lebih kepada pengakuan tentang rasa yang ia miliki pada Chalondra.


"Kau pikir aku takut dengan bentakanmu, kau pikir aku tidak memilki keberanian untuk melawanmu, kau salah.." cibirnya


BUGHHH... BUGHHH... BUGHHH... Weslay langsung menyerang dokter Ronald tanpa ampun, Weslay benar benar sangat cemburu ketika ada pria lain yang lebih peduli pada istrinya.


Setelah merasa lelah karena saling serang, kini Dokter Ronald duduk san Weslay duduk lemas di atas rerumputan.


David hanya geleng geleng kepala melihat perseteruan antara putra dengan pewaris utama Wardhana. Tak ada niat untuk melerai, karena David yakin itu masalah perasaan mereka pada seorang wanita.


"Aku sudah pernah bilang padamu bulan,? Kau akan kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. Nikmati saja kesendirianmu mulai saat ini. Karena setelah ini, aku yang akan menjadi pelindung nya, aku yang akan mengurus surat perceraian itu." ancam Ronald. Yang mampu membuat Weslay kembali bangkit untuk menghajar Ronald.


"Aku pastikan, aku tidak akan pernah ceraikan dia. Dan aku akan mencarinya sendiri tanpa bantuanmu." ucapnya. Lalu kembali memberi hadiah bogem mentah pada Ronald.


Ronald hanya mendesis, walau ada darah yang mengalir dari bibirnya karena ulah Weslay. Setelah itu Weslay segera meninggalkan Ronald dan menjauhi rumah mewah milik keluarga Ronald.


Ponsel Weslay berdering, lalu Weslay segera mengangkatnya.


"Bagaimana Zak, apa kau berhasil melacak keberadaan ponselku?" tanya Weslay

__ADS_1


"Tuan, terahir ponsel anda aktif beberapa hari yang lalu, berada di titik pinggir kota tepatnya berada di sebuah pantai, kalau saya amati pantai itu berada di jawa barat atau sesuai titiknya tepatnya di pantai pangandaran." ucap Zacky.


Weslay baru ingat, tepat beberapa hari yang lalu dirunya juga berada di pantai itu, setiap habis menyelesaikan urusannya pada para nelayan, Weslay akan singgah sebentar di sana, untuk menikmati senja yang terlihat indah.


Mungkin waktu itu, Chalondra sempat mengaktifkan ponsel milik Weslay hanya sekedar untuk berfoto, setelah di nyalakan memang terdengar ada beberapa kali deringan notifikasi dari pesan sms,


Setelah itu Chalondra kembali menonaktifkan, saat tau nomer yang terpasang di ponsel itu masih aktif.


"Bodoh, kenapa aku tidak menyadari untuk mencarinya di sana." gumam Weslay, Weslay segera menyalakan kuda besinya setelah obrolan dengan Zacky sudah selesai.


Sebelum benar benar menyalakan mesin kendaraannya, Weslay kembali menelpon William untuk mengecek kembali pantai yang pernah Chalondra singgahi. Untuk mencari alasan Chalondra berada di sana.


...♡♡♡...


Mentari begitu indah menyinari persawahan yang ada pegunungan yang berada di jawa tengah. Seorang wanita baru saja turun dari bus yang mengantarnya kesini.


Chalondra menghirup udara pagi sebanyak mungkin, agar oksigen yang berada di dalam dadanya segera terganti dengan lebih sejuk dan segar.


Chalondra sedikit mendesis ketika merasakan hawa dingin menusuk tulang tulang yang berada di anggota tubuhnya.


Chalondra segera beralih menuju kereta kuda yang beroperasi di daerah ini. Karena memang untuk sampai di tempat tujuan, orang orang yang ada disini akan memakai jasa kuda, mereka lebih suka kereta kuda, daripada kendaraan apalagi untuk para wisatawan yang berkunjung, nanti setelah sampai di tempat yang lebih ekstrim, mereka baru memakai jasa kendaraan mesin


"Non ini mau kemana?" tanya seorang pria yang bekerja sebagai pengendali kuda.


"Saya mau ke alamat ini pak," balas Chalondra seraya mengucapkan alamat yang Chalondra ingat.


"Ooh ini, ini rumah pak camat non." ucap Pak kusir


"Jadi om Tama itu sekarang bekerja sebagai camat pak?" tanya Chalondra


"iya non," jawabnya.


Pratama atau pria yang sering di panggil pak Tama itu adalah om nya Chalondra, adik dari ayah Chalondra, beruntung Chalondra masih ingat alamat rumah ini, sehingga dirinya bisa menata hatinya untuk sementara waktu disini.


Om Tama tidak memilki anak, om Tama mengasuh seorang anak perempuan dari keponakan sang istri.


"Non, ini non sudah sampai." ucap Pak Kusir. Chalondra menatap bangunan yang sangat indah itu, Chalondra belum percaya jika om Tama memilki rumaj sebagai ini. Padahal dia dulu hanya seorang petani biasa, dulu waktu Chalondra berusia 7 tahun, ayah Chalondra pernah mengajak kesini, itupun di saat nenek Chalondra meninggal. Namun setelah itu ayahnya tidak pernah lagi mengajak kesini, mengingat perjalanan yang lumayan jauh, di tambah lagi harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.


Chalondra segera berjalan menghampiri gerbang yang menjulang tinggi, setelah membayar ongkos dokar. Chalondra segera memencet bel, Chalondra mengambil ponselnya hendak melihat jam. Namum karena Chalondra ingin menenangkan sebentar disini, Chalondra kembali mengurungkan niatnya untuk mengaktifkan nya.


"Cari siapa dek?" tanya seorang pria yang sudah memakai pakaian dinasnya. Chalondra menatap pria itu dengan bibir gemetar.

__ADS_1


"O...oomm" lirihnya


__ADS_2